A. Fatah Sutan Malano lahir di Silungkang, berbako ke Panay Talawo. Waktu menjelang remaja, beliau ini sangat rajin. Karena beliau berjualan keliling kampung, maka nama beliau dikenal semua orang. Dijaman beliau jaya beliau terkenal sangat dermawan. Kalau kita bertanya bagaimana beliau menjadi kaya, tentu ada yang menjawab karena beliau rajin dan hemat, bahwa beliau telah kita mendapatkan cerita dari family terdekat beliau, bahwa beliau bercerita kepada anak-anak dan kemenakan beliau tentang asal kekayaannya adalah dari LUWI JO BONA. Ceritanya begini :

    Di tahun dua puluhan beliau ini berbelok ke Singapura, dan beliau sering membelikan emas untuk orang Guguek Bukit Tinggi. Karena orang Guguek lah yang banyak Toko Emas/Pandai Emas. Karena beliau lain lancar perjalanan dagangnya ke Singapura, maka ada seorang Guguek yang sangat percaya kepada beliau. Sehingga sebagian besar uang yang dibawa untuk membeli emas ke Singapura, adalah uang orang Guguek ini.

    Pada saat meletusnya pemberontakan di Silungkang tahun 1927, beliau baru kembali dari Singapura. Beliau belum sempat mengantarkan emas yang dibelinya ke Bukit Tinggi. Karena boleh dikatakan semua laki-laki Silungkang ditangkap/ditahan, maka beliau juga termasuk yang ditahan. Menurut cerita beliau tidak lama ditahan. Begitu beliau lepas dari tahanan, beliau teringat akan emas yang belum sempat diantarnya ke Bukit Tinggi. Maka beliau segera mengantar emas itu ke Bukit Tinggi. Menurut cerita beliau, emas itu banyaknya satu belek. Beliau tidak menceritakan tentang besar beleknya.

    Karena di Silungkang telah terjadi kekacauan, maka orang Guguek telah menganggap habis uangnya yang ada pada A. Fatah. Maka ketika A. Fatah sampai di Bukit Tinggi dengan membawa emas 1 belek, orang Guguek itu kaget. Dan dikatakannya langsung, “saya telah mengira barang ini sudah habis. Ternyata kau mengantarkannya, oleh sebab itu ambillah seperdua bagian untuk mu”. Dari itulah modal pertama beliau berdagang di Padang.

    Menurut cerita orangtua kita dulu, A. Fatah ini kaya karena kain tenun Silungkang. Cerita ini tidak sempat beredar, karena cerita yang pertama sangat menarik untuk dijadikan ajaran bagi anak kemenakan, yaitu pegangan hidup adalah LUWI JO BONA.

    Cerita yang kedua ini menyangkut kain Silungkang. Maka oleh karena itulah A, Fatah ini tidak habis-habisnya sosialnya ke Silungkang. Sebagian dari kita masih dapat melihat (merasakan) kesosialan beliau. Umpamanya rumah beliau yang di P. Godang Padang, terbuka untuk semua orang Silungkang (untuk bermalam). Kira-kira tahun 1902-1904 kain Silungkang ini telah sampai ke Jawa, dan bertambah pesat lagi setelah orang Silungkang dan kainnya dibawa oleh Belanda ke Belgia, untuk mengikuti Pekan Raya Internasional. Orang Silungkang tersebut mendapat medali dari Raja Belgia (1910), karena kain Silungkang ini sangat laku di pasaran Eropa.

    Maka orang Silungkang memohon kepada P. Belanda supaya di Silungkang didirikan pos, untuk bisa berdagang dengan rembus dosa. Tahun 1918 permintaan ini dikabulkan oleh Belanda, semenjak itu lancarlah penghidupan di Silungkang dengan bermacam-macam dagangan, dan pengiriman kain songket ini sangat lancar ke Jawa. Sekitar tahun 1925-1927 seakan-akan terhenti kelancaran perdagangan kain ini oleh karena Silungkang berontak kepada Belanda. Kira-kira tahun 1928 A. Fatah membeli kain Silungkang, katanya dia akan ke Jawa setelah uang yang dia sediakan untuk membeli kain, habis, maka oleh orang Silungkang, karena si Fatah yang akan ke Jawa, maka orang pada mengirim dengan catatan biarlah kami terima uang nanti setelah kembali dari Jawa maka oleh sebab itu banyaklah kain Silungkang yang bisa terbawa oleh A. Fatah ke Jawa ini. Dan pada hari keberangkatan, berangkatlah A. Fatah dengan kain yang banyak dan sampaikan dengan selamat A. Fatah dengan dagangnya ke Betawi.

    Beberapa hari A. Fatah sampai di Betawi ada Pekan Raya Internasional maka disinilah kita dapat melihat kecepatan A. Fatah berfikir. Beliau yakin yang berbelanja pada pekan Raya Internasional ini adalah orang-orang dari Eropa (kulit putih) maka harga kain langsung dia lipat gandakan sehingga setelah selesai Pekan Raya Internasional ini A. Fatah memperoleh uang + 80 ribu Golden dan setelah beliau sampai di kampung langsung sangkut paut beliau selesaikan, dan beliau pergi ke Padang mencari tanah sekitar Ps. Godang dan langsung beliau beli dan beliau temui toko-toko Belanda seperti BOROSMY – GWERY – INTRNASIO – JACOBSON dll.

    Maka tercatatlah beliau sebagai pedagang di Padang sampai akhir hayatnya.