Sesungguhnya kemunduran Islam sudah begitu rupa di Silungkang, namun hingga tahun 1984 tidak ada yang menyatakan secara terbuka kepada umum. Paling-paling perasaan yang demikian dikemukakan dengan andai-andai saja. Baru ketika konferensi ke II antar PKS yang berlangsung bulan Juli 1984 mulai dinyatakan secara terbuka (tertulis) dan kemudian dalam seminar sehari Adat Silungkang April 1986 di Jakarta lebih terang lagi.

Seperti diketahui dalam konferensi ke II antar PKS tersebut tampil makalah yang bertemakan agama. Dua diantaranya ditemukan oleh almarhum ulama Silungkang (dengan tema “Perkembangan Islam di Silungkang”) dan oleh Baharudin Hr. dengan judul “Masalah Keagamaan di Silungkang”.

Dalam makalah alim ulama Silungkang1) antara lain dikatakan : “Patut menjadi perhatian kita bersama dalam pendidikan agama sekarang ini sangat minim sekali minatnya pemuda/pemudi, sekiranya kita keberatan mengatakan tidak ada sama sekali. Siapakah nantinya yang kaan menggantikan alim ulama (kalau boleh dikatakan ulama), kalau tidak generasi sekarang ini”. “Kita sangat prihatin sekali dengan tidak adanya pemuda/pemudi sekarang ini yang mengarahkan kemauannya terhadap perguruan agama Islam, padahal ini adalah persoalan yang sangat penting sekali”.

Sedang oleh Baharudin Hr2) melalui makalahnya “Masalah keagamaan di Silungkang” antara lain dikemukakan bahwa “anak yang mengaji Al Quran hanya 600 orang, padahal murid SD sebanyak 780 orang. Berarti 25% murid SD belum mengaji. Sebagian besar berhenti sebelum tamat, tidak pandai membaca Al Qur’an dianggap masalah biasa”.

Kemudian ditambahkannya bahwa Mesjid Silungkang yang berdiri tahun 1900 itu telah berumur 84 tahun. Sudah banyak yang rapuh. Perlu pemugaran.

Dan yang lebih menarik lagi ialah makalah yang disampaikan wakil KAN Silungkang3) dalam seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta tahun 1986. Melalui makalah yang berjudul Alim Ulama atau guru agama yang akan habis itu”. Sebagai ulasan dikemukakan :

  • Ada yang sekolah agama karena terpaksa oleh orang tuanya;
  • Ada yang masuk sekolah agama hanya untuk pelarian karena tidak masuk dalam sekolah umum;
  • Banyak yang patah di tengah jalan pada sekolah-sekolah agama karena biaya, tarikan sekolah umum, cemooh dan pentin, keburu kawin, tidak tahan di asrama;
  • Setelah sekolah agama ingin menjadi pegawai negeri atau menjadi wiraswasta di rantau bagi kepentingan hari depannya.

Dan seperti telah dikemukakan dimuka bahwa “ada guru agama atau alim ulama yang sudah hampir ke pintu kubur sesama mereka saja tidak berbaikan”, demikian wakil KAN.

Sementara itu pada tahun 1987 oleh Syarief Sulaiman (Alm)4) sebagai buah pengamatannya selama berdiam beberapa waktku di kampung, ia membuat sebuah “laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung sekarang”. Dalam laporannya itu antara lain dikemukakan :
“Begitu pula sikap muda/mudi terhadap pengajian di mesjid. Banyak yang tak acuh saja. Walaupun pengajian itu diadakan sebulan sekali di mesjid dan gurunya didatangkan dari luar dan pemberitahuan akan berlangsungnya pengajian malam itu disiarkan. Namun pada jam akan dimulai yang disertai dengan imbauan melalui pengeras suara (yang terdengar sampai ke pasar), namun puluhan muda/mudi ramai dibalai di depan TV umum atau pelataran parkir. Mereka tak acuh saja atas pengajian tersebut. Maka yang hadir (dalam pengajian tersebut-pen) dapat dihitung dengan jari. Bapak-bapak “camat” (calon mati) yang berumah di sekitar mesjid (itulah yang hadir-pen). Kesehatan mereka tidak mengizinkan lagi keluar rumah dimalam hari”.

Dewasa ini surau yang berfungsi di Silungkang tak lebih dari 10 buah. Padahal menjelang perang dunia ke II, jumlah surau lebih dari 40 buah. Fakta jumlah surau ini berbicara sendiri tentang kemunduran Islam di Silungkang.

Kurangnya pengajian ini tidak hanya di Silungkang, malah di Jakarta juga demikian. Berbeda ketika disaksikan Margaret pada tahun 1984, dimana pengunjung pengajian yang diselenggarakan majelis taklim cukup besar. Rupanya tahun 1984 itu merupakan “puncaknya”. Kemudian berangsur menyurut. Kesepian pengajian di Jakarta ini dapat diketahui dari laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS5) (periode 1985 – 1987) yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987, antara lain dikatakan :

“Kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan kurang mendapat perhatian dari warga Silungkang. Hal ini terlihat dari sepinya pengunjung pada setiap pengajian yang diadakan, malah pengajian warga Silungkang di Mesjid Al Insan Patal Senayan terpaksa ditutup. Demikian juga dengan pengunjung pengajian Majlis Taklim yang diselenggarakan di kantor Koperasi Kemauan Bersama”.

Itulah sementara fakta yang secara terbuka dikemukakan pemuka-pemuka Silungkang mengenai kemunduran Islam di Silungkang.

Apakah artinya keterangan secara terbuka tersebut ?

Ia mengandung arti orang awak mengamalkan secara tepat Mamangan “Upek maiduiki, puji mambunuah” (umpat atau kecaman menghidupi, puji membunuh). Kritik itu adalah dengan tujuan untuk merubah keadaan yang tidak baik menjadi baik. Jika diri sendiri tidak berusaha merubah keadaan yang kurang menguntungkan menjadi menguntungkan, maka keadaan akan tetap kurang menguntungkan. Ini sesuai dengan surat Ar Ra’du ayat 11 yang mengatakan :

Innalloha layughaiyiruam biqaumin hatta yughaiyiruma bianfusihim” (sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri).

Tanpa membaca kita akan bisa menguasai ilmu dunia dan akhirat. Tanpa membaca tak mungkin kita dapat mengamalkan sabda Nabi Muhammad6) : Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat “(tholabul ilmi mahdi ilal lahdi); tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” (ilmi walau fi siin).

Bisa dipertanyakan, dapatkah dikatakan umat Nabi Muhammad yang baik bila dengan membaca atau tidak mau membaca guna meningkatkan ilmu di dada!

Banyak hal-hal yang dapat diketahui dengan membaca dari pada tidak membaca dengan, tidak membaca memaksa diri kita harus menghubungkan sendiri berbagai permasalahan dan itu akan meminta penyediaan waktu dan energi. Padahal mungkin saja permasalahan itu sudah dipecahkan orang lain, sehingga bila kita membaca tak perlu lagi menyediakan waktu dan energi untuk mencari pemecahannya.

Membaca berarti berdialog dengan pikiran pengarang. Tentu saja hati dan otak dibuka selebar-lebarnya untuk menerima pengaruh dari pikiran pengarang itu dan sekaligus berusaha menyaring dengan cermat. Dialog dengan pikiran pengarang berarti mengantarkan kita pada kebenaran-kebenaran baru yang lebih tinggi.

Dengan banyak membaca kita akan lebih mengenai diri kita (kelebihan dan kekurangan atau keterbatasannya) sehingga mendorong kita lebih banyak lagi membaca dan belajar. Dengan banyak membaca kita akhirnya akan menemui jalan yang benar, yang harus ditempuh, agar Islam bangkit kembali di Silungkang.

Membaca bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk membentuk pikiran dan pandangan kita.

Catatan Kaki :

  1. Alim Ulama Silungkang : “Perkembangan Islam di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II antar PKS, Juli 1984 di Silungkang).
  2. Baharudin Hr : “Masalah Keagamaan di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II Antar PKS di Silungkang pada bulan Juli 1984).
  3. KAN Silungkang : “Krisis Adat dan Agama di Silungkang”, (Makalah dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  4. Sharief Sulaiman : “Laporan tentang masyarakat Silungkang di Kampung sekaran”, FORMES April 1987.
  5. Pengurus PKS periode 1985 – 1987 : “Laporan Pertanggungan Jawab”, yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987.
  6. Dr. M. Amin Rais : Dalam pengantar terhadap buku Dr. Ali Shariati : “Tugas Cendikiawan Muslim”, penerbit CV. Rajawali Jakarta, 1984, h. viii.

Sumber :

Buku Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo