Tak hanya masakan dan keelokan negerinya yang membuat saya sangat jatuh cinta pada Silungkang.

Bahasa dan perilaku warga yang moderat (bila tak bisa disebut modern) tanpa saya sadari telah menambah rasa kecintaan tersebut.

Adalah saat saya berada jauh dari negeri elok nan aman sentosa ini, ketika saya berkesempatan menimba ilmu di sebuah negeri yang sudah sangat maju peradabannya, Great Britain.

Banyak kesamaan sikap dan perilaku serta tatacara yang berlaku di Silungkang dan di Inggris.

Pada tulisan yang singkat ini mari kita simak kejadian dalam keseharian warga Silungkang : Tata cara perkawinan adat.

Sebagai tindaklanjut dari selesainya acara Mancigok (melihat) calon manantu (menantu) adalah tugas para kaum Ibu atau wanita untuk menindaklanjuti.

Lazimnya disebut “Osok Ayi, Osok minyak” (meraba air, meraba minyak) dalam bahasa Inggris hal ini disebut sebagai “Test the water“, mauku-uku dalamnyo ayi (mengukur-ukur dalamnya air).

Dalam ilmu pemasaran modern hal ini ditempat sebagai sarana kita untuk mengetahui “need” atau kebutuhan dan keinginan seorang calon prospek yang akan digarap.

“Osok ayi, osok minyak”, jelas ditujukan untuk hal yang sama, yakni sebagai sarana atau cara untuk mengetahui ada atau tidaknya keinginan si empunya badan dan keluarganya untuk segera menikah.

Apabila ada, maka usaha dan ikhtiar akan dengan mudah bisa diteruskan namun apabila tidak, ya … sekian saja !.

Mengatur tempat duduk bagi tamu atau Manduduakan tamu (mendudukkan tamu) yang bila di Inggris disebut “Sitting Arrangement“, dalam tata cara pelaksanaannya sama sekali tidak berbeda dengan yang berlaku di Silungkang.

Seorang Datuak atau Lord, tentu akan didudukkan sejajar dengan jabatannya.

Seorang ipar atau sumondo tentu tidak akan didudukkan disebelah niniakmamaknya serta seorang keponakan tidak akan pernah didudukkan disamping kanan pamannya.

Dalam acara balope, Anda tak bisa duduk ditempat yang bukan disediakan untuk Anda.

Sama kan ?

Pertanyaannya siapakah yang lebih dahulu, Silungkang atau Inggris ?

By Sukri Husin

Sumber :

Bulletin Dwi Bulanan Silungkang “Koba Anak Nagori”

Edisi #7, 1 Oktober 2002, Anniversary Edition