Silungkang


Saat peresmian Tugu Peringatan Pemberontakan Silungkang terhadap Penjajah oleh Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta pada tahun 1947 menanyakan kepadal Talaha St. Langit (Ex. Digulis), “Apa lagi yang dibutuhkan Silungkang?”. Talaha St. Langit meminta agar di Silungkang dimasukkan aliran listrik karena Silungkang merupakan desa industri.

Tidak berapa lama permintaan tersebut terkabul. Waktu pergolakan PRRI, listrik tetap menyala dengan tekhnisi putra Silungkang (Umar Kamin, Mustafa Jalil, Johan Nur, Dermawan Rauf dan Syamsir Sarif).

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keenam Desember 2007 oleh Masri Ayat Siri Dirajo

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

 

BAGIAN KELIMA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Ada lebih dari kurang satu minggu, kami men-stel palantai serta mengatur tata ruang tempat kami bekerja. Palantai ATBM dua buah dan Palantai Gedokan dua buah, jadi kami memproduksi kain sarung dua bidang dan kain songket. Ruangan tempat kami bekerja ditata rapi, beralaskan tikar rotan dan berdinding setengan tiang yang terbuat dari rotan anyaman. Dipintu tempat masuk tertulis “Sila Buka Kasut” artinya silahkan membuka sepatu/sandal, dan setiap palantai juga tertulis “Jangan Sentuh” artinya jangan dipegang. Kami diarahkan supaya menenun kain hanya bila pengunjung ada. Jika pengunjung tidak ada kami tidak menenun, tetapi tetap berada ditempat, kami harus mengikuti kebiasaan pegawai Malaysia lainnya yaitu “Disiplin”, masuk tepat waktu, keluar pun tepat waktu. Setiap masuk kerja dan keluar kerja kami harus memasukkan kartu kehadiran ke mesin absensi sehingga tercetaklah jam masuk dan jam keluar pada kartu tersebut. Saya sudah agak merasa lega karena ketetapan kerja sudah ada, saya bertenun ATBM yang menghasilkan kain sarung dua bidang, sedangkan istri saya bertenun songket, demikianlah kerja kami sehari-hari, tetapi guna untuk menambah pengetahuan dan menambah pergaulan sekali-kali saya memfungsikan diri saya untuk menanti pelancong (pengunjung) yang ingin melihat barang peninggalan sejarah yang ada di Muzim Diraja tersebut, disamping itu saya juga berkesempatan mempelajari sejarah hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan serta sejarah Negeri Sembilan itu sendiri. Diantara pengunjung yang datang, saya ada berkenalan dengan Datok Batin yaitu seorang Kepala Suku Biduanda (orang asli Negeri Sembilan), dalam percakapan dengannya saya banyak mendapat pengetahuan mengenai orang asli Negeri Sembilan yang terdiri dari orang Semang, Sakai dan Jakun yang telah berkawin campur (semenda menyemenda) dengan pendatang dari Minangkabau. Pada suatu ketika saya juga sempat menghadiri Seminar Adat Perpatih yang diselenggarakan oleh pemuka-pemuka Adat Negeri Sembilan dan dikesempatan lain saya juga sempat itu sebagai “Urus Setia” (Panitia) Pesta Adat Persukuan yang diadakan oleh 12 suku yang ada di Negeri Sembilan. Nama-nama suku yang dua belas itu adalah sebagai berikut :

  1. Tanah Datar

  2. Batu Hampar

  3. Seri Lemak Pahang

  4. Seri Lemak Minangkabau

  5. Mungka

  6. Payakumbuh

  7. Seri Malanggang

  8. Tigo Batu

  9. Biduanda

  10. Tigo Nenek

  11. Anak Aceh

  12. Batu Belang

Untuk ketenangan bekerja telah ada bagi saya, kini saya pindah lagi memikirkan anak-anak saya yang akan bersekolah, menurut perjanjian semula seluruh pengurusan sekolah anak-anak saya ditanggung oleh Muzium (yaitu pegawai Muzium orang Malaysia).

Bulan Desember adalah hari libur sekolah karena baru saja “naik derjah” (naik kelas). Ini satu perbedaan, kalau di Indonesia naik kelas bulan Juni dan tahun ajaran baru bulan Juli, sedangkan di Malaysia naik derjah bulan Desember dan tahun ajaran baru pada bulan Januari.

Pada tanggal 2 Januari 1999 libur sekolah telah berakhir, murid-murid sudah pada mulai sekolah, sedangkan anak-anak saya belum masuk sekolah, karena beluma ada berita dari Muzium tentang pengurusan anak-anak saya, sudah 15 hari saya tunggu-tunggu beritanya namun tidak ada kabar, saya mulai gelisah, akan saya urus sendiri, saya belum tahu caranya dan juga saya kuatir pihak Muzium tersinggung. Untunglah sore itu Wakil Kurator Muzium datang ketempat saya bekerja, saya ceritakan kegelisahan saya tersebut, dan Wakil Kurator Muzium mengerti akan kegelisahan saya itu, “Baiklah, esok kite pigi ke Pejabat Pendidikan Seremban, saye ade kenal dengan salah seorang pegawai disane, Bapak bisa tanye segala persyaratan dan prosedur macam mane nak uruskan anak Bapak”. Kata Cik Mad (Mohammad Darus/Wakil Kurator Muzium).

Keesokan harinya saya dijemput oleh Cik Mad, sesampainya di Pejabat (kantor) pendidikan Seremban, saya diperkenalkan kepada pegawai yang khusus mengurus penerimaan pelajar asing, saya dibawa ke bilik kerja pegawai tersebut, disitu saya diberi keterangan mengenai prosedur yang harus saya lalui dan laksanakan, sedangkan Cik Mad tinggal diluar bercakap-cakap dengan pegawai yang dia kenal disana.

“Pertama sekali Pak Cik harus memastikan yang sekolah tempat anak Pak Cik bersekolah berkenan menerime anak Pak Cik, tentu sahaje Pak Cik jumpe dengan Guru Besar (Kepala Sekolah), kalau die berkenan menerime anak Pak Cik, die akan bagi surat rekomendasi, dan surat rekomendasi itu Pak Cik hantar kesini. Kemudian berhubung kerana anak Pak Cik ikut passport ibu, Pak Cik harus pesah passport itu, sahingga masing-masing anak Pak Cik punye pasport tersendiri, memecah passport tersebut di Kedutaan Besar Republik Indonesia Kualalumpur, nanti setelah siap passport anak-anak Pak Cik itu, bawe kesini bersamaan dengan surat rekomendasi dari Guru Besar tadi. Setelah itu kami buatkan rekomendasi dan Pak Cik bawe rekomendasi beserta passport anak-anak Pak Cik itu ke Pejabat Imigresen (kantor Imigrasi) guna dibuatkan Student’s Pass (Pas Pelajar), yang akan berkuat kuase (berlaku) selame satu tahun. Setelah anak Pak Cik punya Student’s Pass, barulah anak Pak Cik bisa diterima sekolah di Malaysia ini, sebelum punye Student’s Pass anak Pak Cik tak de hak masuk sekolah.”

Demikianlah keterangan yang saya terima dari pegawai yang khusus mengurus penerimaan pelajar asing tersebut, dan seterusnya saya mohon pamit, Cik Mad kembali mengantarkan saya pulang ke Sri Menanti.

Di rumah, lama saya termenung memikirkan panjangnya prosedur mengurus sekolah anak-anak saya, sekali-sekali terlontar nada keluhan dari lubuk hati saya, kalau dipikir-pikir untuk menjalani proses pengurusan sekolah anak-anak saya itu bisa memakan waktu dua bulan, baru anak-anak saya bisa sekolah, tentu anak-anak saya terlantar, kasihan anak-anak saya.

Besoknya saya pergi bekerja seperti biasa walau malam tadi saya susah untuk tidur karena terlalu banyak berpikir, sedang asik bekerja, kebetulan sekali muncul Tan Sri Samad Idris, “Assalamu’alaikum, ape kabar Pak Djasril ?”, kata Tan Sri sambil menyalami saya. “Wa’alaikumussalam, kabar kurang baik, saya susah hati”, jawab saya dengan nada sedih. “Hai …. ape hal, bagi tahulah saye, kalau boleh saye tolong”, kata Tan Sri lagi. Maka saya ceritakanlah segala perihal sekolah anak saya tersebut dan segala prosedurnya. “Oh … macam tu, tunggu sekejap, saye talipon Guru Besar”, kata Tan Sri seraya pergi ke bilik pejabat Muzium untuk menelepon Guru Besar Sekolah Kebangsaan Tunku Laksamana Nasir yang terletak berseberangan jalan dengan Muzium tempat saya bekerja. Hanya sedikit yang terdengar oleh saya kata-kata Tan Sri yaitu “Cik Gu (Pak Guru) terima anak-anak Pak Djasril itu dulu, surat-surat kedian (menyusul). Setelah selesai Tan Sri menelepon lalu menghampiri saya “Esok pagi, Pak Djasril hantar anak-anak ke sekolah, saye dah cakap dengan Guru Besar, kemudian uruslah surat-surat”, kata Tan Sri.

Tak dapatlah saya ceritakan disini betapa gembira dan leganya hati saya atas pertolongan Tan Sri tersebut dengan mudah anak-anak saya bisa masuk sekolah sebelum surat-surat selesai, saya tahu pengaruh Tan Sri sangat besar di Negeri Sembilan dan sangat dihormati semua kalangan, baik oleh rakyat biasa, pemerintah dan juga oleh kerabat raja-raja.

Keesokan harinya saya bawalah anak-anak saya ke Sekolah Kebangsaan Tunku Laksamana Nasir, saya disambut dengan ramah oleh Guru Besar (Kepala Sekolah), dan saya mendapat keterangan-keterangan yang saya perlukan untuk kepentingan anak-anak saya seperti dikatakan bahwa menurut peraturan bagi pelajar asing tidak disediakan Buku Bacaan tapi harus beli sendiri di Kedai Buku (Toko Buku).

Anak saya yang tua (perempuan) duduk di derjah enam sedangkan anak saya yang nomor dua (laki-laki) duduk di derjah tiga, (derjah = kelas). Guru Besar memperkenalkan anak-anak saya kepada murid-murid yang ada di sekolah itu dan murid-murid disana juga gembira menerima anak-anak saya.

Besoknya, melalui telepon saya dipanggil oleh Guru Besar karena ada sesuatu yang akan diberitahukan kepada saya, setelah saya bertemu dengan Guru Besar tersebut dia mengatakan kepada saya bahwa anak saya nomor dua (laki-laki) tidak layak duduk di derjah tiga, kembali kepala saya pusing dibuatnya, kalau tidak layak duduk di derjah tiga tentu duduk di derjah dua kembali, berarti tinggal kelas satu tahun.

Karena penasaran saya tanyakan apa alasannya tidak layak duduk di derjah tiga apa yang kurang dengan anak saya itu, maka dijawab oleh Guru Besar tersebut, “Setelah kami tengok Surat Beranak (Akta Kelahiran) anak Pak Cik, ternyata anak Pak Cik beranak (lahir) 20 Ogos (20 Agustus) jadi sudah lebih dari pertengahan tahun, maka tak layak duduk di derjah tiga, anak Pak Cik harus duduk di derjah empat. Maka mulai sekarang anak Pak Cik kami pindahkan ke derjah empat.”

Tak habis pikir saya, cerdas betul anak saya, satu hari di kelas tiga langsung naik ke kelas empat. Kemudian barulah saya tahu bahwa di Sekolah Rendah (Sekolah Dasar) derjah atau kelas disesuaikan menurut umur dan tidak ada istilah tinggal kelas, naik terus sampai kelas enam, walaupun bodoh. Kelas satu umur tujuh tahun, kelas dua umur delapan tahun, kelas tiga umur sembilan tahun begitu seterusnya.

Anak-anak saya telah mulai sekolah, besoknya saya mengisi borang (formulir) untuk mengambil cuti satu hari guna pergi ke Seremban membeli buku-buku kebutuhan anak-anak saya dengan membawa daftar buku-buku yang akan dibeli. Di Seremban saya cari Kedai Buku semacam Toko Buku Gramedia di Indonesia, di Kedai Buku itu lengkap semua, alat-alat tulis, tas, buku tulis, buku cetak. Setelah semua kebutuhan anak-anak saya itu dilengkapi, saya pergi ke counter untuk membayarnya, total semua saya bayar semua RM. 350,- (tiga ratus lima puluh ringgit), penuh satu kardus kecil untuk saya bawa pulang.

Anak-anak sudah bersekolah, peralatan sekolah sudah cukup, pakaian seragam sudah ada, sebagian dari kesulitan saya sudah teratasi, kini yang harus dipikirkan lagi mengenai surat-surat sebagai persyaratan legalnya anak-anak saya sebagai seorang pelajar di Malaysia, pertama-tama memecah passport isteri saya, yaitu sebelum ini anak-anak saya tercantum sebagai pengikut didalam passport isteri saya, jadi dibatalkan pada passport isteri saya dan dibuatkan masing-masing passport tersendiri, ini pengurusannya di Kedubes RI Kualalumpur (lebih kurang 90 km dari Seri Menanti), kemudian setelah selesai passport anak-anak saya, diurus pula Student’s Pass (Pas Pelajar) ke Pejabat Imigresen (Kantor Imigrasi) di Wisma Persekutuan Seremban.

Lalu siapa yang akan mengurus surat-surat ini semua ? Tentu saja pegawai Muzium orang Malaysia, karena ini negaranya, tentu lebih mengetahui seluk beluknya, tetapi setelah dimintakan kesediaanya tak seorangpun yang sanggup dengan alasan belum ada pengalaman dan pengetahuan mengurus surat-surat seperti ini, lagi pula susah untuk meninggalkan jam kerja disebabkan disiplin pegawai yang ketat, akan diambil jatah cuti tahunan, masing-masing mereka sudah punya program dengan hari cutinya. Lantas siapa yang akan mengurus ini semua ? Kalau ingin selesai ya .. harus saya, saya yang lebih baik tidak punya pengalaman dan pengetahuan berurusan di kantor-kantor Malaysia, saya yang baru beberapa bulan di Malaysia. Ke Kedubes RI Kualalumpur ? Alamatnya saya tidak tahu. Ke Kantor Imigrasi Malaysia ? Saya belum biasa berurusan dengna pegawai-pegawai Malaysia yang punya disiplin tinggi. Kembali kepanikan melanda diri saya, malam hari saya susah tidur, makan mulai berkurang, pikiran mulai tegang, tekanan darah mulai naik, saya berdo’a semoga Allah memberi saya ketabahan dan keimanan.

BERSAMBUNG

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Kelima, November 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah

Sejujurnya Dewan Redaksi dari Koba PKS sangat menyadari konsekwensi dari judul tersebut di atas, dan kami telah siap menerima segala protes yang akan dilayang kepada kami. Disadari atau tidak – bagi yang terbiasa tentu tak ada masalah – namun bagi yang belum terbiasa dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk acara seperti ini, tentu akan membuat jantung berdetak keras, tangan berkeringat dingin dan muuka jadi pucek dadai, kalau mau sedikit kehilangan muka, cara lain yang biasa dipakai adalah manyolang mamak kakampuang dalam andiko (meminjam paman ke kampung), celakanya kalau dalam keandikoan itu, juga tidak ada yang sanggup melaksanakannya maka taposolah (terpaksalah) bamamak kamamak urang (berpaman ke paman) lain. Berabe, kan ..!

Inilah tips dari Redaksi Koba PKS, pelajarilah dan nikmatilah.

KATA PEMBUKA SEBELUM MAKAN.

Datuk kampuang Pihak Laki-laki :
“Bismillahirrohmanrrohim. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Partamo-tamo, marilah kita panjekkan puja sarato puji kapado Tuhan seluruh Alam, semoga kebahagiaan dan keselamatan tercurah bagi arwah junjungan kito Nabi Besar Muhammad SAW. Kamudian dari pado itu marilah kito mengucek syukur kapado Allah SWT, nan ateh izin Baliau juo pa tomuan ko dapek dilansuangkan. Mana Baliau nan bagolai ……”.

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Iyo, ambo !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Agiah mo’o ambo la banyobuik golai, datuak ….”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sapanjang biaso, tu ma !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Kami silang nan bapangka karojo nan bapokok, karakok nan banjunjuang mangucapkan tarimo kasi ateh kadatangan datuak …. saroto jo rombongan. Agia mo’o kami jiko manduduakan datuak …. jo rombongan indak pado tompeknyo.

Bak pituah rang tuo kitomah datuak …, batanyo salope orak, mardeso jo powuik konyang. Baapo tuh tantang hidangan nan la talatak dihadapan kito nan basamo, iyo nak mintak disalamekkan. Kok jauah mintak dijangakau, nan dokok mintak dicotok. Sakian somba dari Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“La sampai dek datuak …… da!”

Datuak Kampuang Pihak Laki-laki :
“La, babilang sampai nu …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Apolah kato nan talimpah kabakeh Ambo, indak kaambo ulang kilin. Indak kaambo tikam jojak. Diulang kilin kok lope, ditikam jojak kok sopuak, diulang kato kok ditimbang. Baapo kok kini, iyolah bak pituah rang kito juo, lomak lawuak dek bakunyah. Lomak kato dilega bunyi. Kami dek lai baduo, batigo disiko, nak ambo ambiak dulu kato baiyo. Mananti datuak …. sakatiko”

Datuk Kampuang PIhak Laki-laki :
“La sapanjang nan biasto tuh, ma …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
Baiyo jo rombongan.
“Anu … iko la tibo imbauan dari silang nan bapangka, karojo nan bapokok ma …, tontang hidangan nan la talatak, nak minta disalamek an. Baapo dek kito.

Dijawab oleh salah seorang anggota rombongan :
“Kok iyo la disorahkan, yo batarimo sajo dek kito. Indak ado do’a panulak rasoki, do … !”

Setelah selesai bermufakat, maka ketua rombongan menyambung kembali pembicaraan. “Mano baliau datuak ….. tako ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Talambek talamo ambo mamulangkan kato ka datuak, dek jalanlah banyak nan bakelok, pamatang lah banyak nan baliku. Lah bulek aie dek pambuluah, lah bulek kato dek mupokek. Kalau iyo lah diagiah dek sipangka, sapanjang adek kami tarimo basamo-samo. Mulailah dek sipangka nak kami tutuah dari ujuang.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Nan kami kondak i bona tu, ma … Dibukak tuduang lai. Bismillahirrohmanirrohim …”

SASUDAH MAKAN.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mano baliau nan bagolai datuak …?”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Baulang-ulang ambo maimbau datuak, ma …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sanpanjang nan biaso tu, mah …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Olun duduak la maju ma, tuak. Nampak-nampaknyo sabolun golek tibo, bone-bone bak ata, iyolah kabaguliang-guliang toruih juo inyo”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Manitahlah datuak … !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Tontangan partomuan kito, iyolah malanjuik an etongan induak-induak nan lah disapokek i, nan kini la sampai ka awak. Kabaapo kok dek awak kini …?”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“La sampai dek datuak …”
Apolah kato nan bapulangkan dek datuak …, kapado ambo, iyolah kato nan sabona kato, tapi samantang baitu, Adek limbago barapek, adek pusako duduak basamo – duduak sorang basompik-sompik, duduak basamo balapang – lapang. Kok ambo ambiak kato baiyo, ambo bawo kato mupokek, lai kok didalam adek kami datuak … ?

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Lai dalam adek bona tu datuak …!

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Kok, iyo lai didalam adek … mananti datuak sakatiko”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Biasotu, ma … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
Berunding dengan para Tungganai, lalu …
“Mano baliau, datuak … tako ?”

Datuk Kampuangn Pihak Laki-laki :
“iyo, ambo … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Adopun makosuk patomuan ko, iyolah : Nak mampatomua rueh jo buku antaro anak kamanakan kami nan banamo … anak dari ….. babako ka ….. nan kapatomuan jo kamanakan datuak ……. nan banamo ………. anak dari ……… babako ka ……..

Gayuang iyo nak minta disambuik, kato iyo nan minta dijawek ma, tuak … !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Nampaknya lah sajalan, sapangona kito mah. Kami iyo nak mananyoan, datuak iyo nak mangatokan pulo.”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sabarih lai datuak, tontang nike jo nazar ko. Kok lai disetujui, kami la marancanokan ka manyalanggarokan pada hari …. batompek di ….. Pestanyo hari ……….. tanggal …………. di …………. jam ………

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mengulang jadual yang dikemukakan pihak wanita. Kok baitu, iyolah nak samo-samo kito pakorongkampuangkan”

MINTA DIBACAKAN DO’A

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mano baliau nan bagolai datuak …. !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Ambo … ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Tontang karojo awak mampatomuan rueh jo buku diantaro kamanakan awak, olah salamek. Baapo kini lai, handaknyo kaduo kamanakan kito itu sajak kin saakua jo sakato sajo, samo-samo pandai manjago diri, sahinggo salamek sampai ka palaminan. Kamudian daripado itu, iyo nan dibacokan do’a jo Al Fathiha dek datuak …. Sakian sambah dari ambo.”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Apo kato nan talimpa ka bakeh ambo, iyolah tontang karojo awak mampatomuan rueh jo buku diantaro kamanakan awak, kan olah salamek. Kamudian dari pado itu, iyo nak dibacokan do’a jo Al Fathiha, dek datuak …. Kan baitu bona kato datuak …. Ndak ado lai, kok nan kamambacoan do’a, tontu basoraan Ongku Malin kito juo.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Kok Ongku Malin nan ka mambacoan, iyo datuak …. nan kamampalalukannyo, mah … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Iyo, baapo to lai …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Meminta tolong ka Ongku Malin atau mambaco sendiri”

CONTOH DO’A PENDEK
“Alaa ha-dza niyyatin wa likulli niyyatin sholihah, Al Fathiha :
A’uzubillahiminasy syaitonir rojim.
Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillahir Robbil’alamin.
Was shoolatu was salaamu’ala sayyidina Muhammadin wa’ala aalihi ajma’in.

“Ya, Allah ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi dan mengasuh kami dari kecil hingga dewas dan ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang hidup dan yang telah tiada. Wahai Tuhan kami, karunialah kami dengan istri-istri kami dan anak-anak kami yang menyenangkan hati kami dan jadikanlah kami ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Wahai, Tuhan kami berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

MINTA IZIN PULANG

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Mano baliau datuak …… tako ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Tantang karojo kito nan basamo, kok dipandang olah baiak muko, kok didonga olah elok bunyi. Nan diam olah pocah. Kok makosuk olah sampai. Kok makan olah konyang. Kok minum olah taraso sojuak. Kamudian la dimonton i jo do’a sarato Al Fathiha.

Baapo kini dek kami nan sabondong datang sairing samo tibo. Jikok duduak la taraso ponek, jikok togak la taraso poniang. Nan taniek didalam hati, nan tarogak dalam tabuah. Paham babosiak di nan batin, budi manuntuik ka elemu. Jikok duduak nan maurak selo, jikok togak nan maasak langkah. Nak pulang ka tompek masiang-masiang. Sekian ijin jo sombah kabakeh datuak …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
Nan sapanjang kato dari datuak. Nan taserak ka marapek. Nan tatabua ka nan banyak. Nan talimpah ka bakeh ambo. Dek kami lai baduo jo batigo, saukua mako takanak, sasuai mangko manjadi. Nak nyo bulek aie ka pambuluah. Nak nyo bulek kato ka mupokek, ambo bao kato baiyo …. mananti datuak sakatiko (baiyo jo anggota si pangka).

Sumber : Buya Damra Ma’alin

Koba PS Jakarta, II/Des. 01

Titah Sambutan Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung
Pada Acara Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang
Tanggal 12 Desember 2002 di Nagari Silungkang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
A’uzubillahiminashaithonirojim
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillahrabil A’lamin
Wa sholatu Washollamu A’la Asrafil Ambyai Mursalin Wa’ala Waashabihi Ajmain
Ashadu Allailahailollah Waashaduana Muhammadarasulullah
Allahumma Sholi Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

  • Yang sama-sama kita hormati, Bapak Gubernur Sumatera Barat selaku pucuk undang Sumatera Barat
  • Yang terhormat Ketua DPRD Sumatera Barat
  • Yang terhormat Bapak-bapak Unsur Muspida Sumatera Barat
  • Yang terhormat Sdr. Bupati/Walikota Sumatera Barat beserta seluruh pejabat sipil dan militer yang hadir pada acara ini
  • Yang saya muliakan ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumatera Barat
  • Yang sangat saya muliakan Ibunda yang Dipertuan Gadih Pagaruyung
  • Yang amat mulia orang kaya-orang kaya kami Basa nan Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah
  • Yang amat mulia yang Dipertuan/Tuanku/Raja, Sapiah Balahan, Kaduang Karatan, Kapak Radai dan Langgam nan Tujuah Koto Piliang
  • Khususnya yang mulia Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Sabaleh di Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk
  • Angku-angku, niniak mamak nan gadang basa batuah, para alim ulama suluah bendang dalam nagari, para cadiak pandai yang arif bijaksana, para bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang dan beserta hadirin-hadirat yang saya muliakan.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat karunianya sehingga dapat terselenggaranya acara penobatan pucuak adat nagari Silungkang dan Padang Sibusuk yakni Gajah Tongga Koto Piliang beserta lima orang penghulu pucuak nagari Silungkang.

Selanjutnya kita ucapkan pula salawat dan salam pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam berupa kitab suci Al Qur’an dan Hadist.

Pada hari ini kita semua telah sama-sama menyaksikan penobatan Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagariaan Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang serta penghulu pucuak nan balimo di Nagari Silungkang. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah baik bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak pada khususnya maupun bagi masyarakat Minangkabau pada umumnya. Kami katakan demikian karena upacara penobatan Gajah Tongga Koto Piliang dan datuak pucuak nan balimo ini adalah suatu wujud untuk membangkitkan batang tarandam yang sekaligus merupakan perwujudan dari program kembali ka nagari dan kembali basurau yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Perda No. 9 Tahun 2000. Dengan telah dibangkitkan kembali kebesaran nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yakni Gajah Tongga Koto Piliang yang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang, yaitu :

  1. Tampuak Tangkai Koto Piliang di Pariangan – Padang Panjang.
  2. Pasak Kunkuang Koto Piliang di Labuatan – Sungai Jambu.
  3. Pardamaian Koto Piliang di Simawang – Bukit Kanduang.
  4. Cemeti Koto Piliang di Sulit Aia – Tanjuang Balik.
  5. Camin Taruih Koto Piliang di Singkarang – Saniang Baka.
  6. Harimau Campo Koto Piliang di Batipuah X Koto.
  7. Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang – Padang Sibusuak.

Langgam Nan Tujuah Koto Piliang ini merupakan Pembantu Utama dari Rajo nan Tigo Selo dibawah koordinasi Basa Ampek Balai. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah Panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang inilah pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan sehingga menimbulkan bau yang sangat busuk sehingga tempat itu dan sekitarnya dikenal kemudian dengan nama Padang Sibusuak. Perlu juga dicatat para peristiwa pertempuran besar-besaran tersebut muncullah hulubalang muda yang dengan gemilang dan tangkasnya membantu Gajah Tongga Koto Piliang dalam mengalahkan pasukan Singosari. Hulubalang muda itu adalah Gajah Mada yang dikenal kemudian dengan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku niniek mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang serta hadirin hadirat yang saya muliakan.

Cuplikan singkat dari sejarah Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yang kami uraikan tadi hendaknya dapat dijadikan sebagai latar belakang historis dan motivasi bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak untuk menggali, mendalami dan memahami latar dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daay manusia anak nagari ini.

Dengan dibangkitkan kembali kebesaran “Gajah Tongga Koto Piliang” kami mengharapkan Datuak Tan Pahlawan Gagah Labiah yang pada dirinya melekat kebesaran Gajah Tongga Koto Piliang bersama-sama dengan Datuak Pucuak nan sabaleh (Datuak Pucuak Nan Balimo di Silungkang dan Datuak Pucuak Nan Baranam di Padang Sibusuak), kiranya dapat menata kembali dengan sebaik-baiknya susunan masyarakat adat, hukum adat, adat istiadat dan tradisi yang berlaku serta kehidupan beragama dikalangan masyarakat anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak. Hanya dengan tatanan masyarakat adat yang kuat, adat budaya yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakatnya. Pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang benar oleh suku bangsa Minangkabau pada khususnya, bangsa dan Negara pada umumnya akan dapat mempertahankan eksistensinya dari hantaman globalisasi serta pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Demikianlah titah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan akan ada manfaatnya bagi kita semua dan akhirnya kepada Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagarian Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajah Tongga Koto Piliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Balimo Nagari Silungkang serta seluruh Niniak mamak, Alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kanduang serta seluruh anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak kami ucapkan selamat ataslah tabangkiknyo batang tarandam.

Akhirnya kami mohon maaf seandainyo alam Titah Sambutan ini terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya “Kok indak di barih nan bapaek, kok indak ditakuak nan ditabang disusun jari nan sapuluah, ditakuahkan kapalo nan satu, kapado Allah ambo minta ampun, kapada kito basamo ambo minta maaf”.

Wabillahi Taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Pagaruyung, 12 Desember 2002
Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung

TTD

H.S.M. TAUFIQ THAIB, SH
(Tuanku Mudo Mahkota Alam)

Dalam keadaan asli tercantum tanda tangan Raja Alam Pagaruyung.


TITAH

DAULAT YANG DIPERTUAN RAJO ALAM PAGARUYUNG

Nomor : III/DYRAP/XI/2002
Tentang : PENOBATAN GELAR SAKO ADAT GAJAHTONGGA KOTOPILIANG KEPADA ENGKU IRWAN HUSEIN SUTAN BAGINDO DAN PANUNGKEKNYA ENGKU DR. IR. YUZIRWAN RASYID, MS.
Membaca : Surat Permohonan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silungkang Nomor 20/KAN-SLN/XI/2002 tanggal 15 November 2002 perihal penobatan gelar Sako Adat kepada Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dari Nagari Silungkang dan Panungkeknya Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS bergelar “ Datuk Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang ” dari Padang Sibusuak.



Menimbang : 1. Bahwa Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak dalam tatanan adat dan sejarah Minangkabau mempunyai sako kebesaran yang disebut sebagai Gajahtongga Kotopiliang sebagai salah satu anggota kerapatan Langgam Nan Tujuah Kotopiliang yang merupakan perangkat dari Kerajaan Pagaruyung.


2. Bahwa dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan dalam rangka kembali Banagari, sudah selayaknya gelar sako kebesaran adat Minangkabau yang sudah terliput dihidupkan / dibangkitkan kembali termasuk gelar sako kebesaran Gajahtongga Kotopiliang dari Nagari Silungkang dan Nagari Padang Sibusuak.


3. Bahwa Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS telah disepakati oleh Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak untuk dinobatkan sebagai Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang dan Datuak Pahlawan Gagah panungkek Gajahtongga Kotopiliang.


4. Bahwa Kesepakatan Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak tersebut angka 3 diatas telah disetujui dalam Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dengan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.


5. Bahwa untuk penobatan gelar sako Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang perlu dikeluarkan Titah Penobatan dimaksud.




Mengingat : 1. Mamanan Adat “BATAGAK PENGHULU SAKATO KAUM, MENOBATKAN RAJO SAKATO ALAM”


2. Hasil Keputusan Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.

MENITAHKAN :


1. Menobatkan Engku Irwan Husein Sutan Bagindo selaku Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Pucuk Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk.
2. Menobatkan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS selaku Panungkek Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Panungkek Pucuak Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak.
3. Penobatan gelar sako tersebut angka 1 dan 2 dilakukan dalam suatu upacara kebesaran adat Minangkabau di Nagari Silungkang ditandai pemasangan saluak dan penyisipan keris oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
4. Pidato Adat Pati Ambalau Penobatan Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat.
5. Titah ini mulai berlaku sejak penobatan.





Dikeluarkan di : Pagaruyung

Pada tanggal : 25 November 2002.


1. Pangkat Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.
2. Diatas Stempel Kerajaan Pagaruyung terdapat tanda tangan Raja Pagaruyung.
3. Posisi Stempel agak kekiri dan tanda tangan berada ditengah antara Pangkat dan nama Raja.
4. Nama lengkap Raja Pagaruyung diberi garis bawah dengan kesluruhan berhuruf kapital
5. Gelar Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.


Tindasan Titah Disampaikan Kepada :
1. Yth. Bapak Gubernur Sumatera Barat/Pucuk Undang Sumatera Barat di Padang.
2. Yth. Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumber di Padang.
Asli Titah ini disampaikan kepada :
– Yth. Engku Irwan Husein Sutan Bagindo.
– Yth. Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS.
– Arsip.






Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007




Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007

Sekembalinya dari shalat Tarawih, Pemred Suara Silungkang terlibat percakapan telepon dengan korespondesi/perwakilan Suara Silungkang di Surabaya Hj. Nino Hesni Amsir, nampaknya percakapan ini sangat penting dan hampir terlupakan, yaitu hubungan histories antara Silungkang dengan Padang Sibusuk, duo nagori badunsanak.

“Alangkah eloknya Suara Silungkang juga memuat berita kampung dan rantau dunsanak kito di Padang Sibusuk, di Surabaya ada seorang pengusaha Padang Sibusuk bernama Amrizal Zen, Dt. Rangkayo Mulia, beliau sangat tertarik setelah membaca Tabloid Suara Silungkang edisi Jolong-Jolong, Edisi Kedua dan Edisi Ketiga, beliau juga mengharapkan supaya Suara Silungkang menjadi alat untuk merekat rasa badunsanak Silungkang dan Padang Sibusuk dan juga memuat berita kampung dan rantau dari Padang Sibusuk, untuk itu beliau bersedia menjadi donatur Suara Silungkang”. Demikian Hj. Nino Hesni Amsir yang juga Pengurus PKS Surabaya menyampaikan kepada Pemred Suara Silungkang melalui percakapan telepon tersebut.

Besoknya langsung dimusyawarahkan hasil percakapan tersebut di Redaksi Suara Silungkang, terwujudlah kata sepakat untuk menemui Wali Nagari Padang Sibusuk yang baru saja terpilih dan dilantik ASRIL KARIM Mantari Alam. Wali Nagari beserta jajarannya menyambut baik gagasan ini bahkan Wali Nagari bersedia menunjuk Koresponden/Reporter/Perwakilan di Padang Sibusuk dan akan mengadakan duduk bersama sesudah hari raya Idul Fitri lalu dan akan mengundang Redaksi Suara Silungkang.

Kami dari Redaksi Suara Silungkang juga mengharapkan akan muncul Korespondensi/Reporter/Perwakilan Suara Silungkang dari perantau-perantau Padang Sibusuk dimana saja berada.

Alamat Redaksi :
Lantai Atas, Blok C, Pasar Inpres Silungkang, Kec. Silungkang, Kota Sawahlunto 27431
Telp. 0755 – 91353, Fax. 0755 – 91353
Email : suara_silungkang@yahoo.com

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Saya punya catatan mengenai alat-alat tenun yang akan dibawa ke Malaysia, sebagian alat yang kecil-kecil langsung dipesan seperti locuik locuik, tughak, sikoci, sikek, buluah tughiang, balobe, juaran panjang, juaran singkek, lidi onau, kakolong, tali putiah, sedangkan palantai juga dipesan yaitu palantai ATBM dan palantai gedokan.

Untuk memesan dan mengurus alat-alat tersebut saya serahkan kepada isteri saya, dan disamping itu saya juga sibuk mengurus surat pindah sekolah anak saya di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah untuk pindah ke salah satu Sekolah Rendah (SR) di Malaysia. Anak saya yang paling tua kelas 5 SD, yang nomor dua kelas 3 SD, sedangkan yang kecil belum sekolah lagi karena baru berumur 4 tahun.

Pada tanggal 5 Nopember 1998, pagi itu saya sedang duduk disebuah bangku didepan Kantor Desa Silungkang Oso. “Pak, ado talepon”, kata salah seorang perangkat Desa. “Terima kasih”, jawab saya sambil langsung menuju gagang telepon yang masih tergeletak diatas meja. “Hallo, Assalamu’alaikum”, kata saya. “Wa’alaikumussalam, saye Cik Din, saye dah ade kat Padang, saye menginap kat Pangeran Hotel, macam ni Pak Djasril, esok pagi Pak Djasril datanglah ke Pangeran Hotel Padang bilik nomor 125 untuk ambik duit pembayar alat tenun dan ongkos balik ke Malaysia, sekalian duit bagi ongkos 2 orang pengrajin lagi, boleh paham tak ape yang saye cakap ni ?”. “Ya Cik Din saya paham, besok pagi saya berangkat ke Padang,” jawab saya.

Rupanya Cik Din (Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator Lembaga Muzium Negeri Sembilan, sudah berada di Padang mengiringi kepergian saya ke Silungkang, saya sudah dianggap sebagai pegawai Muzium yang sedang melaksanakan tugas kerajaan di luar negeri, keselamatan saya adalah tanggung jawab kerajaan (pemerintah), demikian keterangan yang saya perdapat kemudian.

Siangnya saya temui seorang teman, Pak Idris, salah seorang guru di SD 013 Sungai Cacang, Silungkang Oso, dia ada punya mobil carry, saya minta dia untuk bersedia pergi ke Padang besok pagi mengantar saya ke Pangerang Hotel Padang, Pak Idris bersedia, karena bangku mobil banyak kosong, isteri dan anak-anak saya bawa.

Pada tanggal 6 Nopember 1998, pukul 08.00 pagi, saya sekeluarga dan Pak Idris yang langsung sebagai sopir mobilnya berangkat ke Padang, di Padang terus ke Pangeran Hotel. “Pak Idris, nanti sabonta disiko di, ambo tomui sabonta ughang Malaysia tu”, kata saya, setelah mobil Pak Idris parkir di Pangeran Hotel. “Jadi Pak”, jawab Pak Idris. Pak Idris dan keluarga saya menunggu di mobil, saya langsung ke tempat Receptionis, “Selamat siang Pak, apa yang bisa kami bantu”, tegur salah seorang yang berada di Receptionis itu. “Selamat siang, saya ingin menemui Shamsudin bin Ahmad, kamar nomor 125”, kata saya. “Sebentar ya Pak”, katanya lagi sambil menelepon ke kamar nomor 125 memberi tahu bahwa ada tamu yang ingin bertemu.

Tidak lama kemudian Cik Din muncul. “Seorang aje Pak Djasril ke sini ?”, tanya Cik Din sambil menyalami saya. Saya kesini sekeluarga dengan mobil teman”, jawab saya. Jom … (ayoh) kite pigi makan dulu”, kata Cik Din sambil barengan dengan saya menuju mobil Pak Idris. “Pak Idris ka rumah makan wak”, kata saya. “Jadi”, jawab Pak Idris. Di rumah makan kami duduk semeja dan terhidanglah bermacam-macam lauk pauknya. Saya perhatikan Cik Din memesan gulai tunjang sampai dua piring, nasi patambuhannya pun bertubi-tubi, kami heran juga melihat godang saleghonya (besar seleranya). Sambil makan dia berkata : “Saye kalau ke Padang, inilah yang tak tahan, saye suke masak Padang”. Selesai makan yang ditraktir Din itu kami kembali ke hotel di mana Cik Din menginap, saya dibawah ke kamar Cik Din, sementara Pak Idris dan keluarga saya menunggu di mobil. Lagi-lagi pengalaman baru bagi saya yaitu naik lift, karena kamar Cik Din berada di lantai tiga. Sampai di kamar Cik Din, diserahkanlah uang kepada saya sebanyak tiga setengah juta rupiah guna pembeli alat-alat tenun dan ongkos. “Nanti Pak Djasril balik ikut Dumai, di Silungkang Pak Djasril cari mobil angkut barang, macam mane terserah Pak Djasril-lah, sampai di Dumai nanti Pak Djasril terus ke Hotel Garuda, disane sudah ade yang menunggu, Datok Ismail beserta isteri yang akan pigi same ke Melaka”, kata Cik Din, “Ya, baiklah”, jawab saya singkat.

Kemudian setelah segalanya selesai, saya pamit, tapi sungguh malang bagi saya, saya tidak pandai cara turun dengan lift, pintu tangga ke bawah pun tidak nampak oleh saya, saya kembali ke kamar Cik Din dan minta tolong antarkan ke bawah, barulah saya selamat sampai di bawah (lantai dasar). Karena malu, saya tidak mau menceritakan kebodohan saya ini kepada orang, barulah sekarang saya ceritakan kepada anda, tapi janganlah disampaikan pula kepada orang lain.

Pada tanggal 8 Nopember 1998, jam 20.00 malam, segala alat-alat yang akan dibawa ke Malaysia telah siap, direncanakan besok 9 Nopember 1998, jam 10.00 pagi akan berangkat ke Dumai, sedangkan mobil angkutan barang dan mobil penumpang sudah disiapkan. Di pagi hari itu, 9 Nopember 1998, masyarakat ramai melepaskan kepergian saya sekeluarga, sungguh suatu penghormatan rasanya bagi saya, diwajah mereka kelihatan rasa simpati terhadap saya. Disisi lain ada suatu pemandangan yang menyedihkan dan mengharukan sekali terhadap diri saya ialah sewaktu saya melihat isteri saya bertangisan memeluk ibunya yang tidak bisa melihat karena diakibatkan penyakit diabetes yang dideritanya, dipeluknya ibunya erat-erat sambil keduanya bertangisan, entah akan bertemu lagi entah tidak, wallahu alam, hanya Allah yang tahu, orang tua isteri saya keduanya ditinggalkan dalam keadaan sakit, bapaknya tidak ikut melepas kepergian kami, beliau tinggal dirumah seorang diri, hanyut dengan kesedihan tersendiri. Tepat pukul 10.00 pagi, tibalah saatnya bagi kami meninggalkan Silungkang menuju Dumai dan untuk terus menyeberangi Selat Melaka.

Pada subuh hari, 10 Nopember 1998, kami sampai di Dumai, kami berkeliling-keliling mencari Hotel Garuda, setelah bertemu dan matahari mulai terbit, saya sekeluarga turun disana dan langsung disambut oleh Datok Ismail beserta isteri, sedangkan mobil angkutan barang langsung ke pelabuhan untuk membongkar barang dan dinaikkan ke kapal barang. Di hotel kami disediakan sebuah kamar, pertama sekali kami istirahat, karena diatas mobil tidak puas tidur, jam 10.00 kami sudah selesai istirahat dan mandi. Kami keluar menuju rumah makan, selesai makan, selesai makan saya dan keluarga kembali ke Hotel, saya menemui Datok Ismail, rupanya Datok Ismail juga baru saja menguruskan tiket Ferry Indomal untuk kami, sebuah Ferry yang akan berangkat ke Melaka pukul 14.00 siang.

Sebelum Ferry yang kami tumpangi berangkat, Datok Ismail menelepon ke Seremban yang mengatakan bahwa Ferry berangkat tepat pukul 14.00 supaya ditunggu di Jeti (Pelabuhan Melaka). Tak lama kemudian bertolaklah Ferry Indomal yang kami tumpangi, mula-mula menelusuri pantai ke arah utara kemudian barulah menyeberang Selat Melaka, ada lebih kurang empat jam, kelihatanlah gedung-gedung bertingkat Bandar Melaka.

Ferry merapat ke pelabuhan, kami turun satu persatu. Di pelabuhan sebuah mobil kerajaan telah menanti kami, mobil kerajaan (kalau di Indonesia mobil plat merah) platnya hitam, tetapi disamping platnya itu ada lambang Kerajaan Negeri (propinsi).

Kota Melaka adalah kota bersejarah, kami lalui saja, dari atas mobil kami melihat bangunan peninggalan zaman penjajahan Portugis dan objek-objek wisata lainnya, mobil terus melaju menuju Seremban dan hari pun mulai senja. Di Seremban kami tidak ada singgah, kami terus saja dibawa ke Seri Menanti, tepat pukul 21.00 malam waktu Malaysia Barat kami sampai di rumah yaitu di Kampong Bukit Tempurong Seri Menanti.

Lebih kurang satu minggu kami diantarkan nasi kotak, karena saya harus membeli alat-alat dapur seperti kompor, periuk, kuali dan lain-lainnya, juga tak kalah pentingnya saya dan isteri saya harus mempelajari nama barang keperluan sehari-hari, sebab banyak juga perbedaannya, misalnya kompor disebut dapur, kompor gas disebut dapur ges, api disebut mencis, bumbu disebut perencah, kemiri atau damar disebut buah keras, seledri disebut daun sup, lobak disebut kobis, dan banyak lagi yang harus dipelajari, kadang-kadang harus ditunjuk barang yang akan dibeli itu dan langsung ditanya namanya untuk menambah perbendaharaan kata-kata.

Anak-anak saya sengaja dibiarkan bergaul dengan anak-anak tempatan, tidak memerlukan waktu yang lama, mereka kelihatan akrab dan anak-anak saya pun sudah mulai berbahasa Malaysia, tetapi di rumah tetap kecek Silungkang, tetapi anak saya yang kecil, walaupun bagaimana kami berbahasa Silungkang dia tetap menjawab kata-kata kami dengan bahasa Malaysia, sehingga ada seorang tua mengatakan : “Wah … ni bukan anak Indonesia, ni anak Malaysia, tak de pun dia cakap Indonesia, kalau dah besar nak jadi ape”, tanya orang tua itu kepada anak saya. “Wah, kecik-kecik dah tahu nak bela negare”, kata orang tua itu sambil membela rambut anak saya itu.

BERSAMBUNG ……

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Keempat, Oktober 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah

Tenun Songket merupakan seni budaya spesifik dibelahan benua Asia yang berasal dari daratan negeri Cina, keberadaannya lebih kurang sejak 1000 tahun yang lalu. Dalam kisah perjalanan yang cukup panjang. Tenun Songket setelah itu hadir di Negeri Siam (Thailand), kemudian menyebar ke beberapa negara bagian di Semenanjung Negeri Jiran Malaysia. Seperti ke Selangor, Kelantan, Trengganu dan Brunai Darussalam kemudian menyeberang ke pulau Andalas yaitu ke Silungkang, Siak dan Palembang. Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian Selangor, sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari Selangor ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek beserta hulubalang beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih kurang sudah sejak 400 tahun yang lalu.

Pada tahun 1910 Songket Silungkang telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di tahun 1920, Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi merantau kenegeri Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang membawa barang dagangan berupa kain Songket, kain Batik, kain Lurik serta kain sarung Bugis dari Makasar.

Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu Muhammad Yasin kampung Panai Empat Rumah pergi merantau ke Calcutta sebuah kota yang terletak diujung pantai timur India, membawa barang dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa Ismail ke Indo China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku belum bisa dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. Begitu juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, seperti penganten wanitanya juga memakai kain Songket tenunan Silungkang, yang mana warga dari kedua daerah tersebut sangat bangga sekali memakai kain Songket tenunan Silungkang, sebagaimana bangganya masyarakat Minangkabau memaki kain sarung Bugis dari Makasar. Di era tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang kain Songket dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke berbagai kota di Indonesia, antara lain : Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.

Masih pada era yang sama, Songket Silungkang hadir sebagai peserta di arena Pasar Malam dibeberapa kota besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di Jakarta, pasar malam Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, pasar malam Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.

Pada tahun 1974 diruangan Bali Room Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran Industri Kecil yang diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) pimpinan DR. Dewi Motik Pramono.

Dari sekian banyak hasil kerajinan industri kecil dari seluruh Nusantara yang dipamerkan pada waktu itu, merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkang, setelah melihat didalam sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain Songket karya anak nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna dasar merah hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, bermotif Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, tetapi milik sebuah Museum di Den Haag Negeri Belanda.

Informasi dari seorang sarjana asal Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an pernah mengikuti bidang studi di Canada, ibu kost dari sarjana tersebut menyimpan lima helai kain Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya kampung Batu Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun (palantai) untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, istimewanya lagi bukan kaum wanitanya saja yang pandai bertenun Songket, tetapi kaum prianya juga mahir bertenun Songket.

Di masa lampau jika ada tamu yang berkunjung ke Silungkang untuk melihat bagaimana cara bertenun Songket, mereka diajak ke bawah rumah, karena disanalah diletakkan alat tenun, sekarang ini sudah ada dua show room kain Songket yang terletak ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah kampung batu Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan cara bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, jika dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan saja berjaya di Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia bahkan ada diantara ibu rumah tangga disana yang mengoleksi kain tenun Songket Silungkang yang telah berumur antara 100 hingga 200 tahun. Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang seumur itu sudah sangat sulit untuk ditemui.

Begitulah kisah perjalanan sejarah ilmu bertenun songket yang datangnya dari daratan negeri Cina. (SS/DAPESA)

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kelima November 2007

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.