Pada tahun 1893 telah di buka jalan kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Teluk Bayur. Jalan kereta api itu mulai dikerjakan tahun 1888. Sebelum jalan kereta itu di buka, jalan raya antara Sawahlunto – Padang (juga lewat Silungkang) telah ada. Dengan adanya hubungan jalan kereta api dan jalan oto (mobil), makin terbukalah peluang bagi orang Silungkang untuk bepergian keluar dan sebaliknya bagi orang luar untuk berkunjung atau lewat Silungkang. Komunikasi tentu terjadi. Arus lalulintas telah membawa pengaruh yang besar bagi kemajuan orang awak.

Kemajuan yang dimaksud bukan saja dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam bidang agama. Dengan mudahnya bepergian keluar, maka banyaknya pemuda-pemudi Silungkang yang belajar agama keluar, seperti ke Padang Panjang, Batusangkar, Payakumbuh, Padang dan sebagainya.

Diantara pemuda-pemudi Silungkang yang pernah menuntut ilmu agama itu keluar ialah : Jalaludin, Abdullah Mahmud (Tanah Sirah), Pokiah Yakub, Noerman (Panai 4 Rumah); Ibrahim Jembek (Paliang Atas); Kasim Taher (Melayu); Samsudin, H. Jalil, H. Mahmud, H. Abdullah Usman (Sawahjui); Sharief Sulaiman (Malowe); Jalil (Dalimo Godang); Naamin Majid (Rumah Tabuh); Darwis Sulaiman (Koto Marapak); Rasjid Sulaiman Labai (Patopang); Nuri Said, Katib Sarbini; Kasim Marzuki (Palkoto); Nurajana (Talak Buai); Rasid Abdullah; Tirana (Kutianyir).

Seperti juga ditempati lain di Minangkabau arus pembaharuan di bidang agama juga berlangsung di Silungkang. Diantaranya jika pada awal berdirinya Mesjid (1900) khutbah Jum’at di Silungkang memakai bahasa Arab, maka tahun dua puluhan tidak demikian lagi. Khutbah Jum’at telah memakai bahasa Indonesia. Ini sesuai dengan Surat Ibrahim ayat 4, yang dalam bahasa Indonesianya : “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”.

Dalam pembaharuan ini peranan Ongku Kali Gaek (Tan Kabi Pokiah Kayo, Dalimo Cocah) besar sekali. Seorang diantara murid Ongku Kali Gaek tersebut ialah Pokiah Amat, Guru Surau Tanjung Medan.

Pembaharuan ini terjadi ada kaitannya dengan kegiatan bekas-bekas murid Syekh Ahmad Chatib bin Abdullah Al Minangkabau yang banyak pulang dari tanah suci sekitar tahun 1903-an.

Terhadap pembaharuan (bahasa) dalam Khutbah Jum’at ini ada sementara Ulama Silungkang yang tak dapat menerimanya. Mungkin dianggapnya khutbah dalam bahasa Indonesia itu tak sesuai dengan cara Nabi bersembahyang Jum’at, dimana khutbahnya dalam bahasa Arab. Penolakan mereka atas khutbah dalam bahasa Indonesia itu ditunjukkan dengan mereka tidak pernah lagi turut bersembahyang Jum’at di Mesjid Raya Silungkang sesudah itu.

Sangat sayang perbedaan pendapat tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah itu tak diselesaikan oleh Ulama-Ulama Silungkang yang ada ketika itu. Baik pembaharu maupun yang mempertahankan tradisi sama-sama tak mengambil inisiatif menyelesaikannya. Mungkin karena pertimbangan lain. Masing-masing bertahan dengan pendiriannya. Yang terang pihak ketiga yang berwibawa terhadap kedua belah pihak yang berbeda pendapat itu nampaknya tidak ada. Dan karena itu perbedaan pendapat itu berjalan terus.

Sementara itu orang Silungkang yang naik haji ke tanah suci senantiasa meningkat. Dan kini ke tanah suci tak memerlukan waktu berbulan-bulan lagi dilautan. Telah ada kapal api. Ke tanah suci tak perlu lagi melalui Ulakan, tetapi melalui Teluk Bayur. Menjelang tahun 1940 yang naik haji antara lain dari :

  • Palakoto : H. A. Karim, H. Abdulmanan, H. Rasyad, H. Muhammad, H. Padang, H. Bakar.
  • Dalimo Tapanggang : H. Salim, H. Ahmad, H. Katab.
  • Sawajuai : H. Djamil, H. Cuba, H. Tumbok.
  • Panai Kotobaru : H. Ibrahim, H. M. Zen, H. M. Yusuf, H. M. Ahmad, H. Capang, H. Abad.
  • Malowe : H. Yusuf, H. Saiyan, H. Ongku Unggai, H. Katab, H. M. Rahim.
  • Dalimo Godang : H. M. Junus, H. Komaria, H. Ibrahim.
  • Tanah Sirah : H. Taher, H. Ongku Godang, H. Hasan.
  • Dalimo Kosiek : H. Marzuki.
  • Koto Marapak : H. Kamaludin.
  • Dalimo Jao : H. Yahya, H. M. Noer, H. Aba, H. Hasan.
  • Panai Ruman Nan Panjang : M. Jamil.
  • Rumah Tabuh : H. Gude.
  • Guguk : H. Kukuik, H. Sulan.
  • Panai 4 Rumah : H. Ismail, H. Samsudin.
  • Batu Bagantung : H. Jusuf.
  • Talakbuai : H. Jusuf, H. Sulaiman, H. Ruslan.

Sesungguhnya masih banyak nama lain yang belum termasuk dalam catatan ini. Maklumlah kekuatan ingatan saya terbatas.

Dalam perjalanan Islam di Silungkang ini tak dapat diabaikan berdirinya Limau Purut Institut pada tahun 1940. Limau Purut Institut ini kemudian berganti nama menjadi Silungkang Institut dan seterusnya berganti lagi menjadi Sekolah Dagang Islam (SDI) hingga kini.

Berdirinya Limau Purut Institut ini adalah salah satu hasil Konferensi Silungkang tahun 1939, yang antara lain acaranya mempermasalahkan pendidikan anak-anak Silungkang. Seperti diketahui masalah pokok yang diperbincangkan dalam konferensi Silungkang 1939 ialah :

  • Masalah air buat mandi dan kesucian nama nagari Silungkang
  • Masalah pendidikan anak-anak
  • Masalah kain tenun Silungkang
  • Masalah perantauan anak nagari

Perlu juga diketahui bahwa sebelum berdiri Sekolah Dagang Islam ini, di Silungkang juga sudah ada Dinniyah School (sekolah agama), yang juga tak sedikit sumbangannya dalam memajukan pendidikan agama Islam di Silungkang.

Ketika konferensi Silungkang yang pertama itu berlangsung Perang Dunia ke II telah mulai di Eropa, dengan diserbunya Danzig oleh tentara Hitler pada 1 September 1939. Dua tahun lebih kemudian, tepatnya 8 Desember 1941, angkatan udara Jepang fasis menyerang armada Amerika di Pearl Habor. Dengan itu Perang Dunia ke II telah meliputi seluruh dunia.

Perang Dunia ini menyebabkan sebagian besar orang Silungkang di perantauan pulang ke kampung halaman. Dalam suasana perang itu rasanya lebih aman bila berdiam di kampung sendiri. Ketika itu Silungkang jadi ramai dengan segala macam kegiatan.

Sumber :

Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo