Sejarah


1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Tidak beberapa hari setelah usainya konferensi, pada permulaan tahun 1940, dibentuklah Panitia Pembangunan untuk sekolah yang akan didirikan itu. Susunan Panitia Pembangunan yang terbentuk adalah sebagai berikut :

  1. Ketua : H. Muhammad Zein
  2. Wakil Ketua : Datok Rangkayo Nan Godang
  3. Sekretaris I : Haroen Rajo Sampono
  4. Sekretaris II : Ibrahim Jambak
  5. Keuangan : Hasan Yahya
  6. Komisaris I : H. Khatab
  7. Komisaris II : Abdoellah Oesman
  8. Penasihat : M. Joesoef Panghulu Sati

Kepada Pemerintah Belanda dimintakan izin hanya mendirikan sekolah agama. Izin mudah didapat karena Belanda waktu itu sedang pusing dengan situasi yang telah mulai panas di Eropa. Atas usaha Syarief Sulaiman Malawas, didapat tanah di Limau Poeroet. Tanah ini kepunyaan kaum H. Ibrahim / H. Wahid Panai Batu Bagantuang. Syarief Sulaiman ini sama-sama berdagang dengan H. Wahid di Sawahlunto dan H. Wahid sayang kepada beliau.

Tanah ini dibeli dengan harga f 4000 – (empat ratus Gulden) atau senilai 0,25 kg emas murni. Kalau dinilai dengan pasaran tanah di Silungkang pada waktu itu, harga ini adalah harga yang termurah. Diperdapatnya harga yang murah itu dengan perjanjian :

  • Tanah ini akan dipergunakan untuk kepentingan sekolah agama.
  • Kemanakan H. Ibrahim, Hasan Muhammad yang baru lulus Normal School akan ikut menjadi guru disitu.

Kalau tidak diterima syarat itu, tanah ini tidak akan diperdapat karena pemiliknya terbilang orang yang berada waktu itu yang sudah tentu malu akan menjual tanah. Panitia diberi keringanan untuk menyelesaikan pembayarannya dapat dilunaskan Panitia pada akhir tahun itu juga (segel jual beli terlampir).

Sepakatlah Panitia untuk memberi nama sekolah yang akan didirikan itu dengan nama tempatnya yaitu “Limau Poeroet Instituut”. Disebarlah panitia untuk mencari dana (keuangan), terutama kepada SSP yang pada waktu konperensi telah menjanjikannya. Waktu itu diperantauan telah bermunculan pedagang-pedagang Silungkang yang berkapital besar seperti :

  1. Boerhan Dalimo Godang, Datuak Onga Basir, Salim Jalil dan lain-lain di kota Surabaya.
  2. Dt. Sati, M. Joesoef, Ismail, Jalil, H. Ibrahim, dan lain-lain di Betawi (Jakarta).
  3. A. Fatah St. Malano, A. Moerad Bagindo Tan Pokieh, Naali dan lain-lain di kota Padang.
  4. Mahmud Yahya, Thaib Yahya, M. Lilah Rajo Nan Sati, H. Syamsuddin, dan lain-lain di kota Medan.
  5. Oedin Podo, Guur Maafoef, M. Sirin di Malaya
  6. H. Joemoes Dalimo Godang, M. Joesoef Ngaciek, M. Ibrahim, Maafief Pito Gagah, Manggoto, dan H. Jamin di daerah Jambi.
  7. Abdoelah, H. Joenoes Dalimo Kosiak, H. Jama dan lain-lian di daerah Riau.
  8. H. Yahya, H. Kamaluddin, H. Taher, H. Soelaiman dan lain-lain di kota Sawahlunto.

Sementara panitia mengusahakan keuangan itu, rakyat di kampung gotong royong untuk mendatarkan tanah. Dalam waktu yang singkat, dengan mudah keuangan telah diperdapat dan mulailah dibangun sekolah itu sebanyak 3 lokal. Dalam waktu yang hanya tiga bulan, pembangunan selesai. Cepat selesainya karena seluruh konsen dibeli dari Solok.

Pembangunan gedung berikut bangku dan peralatan lainnya menelan biaya f 3000,- (tiga ribu Gulden) atau f 3.400,- dengan harga tanah. Jumlah ini kalau dinilai dengan emas seharga dua seperdelapan kg emas murni.

10 Mei 1940 Jerman menyerang negeri Belanda. Dalam tempo hanya lima hari, Jerman telah menduduki seluruh negeri Belanda tersebut. Setelah selesai pembangunan gedung, dibentuklah pengurus yang akan mengurus sekolah tersebut, dengan susunan pengurusnya sebagai berikut :

  1. Pelindung : M. Joesoef Panghulu Sati
  2. Penasehat : Mr. Aboebakar Jaar
  3. Ketua I : H. Muhammad Zein
  4. Ketua II : Abdoellah Oesman
  5. Sekretaris I : Salim Sinaro Khatib
  6. Sekretaris II : M. Dalil Sutan Pamuncak
  7. Bendahara : M. Khatab
  8. Pembantu I : Harun Rajo Sampono
  9. Pembantu II : Abdoellah Mahmoed
  10. Badan Pemeriksa : Guru Arifin

Guru yang akan mengajari adalah :

  1. Hasan Muhammad keluaran Normaal School Padang (sekolah guru yang didirikan oleh Prof. Mahmud Yunus).
  2. Bahaudin Talawi lulusan INS Katu Tanam (Indische Nederlands School pimpinan M. Syafa’i). Bahaudin ini langsung diangkat menjadi Kepala Sekolah.

Disusunlah mata pelajaran dan ketenuan (disiplin) sekolah.
Mata Pelajaran ditetapkan :

  1. Agama terdiri dari Tauhid, Fikih, Tarekh Nabi, Akhlak, Hadis, Tafsir, Hukum Dagang Islam.
  2. Dagang terdiri dari Boekhouding, Handels Rekenen, Handelskennis, Handelscrackt, Handelscorespondensie.
  3. Umum terdiri dari Bahasa Belanda, Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Sejarah Dunia, Tata Negara, Stenografis.

Syarat penerimaan murid : Tamatan Gubernemen 5 tahun
Jumlah murid yang diterima : 40 orang (nyatanya terpaksa menerima 44 orang)
Mulai belajar : 1 Agustus 1940
Peraturan atau disiplin sekolah adalah baju seragama hijau cap kunci, kepala gundul, tidak dibenarkan pakai sepatu/sandal, tidak dibenarkan membawa uang, tidak boleh keluar malam, tidak boleh merokok.

Tepat menurut rencana, tanggal 1 Agustus 1940 sekolah ini resmi mulai belajar.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Link yang terkait lainnya :
Surat Dari Hamka

Renovasi kembali Masjid Raya Silungkang yang pembiayaannya dikumpulkan dari masyarakat Silungkang sendiri baik yang di kampung ataupun yang di perantauan. Masjid Raya ataupun Surau Godang (kini jadi sekolah Muhammadiyah) yang akan direnovasi itu dulu dibangun oleh leluhur kita tidak hanya dengan swadaya masyarakat Silungkang saja, tetapi juga dengan bantuan/partisipasi murid-murid dari Syech-syech di Silungkang dan sekitarnya serta guru besar dari semua Syech-syech itu adalah SYECH MOHAMAD SALEH BIN ABDULLAH alias SYECH BARAU yang peranannya sangat besar dalam pembangunan Surau Godang dan Masjid Raya di Silungkang.

Adapun murid-murid beliau antara lain adalah :

  1. Syech Mohammad Taib (Engku Surau Lurah), adik kandung dari Barau (Tanah Sirah).
  2. Syech Ahmad (Engku Surau Tanjung), urang sumando dari Barau (Dalimo Tapanggan).
  3. Syech Abdul Rahman (Engku Surau Bulek), anak kandung dari Barau (Dalimo Jao).
  4. Syech Abdullah (Engku Surau Godang).
  5. Syech Abdul Rahman (Engku Talawi).
  6. Syech Abdullah (Engku Lunto).
  7. Syech Abubakar (Engku Surau Palo) Panai Ruman Nan Panjang.
  8. Syech Abdulah (Engku Surau Ambacang Koto Anau).
  9. Syech Muhammad (Syech Kampung Baru).

Jadi tidak heranlah kita kalau di Silungkang pada tahun seribu delapan ratus itu terdapat kira-kira 40 (empat puluh) buah surau, antara lain dapat disebutkan mulai dari Surau Lubuak Kubang, Surau Ambacang, Surau Lurah Cupuik, Surau Palakoto, Surau Kotomaparak, Surau Nyiak Goduang di Lubuk Taweh, Surau Ongku Balampi di Lubuk Lawa-lawa, Surau Ongku Jaluddin dekat Kutianyar, Surau Lomba, disini ada 3 surau yaitu kepunyaan Kampung Palakoto, Piliang Ateh, dan Tanah Sirah – Surau Topi Air, Surau Lolo, Surau Pangka Titi, Surau Dibawajui, Surau Cobodak, Rumah Sekolah, Surau Masjid, Surau Bulek, Surau Lokuak, Surau Belakang, Surau Ongku, Surau Tanjung, Surau Lurah, Surau Baru Melawas, Surau Sepan, Surau Jambak, Surau Tinggi, Surau Palo – sampai Surau Bangkang – Pada umumnya tanah tempat surau-surau itu didirikan adalah TANAH WAKAF.

Pada waktu itu (tahun seribu delapan ratusan) timbul niat dari Syech Barau untuk membangun sebuah surau yang agak besar (belakang dikenal dengan nama Surau Godang. Sekarang berdiri disana sekolah Muhammadiyah), niat mana setelah beliau musyawarah dengan murid-murid dari murid beliau yang 9 orang tersebut di atas, disokong 100 persen secara moril dan material. Murid-murid dari murid beliau itu telah tersebar di negari sekitar Silungkang seperti Taruang-taruang, Indudur, Pianggu, Koto Anau, Kotobaru, Kampuang Baru, dan Batu Manjulur. Oleh karena itu soal bahan-bahan seperti batu, pasir, kayu-kayu dan lain-lain serta tukang tidak menjadi masalah sama sekali karena mereka bersedia menanggulangi semuanya.

Untuk mewujudkan niat beliau itu, didirikanlah Surau Godang di atas tanah kaum beliau sendiri (Tanah Sirah), karena tanah sekitar tempat akan didirikanlah Surau Godang itu adalah tanah kaum beliau semuanya dimana juga telah berdiri Surau Lurah, Surau Lakuak, Surau Bulek, dan Surau Belakang. Sedangkan tanah Surau Tanjuang adalah tanah kepunyaan kaum Dalimo Kosiak. Jadi semuanya tanah disekitar Surau Godang dan Masjid Raya adalah tanah wakaf didekat Surau Godang itu beliau dirikan pula rumah famili beliau (kemenakan beliau) yaitu Habibullah. Haji Hasan dan Ande dari Upiak (Nenek dari Herman Nawas). Surau tersebut berukuran kurang lebih 20 x 8 m bertingkat tujuh akan tetapi yang dipakai hanya dua tingkat yang pertama saja. Pembangunan Surau Godang berpedoman kepada sebuah miniatur/maket yang dibuat dari batang Pipiang, oleh Ahmad Ongku Surau Tanjung.

Tiap-tiap surau memerlukan “kolam air” seperti Surau Lolo, Surau Lokuak dan Surau Godang yang gunanya semula untuk penampung air buangan dari berwuduk dan buangan hajad kecil/besar yang semuanya untuk menjaga kebersihan. Kolam air yang agak besar adalah kolam Surau Lokuak, di lokasi ini memang banyak surau, jadi banyak orang buang hajad di kolam Surau Lokuak. Satu lagi kolam yang agak besar adalah kolam Surau Godang, guna mengurangi bau yang tidak sedap dari kolam-kolam ini, kolam-kolam itu harus diisi dengan ikan yang banyak (Kaluih dan Limbek), untuk itu dibuatlah mufakat bahwa guna mengisi ikan kolam tersebut dicari orang-orang yang berminat dan terutama tentu yang mampu. Dengan catatan bahwa orang-orang yang mengisi kolam tersebut mendapat “Hak Mengelola” (hasil ikannya untuk orang yang mengisinya). Di zaman saya masih bujang-bujang tanggung dulu, setahu saya Haji M. Taher Tanah Sirah dan Surau Lurah adalah Haji Said. Sedangkan pengelola kolam lainnya tidak diketahui dengan pasti sampai sekarang.

Surau Godang selesai dibangun pada tahun 1870 dan tidak berapa lama setelah itu, karena masih ada tanah tersisa (areal Masjid sekarang) yang merupakan wakaf dari kaum Tanah Siram, kaum Petopang/Sawajui dan kaum Dalimo Godang. Timbul pula keinginan dari Syech Barau untuk membangun sebuah masjid yang lebih besar karena pada tiap-tiap hari Jum’at, murid-murid beliau dari berbagai daerah datang ke Silungkang untuk melaksanakan shalat Jum’at. Mulai pukul 9 pagi murid-murid beliau itu sudah berdatangan dan makin hari makin bertambah sehingga mulai dirasakan surau Godang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah yang datang untuk beribadah.

Untuk keinginan seperti itu, beliau pergi ke Padang dan waktu melihat masjid Ganting, niat itu semakin kuat. Beliau berkeinginan membuat sebuah masjid seperti masjid Ganting itu. Beliau langsung menemui tukang yang membuat masjid Ganting itu dan mengajaknya untuk bekerja membangun sebuah masjid di Silungkang. Tukang atau adman tersebutlah yang kemudian membangun Masjid Silungkang dan beliau dikenal di Silungkang dengan panggilan Ongku Siak Masojik atau Ongku Padang. Masjid Raya Silungkang selesai dibangun pada tahun 1900 dengan ukuran 24 x 24 m. tersebutlah beranda dan koridornya. Luas masjid kurang lebih dua kali lebih besar dari Surau Godang. Sebelum direnovasi pada tahun 1950 masjid kita mirip sekali dengan masjid Ganting yang di Padang itu.

Pada tahun 1950, masjid itu diperbesar dan dibuat bertingkat atas inisiatif dan sponsorin H. Aziz Udin. Pembangunan dilakukan secara bertahap dan beliau menyisihkan keuntungan dagang bebelok ke Singapura untuk melaksanakan pembangunan Masjid tersebut. Setiap kali beliau kembali membawa barang dengan selamat dari Singapura, maka sebagian labanya diberikan kepada bendahara pembangunan masjid yaitu Bp. Samin Tagatuang dengan panitianya Bp. Said Rajo Bandaro Talakbuai. Perluasan dan pembangunan masjid tersebut dapat diselesaikan pada tahun 1958. Bentuk itulah yang dapat kita lihat sekarang ini, masih kokoh diluarnya, tapi sudah mulai lapuk bagian dalamnya terutama bahan-bahan perkayuannya. Pada waktu diguncang gempa tahun 1929 (meletusnya Gunung Merapi) tidak ada kerusakan masjid ini, akan tetapi pada waktu gempa tahun 1942 (meletusnya Gunung Talang) Migrab masjid menjadi retak dan ayam-ayam yang ada di puncak atap masjid jatuh dan tidak diganti sampai sekarang.

Karena kondisi Masjid Raya yang sangat memprihatinkan itu, timbul keinginan dan kesepakatan masyarakat Silungkang (yang dicetuskan di rumah Drs. H. Nazir Ahmad, Lukuak Kubang) untuk membangun kembali Masjid Raya Silungkang yang lebih besar, dimana untuk itu diperlukan areal tanah yang luas dari yang ada sekarang, maka peran serta positif dan keridhoannya warga “Pemilik” tanah sekitar Masjid itu sangat diharapkan. Kiranya tidak terlepas dari semangat untuk meneruskan tradisi dan cita-cita leluhur kita dalam meningkatkan syiar Islam serta keinginan untuk menjadikan Silungkang sebagai pusat pengembangan agama Islam bagi daerah sekitarnya. Oleh karena itu, marilah kita dukung bersama upaya pembangunan masjid ini berupa dukungan material maupun moril.

Silungkang, Ied 1415 H
Disarikan oleh H. Munir Taher berdasarkan cerita generasi tua-tua Silungkang, terbanyak bersumber dari Almarhumah Ongah Timah Malowe.

Catatan Admin :
Sekarang Masjid Raya Silungkang sudah lama selesai pembangunannya. Terima kasih kepada semua donatur yang telah menyumbang.

Sumber : Bulletin Warga Silungkang, No. 001/SM/JUNI 1999

Saat peresmian Tugu Peringatan Pemberontakan Silungkang terhadap Penjajah oleh Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta pada tahun 1947 menanyakan kepadal Talaha St. Langit (Ex. Digulis), “Apa lagi yang dibutuhkan Silungkang?”. Talaha St. Langit meminta agar di Silungkang dimasukkan aliran listrik karena Silungkang merupakan desa industri.

Tidak berapa lama permintaan tersebut terkabul. Waktu pergolakan PRRI, listrik tetap menyala dengan tekhnisi putra Silungkang (Umar Kamin, Mustafa Jalil, Johan Nur, Dermawan Rauf dan Syamsir Sarif).

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keenam Desember 2007 oleh Masri Ayat Siri Dirajo

Titah Sambutan Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung
Pada Acara Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang
Tanggal 12 Desember 2002 di Nagari Silungkang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
A’uzubillahiminashaithonirojim
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillahrabil A’lamin
Wa sholatu Washollamu A’la Asrafil Ambyai Mursalin Wa’ala Waashabihi Ajmain
Ashadu Allailahailollah Waashaduana Muhammadarasulullah
Allahumma Sholi Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

  • Yang sama-sama kita hormati, Bapak Gubernur Sumatera Barat selaku pucuk undang Sumatera Barat
  • Yang terhormat Ketua DPRD Sumatera Barat
  • Yang terhormat Bapak-bapak Unsur Muspida Sumatera Barat
  • Yang terhormat Sdr. Bupati/Walikota Sumatera Barat beserta seluruh pejabat sipil dan militer yang hadir pada acara ini
  • Yang saya muliakan ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumatera Barat
  • Yang sangat saya muliakan Ibunda yang Dipertuan Gadih Pagaruyung
  • Yang amat mulia orang kaya-orang kaya kami Basa nan Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah
  • Yang amat mulia yang Dipertuan/Tuanku/Raja, Sapiah Balahan, Kaduang Karatan, Kapak Radai dan Langgam nan Tujuah Koto Piliang
  • Khususnya yang mulia Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Sabaleh di Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk
  • Angku-angku, niniak mamak nan gadang basa batuah, para alim ulama suluah bendang dalam nagari, para cadiak pandai yang arif bijaksana, para bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang dan beserta hadirin-hadirat yang saya muliakan.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat karunianya sehingga dapat terselenggaranya acara penobatan pucuak adat nagari Silungkang dan Padang Sibusuk yakni Gajah Tongga Koto Piliang beserta lima orang penghulu pucuak nagari Silungkang.

Selanjutnya kita ucapkan pula salawat dan salam pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam berupa kitab suci Al Qur’an dan Hadist.

Pada hari ini kita semua telah sama-sama menyaksikan penobatan Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagariaan Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang serta penghulu pucuak nan balimo di Nagari Silungkang. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah baik bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak pada khususnya maupun bagi masyarakat Minangkabau pada umumnya. Kami katakan demikian karena upacara penobatan Gajah Tongga Koto Piliang dan datuak pucuak nan balimo ini adalah suatu wujud untuk membangkitkan batang tarandam yang sekaligus merupakan perwujudan dari program kembali ka nagari dan kembali basurau yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Perda No. 9 Tahun 2000. Dengan telah dibangkitkan kembali kebesaran nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yakni Gajah Tongga Koto Piliang yang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang, yaitu :

  1. Tampuak Tangkai Koto Piliang di Pariangan – Padang Panjang.
  2. Pasak Kunkuang Koto Piliang di Labuatan – Sungai Jambu.
  3. Pardamaian Koto Piliang di Simawang – Bukit Kanduang.
  4. Cemeti Koto Piliang di Sulit Aia – Tanjuang Balik.
  5. Camin Taruih Koto Piliang di Singkarang – Saniang Baka.
  6. Harimau Campo Koto Piliang di Batipuah X Koto.
  7. Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang – Padang Sibusuak.

Langgam Nan Tujuah Koto Piliang ini merupakan Pembantu Utama dari Rajo nan Tigo Selo dibawah koordinasi Basa Ampek Balai. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah Panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang inilah pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan sehingga menimbulkan bau yang sangat busuk sehingga tempat itu dan sekitarnya dikenal kemudian dengan nama Padang Sibusuak. Perlu juga dicatat para peristiwa pertempuran besar-besaran tersebut muncullah hulubalang muda yang dengan gemilang dan tangkasnya membantu Gajah Tongga Koto Piliang dalam mengalahkan pasukan Singosari. Hulubalang muda itu adalah Gajah Mada yang dikenal kemudian dengan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku niniek mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang serta hadirin hadirat yang saya muliakan.

Cuplikan singkat dari sejarah Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yang kami uraikan tadi hendaknya dapat dijadikan sebagai latar belakang historis dan motivasi bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak untuk menggali, mendalami dan memahami latar dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daay manusia anak nagari ini.

Dengan dibangkitkan kembali kebesaran “Gajah Tongga Koto Piliang” kami mengharapkan Datuak Tan Pahlawan Gagah Labiah yang pada dirinya melekat kebesaran Gajah Tongga Koto Piliang bersama-sama dengan Datuak Pucuak nan sabaleh (Datuak Pucuak Nan Balimo di Silungkang dan Datuak Pucuak Nan Baranam di Padang Sibusuak), kiranya dapat menata kembali dengan sebaik-baiknya susunan masyarakat adat, hukum adat, adat istiadat dan tradisi yang berlaku serta kehidupan beragama dikalangan masyarakat anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak. Hanya dengan tatanan masyarakat adat yang kuat, adat budaya yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakatnya. Pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang benar oleh suku bangsa Minangkabau pada khususnya, bangsa dan Negara pada umumnya akan dapat mempertahankan eksistensinya dari hantaman globalisasi serta pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Demikianlah titah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan akan ada manfaatnya bagi kita semua dan akhirnya kepada Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagarian Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajah Tongga Koto Piliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Balimo Nagari Silungkang serta seluruh Niniak mamak, Alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kanduang serta seluruh anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak kami ucapkan selamat ataslah tabangkiknyo batang tarandam.

Akhirnya kami mohon maaf seandainyo alam Titah Sambutan ini terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya “Kok indak di barih nan bapaek, kok indak ditakuak nan ditabang disusun jari nan sapuluah, ditakuahkan kapalo nan satu, kapado Allah ambo minta ampun, kapada kito basamo ambo minta maaf”.

Wabillahi Taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Pagaruyung, 12 Desember 2002
Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung

TTD

H.S.M. TAUFIQ THAIB, SH
(Tuanku Mudo Mahkota Alam)

Dalam keadaan asli tercantum tanda tangan Raja Alam Pagaruyung.


TITAH

DAULAT YANG DIPERTUAN RAJO ALAM PAGARUYUNG

Nomor : III/DYRAP/XI/2002
Tentang : PENOBATAN GELAR SAKO ADAT GAJAHTONGGA KOTOPILIANG KEPADA ENGKU IRWAN HUSEIN SUTAN BAGINDO DAN PANUNGKEKNYA ENGKU DR. IR. YUZIRWAN RASYID, MS.
Membaca : Surat Permohonan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silungkang Nomor 20/KAN-SLN/XI/2002 tanggal 15 November 2002 perihal penobatan gelar Sako Adat kepada Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dari Nagari Silungkang dan Panungkeknya Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS bergelar “ Datuk Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang ” dari Padang Sibusuak.



Menimbang : 1. Bahwa Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak dalam tatanan adat dan sejarah Minangkabau mempunyai sako kebesaran yang disebut sebagai Gajahtongga Kotopiliang sebagai salah satu anggota kerapatan Langgam Nan Tujuah Kotopiliang yang merupakan perangkat dari Kerajaan Pagaruyung.


2. Bahwa dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan dalam rangka kembali Banagari, sudah selayaknya gelar sako kebesaran adat Minangkabau yang sudah terliput dihidupkan / dibangkitkan kembali termasuk gelar sako kebesaran Gajahtongga Kotopiliang dari Nagari Silungkang dan Nagari Padang Sibusuak.


3. Bahwa Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS telah disepakati oleh Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak untuk dinobatkan sebagai Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang dan Datuak Pahlawan Gagah panungkek Gajahtongga Kotopiliang.


4. Bahwa Kesepakatan Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak tersebut angka 3 diatas telah disetujui dalam Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dengan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.


5. Bahwa untuk penobatan gelar sako Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang perlu dikeluarkan Titah Penobatan dimaksud.




Mengingat : 1. Mamanan Adat “BATAGAK PENGHULU SAKATO KAUM, MENOBATKAN RAJO SAKATO ALAM”


2. Hasil Keputusan Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.

MENITAHKAN :


1. Menobatkan Engku Irwan Husein Sutan Bagindo selaku Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Pucuk Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk.
2. Menobatkan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS selaku Panungkek Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Panungkek Pucuak Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak.
3. Penobatan gelar sako tersebut angka 1 dan 2 dilakukan dalam suatu upacara kebesaran adat Minangkabau di Nagari Silungkang ditandai pemasangan saluak dan penyisipan keris oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
4. Pidato Adat Pati Ambalau Penobatan Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat.
5. Titah ini mulai berlaku sejak penobatan.





Dikeluarkan di : Pagaruyung

Pada tanggal : 25 November 2002.


1. Pangkat Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.
2. Diatas Stempel Kerajaan Pagaruyung terdapat tanda tangan Raja Pagaruyung.
3. Posisi Stempel agak kekiri dan tanda tangan berada ditengah antara Pangkat dan nama Raja.
4. Nama lengkap Raja Pagaruyung diberi garis bawah dengan kesluruhan berhuruf kapital
5. Gelar Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.


Tindasan Titah Disampaikan Kepada :
1. Yth. Bapak Gubernur Sumatera Barat/Pucuk Undang Sumatera Barat di Padang.
2. Yth. Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumber di Padang.
Asli Titah ini disampaikan kepada :
– Yth. Engku Irwan Husein Sutan Bagindo.
– Yth. Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS.
– Arsip.






Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007




Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007

Tenun Songket merupakan seni budaya spesifik dibelahan benua Asia yang berasal dari daratan negeri Cina, keberadaannya lebih kurang sejak 1000 tahun yang lalu. Dalam kisah perjalanan yang cukup panjang. Tenun Songket setelah itu hadir di Negeri Siam (Thailand), kemudian menyebar ke beberapa negara bagian di Semenanjung Negeri Jiran Malaysia. Seperti ke Selangor, Kelantan, Trengganu dan Brunai Darussalam kemudian menyeberang ke pulau Andalas yaitu ke Silungkang, Siak dan Palembang. Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian Selangor, sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari Selangor ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek beserta hulubalang beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih kurang sudah sejak 400 tahun yang lalu.

Pada tahun 1910 Songket Silungkang telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di tahun 1920, Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi merantau kenegeri Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang membawa barang dagangan berupa kain Songket, kain Batik, kain Lurik serta kain sarung Bugis dari Makasar.

Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu Muhammad Yasin kampung Panai Empat Rumah pergi merantau ke Calcutta sebuah kota yang terletak diujung pantai timur India, membawa barang dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa Ismail ke Indo China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku belum bisa dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. Begitu juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, seperti penganten wanitanya juga memakai kain Songket tenunan Silungkang, yang mana warga dari kedua daerah tersebut sangat bangga sekali memakai kain Songket tenunan Silungkang, sebagaimana bangganya masyarakat Minangkabau memaki kain sarung Bugis dari Makasar. Di era tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang kain Songket dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke berbagai kota di Indonesia, antara lain : Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.

Masih pada era yang sama, Songket Silungkang hadir sebagai peserta di arena Pasar Malam dibeberapa kota besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di Jakarta, pasar malam Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, pasar malam Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.

Pada tahun 1974 diruangan Bali Room Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran Industri Kecil yang diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) pimpinan DR. Dewi Motik Pramono.

Dari sekian banyak hasil kerajinan industri kecil dari seluruh Nusantara yang dipamerkan pada waktu itu, merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkang, setelah melihat didalam sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain Songket karya anak nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna dasar merah hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, bermotif Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, tetapi milik sebuah Museum di Den Haag Negeri Belanda.

Informasi dari seorang sarjana asal Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an pernah mengikuti bidang studi di Canada, ibu kost dari sarjana tersebut menyimpan lima helai kain Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya kampung Batu Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun (palantai) untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, istimewanya lagi bukan kaum wanitanya saja yang pandai bertenun Songket, tetapi kaum prianya juga mahir bertenun Songket.

Di masa lampau jika ada tamu yang berkunjung ke Silungkang untuk melihat bagaimana cara bertenun Songket, mereka diajak ke bawah rumah, karena disanalah diletakkan alat tenun, sekarang ini sudah ada dua show room kain Songket yang terletak ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah kampung batu Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan cara bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, jika dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan saja berjaya di Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia bahkan ada diantara ibu rumah tangga disana yang mengoleksi kain tenun Songket Silungkang yang telah berumur antara 100 hingga 200 tahun. Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang seumur itu sudah sangat sulit untuk ditemui.

Begitulah kisah perjalanan sejarah ilmu bertenun songket yang datangnya dari daratan negeri Cina. (SS/DAPESA)

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kelima November 2007

(SUATU KISAH YANG BELUM PERNAH TERUNGKAP)

Pengantar
Dengan naskah sederhana ini saya ingin bercerita kepada kawan-kawan sekampung-sehalaman, sesekolah-sepermainan, bahwa selama ini mungkin tidak banyak diantara kita yang memikirkan mengapa sekarang kita telah menetap di Jakarta dan mengapa pula orang Silungkang lainnya ada yang pergi merantau bahkan kemudian bertempat tinggal di Kotobaru, Muara Tebo, Jambi, Medan, Solo, Semarang, Surabaya bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan lain-lain. Menurut hemat saya salah satu penyebb tersebarnya orang Silungkang tersebut dimana-mana, pada awalnya tidak lain dan tidak bukan, karena dorongan kaum ibunya.

Permulaan Merantau
Dari berbagai cerita yang saya terima mengenai nagari Silungkang dan penduduknya, cerita-cerita yang menyangkut penghidupan anak negeri Silungkang sangat menarik perhatian saya dan bebrapa diantaranya melekat dalam ingatan saya hingga kini. Hal ini mungkin disebabkan kisah-kisah tersebut saya terima pada waktku saya masih remaja, ketika daya ingat masih kuat, dan cara menuturkannya oleh orang tua-tua kita dapat menarik perhatian yang mendengarnya.

Tanpa mengurangi arti penting dan rasa hormat saya kepada nara sumber lainnya, di bawah ini saya sebutkan beberapa orang yang masih saya ingat, yaitu :
Haji Chatab, Kampung Dalimo Tapanggang
Haji Mohamad Samin, Kampung Batu Mananggau
Ongku Ociak, Kampung Dalimo Tapanggang (Ongku saudara Alm. Jalius Jalil)
Haji Yunus, Kampung Dalimo Kosiak (Ayah Saudara H. Hussein Yunus)
Bapak Samin, Kampung Batu Bagantung (Bapak Ir. Rivai Samin)
Bapak Usman Karim, Kampung Dalimo Godang
dan lain-lain.

Menurut penuturan orang tua-tua kita tersebut, orang Silungkang terutama kaum ibunya sejak dari negeri asal mereka telah memiliki kepandaian bertenun kain gedokan. Namun setelah sampai di negeri yang baru, yaitu Silungkang, yang pertama-tama mereka kerjakan adalah bertani dengan membuka ladang dan sawah. Pada waktu itu luas tanah yang mereka dapati untuk digarap menjadi perladangan dan persawahan, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi penduduk yang jumlahnya masih sedikit.

Tentu saja ladang dan sawah itu digarap dengan cara dan alat yang sangat sederhana. Sebagai contoh di waktu kecil saya masih lihat bekas-bekas ladang dan sawah tersebut, termasuk parak (kebun) kopi yang mungkin kawan-kawan sudah tidak ingat lagi. Agaknya parak kopi ini merupakan bagian dari peninggalan Sistim Tanaman Paksa (Cultuur Stelsel) penjajah Belanda dahulu.

Setelah penghidupan di negeri yang baru ini berjalan lancar, dan didorong oleh pertambahannya kebutuhan hidup sehari-hari, maka teringatlah oleh kaum ibu kita untuk menggarap tenunannya kembali, karena pada waktu itu masih banyak tersisa bahan baku, terutama benang, yang dibawa dari negeri asal. Mengapa dikatakan menggarap tenunannya kembali, ialah karena kegiatan bertenun kain tersebut telah menjadi terbengkalai selama proses pindah dari negeri asal ke negeri yang baru ini.

Pada waktu itu dalam suatu keluarga telah terdapat pembagian kerja yang baik antara anak perempuan dan anak laki-laki. Anak-anak perempuan disamping bertugas membantu ibunya di rumah juga diajar bertenun kain gedokan. Bahkan bagi anak perempuan kepandaian bertenun kain merupakan kepandaian wajib. Diceritakan bahwa bila seorang anak perempuan telah menginjak dewasa, harus dibuatkan baginya sebuah pelantai (alat tenun gedokan). Sebagai bukti, dapat kita lihat dahulu ditiap-tiap rumah godang (rumah adat Minangkabau) terdapat lima sampai sepuluh buah pelantai untuk dikerjakan oleh kaum ibu Silungkang (dewasa dan anak-anak perempuan) yang bertempat tinggal dalam rumah tersebut. Yang dihasilkan pada masa itu adalah kain lopor, kain balopak, kain songket, kain baju (batabu), kain pintu, kain sarung, kain selendang dan jenis kain lainnya yang biasa dipakai dalam rumah tangga.

Adapun tugas utama yang diberikan kepada anak laki-laki dewasa adalah bagian dari pekerjaan bertenun kain yang lebih berat seperti maani dan mangarok, dan pergi menjual hasil kain tenunan tersebut ke balai (pasar) dan ke pekan-pekan. Maka bertambahlah satu lagi mata pencaharian orang Silungkang yaitu berdagang.

Setelah persediaan bahan baku untuk bertenun (terutama benang tenun) makin menipis, maka timbullah pikiran pada kaum ibu kita untuk menyuruh anak laki-laki mereka yang telah dewasa pergi ke kota-kota untuk menjual hasil tenunan mereka dan membeli benang untuk ditenun kembali.

Adapun negeri-negeri yang pertama kali menjadi tujuan adalah negeri-negeri yang pada waktu itu pekannya sudah ramai, seperti Bayang, Muara Labuh, Padang, bahkan Air Molek (Riau) dan Kuala Tungkal (Jambi). Negeri-negeri yang terletak di pinggir laut seperti Bayang (Pesisir Selatan) pada waktu itu telah disinggahi oleh kapal-kapal dagang. Jalan pikiran kaum ibu kita waktu itu sangat masuk akal, yakni di kota-kota pelabuhan akan ada kapal yang merapat dan disana tentu akan ada orang yang mau membeli hasil tenunan untuk mereka jual lagi dan sekaligus di sana bisa diperoleh informasi mengenai benang tenun yang bisa dibeli.

Setelah sampai di negeri yang dituju, ternyata nenek moyang kita tidak langsung mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun kain yang mereka bawa telah terjual. Maka terpaksalah mereka bertempat tinggal di negeri tersebut buat sementara dan dengan bentuk mata pencaharian yang lain, seperti berdagang dan bentuk usaha yang lain. Dengan begitu terjadilah perantauan pertama orang Silungkang di dalam kerangka mencari penghidupannya.

Untuk merantau ini anak-anak muda Silungkang zaman dahulu dari kampung telah dibekali dengan berbagai kepandaian antara lain berdagang, menjahit, memasak dan untuk menjaga dirinya bila sewaktu-waktu diperlukan, dibekali juga dengan kepandaian bersifat.

Setelah bermukim bertahun-tahun di rantau orang dan karena sulitnya hubungan ke kampung waktu itu, ada diantara orang Silungkang yang merantau itu kawin di rantau orang dengan wanita setempat. Berita perkawinan ini lambat laun sampai juga ke telinga kaum ibu kita yang ada di kampung, tetapi apalah hendak dikata meskipun hati tidak mengizinkan, keadaan ini pada akhirnya dapat juga diterima oleh kaum ibu di kampung sambil berpasrah diri kepada Allah.

Sesuai dengan bertambah pesatnya kegiatan pertenunan di kampung, maka perantauan orang Silungkang makin lama makin jauh, hingga sampai menyeberangi lautan menuju tanah Jawa, yang diperkirakan terjadi kira-kira mulai tahun 1902. sebagaimana di rantau orang yang lain, di tanah Jawa pun banyak orang Silungkang yang kawin dengan wanita setempat.

Pembukaan Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) – Sawahlunto
Kira-kira pada tahun 1876 sewaktu Dja’far Sutan Pamuncak orang Dalimo Godang menjadi Laras, Belanda ingin membuka tambang batu bara di daerah kita. Perundingan antara pemerintah Belanda dengan Laras berlangsung selama kurang lebih 12 (dua belas) tahun.

Berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan nasib anak negeri pada perundingan-perundingan tersebut, setelah tambang bara Ombilin dibuka, banyak orang Silungkang mendapat kesempatan berusaha yang terkait dengan kegiatan pertambangan ini. Kesempatan tersebut antara lain menjadi pemborong (aannemer), pemasok bahan, pegawai, dan lain-lain.

Pembangunan jalan kereta api jalur Sawahlunto – Padang adalah semata-mata karena adanya Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) tersebut. Batubara diangkut dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang untuk dikapalkan dengan gerbong-gerbong kereta api ini. Sebagian dari batubara tersebut dari Stasiun Bukit Putus diangkut dengan lori-lori gantung ke pabrik semen Indarung (yang berdiri dari kurang lebih tahun 1911) untuk digunakan sebagai bahan bakar pada proses pembuatan semen.

Zaman “keemasan” bagi orang Silungkang atas keberadaan TBBO ini berlangsung sampai tentara Jepang masuk ke Indonesia. Terbukanya TBBO ini boleh dikatakan sebagai perintis bagi terbukanya tambang-tambang dan perkebunan-perkebunan lainnya di Sumatera Barat karena tambang-tambang dan perkebunan dibuka setelah adanay TBBO-Sawahlunto.

Permulaan Membangun Negeri
Kemajuan yang dialami negeri Silungkang sebagai hasil dari berbagai usaha anak negerinya (bertenun, berdagang, pemborong, dan lain-lain) tercermin dari pembangunan-pembangunan yang dilakukan anak negeri pada waktu itu.

Sebagai contoh, pada tahun1904 los-pasar (passer loos) yang pertama dibangun di Pasar Silungkang dan sebelas tahun kemudian 91915) disusul dengan pembangunan los-pasar yang kedua ditempat yang sama dan setelah itu dibangun los besi (los besi yang berhasil dibangun pada tahun 1938, merupakan los besi terbesar di Sumatera Barat ketika itu).

Kemudian pada tahun 1918 di Silungkang didirikan Kantor Pos Pembantu dan dibangun pula jembatan penyeberangan yang menghubungkan pasar dengan stasiun kereta api. Jembatan tersebut masih bertahan hingga kini.

Kejadian penting diantara tahun-tahun tersebut yang menyangkut pertenunan antara lain adalah pada tahun1910, orang Silungkang dibawa oleh Pemerintah Belanda ke Pekan Raya Internasional di Belgia untuk memperagakan cara bertenun kain di sana (mungkin Belanda ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa sebagai penjajah mereka berlaku baik kepada anak jajahannya hingga bisa memiliki kepandaian bertenun kain yang artistik, padahal seperti telah disebutkan di atas, kepandaian bertenun ini telah dimiliki nenek moyang kita sejak dahulu kala.).

Kejadian penting berikutnya yang membawa pengaruh besar terhadap kemajuan anak Nagari Silungkang adalah pemberontakan orang Silungkang melawan Penjajahan Belanda pada tahun 1926 – 1927. Seperti akan kita lihat nanti dalam tulisan saya berikutnya, Insya Allah, kepandaian bertenun kain dan membuat Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimiliki orang Silungkang sekarang bermula dari keterampilan yang dibawa oleh salah seorang dari orang tua-tua kita (Karim Gagok) dari tanah Jawa, setelah beliau kembali dari menjalani hukuman. Dengan demikian keaneka ragaman pertenunan kain Silungkang telah bertambah dengan alat ATBM, yang dapat dijadikan permulaan untuk membangun industri pertenunan yang padat karya dan padat modal untuk sebelum masa kemerdekaan.

Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama
Antara tanggal 18 hingga 23 Desember 1939 di Silungkang dilaksanakan Konferensi Anak Silungkang yang pertama. Konferensi ini bertujuan untuk mempersatukan pandangan dan kekuatan orang Silungkang yang berada di kampung dan di rantau.

Selain dari pada itu satu hal mengenai Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama ini yang belum terungkap sebelumnya adalah bahwa konferensi itu diadakan karena Pemerintah Belanda (Ratu Wilhemina) akan menghadiahkan Bintang Jasa/Medali kepada YUSUF DATUK SATI, Kepala Nagari Silungkang pada waktu itu. Yang memiliki Ratu Belanda mengantarkan Medali itu adalah Gubernur Jenderal (GG) Belanda pada waktu itu (kalau sekarang GG itu sama dengan Presiden).

Jadi inilah pekerjaan luar biasa yang pernah dihasilkan oleh orang tua-tua kita dahulu yang mungkin belum tertandingi oleh generasi sekarang, meskipun besarnya kekayaan generasi Silungkang sekarang melebihi kekayaan orang tua-tua dahulu.

Konferensi ini melahirkan banyak hal, antaranya berdirinya di Silungkang Sekolah Dagang Islam (SDI) yang setingkat dengan Sekolah MULO. Pada waktu itu di Sumatera Tengah Sekolah MULO merupakan jenjang pendidikan yang tertinggi, yang baru terdapat di dua tempat, yaitu di Padang dan di Bukit tinggi.

Disamping menghasilkan berdirinya sekolah SDI di Silungkang, konferensi tersebut juga melahirkan keinginan-keinginan untuk :

  • Memasukkan listrik ke Silungkang
  • Membangun Sistim Air Ledeng dan Sistim Pemadam Kebakaran

Seperti kita ketahui aliran listrik ke Silungkang masuk pada tahun1947, yang mungkin merupakan Listrik Masuk Desa yang pertama yang ada di Indonesia. Pembangunan jaringan dan masuknya aliran listrik ke Silungkang ini adalah atas permintaan orang tua-tua kita yang dibuang (diinternir) Belanda ke Digul bersama dengan almarhum Bapak Drs. Moh. Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, yang pada tahun 1947 tersebut berkunjung ke negeri Silungkang.

Dalam konferensi itu juga terungkap suatu ratapan yang berjudul : “Kaum Ibu Silungkang” yang memberitahukan kepada kita bahwa segala kemajuan yang dicapai anak Silungkang adalah karena dorongan kaum ibunya.

Bunyi pantun tersebut adalah sebagai berikut :
Kaum Ibu Silungkang
Silungkang kekurangan sawah
Beras dibeli setiap pekan
Anak Silungkang sampai ke Jawa
Palantai induak nan mamajukan


Induak batanun kain jo baju
Dijua kain dibalikan ka bareh
Anak Silungkang manjadi maju
Turak jo sikek nan bakarajo kareh

Dan dengarlah pula sebuah pantun yang lain sebagai berikut :
Konferensi Silungkang Pertama
Rantau dan Kampung Satu Tenaga

Silungkang bapagaa bukik
Bukik hilalang nan banyak batu
Apo karajo indak basakik
Asal puteranyo tetap basatu


Silungkang bapaga bukik
Bukik bapaga si batu baro
Kok di Silungkang hiduik basakik
Mari marantau kito basamo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Kok dikona maso nan silam
Namun di hati batambah laruik juo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Guno dikoan maso nan silam
Kapaluciak nan mudo-mudo

Khotimah

Begitulah sekilas gambaran yang didapat dari orang tua-tua kita dahulu mengenai asal muasal kita pergi merantau. Untuk melengkapi riwayat ini saya harapkan sekali dari saudara-saudara sekalian, terutama dari kita-kita ini yang sudah berusia “senja”, hingga sebelum “mata hari tenggelam di ufuk barat”, ada kisah yang akan kita bacakan kepada anak, cucu, cicit kita untuk memacu semangat mereka berbuat yang terbaik bagi negeri leluhurnya.

Walluhu a’lam bissawaab.

Wassalam,

H. Munir Taher
Jakarta, akhir Juni 1999

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.