Sejarah


Saat itu santer sekali tentang Mendulang Ome yang banyak tersebar di kampung kita terutama sekali di sepanjang Batang Ai. Yang mana di tepi batang Batang Ai sudah ada yang mempunyai hak turun temurun atau Tanah Pusako di kampung kita. Yang mana pendulang sebagian besar dari kerabat yang punya tanah tersebut.

Dimana dalam Undang-undang hasil tambang untuk kemakmuran dan mensejahterakan keluarganya. Tapi justru kenyataan sangatlah berbeda. Timbul antara pro dan kontra, yang mana sebetulnya dua-duanya memang benar. Yang pro untuk menghidupi keluarganya yang mana saat itu mencari penghasilan sangatlah sukar apalagi setelah terjadi krismon. Dan begitu pula yang kontrak merasa tanahnya diobok-obok tidak karuan habis omenya, ditinggal begitu saja.

Ditambah lagi kelakuan yang negatif yang diperlihatkan oleh para pendulang ome, dimana masyarakat Silungkang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti warganya. Jangan seperti sekarang merasa mendapat rezeki yang besar dipakailah untuk berfoya-foya. Ini sangat bertentangan sekali dengan nilai agama dan begitu pula dengan Undang-undang. Janganlah kalau hasil mendulang habis begitu saja tidak memikirkan untuk masa depan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan ome sebagian besar dihabiskan begitu saja. Persediaan ome di Silungkang tentulah sangat terbatas maka pergunakanlah sebaik-baiknya hasil tersebut. Janganlah nanti kalau omenya sudah habis perekonomiannya masih tetap begitu juga. Jadi tidak ada artinya selama ini mendulang ome, yang mendulang ome tetap begitu juga dan yang punya tanah juga sulit untuk memanfaatkan kembali tanahnya dan begitu pula yang dulu waktu kita mandi di sungai dengan aman dan tidak merasa khawatir ada bekas lubang yang ditinggal begitu saja.

Disini peranan KAN ikut mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan mendata kembali dan memberi teguran-teguran jika menyalahi peraturan. Dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Itu wajar-wajar saja. Karena penghasilan dari bumi Silungkang, bukanlah segala hal harus ada peraturan yang mengikat dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Yang kontra sebetulnya tidak keberatan kalau ada yang mendulang ome, asalkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, hilangkan isu-isu negatif yang dilakukan oleh para pendulang. Kita puas dan bahagia kalau para pendulang bisa memanfaatkan hasil mendulangnya dengan sebaik-baiknya.

Sebetulnya pada jaman dulu kaum penjajah (Belanda) sudah ada niatan untuk menambang secara besar-besaran dengan mendirikan perusahaan antara Belanda dengan Inggris. Ada bukti otentik dengan bahasa Belanda akte pendirian yang diberi nama NV. Mijnbouw Maatschapij “SILOENGKANG”.

Karena sesuatu hal mungkin warga Silungkang tidak mau dipindahkan atau karena ome masih muda. Jadi kalau memang ada kandungan omenya marilah ktia kelola bersama-sama untuk kepentingan kesejahteraan warga kita, dengan melibatkan semua unsur seperti pemilik tanah, pendulang dan aparat desa.

Dengan peralatan yang sangat sederhana orang kampung yang biasa disebut Dukun Ome bisa menentuan dimana ada emas di daerah tersebut. Dilihat dari segi peralatannya atau si dukun sangat sakti, bukan itu sebenarnya tetapi memang sebagian besar tanah di Silungkang memang banyak mengandung emas, ini bisa dibuktikan pada waktu dulu Belanda bekerja sama dengan Inggris ingin menambangnya. Timbul pertanyaan (bukti otentik kami sisipkan), apa sebab Belanda mengundurkan diri.

mendulang ome

By Perantau Surabaya

Catatan :

Ome = emas

Ai = air

Sumber : buletin Silungkang, edisi 3, nomor 003/BSM/MARET/1999

SILOENGKANG DI ZAMAN DAHOELOE

SOMPIK LALOE LOENGGAI BATAKOK

 

 

Sedjak dahoeloe disegani orang, Gadjah Tongga Koto Piliang, diseboet dalam Tambo Minang.

 

 

Iktibar bagi lingkoengan, kampoengnja dikelilingi boekit, djalan, soengai jang berlikoe-kelok, loengkang dalam bahasa.

 

 

Loear biasa keberaniannja melawan pendjadjah Belanda. Poeloehan Perintis Kemerdekaan jang tertoelis dalam sedjarah perdjoeangan.

 

 

Oengoel dalam beroesaha, bidjak dalam menyelesaikan masalah masjarakat dan teladan bagi orang.

 

 

Ekonominja mendjadi bilangan, seboetan di Minangkabau.

 

Nama kampoengnja diseboet, orang pertjaja mendjadi djaminan, dihormati diloer kampoengnja sendiri.

 

 

Gaoeng tenunannya bergema di Noesantara, sampai ke Keradjaan Kintjir Angin, menjatoe dengan nama kampoengnja.

 

 

Kalang penjangga bagi kehidoepan kampoeng. Bermotto, anak didoekoeng kemenakan dibimbing.

 

 

Anak mendjelang dewasa disoeroeh merantau tanda kelaki-lakian, diamanatkan, sembahjang dan kedjoedjoeran jangan diabaikan. Itoelah pesan orang toea bersama mamak.

 

 

Norma dipakai, masjarakat dan kampoeng kelahiran dipertenggangkan.

 

 

Godanglah, tjopeklah godang waang boejoeang, poelanglah ke kampoeng. Kok kan lai ka panggonti niniak mamak nan lah gaek-gaek.

 

 

 

SILUNGKANG DI ZAMAN MODERN DENGAN SERIBU SARJANA

 

 

Semenjak tahun lima puluhan, keadaan silih berganti, apakah diperhatikan wahai orang-orang yang arif ?

 

 

Islam memudar, guru Agama dan panutan langka, pengajian, ceramah agama bak dilanda perang. Tak ada lagi yang disegani dan ditakuti.

 

 

Lomba-berlomba mengumpulkan picisan kertas yang nilainya berangka-rangka. Kadang lupa sanak, lupa kerabat dan bahkan mereka terlanda.

 

 

Undian pernah mewabah tetapi tidak ditakuti. Main kertas bergambar sudah bergenerasi, minuman keras ada, tak ada lagi yang tersembunyi.

 

 

Nah, individu membudaya, kepedulian menghilang, malu pun menyusut, pertanda ke zaliman sedang muncul, akibatnya ?

 

 

Gagah berani membela kebenaran, nasehat-menasehati dengan bijaksana sirna sudah. Kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab terbenam.

 

 

Komunikasi langka, walaupun telepon ada, silahturahmi jauh, mobil, motor pun punya, masing-masing hidup sudah sendiri-sendiri.

 

 

Adat manakah yang engkau anut, wahai orang-orang yang hidupnya bermotto : sempit lalu, longgar dipalu ???.

 

 

Ninik mamak yang engkau berada, apakah engkau sebagai saksi dizaman modern ini ? Seharusnya engkau kan menjadi suluh penerang dalam keadaan seperti ini ? Ilmuwan dan hartawan, kelompok inilah yang mulai berbilang, lupa atau belum sempat berkumpul memadu pendapat ?

 

 

Gerangan apakah obatnya wahai orang-orang yang arif ? Anda-anda sedang ditunggu-tunggu masyarakat Silungkang. Hati-hati, kampung kita, warga kita hampir berada dipinggir jurang …. mesjid besar tetapi belum berfungsi. Semoga.

 

 

 

 

 

By Rimfan – Jakarta Selatan

Diambil dari Bulletin Silungkang, Edisi Ketiga, 003/BSM/MARET/1999

Tentang dari mana asal nama Silungkang dan sejak kapan nagari ini memakai nama Silungkang hingga kini masih dipertanyakan. Belum ada yang secara pasti dapat menjawabnya. Karena memang belum pernah dilakukan penelitian.

 

Yang terang di Silungkang memang ada lurah yang bernama Lungkang. Lurah itu airnya mengalir melalui Surau Bingkuang dan bertemu dengan Batang Lasi sebelum Lubuak Nan Godang. Ada yang memperkirakan dari nama lurah Lungkang inilah nama Silungkang.

 

Tetapi ada pula yang memperkirakan bahwa nama Silungkang itu berasal dari Sawah Lungkang. Nampaknya perkiraan ini agak jauh dari kemungkinan. Sebab di sekitar mengalirnya air lurah Lungkang sampai bertemu dengan Batang Lasi tak ada tanda-tanda bahwa di masa lalu tempat itu adalah persawahan. Yang terkenal (dekat pertemuan lurah Lungkang dengan Batang Lasi) ialah Polak Pisang (Ladang Pisang). Sedang di mudieknya ialah Polak Kopi. Tak kelihatan bekas-bekasnya bahwa Polak Piang dan Polak Kopi itu dulunya sawah.

 

Lain pula halnya dengan buku Mambangkik Tareh Tarandam. Nama Lungkang itu dikaitkannya dengan legenda Adu Kerbau1). “Lungkang” itulah nasehat yang diberikan pemimpin-pemimpin (3 bersaudara : Nan Tuo, Nan Tongah dan Nan Ketek) Talang Tului Batu Badegui, tatkala utusan Kerajaan Bukit Batu Patah datang mencari ikhtiar guna melawan Kerbau besar dari orang Jawa.

 

Tatkala utusan Kerajaan Bukit Batu Patah menanyakan apakah yang dimaksud Lungkang, oleh Nan Tuo dikatakan yang dimaksud dengan Lungkang ialah “Lawan yang besar ialah yang kecil, lawan yang panjang ialah yang singkat, lawan jantan ialah betina”.

 

Keterangan Nan Tuo itu diperkuat oleh Nan Tongah dengan kata-kata : “Itu sebenarnya. Sebab di alam ini terjadi segala dua. Cobalah berguru ke alam Lungkang”. Kemudian Nan Ketek memperkuat pula keterangan Nan Tuo dan Nan Tongah.

 

Utusan pun kembali ke Bukit Batu Patah, setelah ada kepastian dari pemimpin-pemimpin Talang Tului Batu Badegui itu bahwa nasehatnya dapat dipertanggung jawabkan. Nampaknya nasehat “Lungkang” itu dapat diterima Bukit Batu Patah. Dan kemudian terjadilah pertarungan kerbau besar dari Jawa dengan anak kerbau yang pakai taji dan pertarungan ini dimenangkan Anak Kerbau.

 

Dan dari nasehat Lungkang inilah asal nama Silungkang.

 

Bila kita lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta maka Lungkang itu artinya ialah “selokan” atau “pelimbahan”. Bisa saja dalam selokan atau pelimbahan itu terdapat benda atau materi yang besar berlawanan dengan yang kecil, yang panjang berlawanan dengan yang singkat, yang jantan berlawanan dengan betina. Tetapi yang pasti Lungkang bukan berarti besar lawan kecil, panjang lawan singkat, jantan lawan betina.

 

Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa nama Silungkang ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Lowongan batu yang tinggi”. Nama Silungkang ini mulai diletakkan pada abad ke VI Sebelum Masehi. Sebelum bernama Silungkang namanya Talang Tului Batu Badegui.

 

Ada dua curaian mengenai penukaran nama itu. Pertama penukaran nama ini adalah untuk menyesuaikan nama dengan keadaan alamnya. Silungkang adalah nagari yang tandus2), punya hanya sedikit dataran yang kiri kanannya diapit oleh bukit yang tinggi dan memang seperti lowongan batu. Kedua penukaran nama ini adalah hadiah dari Kerajaan di Periangan Padang Panjang.

 

Dari mana sumber keterangan di atas tak ada penjelasan. Karena itu belum bisa dipastikan kebenarannya.

 

Apalagi bila diingat yang memakai nama Silungkang bukan hanya nagari Silungkang yang dulunya bernama Talang Tului Batu Badegui, tetapi juga terdapat nama kampung Silungkang di Sulit Air dan Palembayan. Apakah letak kampung Silungkang di sana juga diapit oleh bukit-bukit yang tinggi dan apakah juga hadiah dari Kerajaan di Periangan Padang Pajang ?

 

Jadi hingga kini dari mana asal nama Silungkang dan sejak kapan nama Silungkang menggantikan Talang Tului Batu Badegui masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tugas generasi mudalah untuk menggali sejarahnya.

 

Lepas dari persoalan dari mana asal nama Silungkang, maka kini Silungkang termasuk dalam Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung (tahun 1988). Di sebelah Barat berbatas dengan nagari Kubang dan Lunto. Di sebelah Timur berbatas dengan nagari Batu Manjulur dan Tarung-Tarung. Di sebelah Utara berbatas dengan nagari Pianggu dan di sebelah Selatan berbatas dengan nagari Padang Sibusuk.

 

Menurut sensus terakhir (sumber tulisan ini dibuat tahun 1988) penduduk Silungkang yang menetap di kampungnya berjumlah 8400 orang. Sedang yang tinggal di perantuan kurang lebih 10.000 orang. Secara administratif Negari Silungkang dibagi dalam 7 Jorong : Silungkang Khusus (4300 orang); Muaro Kalaban (3360 orang); Taratak Boncah (440 orang); Bukit Kociek atau Talang Tulus (210 orang); Sungai Cocang (150 orang); Rumbio (120 orang); Bukit Kuning (110) orang.

 

Dengan dikeluarnya Perda (Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 13/1983) maka Jorong-jorong itu ditetapkan menjadi Desa. Kini Jorong Silungkang Khusus telah menjadi Desa Silungkang Khusus.

 

Catatan Kaki :

1) AA Navis : Alam Terkembang Jadi Guru

Pada suatu masa datanglah Balatentara yang dipimpin Anggang dari Laut yang hendak menaklukan mereka. Melihat kekuatan pasukan itu, mufakatlah Datuk yang berdua (Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang) beserta Cati Bilang Pandai untuk mencari akal bagaimana menangkis kedatangan musuh.

Akhirnya didapat kata sepakat bahwa untuk melawan pasukan yang kuat itu haruslah dengan tipu muslihat. Muslihat yang dipilih ialah mengadu kerbau. Kerbau siapa yang menang, itulah yang memenangkan pertempuran. Usul diterima oleh Panglima Pasukan yang datang. Lalu Panglima Armada mengirim kurir ke negeri asalnya untuk menjemput kerbau yang paling besar. Jarak kedua jung tanduknya empat depa. Untuk menandinginya tidak ada kerbau yang sepadan. Cati Bilang Pandai mengajukan saran agar kerbau besar itu dilawan dengan anak kerbau yang lagi sarat menyusu. Sebelum dilepas di gelanggang, anak kerbau itu beberapa hari tidak dibiarkan menyusu pada induknya. Pada hidungnya diikatkan sepotong besi yang runcing. Besi itu disebut Minang” (hlmn. 51-52).

 

2) Rusli Amran dalam bukunya “Sumatera Barat Plakat Panjang”, yang diterbitkan Sinar Harapan Jakarta tahun 1981, pada halaman 292 antara lain mengemukakan bahwa Verkerck Pistorius, seorang kontrolir Belanda di Bovenlanden pernah mengunjungi Padang Sibusuk dan Silungkang (Kolonial Verslag 1876, lamp O 1877 lamp). Dalam laporannya antara lain mengatakan : “Jika kita di Padang Sibusuk memasuki jalan setapak yang mendaki-menurun sepanjang Batang Lasi yang banyak mengandung emas, hingga ke Silungkang dengan jarak 7 1/2 km. Kita melihat semacam pintu gerbang di gua batu. Di kiri kanan menjulang tinggi lereng gunung yang terjal dan gelap, dan sungai tadi dengan gemuruhnya memaksakan diri melalui tempat sempit di gua batu itu. Kalau kita melewati semacam pintu gerbang tadi, kita sampai di dataran yang sangat elok. Di sini berdiri beratus-ratus rumah mereka di tengah persawahan atau di sela-sela lereng gunung. Mereka kepunyaan orang-orang yang tinggal di Silungkang dan mereka mengerjakan sawah-sawah itu diperbatasan nagari, atau berladang di atas bukit-bukit atau bekerja di tambang emas milik rakyat”.

 

 

Sumber :

Buku Silungkang dan Adat Istiadat Oleh Hasan St. Maharajo, Edisi 1, Mei 1988

Sebelum Nagari Silungkang bernama Silungkang yang ada baru Taratak Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo. Sejak kapan Nenek moyang orang Silungkang mendiami Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo, hingga kini belum pernah orang awak melakukan penelitian.

Menurut curaian Syamsuddin Datuk Simarajo1) bahwa Nagari Silungkang telah didiami semenjak abad ke VI sebelum Masehi. Dari mana sumber Syamsuddin Datuk Simarajo menyimpulkan demikian, tidak jelas. Penelusuran masih diperlukan untuk membuktikan kebenarannya. Sekira benar apa yang dikatakan Syamsuddin tersebut, maka berarti Silungkang telah berusia kurang lebih 2500 tahun.

Menurut keterangan itu juga bahwa tempat pertama yang didiami nenek moyang orang Silungkang ialah Taratak Boncah. Dari Taratak Boncah ini nenek-nenek kita berbagi badan. Sebagian turun ke Silungkang dan yang sebagian pergi ke Padang Aka Bulu, yang kemudian bertukar nama menjadi Padang Bulu Kasok dan di dalam perkembangan seterusnya berganti nama jadi Padang Sibusuk.

Dari situlah nampaknya maka Silungkang dan Padang Sibusuk dikatakan bersaudara. Terdiri dari 11 Niniek. Niniek yang 5 orang turun di Silungkang, sedang yang 6 orang turun di Padang Sibusuk. Ada yang mengatakan bahwa yang turun ke Silungkang yang tua, sedang yang ke Padang Sibusuk yang kecil. Tetapi tidak ada keterangan apakah semua yang turun di Silungkang itu urutan usianya lebih tua daripada yang turun ke Padang Sibusuk, atau ada pula terselip yang kecil dari yang tua itu.

Terhadap curaian di atas ada yang mempertanyakan : apakah yang ke 5 orang Niniek yang turun di Silungkang itu semuanya wanita atau pria ? Jika semuanya wanita atau pria dengan siapa mereka kemudian berumah tangga ? Apakah dengan pria atau wanita yang telah lebih dulu mendiami Silungkang ? Atau datangnya memang telah berpasangan (suami isteri) ? Jika telah berpasangan yang bersaudara wanitanya atau prianya ? Hingga kini pertanyaan itu masih tetap dipertanyakan.

Dalam rangka meyakinkan pembacanya bahwa Silungkang dan Padang Sibusuk bersaudara, maka Chaidir Taher Samposo Mudo dan Rusli Taher Sampono Gagah2) mengemukakan Kepala rombongan yang turun ke Silungkang dan Padang Sibusuk itu ialah Datuk Sangguno. Sebelum Niniek yang berlima turun ke Silungkang beliau bertanya kepada Datuk Sangguno. “Jikok kami nan manaruko Taratak, apo tuahnya dek Nagari?” (Jika kami hendak menggarap Taratak, apa tuahnya oleh Nagari).

Menanggapi pertanyaan tersebut, maka Datuk Sangguno menjawab : “Jikok kalian nak manaruko Taratak nan jadi tuah dek nagari ada tigo perkaro : 1. Batang aie di tangah koto. 2. Nan balubuak di ikue/kapalo koto. 3. Nan batalago di bawah bukik” (Jika kalian hendak menggarap Taratak yang jadi tuah oleh nagari ada tiga hal : 1. Batang air di tengah kota. 2. Yang berlubuk di ekor/kepala kota. 3. Yang bertelaga di bawah bukit).

Ketiga ciri yang dikemukakan sebagai tuah oleh nagari itu terdapat di Silungkang. Batang air Lasi memang mengalir di tengah nagari. Lubuk di ekor nagari ialah Lubuak Nan Godang, sedang Lubuak di kepala nagari ialah Lubuak Kubang. Sedang telaga di bawah bukit ialah Danau di bawah Ngalau Basurek, di Sawah Darek, Desa Sungai Cocang.

Pertanyaan yang senada kepada Datuk Sangguno juga diajukan oleh Niniek yang berenam. Menjawab pertanyaan Niniek yang berenam Datuk Sangguno mengatakan : “Kok kalian nak manaruko taratak pai la arah ka hilie, nan ka jadi tuahnya dek negari ada limo : 1. Ula lidi malingka koto. 2. Buayo mandukuang anak. 3. Aie tiri ma adok mudiek. 4. Aie manobuak batu. 5. Talago ma adok mudiek” (Jika kalian hendak menggarap Taratak pergilah ke arah hilir, yang akan menjadi tuahnya oleh nagari ada 5 : 1. Ular lidi melingkar kota. 2. Buaya mendukung anak. 3. Air tiris menghadap mudik. 4. Air menembus batu. 5. Telaga menghadap mudik).

Kelima ciri tersebut memang terdapat di Padang Sibusuk. Yang dimaksud Ular lidi melingkar kota ialah Batang Piruko melingkar nagari Padang Sibusuk; Buaya mendukung anak ialah Tanjung Barisi dalam nagari Padang Sibusuk; Air tiris menghadap mudik ialah di daerah Simancuang; Air menembus batu tempatnya di pintu angin Lobang Kolam Kupitan; telaga menghadap mudik tempatnya di daerah pabrik genteng Batu Putih.

Kemudian oleh penulis di atas ditambahkan pula bahwa kepada Niniek yang berlima diberi tuah oleh Datuk Sangguno berupa benang dengan balero, lengkap dengan alat peraganya. Bertenunlah yang akan menjadi mata pencahariannya. Sedang kepada Niniek yang berenam oleh Datuk Sangguno diberi kapak dengan beliung, alat pertanian. Itu yang akan menjadi mata pencahariannya.

Tetapi siapakah yang sesungguhnya Datuk Sangguno itu, tidak ada keterangan ! Apakah beliau termasuk salah seorang dari yang 11 Niniek, ataukah diluar ? Jika termasuk yang 5 Niniek atau yang 6 Niniek ? Jika diluar, kemana beliau pergi sesudah 11 Niniek telah turun semuanya ke Silungkang dan Padang Sibusuk ? Dengan tidak jelasnya siapa sesungguhnya Datuk Sangguno maka rangkaian cerita dalam hubungan dengan Datuk Sangguno menjadi tidak jelas pula.

Pertanyaan yang belum terjawab di atas masih ada tambahan lagi. Bila benar bahwa asal orang Silungkang yang sekarang dari yang 5 Niniek, mengapa di Silungkang sekarang yang terkenal 13 Niniek (10 Niniek : Patopang dan Melayu – 3 Niniek Supanjang, Dalimo dan Payabadar)? Apakah 13 Niniek itu keturunan dari 5 Niniek ? Jika yang 13 Niniek itu keturunan dari yang 5 Niniek bagaimana pula perinciannya ?

Pertanyaan di atas hingga kini belum ada jawaban yang meyakinkan. Sejalan dengan itu ada keterangan bahwa Nenek moyang orang Silungkang datang di Silungkang beberapa gelombang. Ada yang datangnya langsung dari Batusangkar, ada yang melalui Sulit Air dan ada pula yang datang kemudian dari Tikalak dan sebagainya. Tentu saja pendapat yang mengatakan Nenek-Moyang orang Silungkang datang bergelombang tidak sejalan dengan keterangan bahwa orang Silungkang dan Padang Sibusuk terdiri dari 11 Niniek. Bila 11 Niniek, itu berarti Niniek orang Silungkang datangnya satu gelombang.

Memang sementara orang Silungkang hingga kini masih ada belahannya di Padang Sibusuk. Bila sementara yang ada belahan, itu tidak berarti seluruhnya punya belahan.

Perbedaan pendapat ini nampaknya masih akan berlanjut sampai diketemukannya data-data yang mendekati kebenaran tentang bagaimana yang sesungguhnya.

Catatan Kaki :

  1. Curaian Syamsuddin Datuk Simarajo, eks Wali Negari Pagaruyung, yang disampaikan kepada rombongan H. Kamaruzzaman antara 6 November – 24 Desember 1984 di Pagaruyung.
  2. Chaidir Taher Sampono Mudo, Rusli Taher Sampono Gagah : “Mambangkik Tareh Tarandam” (belum diterbitkan).

Buku “Silungkang dan Adat Istiadat” oleh Hasan St. Maharajo
Edisi 1, Jakarta, Mei 1988

A. PENGHULU PUCUAK

  • Suku Supanjang : Datuk Bosa
  • Suku Payobadar : Datuk Mangguang Jumpo
  • Suku Dalimo : Datuk Penghulu Sati
  • Suku Melayu : Datuk Rajo Nan Godang
  • Suku Patopang : Datuk Rangkayo Nan Godang

B. MONTI

  • Suku Supanjang : Monti Muhammad
  • Suku Payobadar : Rajo Dipadang
  • Suku Dalimo : Monti Sutan
  • Suku Melayu : Monti Penghulu
  • Suku Patopang : Monti Marajo

C. MALIN

  • Suku Supanjang : Malin Muntjak
  • Suku Payobadar : Sampono Malin
  • Suku Dalimo : Khatib Majo Kayo
  • Suku Melayu : Malano Khatib
  • Suku Patopang : Malin Batuah

D. HULUBALANG

  • Suku Supanjang : Dubalang Sati
  • Suku Payobadar : Bagindo Sutan
  • Suku Dalimo : Lenggang Sati
  • Suku Melayu : Lenggang Sipado
  • Suku Patopang : Mantari Alam

PANDITO ADAT (PANITO)

I. SUKU SUPANJANG

  • Kampung Dalimo Jao Atas : Pokiah Maani
  • Kampung Dalimo Jao Bawah : Pokiah Batuah

II. SUKU PAYOBADAR

  • Kampung Melawas Hilir : Pokiah Tajudin
  • Kampung Melawas Mudik : Pandito Suleman

III. SUKU DALIMO

  • Kampung Tanah Sirah/Paliang Dalimo : Malin Malano
  • Kampung Dalimo Kosiak/Guguk Ciporan/Dalimo Singkek : Khatib Sampono
  • Kampung Dalimo Tapanggang/Dalimo Coca : Bandaro Khatib
  • Kampung Dalimo Godang : Pokiah Bandaro

IV. SUKU MELAYU

  • Kampung Melayu : Pokiah Malano
  • Kampung Panai Tigo Tingkah : Pokiah Bagindo
  • Kampung Pania IV Rumah : Malin Sutan
  • Kampung Sungkiang/Batu Bagantuang : Pokiah Majo Lelo
  • Kampung Rumah Tabuh/Lubuk/Panai Koto Baru : Pokiah Majo Bongsu

V. SUKU PATOPANG

  • Kampung Sawah Juai : Malin Omeh
  • Kampung Kuti Anyir : Malin Karojan
  • Kampung Palakoto/Talak Buai : Pito Morah
  • Kampung Paliang/Batu Mananggau : Pandito Sulaiman
  • Kampung Guguk/Koto Marapak : Malin Penghulu

Keterangan :

Seluruh nama-nama gelar baik untuk orang nan IV Jini atau orang Bajini tersebut tetap/tidak berubah, yang berubah hanya nama-nama orang yang sedang memegang jabatan tersebut.

Panggilan untuk orang yang memegang jabatan adat di Silungkang dikenal dengan : Penghulu Pucuak Nan Balimo, Monti Nan Balimo, Malin Nan Balimo, Dubalang Nan Balimo, Datuak Kampuang nan Delapan Belas, Pandito Adat nan Delapan Belas.

Pengurus mesjid Di Silungkang dipegang oleh tiga suku :

  • Imam, dari suku Melayu, yang gelarnya : Pokiah Sampono
  • Khatib, dari suku Patopang, dengan gelar : Malin Bungsu
  • Bilal, dari suku Supanjang, dengan gelar : Khatib Batuah

Pengurus mesjid tersebut adalah anggota kerapatan adat nagari Silungkang dan P3N juga termasuk anggota KAN.

Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah wadah/tempat perkumpulan orang-orang yang memangku adat dalam kenagarian.

Sumber : Bulletin Silungkang, Nomor : 003/BSM/MARET/1999

asalusul

 

a. Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) :

  1. Melayu

  2. Kampai

  3. Bendang

  4. Lubuk Batang

 

b. Melayu nan V Kampung (Kaum Datuk nan Sikalap Dunie)

  1. Kuti Anyir

  2. Patopang

  3. Banuhampu

  4. Jambak

  5. Salo

 

c. Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sabatang)

  1. Budi

  2. Singkuang

  3. Sungai Napa

  4. Mandahiling

  5. Ciniago

  6. Sipanjang

 

d. Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketemenggungan)

  1. Andomo Koto

  2. Piliang

  3. Guci

  4. Payabadar / Dalimo

  5. Tanjung

  6. Simabur

  7. Sikumbang

  8. Pisang

  9. Paya Cancang

 

 

 

Keterangan :

Koto Piliang dan Budi Ciniago disebut Lareh Nan Duo

 

Ciniago :

Ci = Cina / Kocin

Niago = berdagang / cari uang

 

 

Disalin dari buku Datuk Simarajo sewaktu menerima curaian adat dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984

 

Yang Menyalin,

 

 

 

H. Kamaruzzaman

 

 

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MARET/1999

Uraian ini diterima dari Syamsuddin Datuk Simarajo, ex. Wali Negari Pagaruyung, Ketua K.A.N. Pagaruyung, Ketua L.K.A.A.M. Kecamatan, Kepala Bidang Negari – Negari di L.K.A.A.M. Tanah Datar dan pimpinan Istano (Istana) Pagaruyung pada tanggal 6 / 11 dan 24 / 12 1984.

Sebelum pemerintahan Minangkabau berkedudukan di Pagaruyung, pusat pemerintahan bertempat di Bungo Setangkai.

Yang mengendalikan pemerintahan, disamping rajo adalah Langgam Nan 7, waktu itu Basa 4 Balai belumlah ada.

Salah satu dari Langgam yang 7 adalah Gajah Tongga Koto Piliang. Yang memegang jabatan itu adalah Datuk Pahlawan Gagah dari Silungkang dan Malintang Lobieh Kasatian dari Padang Sibusuk.

Jabatan/pangkat ini adalah jabatan/pangkat untuk Negari, bukan suku. Negarilah yang menentukan siapa yang akan memegang jabatan/pangkat itu.

Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah :

  1. Orang Gadang bermandat penuh.
  2. Aspri Rajo (Aspri = Asisten Pribadi)
  3. Dewan pertimbangan
  4. Penasehat. Diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada rajo dan langgam yang tujuh.


2.

Riwayat Negeri Silungkang
Negeri Silungkang ini didiami semenjak abad keenam sebelum masehi yang berarti sampai sekarang telah berumur lebih kurang 2500 tahun.

Waktu itu penduduk bermukim belumlah ditempat yang sekarang tetapi adalah diatas bukit-bukit sekitarnya.

Nama Silungkang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “Lowongan batu yang tinggi”.

Dari atas bukit-bukit yang tinggi inilah orang meninjau jarak dan bersebarlah sebahagiaannya dan terjadi/berdiri pulalah negeri-negeri disekitarnya.

Lunto, Kubang dan Padang Sibusuk waktu itu masih satu dengan Silungkang.

3.
Menurut keterangan yang diterima dari Monti Rukun Padang Sibusuk, niniek orang Silungkang dan Padang Sibusuk turun langsung dari Pariangan Padang Panjang.

Tempat yang mula-mula didiami adalah Tak Boncah. Dari Tak Boncah ini dibagilah badan. Serombongan pergi ke Silungkang dan serombongan lagi turun ke Padang Aka Bulu yang kemudian bertukar nama jadi Padang Bulu Kasok dan semenjak pertempuran dengan pasukan Aditiawarman ditukar namanya menjadi Padang Sibusuk.

Adapun rombongan yang turun ke Silungkang dipimpin oleh Monti-monti sedangkan yang turun ke Padang Aka Bulu (Padang Sibusuk) dipimpin oleh Penghulu-Penghulu.

Di Silungkang Monti-monti inilah yang dijadikan Penghulu. Waktu hal ini kami tanyakan, dijawab oleh beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) bahwa keterangan itu tidaklah benar karena :

  1. Alam takambang membuktikan yang Silungkang lebih dahulu adanya dari Padang Sibusuk.
  2. Silungkang telah didiami semenjak abad keenam sebelum Masehi. Waktu itu Kerajaan Minangkabau belum punya susunan seperti sekarang. Belum ada yang empat jinih. Tegasnya belum ber Monti.
  3. Padang Sibusuk bernama Padang Sibusuk adalah semenjak negeri ini didiami dan pada abad ketiga sebelum Masehi bernama Silungkang telah menjadi Gajah Tongga Koto Piliang, sedangkan pertempuran dengan Aditiawarman itu terjadi pada abad ketiga belas.Nama Padang Sibusuk ini diambil dari/karena di Padang banyak tumbuh rumput Sibusuk.

    Kejadian pertempuran dengan Aditiawarman itu memang benar dan pengaruhnya adalah menambah populernya nama Padang Sibusuk itu. Keterangan ini juga kami terima dari H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati dengan keterangan yang sama di Istano Pagaruyung pada tanggal 24 Desember 1984.

    H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati ini adalah pegawai kantor Gubernur Sumatera Barat yang ditunjuk untuk mengurus Istano Pagaruyung. Beliau telah mendapat bintang dan gelar Datuk Derjah Setia Negari dari kerajaan negeri Sembilan Malaysia karena masalah Adat.

4.
Istano (Istana) Pagaruyung gonjongannya adalah sebelas buah. Ini melambangkan perangkat pemerintahan Minangkabau di Pagaruyung yang terdiri dari Basa 4 balai dan Langgam yang 7. Karena Silungkang – Padang Sibusuk adalah salah satu dari Langgam yang 7, maka berarti bahwa salah satu dari gonjongnya itu adalah Silungkang – Padang Sibusuk (Gajah Tongga Koto Piliang).

Didalam Istano (Istana) Pagaruyung itu akan diperbuat 11 (sebelas) buah kamar (bilik). Sebuah dari kamar itu nantinya akan diperuntukkan untuk Gajah Tongga Koto Piliang (Silungkang – Padang Sibusuk).

5.
Beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) berpesan : “Kami dari Istano Pagaruyung mengharapkan agar Gajah Tongga Koto Piliang mulai menyusun badan dari sekarang siapa orangnya yang akan mewakili Gajah Tongga Koto Piliang dalam peresmian Istano itu nantinya, seterusnya yang akan menempati kamar tersebut. Setelah tersusun akan segera kami kokohkan atas nama Kerajaan Pagaruyung”.

6.
Kami dari rombongan yang datang dari Silungkang (yang menerima uraian tersebut) mengusulkan agar : “Supaya pengurus Istano Pagaruyung mengusahakan pula mengadakan pertemuan antara kami Langgam yang Tujuh”. Usul ini beliau terima dan beliau berjanji akan mengusahakannya.

Demikian garis besarnya curaian yang kami terima.

Kami yang menerima curaian tersebut :

 

H. Kamaruzzaman : Datuk Rajo Intan

 

Arief Jalil : Datuk Mandaro Khatib

 

Rasyid Abdullah : Datuk Rangkayo Nan Godang

 

Izhar Harun : Datuk Rajo Nan Gadang

 

H. Nurdin Muhammad : Datuk Mangkuto Sati

 

 

 

 

Naskah ini diambil dari arsip

 

 

Ketua Kerapatan Adat (KAN)

Alm. Datuk Rangkayo Nan Godang

 

 

 

 

Yang Menyalin : H. Nazar Syamsuddin

 

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MAR/1999

Sesungguhnya kemunduran Islam sudah begitu rupa di Silungkang, namun hingga tahun 1984 tidak ada yang menyatakan secara terbuka kepada umum. Paling-paling perasaan yang demikian dikemukakan dengan andai-andai saja. Baru ketika konferensi ke II antar PKS yang berlangsung bulan Juli 1984 mulai dinyatakan secara terbuka (tertulis) dan kemudian dalam seminar sehari Adat Silungkang April 1986 di Jakarta lebih terang lagi.

Seperti diketahui dalam konferensi ke II antar PKS tersebut tampil makalah yang bertemakan agama. Dua diantaranya ditemukan oleh almarhum ulama Silungkang (dengan tema “Perkembangan Islam di Silungkang”) dan oleh Baharudin Hr. dengan judul “Masalah Keagamaan di Silungkang”.

Dalam makalah alim ulama Silungkang1) antara lain dikatakan : “Patut menjadi perhatian kita bersama dalam pendidikan agama sekarang ini sangat minim sekali minatnya pemuda/pemudi, sekiranya kita keberatan mengatakan tidak ada sama sekali. Siapakah nantinya yang kaan menggantikan alim ulama (kalau boleh dikatakan ulama), kalau tidak generasi sekarang ini”. “Kita sangat prihatin sekali dengan tidak adanya pemuda/pemudi sekarang ini yang mengarahkan kemauannya terhadap perguruan agama Islam, padahal ini adalah persoalan yang sangat penting sekali”.

Sedang oleh Baharudin Hr2) melalui makalahnya “Masalah keagamaan di Silungkang” antara lain dikemukakan bahwa “anak yang mengaji Al Quran hanya 600 orang, padahal murid SD sebanyak 780 orang. Berarti 25% murid SD belum mengaji. Sebagian besar berhenti sebelum tamat, tidak pandai membaca Al Qur’an dianggap masalah biasa”.

Kemudian ditambahkannya bahwa Mesjid Silungkang yang berdiri tahun 1900 itu telah berumur 84 tahun. Sudah banyak yang rapuh. Perlu pemugaran.

Dan yang lebih menarik lagi ialah makalah yang disampaikan wakil KAN Silungkang3) dalam seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta tahun 1986. Melalui makalah yang berjudul Alim Ulama atau guru agama yang akan habis itu”. Sebagai ulasan dikemukakan :

  • Ada yang sekolah agama karena terpaksa oleh orang tuanya;
  • Ada yang masuk sekolah agama hanya untuk pelarian karena tidak masuk dalam sekolah umum;
  • Banyak yang patah di tengah jalan pada sekolah-sekolah agama karena biaya, tarikan sekolah umum, cemooh dan pentin, keburu kawin, tidak tahan di asrama;
  • Setelah sekolah agama ingin menjadi pegawai negeri atau menjadi wiraswasta di rantau bagi kepentingan hari depannya.

Dan seperti telah dikemukakan dimuka bahwa “ada guru agama atau alim ulama yang sudah hampir ke pintu kubur sesama mereka saja tidak berbaikan”, demikian wakil KAN.

Sementara itu pada tahun 1987 oleh Syarief Sulaiman (Alm)4) sebagai buah pengamatannya selama berdiam beberapa waktku di kampung, ia membuat sebuah “laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung sekarang”. Dalam laporannya itu antara lain dikemukakan :
“Begitu pula sikap muda/mudi terhadap pengajian di mesjid. Banyak yang tak acuh saja. Walaupun pengajian itu diadakan sebulan sekali di mesjid dan gurunya didatangkan dari luar dan pemberitahuan akan berlangsungnya pengajian malam itu disiarkan. Namun pada jam akan dimulai yang disertai dengan imbauan melalui pengeras suara (yang terdengar sampai ke pasar), namun puluhan muda/mudi ramai dibalai di depan TV umum atau pelataran parkir. Mereka tak acuh saja atas pengajian tersebut. Maka yang hadir (dalam pengajian tersebut-pen) dapat dihitung dengan jari. Bapak-bapak “camat” (calon mati) yang berumah di sekitar mesjid (itulah yang hadir-pen). Kesehatan mereka tidak mengizinkan lagi keluar rumah dimalam hari”.

Dewasa ini surau yang berfungsi di Silungkang tak lebih dari 10 buah. Padahal menjelang perang dunia ke II, jumlah surau lebih dari 40 buah. Fakta jumlah surau ini berbicara sendiri tentang kemunduran Islam di Silungkang.

Kurangnya pengajian ini tidak hanya di Silungkang, malah di Jakarta juga demikian. Berbeda ketika disaksikan Margaret pada tahun 1984, dimana pengunjung pengajian yang diselenggarakan majelis taklim cukup besar. Rupanya tahun 1984 itu merupakan “puncaknya”. Kemudian berangsur menyurut. Kesepian pengajian di Jakarta ini dapat diketahui dari laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS5) (periode 1985 – 1987) yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987, antara lain dikatakan :

“Kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan kurang mendapat perhatian dari warga Silungkang. Hal ini terlihat dari sepinya pengunjung pada setiap pengajian yang diadakan, malah pengajian warga Silungkang di Mesjid Al Insan Patal Senayan terpaksa ditutup. Demikian juga dengan pengunjung pengajian Majlis Taklim yang diselenggarakan di kantor Koperasi Kemauan Bersama”.

Itulah sementara fakta yang secara terbuka dikemukakan pemuka-pemuka Silungkang mengenai kemunduran Islam di Silungkang.

Apakah artinya keterangan secara terbuka tersebut ?

Ia mengandung arti orang awak mengamalkan secara tepat Mamangan “Upek maiduiki, puji mambunuah” (umpat atau kecaman menghidupi, puji membunuh). Kritik itu adalah dengan tujuan untuk merubah keadaan yang tidak baik menjadi baik. Jika diri sendiri tidak berusaha merubah keadaan yang kurang menguntungkan menjadi menguntungkan, maka keadaan akan tetap kurang menguntungkan. Ini sesuai dengan surat Ar Ra’du ayat 11 yang mengatakan :

Innalloha layughaiyiruam biqaumin hatta yughaiyiruma bianfusihim” (sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri).

Tanpa membaca kita akan bisa menguasai ilmu dunia dan akhirat. Tanpa membaca tak mungkin kita dapat mengamalkan sabda Nabi Muhammad6) : Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat “(tholabul ilmi mahdi ilal lahdi); tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” (ilmi walau fi siin).

Bisa dipertanyakan, dapatkah dikatakan umat Nabi Muhammad yang baik bila dengan membaca atau tidak mau membaca guna meningkatkan ilmu di dada!

Banyak hal-hal yang dapat diketahui dengan membaca dari pada tidak membaca dengan, tidak membaca memaksa diri kita harus menghubungkan sendiri berbagai permasalahan dan itu akan meminta penyediaan waktu dan energi. Padahal mungkin saja permasalahan itu sudah dipecahkan orang lain, sehingga bila kita membaca tak perlu lagi menyediakan waktu dan energi untuk mencari pemecahannya.

Membaca berarti berdialog dengan pikiran pengarang. Tentu saja hati dan otak dibuka selebar-lebarnya untuk menerima pengaruh dari pikiran pengarang itu dan sekaligus berusaha menyaring dengan cermat. Dialog dengan pikiran pengarang berarti mengantarkan kita pada kebenaran-kebenaran baru yang lebih tinggi.

Dengan banyak membaca kita akan lebih mengenai diri kita (kelebihan dan kekurangan atau keterbatasannya) sehingga mendorong kita lebih banyak lagi membaca dan belajar. Dengan banyak membaca kita akhirnya akan menemui jalan yang benar, yang harus ditempuh, agar Islam bangkit kembali di Silungkang.

Membaca bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk membentuk pikiran dan pandangan kita.

Catatan Kaki :

  1. Alim Ulama Silungkang : “Perkembangan Islam di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II antar PKS, Juli 1984 di Silungkang).
  2. Baharudin Hr : “Masalah Keagamaan di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II Antar PKS di Silungkang pada bulan Juli 1984).
  3. KAN Silungkang : “Krisis Adat dan Agama di Silungkang”, (Makalah dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  4. Sharief Sulaiman : “Laporan tentang masyarakat Silungkang di Kampung sekaran”, FORMES April 1987.
  5. Pengurus PKS periode 1985 – 1987 : “Laporan Pertanggungan Jawab”, yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987.
  6. Dr. M. Amin Rais : Dalam pengantar terhadap buku Dr. Ali Shariati : “Tugas Cendikiawan Muslim”, penerbit CV. Rajawali Jakarta, 1984, h. viii.

Sumber :

Buku Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Terbukalah hubungan dengan dunia luar bagi orang Silungkang (terutama dengan telah adanya jalan kereta api dan jalan oto) yang tampak sepintas lalu terbukanya jalan bagi kemajuan kehidupan. Tetapi jika didalami dengan seksama ternyata didalam kemajuan itu terkandung juga hal-hal yang menyakinkan kemunduran di pihak lain.

Betapa tidak !

Sesungguhnya benih-benih yang akan membawa kemunduran bagi pihak lain itu bisa dihambat sekiranya tujuan berdagang adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Artinya dalam berdagang cara-cara yang ditempuh semata-mata jalan yang diridhoi Allah. Akan tetapi bila tujuan berdagang hanya untuk menumpuk kekayaan perdagangan, masanya sudah berlebih setahun dan nilainya sudah sampai senisab akhir tahun itu, maka orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya. Sebesar 2 ½ %, dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja. Tentang besarnya harta perniagaan yang harus dizakatkan menurut H. Sulaiman Rasyid dengan zakat emas dan perak. Bagi emas nisabnya 93,6 gr, perak 624 gr. Besar zakat 1/40 dari harta perniagaan itu. Misalnya harta perniagaan diakhir tahun jumlahnya senisab 93,6 gr. Maka besarnya zakat yang wajib diberikan adalah 1/40 dari 93,6 gr. Namun iblis senantiasa akan merayu orang Islam yang berdagang itu meneruskan langkahnya yang sesat (menghalalkan segala cara). Jika pedagang itu termakan oleh rayuan iblis, maka semakin tinggi kedudukannya dalam dunia perdagangan, akan semakin tipislah iman di dada.

Dalam kehidupan beragama, seperti juga dalam kehidupan pada umumnya peranan keteladanan atau contoh dari para pemukanya banyak menentukan apa yang akan dilakukan oleh orang awam. Bila pemuka-pemuka agamanya senantiasa sesuai antara kata dengan perbuatan, maka massapun akan berusaha semacam itu, paling sedikit berusaha mendekati seperti langkah pemukanya itu. Sebaliknya jika pemuka memberi contoh yang kurang baik dalam kehidupan, maka pengikutnya bisa berbuat lebih buruk dari pada apa yang dilakukan pemukanya.

Tentu akan lain halnya bagi orang yang kuat belajar (baik mengenai soal keduniaan maupun keakhiratan). Ia tidak sepenuhnya tergantung dengan apa yang dilakukan para pemukanya. Ia akan melihat dengan kritis. Yang benar akan diikuti dan yang tidak benar akan dijauhinya.

Sekarang marilah kita tengok sikap atau kehidupan sementara guru agama kita.

Seorang guru agama dengan jujur dan terus terang berulang kali mengatakan bahwa kami (maksudnya guru-guru agama) memang tak pernah menjelaskan sejelas-jelsnya tentang zakat dengan segenap permasalahannya. Kami khawatir jika dijelaskan sejelas-jelasnya (secara terperinci) nanti bisa lahir purbasangka atau tuduhan seakan-akan kamilah yang menginginkan zakat itu. Kami tidak ingn mendapat tuduhan semacam itu.

Andai kata lahir purbasangka atau tuduhan begitu terus menyampaikan sesuatu yang hak, itu adalah resiko yang harus diterima oleh setiap mubaligh. Tak mungkin seorang mubaligh akan menjadi mubaligh yang benar, sekiranya ia takut dilamun ombak, tak bersedia memikul suatu resiko.

Padahal zakat itu adalah salah satu tiang agama yang pentng. Seperti dinyatakan Abdul A’la Maududi : “Sesudah shalat, tiang Islam yang terbesar adalah zakat. Biasanya dalam rangkaian ibadah yang biasa, puasa diletakkan sesudah sholat, maka orang banyak mempunyai pengertian bahwa sesudah sholat adalah puasa. Tetapi dari Al Qur’an kita mengetahui dalam Islam pentingnya zakat terletak sesudah sholat. Keduanya adalah tiang penyanggah struktur bangunan Islam. Tanpa zakat, Islam akan roboh”. Dengan mewajibkan zakat Allah telah menempatkan setiap orang dalam ujian. “Mereka yang tulus dalam ujian ini dan berguna bagi Allah. Bahwa zakat, maka sholat, puasa dan pernyataan iman tidak akan berguna”.

Oleh karena masalah zakat tidak diterangkan sejelas-jelasnya oleh para guru agama kita, maka wajar saja jika terdapat berbagai pendapat mengenai zakat antara lain sebagai berikut :

  1. Ada yang berpendapat zakat harta perniagaan itu baru dikeluarkan jika perniagaan untung. Jika pulang modal, apa lagi rugi, tak wajib mengeluarkan zakat, walaupun jumlah modalnya masih cukup nisab.
  2. Ada yang menganggap zakat itu harus dikeluarkan dimana tempat ia berniaga dan tidak boleh dikirim ke daerah lain, meskipun kerabat dekatnya berada disitu.
  3. Ada pula yang tak mau mengeluarkan zakat, karena menurut pendapatnya harta kekayaannya itu didapatkannya dari jerih payahnya dan bukan titipan Allah kepadanya. Karena itu bila ada amil zakat datang kepadanya, sedapat mungkin dihindari bertemu dan jika pertemuan itu tak dapat dielakannya, maka dijawabnya, misalnya “zakat telah diberikan kepada tetangga”.
  4. Ada pula yang mengeluarkan zakat tanpa perhitungan yang cermat. Asal pada akhir tahun perniagaan ada yang meminta zakat, diberikannya sedikit. Jika tak ada yang datang meminta, zakat tak dikeluarkannya.
  5. Ada juga yang mengeluarkan zakat benar-benar dengan tujuan untuk membersihkan harta dan jiwanya.

Mengenai peranan zakat sebagai pembersih harta dan jiwa dengan jelas oleh Dr. M. Yusuf Qardawi dikatakan : “Sesungguhnya orang yang paling membutuhkan pembersih diri dari kekayaan adalah para pedagang, oleh karena usaha mencari yang mereka lakukan diyakini tidak akan bersih dari berbagai macam penyimpangan dan keteledoran, kecuali orang yang betul-betul jujur dan suci, tapi mereka sedikit sekali terutama di zaman sekarang”.

Untuk memperkuat kesimpulannya, Dr. M. Yusuf Qardawi mengemukakan hadis Nabi Muhammad yang berbunyi “Pedagang-pedagang nanti pada hari kiamat dibangkitkan dari kubur sebagai durjana, kecuali orang yang bertaqwa, baik dan jujur” (hadis ini diriwayatkan oleh Turmizi yang mengatakan hadis itu Hasan sahih, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dalam shahih dan hakim yang menilainya sahih).

Menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut ada yang mempertanyakan “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli ?” Nabi menjawab : Ya tapi mereka terlalu mengobral sumpah, oleh karena itu mereka banyak berdosa dan banyak berbohong (diriwayatkan oleh Ahmad dengan Sanad yang baik dan oleh hakim dengan teks darinya yang mengatakan sanadnya sangat shahih).

Seterusnya Dr. M. Yusuf Qardawi mengatakan : “Seseorang yang memiliki kekayaan perdagangan, masanya sudah berlebih setahun dan nilainya sudah sampai senisab akhir tahun itu maka orang itu wajib mengeluarkan zakat sebesar 2 ½%, dihitung dari modal dan keuntungan bukan dari keuntungan saja”.

Tentang besarnya harta perniagaan yang harus dizakatkan menurut H. Sulaiman Rasyid1) dengan zakat emas dan perak. Bagi emas nisabnya 93,5 gram, sedang perak 624 gr. Besar zakat 1/40 dari harta perniagaan itu. Misalnya harta perniagaan akhir tahun jumlahnya senisab 93,6 gr emas. Maka zakat yang wajib dibayar adalah 1/40 x 93,6 gr emas. Bila harga emas misalnya Rp. 22.000,- per gram, maka harta perniagaannya berjumlah 93,6 gr x Rp. 22.000,- = Rp. 2.059.200,- Zakatnya 1/40 dari Rp. 2.059.200,- = Rp. 50.148,-

Jadi zakat yang dibayar tidak hanya dihitung dari keuntungan saja melainkan dari jumlah seluruhnya, modalnya, ya untungnya. Juga tidak bebas dari membayar zakat, sekira perniagaannya rugi, bila modalnya (sesudah dikurangi kerugian) masih cukup senisab.

Mengenai anggapan bahwa tidak boleh memindahkan zakat ke daerah lain, dengan jelas Dr. M. Yusuf Qardawi2) mengatakan : “Apabila bagi si penguasa diperbolehkan berijtihad untuk memindahkan zakat ke daerah lain, karena kemaslahan Islam yang dianggap kuat, maka bagi si muslim yang wajib zakat, diperbolehkan pula untuk memindahkan karena suatu kebutuhan atau suatu kemaslahatan yang dianggap kuat pula, apabila ia sendiri yang mengeluarkannya, seperti terjadi di zaman sekarang ini. Hal itu seperti yang dikemukakan mashaf Hanafi dalam membolehkan pemindahan zakat, seperti untuk kerabat yang membutuhkan, atau untuk orang yang lebih membutuhkan dan lebih sulit penghidupannya atau untuk orang yang lebih membutuhkan bagi kaum muslimin, dan lebih utama untuk dibantu atau untuk melaksanakan rencana Islam di tempat lain, yang akan menghasilkan kebaikan yang besar bagi orang muslim, dimana hal yang semacam itu tidak terdapat di daerah zakat itu berada”.

Andai kata semua orang awak yang berniaga melaksanakan ketentuan-ketentuan syariat agamanya, mungkin dalam waktu singkat tak ada lagi orang Silungkang di akhir tahun menadahkan tangan meminta zakat. Malah ada kemungkinan zakat orang Silungkang diberikan ke negeri tetangga. Sebab, kini telah ada beberapa orang Silungkang yang miliarder pada tahun 1987 dan salah seorang diantaranya pada tahun itu mengeluarkan zakat Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) seperti yang ditulis Abu Asar dalam FORMES Oktober 1987, dengan judul “Impian Silungkang Indah”.

Sementara guru agama yang lain ada pula yang berpendapat “bukan guru yang harus datang ke murid, tetapi murid yang harus datang pada guru”. Guru itu tampak berpegangan pada hadis Nabi yang mengatakan : “Menuntut ilmu itu wajib bagi semua muslim” (tholabul ilmi faridhatun a’laa kulli muslim).

Guru agama itu mungkin belum mengetahui atau mungkin telah mengetahui tetapi lupa akan khutbah perpisahan yang disampaikan Nabi Muhammad pada tanggal 9 Zulhijjah tahun 10 H. Antara lain beliau mengatakan : “………… maka hendaklah yang telah menyaksikan diantaramu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang menyampaikan akan lebih dalam memperhatikannya dari pada sebagian yang mendengarkannya3). Jelasnya, yang tahulah yang menyampaikan kepada yang belum tahu. Gurulah yang harus mendatangi murid. Bila mana muridnya datang sendiri karena kesadaran akan kewajibannya, itu tentu lebih memudahkan guru menyampaikannya. Bagaimanapun juga tanggung jawab gurulah yang harus menyampaikannya kepada yang belum atau tidak tahu.

Juga bukanlah teladan yang baik bagi yang awam bila ada konflik diantara guru yang tidak diselesaikan, dibiarkan berlarut. Tidak diselesaikan konflik atau perbedaan pendapat tentu saja sangat memprihatinkan. Tidak diselesaikan konflik sesama guru agama telah pernah terjadi pada permula pembaharuan (sehingga ada sementara guru agama yang tidak lagi bersembahyang Jum’at di mesjid) dan pada tahun 1986 wakil KAN4) dalam seniar sehari adat Silungkang di Jakarta mengatakan : “Ada guru agama atau Alim Ulama yang sudah hampir ke pintu kubur sesama mereka saja tidak berbaikan”.

Tidak berbaikan sesama guru agama tentu tidak sesuai dengan ajaran agama yang mereka ajarkan bahwa sesama umat harus saling berbaikan. Hal demikian hanya akan menurunkan nilai mereka dimata murid-muridnya.

Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan5) agar guru agama sesuai perbuatannya dengan apa yang diajarkannya, maka seorang penyair melontarkan kata-kata :

  • Wahai orang yang mengajar orang lain
  • Kenapa engkau tidak juga mengajari
  • Dirimu sendiri
  • Engkau terangkan berbagai macam obat bagi segala
  • Penyakit
  • Agar yang sakit sembuh semua
  • Sedangkan engkau sendiri ditimpa sakit
  • Obatilah dirimu dahulu
  • Lalu cegahlan agar tidak menular
  • Kepada orang lain
  • Dengan demikian engkau adalah
  • Seorang yang bijak
  • Maka apa yang engkau nasehatkan
  • Akan mereka terima dan ikuti
  • Ilmu yang engkau ajarkan akan bermanfaat bagi mereka

Syair ini sesuai dengan firman Allah dalam hadis Qudsi6) yang berbunyi dalam bahasa Indonesianya : “Allah telah memberi wahyu kepada Isa anak Maryam : “Hai Isa, nasehatilah dirimu dengan hikmatku. Jika engkau telah mengambil manfaatnya, nasehatilah orang banyak dan jika tidak hendaklah engkau malu kepadaku”.

Sementara itu mungkin karena kurang membaca, kurang belajar, maka sementara orang awak mempunyai pengertian tentang agama setengah-setengah. Misalnya dianggapnya atau dinilainya seseorang telah taat kepada agama asal telah dilihatnya sholat. Tetapi apa yang dilakukan (oleh orang yang telah dilihatnya sholat itu) sesudah sholatnya, tidak dipermasalahkan lagi. Apakah setelah sholat ia tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar, misalnya dalam berdagang menghalalkan segala cara demi laba; tidak mengeluarkan zakat hartanya sesuai dengan ketentuan agama dan sebagainya.

Surat An-Kabut ayat 45 dengan jelas mengatakan (dalam bahasa Indonesianya) : “Sesungguhnya sembahyang itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar”.

Menilai seseorang taat beragama harus dari keseluruhan sikap hidupnya. Dan itu sangat sukar, arena pengetahuan mereka tentang pribadi-pribadi lain, sangat terbatas. Pandangan-pandangan lahiriah akan lebih banyak menentukan penilaian manusia. Karena itu tidak objektif jika hanya dengan melihat sebagian dari kehidupan seseorang telah disimpulkan saja. Vonis keagamaan adalah semata-mata monopoli Allah dan tak seorangpun yang berhak mengganti jabatan Allah.

Penilaian seseorang bisa saja keliru. Bila penilaian keliru kepada seseorang diisukan kepada yang lain bisa menyebabkan yang diisukan (bila kurang kuat imannya semakin mundur rasa keagamaannya, dan tentu saja bila imannya kuat, isu tersebut akan diterimanya dengan sabar).

Pengertian setengah-setengah tentang ajaran agama ini tercermin juga dari “nasehat” seorang mamak kepada kepenakannya yang beberapa waktu lagi kemenakannya akan menikah. Mamak itu tahu benar bahwa kemenakannya itu kurang taat sembahyang lima waktu sehari semalam. Tampaknya ia menutupi kelemahan keponakannya itu. Menjelang hari pernikahan keponakan itu, dinasehatinya : “Berusahalah menunjukkan diri beberapa sholat Jum’at di mesjid”.
Tujuan mamaknya memberikan “nasehat” semacam itu agar keluarga calon istri kemenakannya itu tidak menggunakan kelemahan kemenakannya kurang sembahyang itu sebagai alasan untuk membatalkan rencana pernikahan. Minimal, bila Ninik – Mamak atau keluarga calon istrinya mengetahui bahwa kemenakannya tidak taat bersembahyang pandangan negatiflah yang akan terjadi pada kemenakannya.

“Nasehat” mamak yang semacam itu tentu bukanlah dimaksudkan untuk menegakkan agama Islam, melainkan untuk agar tak tahu sampai dimana ketaatan beragama dari kemenakannya itu. Betapa Islam tidak akan mundur bila dikalangan orang awak sendiri terdapat “nasehat” yang sesungguhnya bukan nasehat melainkan khianat.

Kemunduran Islam mulai tampak pada masa pendudukan serdadu Jepang (1942 – 1945). Ketika itu tekanan ekonomi cukup berat dirasakan. Setiap orang berusaha keras untuk dapat mempertahankan hidup dan berjuang dengan gigih untuk mengatasi tekanan ekonomi itu.

Mungkin karena tekanan ekonomi itu jugalah maka sebagian besar pemuda-pemudi yang sudah menamatkan pendidikan agamanya di Padang atau Padang Panjang terpaksa terjun pula menjadi pedagang atau pengusaha. Bukan menjadi guru agama, atau mubaligh seperti rencana semula tatkala akan memasuki perguruan agama tersebut.

Dalam rangka menanggulangi tekanan ekonomi itu sementara orang Silungkang mulai menggunakan Surau untuk tempat usaha : bertenun atau membuat perusahaan rokok. Padahal dahulunya surau-surau itu tempat pendidikan agama; tempat berkomunikasi antar mamak dengan kemenakannya dan sebagainya. Tak sedikit sumbangan surau bagi kemajuan orang Silungkang. Ketika surau benar-benar berfungsi sebagai surau anak-anak merasa malu jika tak tamat Al Quran.

Massa pendudukan Jepang ini disusul dengan Perang Kemerdekaan atau Revolusi Fisik (1945 – 1950). Keadaan ekonomi yang sudah parah bertambah parah lagi. Pikiran orang awak terutama tertuju untuk memenangkan perang kemerdekaan itu. Perbaikan ekonomi akan terjadi sendiri bila Belanda penjajah telah dikalahkan.

Pada masa revolusi fisik ini makin terasa kemunduran Islam di Silungkang. Sementara tanah yang dulunya diwakafkan bagi keperluan surau-surau banyak yang dicabut oleh anak cucunya. Sebagai alasan untuk mencabut tanah wakaf itu antara lain dikatakan “menurut keterangan nenek tanah itu diwakafkan hanya seumur surau saja. Tak boleh diperbaiki jika telah rusak. Bila surau itu telah hancur maka tanah tersebut harus kembali kepada pemiliknya”.

Memang susah untuk menguji kebenaran “keterangan nenek” yang sudah tiada itu. Sebenarnya jika anak atau cucunya mempunyai pengertian yang benar tentang wakaf, tentu tidak akan muncul istilah atau dalih “menurut keterangan nenek”. Atau apa yang dikatakan “menurut keterangan nenek” itu hanya alasan untuk menguasai tanah yang telah menjadi miliki surau itu.

Menurut H. Sulaiman Rasjid7) bahwa salah satu syarat syah wakaf, ialah bila wakaf itu berlaku untuk selama-lamanya. Tidak dibatasi oleh waktu, misalnya sampai surau yang bersangkutan hancur. Wakaf berarti memindahkan hak pada waktu itu juga kepada yang diberi wakaf.

Mencabut kembali tanah yang telah diwakafkan berarti mengambil hak pihak yang menerima wakaf. Berarti hendak memanfaatkan sesuatu yang bukan lagi menjadi haknya. Bila pengambilan hak penerima wakaf itu dilakukan karena tidak mengerti tentang ketentuan wakaf, persoalannya lebih mudah. Kembalikan kedudukan tanah wakaf itu kepada yang berhak.

Persoalannya menjadi lain, jika yang bersangkutan mengerti ketentuan wakaf yang demikian, tetapi dilakukannya juga mengambil hak yang telah menjadi pemilik tanah wakaf itu. Ia telah melakukan perbuatan yang mungkar.

Catatan Kaki :

  1. H. Sulaiman Rasjid : “Fiqh Islam”, penerbit Sinar Baru, Bd. 1988, h. 188.
  2. Dr. M. Yusuf Qardawi : “Hukum Zakat”, penerbit Pustaka Litera Antar Nusa PT, Bogor 1987, h. 809.
  3. Munir Taher : “Timbang Risalah dan Pelajaran yang dapat diambil daripadanya”, Formes April 1989.
  4. KAN Silungkang : “Krisis Adat dan Agama di Silungkang”, (Makalah dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  5. Dr. Abdullah Nashih Ulwan : “Pedoman Pendidikan Anak-anak” (Jilid II), penerbit Asy-syifa’, Bd. 1988, h. 3.
  6. K.H.M Ali Usman, H.A.A. Dahlan, Dr. H.M.D. Dahlan : “Hadis Qudsi Pola Pembinaan Akhlak Muslim”, penerbit CV. Diponegoro, Bd, 1988, h. 199.
  7. H. Sulaiman Rasjid : “Fiqh Islam”, penerbit Sinar Baru, Bd. 1988, h. 317 – 322.

Sumber :

Buku Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Pada tahun 1893 telah di buka jalan kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Teluk Bayur. Jalan kereta api itu mulai dikerjakan tahun 1888. Sebelum jalan kereta itu di buka, jalan raya antara Sawahlunto – Padang (juga lewat Silungkang) telah ada. Dengan adanya hubungan jalan kereta api dan jalan oto (mobil), makin terbukalah peluang bagi orang Silungkang untuk bepergian keluar dan sebaliknya bagi orang luar untuk berkunjung atau lewat Silungkang. Komunikasi tentu terjadi. Arus lalulintas telah membawa pengaruh yang besar bagi kemajuan orang awak.

Kemajuan yang dimaksud bukan saja dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam bidang agama. Dengan mudahnya bepergian keluar, maka banyaknya pemuda-pemudi Silungkang yang belajar agama keluar, seperti ke Padang Panjang, Batusangkar, Payakumbuh, Padang dan sebagainya.

Diantara pemuda-pemudi Silungkang yang pernah menuntut ilmu agama itu keluar ialah : Jalaludin, Abdullah Mahmud (Tanah Sirah), Pokiah Yakub, Noerman (Panai 4 Rumah); Ibrahim Jembek (Paliang Atas); Kasim Taher (Melayu); Samsudin, H. Jalil, H. Mahmud, H. Abdullah Usman (Sawahjui); Sharief Sulaiman (Malowe); Jalil (Dalimo Godang); Naamin Majid (Rumah Tabuh); Darwis Sulaiman (Koto Marapak); Rasjid Sulaiman Labai (Patopang); Nuri Said, Katib Sarbini; Kasim Marzuki (Palkoto); Nurajana (Talak Buai); Rasid Abdullah; Tirana (Kutianyir).

Seperti juga ditempati lain di Minangkabau arus pembaharuan di bidang agama juga berlangsung di Silungkang. Diantaranya jika pada awal berdirinya Mesjid (1900) khutbah Jum’at di Silungkang memakai bahasa Arab, maka tahun dua puluhan tidak demikian lagi. Khutbah Jum’at telah memakai bahasa Indonesia. Ini sesuai dengan Surat Ibrahim ayat 4, yang dalam bahasa Indonesianya : “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”.

Dalam pembaharuan ini peranan Ongku Kali Gaek (Tan Kabi Pokiah Kayo, Dalimo Cocah) besar sekali. Seorang diantara murid Ongku Kali Gaek tersebut ialah Pokiah Amat, Guru Surau Tanjung Medan.

Pembaharuan ini terjadi ada kaitannya dengan kegiatan bekas-bekas murid Syekh Ahmad Chatib bin Abdullah Al Minangkabau yang banyak pulang dari tanah suci sekitar tahun 1903-an.

Terhadap pembaharuan (bahasa) dalam Khutbah Jum’at ini ada sementara Ulama Silungkang yang tak dapat menerimanya. Mungkin dianggapnya khutbah dalam bahasa Indonesia itu tak sesuai dengan cara Nabi bersembahyang Jum’at, dimana khutbahnya dalam bahasa Arab. Penolakan mereka atas khutbah dalam bahasa Indonesia itu ditunjukkan dengan mereka tidak pernah lagi turut bersembahyang Jum’at di Mesjid Raya Silungkang sesudah itu.

Sangat sayang perbedaan pendapat tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah itu tak diselesaikan oleh Ulama-Ulama Silungkang yang ada ketika itu. Baik pembaharu maupun yang mempertahankan tradisi sama-sama tak mengambil inisiatif menyelesaikannya. Mungkin karena pertimbangan lain. Masing-masing bertahan dengan pendiriannya. Yang terang pihak ketiga yang berwibawa terhadap kedua belah pihak yang berbeda pendapat itu nampaknya tidak ada. Dan karena itu perbedaan pendapat itu berjalan terus.

Sementara itu orang Silungkang yang naik haji ke tanah suci senantiasa meningkat. Dan kini ke tanah suci tak memerlukan waktu berbulan-bulan lagi dilautan. Telah ada kapal api. Ke tanah suci tak perlu lagi melalui Ulakan, tetapi melalui Teluk Bayur. Menjelang tahun 1940 yang naik haji antara lain dari :

  • Palakoto : H. A. Karim, H. Abdulmanan, H. Rasyad, H. Muhammad, H. Padang, H. Bakar.
  • Dalimo Tapanggang : H. Salim, H. Ahmad, H. Katab.
  • Sawajuai : H. Djamil, H. Cuba, H. Tumbok.
  • Panai Kotobaru : H. Ibrahim, H. M. Zen, H. M. Yusuf, H. M. Ahmad, H. Capang, H. Abad.
  • Malowe : H. Yusuf, H. Saiyan, H. Ongku Unggai, H. Katab, H. M. Rahim.
  • Dalimo Godang : H. M. Junus, H. Komaria, H. Ibrahim.
  • Tanah Sirah : H. Taher, H. Ongku Godang, H. Hasan.
  • Dalimo Kosiek : H. Marzuki.
  • Koto Marapak : H. Kamaludin.
  • Dalimo Jao : H. Yahya, H. M. Noer, H. Aba, H. Hasan.
  • Panai Ruman Nan Panjang : M. Jamil.
  • Rumah Tabuh : H. Gude.
  • Guguk : H. Kukuik, H. Sulan.
  • Panai 4 Rumah : H. Ismail, H. Samsudin.
  • Batu Bagantung : H. Jusuf.
  • Talakbuai : H. Jusuf, H. Sulaiman, H. Ruslan.

Sesungguhnya masih banyak nama lain yang belum termasuk dalam catatan ini. Maklumlah kekuatan ingatan saya terbatas.

Dalam perjalanan Islam di Silungkang ini tak dapat diabaikan berdirinya Limau Purut Institut pada tahun 1940. Limau Purut Institut ini kemudian berganti nama menjadi Silungkang Institut dan seterusnya berganti lagi menjadi Sekolah Dagang Islam (SDI) hingga kini.

Berdirinya Limau Purut Institut ini adalah salah satu hasil Konferensi Silungkang tahun 1939, yang antara lain acaranya mempermasalahkan pendidikan anak-anak Silungkang. Seperti diketahui masalah pokok yang diperbincangkan dalam konferensi Silungkang 1939 ialah :

  • Masalah air buat mandi dan kesucian nama nagari Silungkang
  • Masalah pendidikan anak-anak
  • Masalah kain tenun Silungkang
  • Masalah perantauan anak nagari

Perlu juga diketahui bahwa sebelum berdiri Sekolah Dagang Islam ini, di Silungkang juga sudah ada Dinniyah School (sekolah agama), yang juga tak sedikit sumbangannya dalam memajukan pendidikan agama Islam di Silungkang.

Ketika konferensi Silungkang yang pertama itu berlangsung Perang Dunia ke II telah mulai di Eropa, dengan diserbunya Danzig oleh tentara Hitler pada 1 September 1939. Dua tahun lebih kemudian, tepatnya 8 Desember 1941, angkatan udara Jepang fasis menyerang armada Amerika di Pearl Habor. Dengan itu Perang Dunia ke II telah meliputi seluruh dunia.

Perang Dunia ini menyebabkan sebagian besar orang Silungkang di perantauan pulang ke kampung halaman. Dalam suasana perang itu rasanya lebih aman bila berdiam di kampung sendiri. Ketika itu Silungkang jadi ramai dengan segala macam kegiatan.

Sumber :

Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Diperkirakan pada akhir abad ke XVII atau awal abad ke XVIII orang Silungkang telah ada pula yang naik haji ke tanah suci. Untuk ke Jeddah melalui Ulakan. Dari Silungkang ke Ulakan berjalan kaki. Jalannya masih kecil. Belum ada kendaraan seperti sekarang. Di Ulakan mereka tunggu perahu layar yang akan membawa ke Jedah. Menunggunya bisa sebulan, dua bulan atau lebih. Selama di Ulakan tentu perdalam juga ilmu agamanya.

Setelah ada perahu yang akan membawanya, berangkatlah ke tanah suci. Di lautan bisa berbulan-bulan tergantung dari hembusan angin. Sebab itu perbekalan sampai 6 bulan. Tentu saja pada waktu-waktu tertentu dipanasi dengan api, agar rasanya jangan apak. Pendeknya untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci benar-benar diperlukan secara fisik dan materiil.

Mungkin karena situasi perjalanan yang begitu berat maka pada umumnya orang awak yang ke tanah suci tentu bermukim disana. Bermukimnya bisa setahun, dua tahun atau lebih. Selama di tanah suci mereka pertinggi pengetahuan agamanya. Setelah mereka pulang ke Silungkang, mereka sampaikan atau kembangkan apa yang telah mereka ketahui orang awak melalui pengajian-pengajian. Berdirilah surau-surau.

Letaknya surau-surau umumnya didataran. Kecuali Surau Tenggi, yang memang agak tinggi dibandingkan dengan Surau Baru, Surau Sepan, Surau Jambak dan sebagainya.

Menurut catatan Abu Asar (melalui tulisannya “Peranan Surau Tempo Dulu Dalam Pembentukan Watak Pribadi”, yang dimuat dalam FORMES April 1989) hingga dengan Konferensi Silungkang (1939) jumlah Surau di Silungkang lebih 40 buah.

Diantara orang awak yang pulang dari tanah suci pada pertengahan abad ke XIX ialah Syekh Barau (Mohd. Saleh bin Abdullah). Beliaulah yang paling terkemuka di Silungkang menyebarkan agama.

Menurut catatan M. Salim Dt. Sinaro Chatib1) bahwa yang membuat Surau Godang Silungkang (selesai pada tahun 1870) adalah Syekh Barau ini, dengan pertolongan tonggak dan pekayuannya sebagian besar dari Pianggu dan Toruang-toruang. Dari Indudu juga ada bantuan sedikit. Sedang tukang-tukang yang mengerjakannya sepenuhnya dari Kubang 13 sampai dari bagian Alahan Panjang.

Bantuan tonggak serta pekayuan dan tenaga kerja guna dapat berdirinya Surau Godang tersebut sebagian besar berasal dari bekas-bekas murid Syekh Barau serta Syekh-Syekh lain murid Syekh Barau. Bantuan itu sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga dari mereka kepada guru-guru yang telah mendidiknya.

Dibawah asuhan Syekh Barau ini perjalanan Islam di Silungkang sangat pesat. Disetiap Surau di Silungkang tentu ada seorang Syekhnya yang mengajarnya. Diantara Syekh-Syekh yang ada itu, 9 orang diantaranya murid Syekh Barau. 5 orang putra Silungkang sendiri, sedang yang 4 orang itu dari luar :

  • Syekh Mohd. Thaib Ongku Surau Lurah (Tanah Sirah)
  • Syekh Akmad Ongku Surau Tanjung (Dalimo Tapanggang)
  • Syekh Abdurrahman Ongku Surau Bulek (Dalimo Jao)
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Godang (Tanah Sirah)
  • Syekh Abubakar Ongku Surau Palo (P. Rumah Nan Panjang)

Yang 4 orang itu adalah :

  • Syekh Abdul Rahman Ongku Talowi
  • Syekh Abdullah Ongku Lunto
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Ambacang Koto Anau
  • Syekh Muhammad Ongku Kotobaru Palangki

Pada masa Syekh Barau dan murid-murid beliau mengajar tak sedikit murid-murid beliau yang datang dari luar. Ketika itu aliran Tarqat cukup kuat. Ini sesuai dengan keterangan Hamka bahwa dalam masa tahun 1840 – 1900 ada kecenderungan di Minangkabau kepada Thasawuf. Di beberapa nagari guru-guru Tariqat mendirikan tempat-tempat bersuluk. Tariqat yang berkembang ialah Naqsyabandi-Khalidiyah didarat dan Shatariyah di Pariaman, Batuhampar (Payakumbuh), Kumango, Maninjau, Pariangan, Ulakan, Malalo.

Dalam mengerjakan Suluk ini lebih dulu orang melakukan Tawajjuh (menghadap wajah kepada Allah) dengan memakai Rabbitah (penghubung atau perantara), yaitu Syekh atau Khalifahnya. Setelah melalui pintu Tawajjuh atau Rabbitah itu, orang akan sampai pada fana. Dari fana kelaknya menuju kepada Baqa, sampai kepada La anna Illahhu (tidak ada saya melainkan Dia). Disinilah keluar kata-kata : “Al ibiddu wal ma’budu wahidin”.

Tempat Suluk bagi anak-anak di Silungkang ialah di Surau Lokuak dan Surah Lurah. Sedang bagi pria, terutama setelah Surau Godang berdiri, tempatnya di Surau Godang. Umumnya ibu-ibu yang turut Suluk telah “baki” (suci, tidak haid lagi).

Pada masa itu Silungkang merupakan salah satu tempat pemusatan pengajian di Minangkabau. Yang datang mengaji di Silungkang di antaranya dari Kotobaru Palangki, Talowi, Toruang-toruang, Indudu, Kota Anau, Pianggu, Lunto dan sebagainya. Mereka yang mengaji di luar inilah yang memberikan julukan “Silungkang Serambi Mekah”.

Syekh Barau sendiri meninggal dunia tanggal 29 Zulhijjah. Sayang tidak ada keterangan kapan beliau dilahirkan.

30 tahun sesudah berdirinya Surau Godang, maka telah tegak pula mesjid Silungkang. Ruang dalam 22 x 22 m. Jika berandanya dihitung berarti 24 x 24 m. Tipe mesjid Silungkang ini sama dengan mesjid Ganting di Padang. Sebab tukang yang mengerjakan itu juga. Masjid Ganting di Padang lebih dahulu, kemudian Sulit Air, baru Silungkang.

Dengan berdirinya Mesjid Raya Silungkang itu dua bangunan besar telah dibangun orang Silungkang. Bila berdirinya Surau Godang antara lain berkat bantuan dari bekas-bekas murid Syekh Barau, maka berdirinya Masjid Raya Silungkang belum ada catatannya, misalnya dari mana dananya. Mungkin saja ada yang mencatatnya, namun hingga kini belum diketahui.

Mengingat dana untuk dapat berdirinya Mesjid Silungkang cukup besar, sedang kekayaan orang awak ketika itu jauh di bawah kekayaan orang Silungkang sekarang, maka bisa diperkirakan betapa tingginya semangat beragama dikalangan orang awak ketika itu. Dananya tentu mereka kumpulkan dari sedekah, infak, zakat, wakaf dan sebagainya. Hanya saja bagaimana cara mereka mengumpulkan dana, tak ada keterangan. Masih merupakan rahasia yang harus digali. Itulah salah satu kekurangan orang awak di masa lalu, tidak ada menuliskan pengalamannya bagi cucu dikemudian hari. Padahal yang dikerjakan itu bukan proyek kecil, tetapi proyek besar, minimal menurut ukuran Silungkang.

Sekiranya orang-orang tua kita tempo dulu itu menuliskan dana untuk pembangunan mesjid itu, tentu kita akan dapat banyak menarik pelajaran daripadanya. Dengan tidak dituliskan, maka kita tidak mengetahui apakah pengumpulan dananya dilakukan secara terbuka atau tertutup. Apakah ketika itu juga telah muncul pemeo “sompiek lalu lungga batotok” (sempit lalu longgar diketok) dalam rangka mencari data, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hendak mengumpulkan dana bagi rencana pembangunan Gedung PKS di Jakarta.

Sekiranya dulu telah terjadi juga, itu berarti generasi (orang awak) abad ke XX masih seperti generasi abad ke XIX saja, tidak maju-maju. Sebaliknya jika pengumpulan dana itu berjalan lancar dan tidak mengenal sompiek lalu lungga batotok, berarti generasi sekarang mundur dibandingkan dengan generasi abad ke XIX.

Catatan kaki :
1. Disalin dari salinan oleh Bujang St. Sinaro, 9 Mei 1963.

Sumber :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :
Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Tentang tak mudahnya mengetahui kapan sesungguhnya agama Islam masuk di Silungkang dapat pula diikuti keterangan Alim Ulama Silungkang yang disampaikan dalam Konferensi Antar PKS ke II di Silungkang pada bulan Juli 1984. Keterangan Islam di Silungkang antara 1970 – 1984. Sebagai alasan mengapa mereka hanya mampu menguraikan dalam periode itu saja, dikatakan; “sampai pada tahun tersebut kesanggupan jangkauan kami kebelakangnya”1)

Mengapa jangkauan Alim Ulama Silungkang hanya sampai tahun itu, tidak ada keterangan. Apakah telah dicoba menggalinya melalui penelitian (minimal baca buku atau catatan dan sebagainya). Maka sampai kesimpulan demikian, juga tak ada ceritanya. Rasanya jika telah dicoba menggalinya tentunya hasilnya akan lebih baik daripada yang telah dikemukakan dalam makalah tersebut.

Bila berpegang kepada hasil “Seminar Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau”2) yang berlangsung di Kota Padang 23-27 Juli 1969, maka agama Islam telah masuk di Minangkabau pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7-8 M.

Menurut seminar diatas berat dugaan bahwa agama Islam masuk ke Minangkabau melalui bagian Timur. Pembawanya adalah para pedagang (yang sekaligus berperan sebagai mubaligh sukarela). Dari bagian Timur inilah agama Islam merayap dengan perlahan-lahan menyusupi masyarakat Minangkabau. Kemudian berkembang pula ke luar Minangkabau seperti ke Malaya, Serawak, Brunai, Sabah, Philipina, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan bagian Timur lainnya.

Kemudian pada abad ke XVI agama Islam berkembang pula dari pantai Barat Sumatera. Sejalan dengan makin ramainya lalu lintas perdagangan, maka lalu lintas penuntutan ilmu pengetahuan agama Islam juga meningkat antara Minangkabau – Aceh – Mekah dan pusat-pusat agama Islam lainnya.

Dari sini pulalah tumbuhnya pusat ilmu pengetahuan agama Islam di Ulakan (Pariaman), dengan Syekhnya yang terkenal Burhanuddin. Beliau seorang Guru dan Mubaligh. Syekh Burhanuddin sering disebut sebagai pembawa Islam yang pertama ke Minangkabau.

Murid-murid Syekh Burhanuddin berdatangan dari segenap penjuru Minangkabau. Sepulangnya dari berguru, umumnya para murid beliau mendirikan pula pusat pendidikan agama di kampung masing-masing. Keadaan ini membawa perkembangan Islam yang pesat di Minangkabau. Syekh Burhanuddin meninggal tahun 1603 M.

Bila benar apa yang disebut orang bahwa Syekh Burhanuddin pembawa Islam pertama ke Minangkabau, berarti Islam baru masuk di Minangkabau pada abad XVI dan bukan pada abad 7 – 8 M, atau abad pertama Hijriyah, seperti yang disampaikan Seminar Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau di Kota Padang diatas.

Sementara penulis 3) (mungkin karena berpegangan kepada kesimpulan Seminar di kota Padang itu) mengemukakan bahwa waktu Raja Aditiawarman sampai di Minangkabau (abad ke XVI) terus dinikahkan. Tidak diterangkan apakah Aditiawarman dinikahkan secara Islam atau lain. Hanya disambung dengan kata-kata bahwa dalam Pemerintahan Bunda Kandung telah ada Kadhi di Padang Ganting, Makhudum di Sumanik. Tentu belum akan ada Kadhi di suatu Negara kalau negara itu belum pemerintahan Islam atau sekurang-kurangnya belum banyak penganut Islam.

Alasan penulis diatas (yang meragukan Syekh Burhanuddin sebagai pembawa Islam yang pertama ke Minangkabau) sangat lemah. Karena ia tidak bisa menunjukkan apakah ketika Aditiawarman menikah itu di Pagaruyung yang berkuasa Pemerintahan Bunda Kandung adalah pemerintah dalam Tambo.

Selanjutnya pada tahun 1803 pulang dari tanah suci 3 orang Haji, yang kemudian menjadi pelopor gerakan Paderi. Ketiga Haji tersebut : H. Miskin (Pandai Sikat), H. Abdul Rahman (Piobang) dan H. Mohd. Arif (Lintau).

Seratus tahun kemudian turun pula dari tanah suci bekas murid Syekh Amad Chatib bin Abdul Latif al Minangkabau (Ulama besar bangsa Indonesia di Mekah) 4). Mereka itulah yang membawa gerakan-gerakan baru di Minangkabau. 4 orang diantara murid Syekh Ahmad Chatib tersebut ialah :

  1. Syekh Muhammad Jamil Jembek. Beliaulah yang pertama-tama menyebarkan ilmu falak dan hidab di Minangkabau.
  2. Syekh Muhammad Tyayib dari Tanjung Sungayan. Beliau memberikan pelajaran/pendidikan agama yang berbeda dengan cara-cara lama.
  3. Syekh Abdullah Ahmad yang menerbitkan majalah Almunir di Padang (1911) dan mendirikan Sekolah Um Adabiyah (1912). Beliau ini pulalah yang berdasarkan petunjuk gurunya membatalkan merabittahkan guru ketika permulaan Suluk.
  4. Syekh Abdul Karim Amarullah. Pada tahun 1912 membantu Almunir di Padang. Melalui Almunir beliau menulis yang banyak menggegerkan orang tentang masalah Usholli, talqin mayat, berdiri ketika Maulid Nabi sampai membaca marhaban.

Keempat Syekh ini dalam Terinqat berpegang kepada Syekh Ahmad Chatib5). Meskipun Syekh Ahmad Chatib bermazhab Syafei dan semula dididik dalam alam pikiran Naqsyabandi di daerah asalnya, tetapi setelah memperdalam pengetahuan agamanya dan hukum Islam di Mekah ia sangat mengecam dan menentang praktek tariqat Naqsyabandi itu. Menurut Syekh Ahmad Chatib ke dalam tariqat Naqsyabandi telah masuk dan tidak pernah diamalkan oleh mazhab yang empat, seperti menghadirkan gambar/rupa guru dalam ingatan ketika akan memulai Suluk sebagai perantara dalam doa kepada Tuhan. Beliau mengatakan bahwa perbuatan serupa itu sama saja dengan menyembah berhala yang dilakukan oleh orang musyrik.

Karena rupa guru yang dihadirkan dan berhala-hala yang dibuat oleh manusia sama-sama tak memberikan manfaat dan mudarat kepada manusia.

Penolakan Syekh Ahmad Chatib terhadap praktek Naqsyabandi di Minangkabau diungkapkan dalam buku yang berjudul “Izhhar Zhugal Al-Kadzibin” (menjelaskan kekeliruan para pendusta). Buku tersebut ditulis oleh Ahmad Chatib untuk menjawab pertanyaan muridnya (H. Abdullah Ahmad). Buku tersebut telah sampai di Minangkabau pada tahun 1906.

Catatan Kaki :

  1. Alim Ulama Silungkang : “Perkembangan Islam di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi Ke II antar PKS, Juli 1984 di Silungkang).
  2. Moh. Noerman : “Sejarah Kebudayaan Islam”, penerbit Pustaka Sa’adiyah, Bukittinggi, 1971, h. 138.
  3. Idem, h. 129.
  4. Ayah Syekh Akhmad Khatib ialah Abdulatif, berasal dari Koto Padang, bergelar Khatib Nagari. Sedang ibundanya bernama Ilmbak Urai, berasal dari Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Camdung Bukittinggi.
  5. Drs. Akhis Nazwar : “Syekh Ahmad Jhatib, Ilmuan Islam dipermulaan abad ini”, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta 1983, h. 21.

Sumber :

Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Sejak kapan sesungguhnya agama Islam menjadi agama orang Silungkang hingga kini tak ada yang dapat secara pasti menjawabnya. Apakah orang Silungkang telah memeluk Silungkang sejak dari tempat asal, atau baru masuk Islam setelah berdiam beberapa masa di Silungkang tak dapat diberikan jawaban yang pasti, karena tak ada peninggalan tertulis yang dapat dijadikan sandaran.

Dari buku-buku yang ditelaah dapat diketahui bahwa sebelum orang Silungkang memeluk Islam ajaran Hindu cukup berpengaruh. Menurut Ensiklopedia Nusantara1). Pengaruh Hindu berjalan hampir 15 abad di Sumatera Barat. Sisa-sisa dari ajaran Hindu tersebut pada awal abad XX masih dapat disaksikan di Silungkang. Misalnya ketika penyakit campak (cacar) menyerang Silungkang. Orang Silungkang segera menyelenggarakan upacara “tolak bola” (tolak bencana) ke Losuang (Lesung) Tuanku, yang terletak antara Silungkang dengan Pianggu. Ke Losuang Tuanku itu dengan membawa “atau-atau” (sesajen), yang diiringi dengan bunyi-bunyian.

Losuang Tuanku itu sendiri kini tak bersua lagi. Mungkin dulunya telah dibuang pekerja BOW (dpu-nya Hindia Belanda). Di bekas tempat Losuang Tuanku itu kini terpampang tanda batas Silungkang dengan Pianggu.

Malah pada tahun 1930-an, ketika penyakit campak kembali menyerang Silungkang, upacara “tolak bola” dilangsungkan di Lubuak Mato Ale (Lubuk Mata Air) yang terletak antara Lubuak Cokuang dengan Ale Manyerai (Air Berserak). Di Lubuak Mato Ale di bantai seekor kambing sebagai sesaji.

Ketika itu bukanlah satu hal yang aneh bila kita menemukan sebuah Selayan dekat tepian mandi, yang selayanya berisikan sesaji, seperti nasi putih, nasi merah, nasi kuning, malah kadangkala ada juga gambirnya. Semuanya itu adalah untuk “tolak bola”.

Dewasa ini sisa-sisa peninggalan Hindu seperti yang dikemukakan di atas tidak ditemui lagi. Malah membakar kemenyan sewaktu membaca doa pun tidak dilakukan lagi, meskipun secara formal dalam pidato masih dikatakan, “kami panggang, kamonyan lai” (kami bakar kemenyan lagi). Kemenyannya sudah tidak ada sama sekali.

Catatan kaki :

  1. Editor Widjiono Wasis : “Ensiklopedia Nusantara”, Penerbiat Mawar Gempita, Jakarta, 1989, h. 176.

Diambil dari buku :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang
Oleh Munir Taher & Hasan St. Maharajo

PENGANTAR KALAM

Bismillahhirohmanir rohiim

Sembari mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT serta salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kami persembahkan tulisan karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang” kehariban pembaca yang arif bijaksana dan budiman. Dengan harapan semoga sumbangan tulisan ini ada faedahnya bagi kemajuan Islam di Silungkang khususnya, di Indonesia umumnya.

Kami menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan kami mengenai masalah yang kami ketengahkan. Menyadari keterbatasan itulah yang mendorong kami untuk belajar dan membaca sebanyak-banyaknya tentang masalah yang dibahas baik melalui buku-buku, makalah-makalah, catatan-catatan, maupun dari kenyataan-kenyataan yang hidup. Sebagai buah dari belajar dan membaca itulah, maka tulisan ini dapat kami ketengahkan seperti yang sekarang.

Kami mengisyafi ada saja kemungkinan kami keliru dalam menarik kesimpulan dari hasil belajar atau membaca itu. Dan jika hal itu terjadi, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami. Untuk menghindari, atau paling sedikit guna mengurangi kemungkinan kekeliruan tersebut, maka sebelum tulisan ini masuk kepercetakan kami meminta pertimbangan kepada beberapa saudara, diantaranya Sdr-Sdr Ifkar Latif, Dra. Rusfa, H. Aziz Burhan.

Terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada saudara-saudara Ifkar Latif, Dra. Rusfa dan H. Azis Burhan yang telah bersedia membaca manuskrip yang akan kami serahkan untuk dicetak. Ketiga saudara tersebut telah mengemukakan saran-saran yang berharga, yang lebih memperlengkapi isi Risalah yang kami susun ini.

Sdr. Ifkar antara lain mengemukkan beberapa hadis dan ayat Al Qur’an untuk lebih memperkuat isi risalah.

Sedang Dra. Risfa disamping mengemukkan dapat menerima pandangan-pandangan yang kami kemukakan tentang masalah mundurnya pengamalan Islam di Silungkang dan sebab-sebab mundurnya serta usaha yang ditempuh untuk menanggulangi kemunduran itu juga dapat menerima tentang perlunya meneliti sejarah keislaman di Silungkang dan membangkitkan keislamanan itu kembali sehingga memakai dunia untuk kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

Dra. Rusfa menyarankan antara lain sebagai berikut :

  1. Menghidupkan kembali surau-surau di Silungkang dengan cara setiap surau dipimpin oleh seorang guru tetap yang akan mengajar agama kepada anak-anak, pemuda dan orang dewasa.
  2. Setiap anak-anak orang Silungkang baik yang tinggal di kampung maupun di rantau supaya pandai membaca Al Qur’an dengan fasih.
  3. Setiap orang Silungkang supaya pandai mengurus jenazah, mulai dari memandikannya, mengapani, menshalatkannya sampai menguburinya. Juga mengerti cara-cara serta doanya. Ini merupakan satu kurikulum diseluruh surau-surau yang ada di Silungkang. (Ada baiknya jika cara dan doa-doanya dicetak dan disebarkan kepada setiap keluarga untuk dipelajari dan dihafal serta dilatihkan disurau).
  4. Menyesuaikan adat Silungkang dengan ajaran Islam. Mana-mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus ditinggalkan agar kita hidup kita diberkati Allah. Misalnya dalam hal berpakaian. Agar setiap remaja putri dan orang dewasa berpakaian muslimat dimanapun ia berada. Hal ini harus dipimpin oleh kaum bapak kepada keluarganya masing-masing dan dikuatkan oleh keputusan Ninik Mamak dari KAN (Kerapatan Adat Nagari) dalam pelaksanaannya. Setiap remaja putri dan ibu-ibu harus memakai busana muslim dan mencerminkan seorang Islam yang baik.
  5. Pada akhir Dra. Rusfa mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah mengemukakan buah pikirannya berbentuk risalah “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Mudah-mudahan risalah ini akan menggugah para ulama, cerdik pandai, ninik mamak serta seluruh warga Silungkang.

Dra. Rusfa juga mengharapkan agar PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) dapat membiayai pendidikan agama (misalnya biaya pada Pondok Pesantren) bagi anak Silungkang yang berbakat jadi ulama.
Bila Dra. Rusfa mengemukakan saran-sarannya agar terperinci, maka H. Azis Burhan berpendapat : untuk dapat mengembalikan citra Silungkang dibidang agama yang telah menurun itu, perlu didirikan lembaga pendidikan agama (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan lain-lain) di Silungkang.

Mendirikan lembaga pendidikan agama ini tidak mudah. Ia memerlukan dana, sarana/perlengkapan, tenaga, administrasi, pengajar/pendidik (guru) dan lain-lain. Menurut H. Azis Burhan rasanya di zaman sekarang ini tidak sanggup diadakan oleh masyarakat saja. Karena itu perlu ada usaha memohon kepada Departemen Agama (bagian pendidikan) di Kabupaten / Propinsi / Pusat untuk membantunya. keberhasilan usaha tersebut banyak tergantung dari cara pengurusannya oleh kita.

Bila sekolah Agama negeri di Silungkang bisa didirikan, tentu sama bebannya (termasuk biaya) menjadi tanggungan pemerintah. Paling-paling prasarannya saja yang kita sediakan, yaitu ruangan-ruangan belajarnya. Ruangan-ruangan yang telah ada sekarang dapat dipergunakan.

H. Azis Burhan juga mengimbau agar warga Silungkang yang mengaku muslim / mukmin hendaknya senantiasa memantapkan iman/islam, karena iman didada kita itu tidak tetap, tidak stabil, selalu berubah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad : “Wah huwa yazidir way an zushi” (iman itu kadang-kadang naik, kadang-kadang menurun, kadang-kadang menebal, tempo-tempo menipis). Nabi menganjurkan kepada kita : “Jaddidu imanikum” (Baharui, baharui iman kamu itu !).

Untuk membaharui, menguatkan iman itu, dimana ada kesempatan/waktu yagn terulang baca Al Quran / Hadist Rasul, dengari/hadiri pengajian-pengajian agama dan jangan sekali-sekali dibuang percuma waktu senggang, isi dengan amal/iman, jauhi tempat-tempat maksiat.

Nabi bersabda : barang siapa yang hari ini imannya/amalnya sama saja dengan hari kemari, terkutuk hidupnya ; barang siapa yang hari ini imannya/amalannya sama saja dengan hari kemarin, tertipu hidupnya ; barang siapa yang hari imannya/amalannya lebih baik dari hari kemarin, berbahagialah hidupnya dunia dan akhirat.

Mari kita renungkan sabda Nabi/Rasulullah tersebut di atas. Demikian H. Azis Burhan. Selain daripada itu kami (penulis) risalah juga sangat mengharapkan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman atas risalah kami yang sederhana ini, yang dimana mungkin terdapat kekeliruan/kesalahan yang tidak kami sengaja, mungkin susunan tata bahasanya yang kurang tepat, kata-kata yang janggal, yang kurang berkenan dihati. Semuanya ini karena keterbatasan kami. Semoga Allah SWT senantiasa menambah ilmu kami.

Dengan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman, semoga dimasa mendatang dapat kami memberikan sumbangan pikiran yang lebih baik lagi bagi kemajuan Islam di negeri kita.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah koleksi kebudayaan tertulis yang telah kita mulai dan guna membantu menimbulkan sikap positif dari generasi Silungkang mendatang dan menempatkan diri dalam wawasan yang lebih luas.

Jakarta, Medan Juli 1989

 

Kami (Penulis)

 

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

PELAJARAN
DARI PERJALANAN ISLAM
DI SILUNGKANG

Khusus Untuk Warga Silungkang

Edisi 1, Jakarta, September 1989
Penulis : Munir Taher dan Hasan St. Maharajo
Penerbit : Malowe Sapakat Jakarta
Percetakan :

Terima kasih yang terhingga kepada semua yang telah memberi bantuan sehingga karya “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang” ini dapat diselesaikan dan dapat terbit seperti yang berada di tangan sanak saudara. Semoga amal semua sanak saudara itu akan mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Allah, Ya Robbalalamin.

SEPATAH KATA DARI PENERBIT

Tidak secara kebetulan bila para pemuka agama Islam di Silungkang sejak tahun 1984 telah melancarkan kritik dan otokritik secara terbuka berkenaan dengan kemunduran agama Islam di Silungkang. Kritik dan otokritik itu tertuang melalui makalah alim ulama Silungkang, serta makalah KAN dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta pada bulan April 1986. kemudian pada tahun 1987 Sharief Sulaiman (Alm) menyampaikan laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung dan laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS Jakarta yang disampaikan dalam Rapat Anggota PKS tanggal 26 Juli 1987.

Kritik dan otokritik mengenai kehidupan agama di Silungkang ini adalah semacam pengalaman Mamangan orang tua kita, yaitu “Upek maiduiki, puji mambunuah” (kecaman menghidupi, puji membunuh). Tak dapat disangkal sementara orang awak tentu ada yang keberatan atau tidak dapat menerima kritikan apalagi melakukan otokritik. Pendirian sementara orang awal demikian nantinya tentu akan berubah juga, sesuai dengan panggilan zaman.

Kita dapat belajar dari perkembangan NU, yang selama ini kultur kyai juga tak dapat menerima kritik apalagi melakukan otokritik. Ternyata melalui halaqah (semacam sarasehan) selama 3 hari di bulan Juli 1989 para kyai mengakui pemahaman kitab dikalangannya hanya bersifat tekstual. Kurang mampu mengaitkan dengan persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Konsep mengenai ibadah mash terpaku pada qasirah (manfaat dirasakan sendiri), belum mutaaddi (manfaat untuk orang banyak (Kompas, 21 Juli 1989).

Dengan tujuan untuk dapat membangkitkan kembali kehidupan beragama di Silungkang maka Munir Taher dan Hasan St. Maharajo menuangkan kritik dan otokritik pemuka agama Silungkang itu dalam sebuah karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Semoga dengan orang awak mengenai kritik dan otokritik tersebut akan tergugah untuk secara aktif berpartisipasi memajukan agama Islam di Silungkang.

Amin !
Jakarta, Awal Agustus 1989

Malowe Sepakat Jakarta

Lambang Pemberontakan Rakyat Silungkang

 

Gambar Atas

Tugu Perlawanan Rakyat Silungkang

Terhadap

Pemerintahan Hindia Belanda

Diresmikan oleh

Wakil Presiden RI Pertama

Moh. Hatta

 

 

PERANG RAKYAT SILUNGKANG SUMATERA BARAT 1927


SEBUAH KENANGAN

 

Oleh : Anwar Sirin

 

PRAKATA

 

Peristiwa heroik ini telah berlalu 75 tahun. Suatu masa panjang yang tidak memungkinkan kita bisa mengingatnya dengan sepenuh kejelasan.

 

Hampir semua pelakunya telah berpulang ke hadirat Illahi dan begitu pula saksi-saksi mata utamanya. Yang kini tersisa hanyalah orang-orang tua yang pada saat peristiwa itu meletus masih sangat belia dan tidak terlibat langsung serta melihatnya secara menyeluruh. Catatan-catatan tertulis yang bisa dijadikan bukti otentik tentang persiapan jalannya, akibat dari peperangan itu boleh dikatakan tidak ada sama sekali.

 

Satu-satunya yang lengkap mengenai peristiwa ini adalah Keputusan Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan dan mengangkat sebagian dari pejuang-pejuang itu sebagai pahlawan Pejuang Perintis Kemerdekaan. Didirikan pula sebuah monumen yang diberi nama Tugu Perintis Kemerdekaan yang diresmikan tahun 1947 oleh Wakil Presiden pada waktu itu Drs. Moh. Hatta sebagai tanda bahwa di wilayah Silungkang dan sekitarnya pernah terjadi perjuangan heroik.

 

Perjuangan heroik ini diakui oleh negara sebagai salah satu mata rantai perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.

 

Karenanya cerita tentang PRS 1927 kita miliki sekarang ini hanyalah berupa sisa-sisa cerita dari mulut ke mulut yang disampaikan oleh para pelaku dan saksi-saksi mata kepada anak cucunya.

 

Cerita-cerita ini selama ini sudah dianggap sebagai sumber paling competen mengenai PRS 1927 ini. Tak pernah dicoba menelaah cerita-cerita itu, membandingkan kebenarannya. Hingga bisa ditarik sebuah kesimpulan yang benar dan tepat serta seragam tentang :

a. Siapa yang menggerakkan perang ini

b. Apa sebab-sebab terjadi peperangan ini

c. Apa tujuan yang akan dicapai dengan perang ini

 

 

 

TERLUPA – MELUPAKAN – LUPA

TERLUPA

 

Wajar kalau terlupa, apalagi peristiwa ini telah lama berlalu. Telah banyak peristiwa-peristiwa yang dilewati. Begitu pula nasib yang menimpa Perang Rakyat Silungkang 1927.

 

Telah terlupa bagaimana tegar para pejuang pada malam gelap itu berangsur bergerak menuju medan perang dengan semangat menggebu dan menggenggap tekad, berjuang di jalan Illahi demi esok yang lebih cerah.

 

Terlupa pada motivasi serta tujuan besar yang ingin dicapai oleh para pejuang itu. Tujuan yang telah sanggup menggerakkan seluruh rakyat Silungkang dan sekitarnya rela berkorban harta benda bahkan nyawa.

 

Orang-orang terlupa pada Asisten Residen Kees dan seorang Indonesia yang lebih Belanda dari Belanda, yaitu Demang Rusad yang keduanya waktu itu bertugas di Sawahlunto. Tuan Demang inilah dengan cemeti di tangan dan makian keji menyambut para pejuang yang tertangkap ketika dimasukkan ke penjara Sawahlunto. Setiap lecutan cemeti ke tubuh ribuan pejuang-pejuang itu disertai makian yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan berarti “Mampuslah kau semua komunis”1)

 

Terlupa orang bahwa apa yang diucapkan oleh Demang Rusad itu adalah sebuah kebohongan besar. Tiap orang pasti tahu bahwa setiap kebohongan seperti yang dilontarkan oleh Demang ini, apabila diulangi berulang-ulang, lama kelamaan akan diterima oleh pendengarnya dan masyarakat sebagai suatu kebenaran. Demang Rusad pun tahu akan hal ini karena dia sangat rajin melemparkan issue itu. Selain pembohong besar Demang Rusad pandai pula mengambil keuntungan-keuntungan dari kesempitan orang lain, terutama untuk menjaga citranya selamat sampai hari tuanya.

 

Dengan melontarkan issue komunis kepada para pejuang PRS 1927 dia langsung memetik keuntungan untuk masa yang panjang sampai akhir hayatnya. Keuntungan-keuntungan itu ialah :

  1. Pada tahun 1927 itu ia dapat menunjukkan sikap yang loyal dan sekaligus sebagai pembongkar latar belakang terjadinya PRS kepada majikannya, Belanda.

  2. Dia menghilangkan kenyataan yang berada di masyarakat yaitu ketimpangan sosial-ekonomi-hukum antara si penjajah dan yang terjajah.

     

  3. Ketika Indonesia telah Merdeka dia dengan mudah mengelakan tuduhan sebagai penindas pejuang-pejuang pra kemerdekaan dan mengemukakan alasan bahwa yang ditindasnya di Sumatera Barat itu dahulu bukanlah para pejuang tetapi kaum komunis yang di Sumatera Barat tidak pernah dapat tempat di hati masyarakat yang taat beragama ini, lebih-lebih masa sekarang.

 

Dengan tenang dia bisa menikmati singgasana Residen Kedua di Padang pasca kemerdekaan. Berbeda dengan rakyat yang ditindasnya dulu, para pejuang dan turunannya harus berjuang jatuh bangun demi mempertahankan citra diri.

 

Karena perbuatan Demang Rusad inilah rakyat Silungkang merasa malu sekarang, karena di belakang perang Rakyat Silungkang diberi embel-embel sebagai yang diorganisasi bersama-sama dengan PKI.3)

 

Issue itu harus dibantah dengan menyodorkan bukti-bukti yang layak oleh seluruh warga Silungkang.

 

 

MELUPAKAN

 

Bagi rakyat yang terjajah tindak tanduknya harus selalu dijaga agar tidak menyalahi peraturan-peraturan yang dibuat oleh si penjajah. Kalau berani melanggarkan berarti menerima satu perlakuan yang kejam dari si penjajah dan di Indonesia penjajah itu adalah Pemerintah Kolonial Belanda.

 

Cara apapun ditempuh oleh penjajah, intimidasi, teror dan paksaan-paksaan agar si terjajah tunduk dan tidak bisa melawan. Rakyat Indonesia ratusan tahun lamanya ditindas seperti ini termasuk juga rakyat Silungkang. Hal ini menyebabkan rasa takut yang berlebih-lebihan hingga menimbulkan suatu anggapan bahwa berurusan dengan pejabat hukum sudah merupakan aib dan tabu. Lebih-lebih apabila mendapat hukuman badan langsung saja dicap sebagai penjahat.

 

Tak peduli apapun perbuatan yang dilakukannya, baik karena berbuat untuk diri sendiri untuk orang banyak atau untuk satu perjuangan kemerdekaan. Cap ini diturunkan pula pada anak cucunya dan selalu saja dibumbui dengan cerita-cerita negatif tentang orang itu. Bagi masyarakat seperti Silungkang hal itu sangat mengerikan dan menjadikan malu berkepanjangan.

 

Ada sebuah cerita lucu bagaimana masih banyaknya orang Indonesia yang setelah masa penyerahan kedaulatan dan merdekapun yang tidak mengerti artinya merdeka itu dan tentu lebih-lebih lagi pra tahun 1927.

 

Pada suatu rapat raksasa yang biasa diadakan tiap-tiap 17 Agustus di depan Istana Merdeka massa telah berkumpul. Selain yang dikerahkan tentu banyak pula yang datang atas kemauannya sendiri, seperti biasanya puncak acaranya pidato Bung Karno. Di antaranya terselip seorang tua yang berasal dari pinggiran kota Jakarta.

 

Betapa hebatnya pidato Bung Karno tak sedikitpun orang tua itu tertarik dan mengacuhkannya. Sehingga menarik perhatian seorang pemuda yang berdiri di dekatnya. Karena tertarik akhirnya pemuda mencoba menanyain sebab-sebab tidak tertarik sama sekali pada pidato Bung Karno itu.

 

Bertanya pemuda itu : “Bapak, apakah Bapak tidak tertarik pada pidato Bung Karno ini, Pak !”

 

Jawab orang itu : “Dari tadi saya memperhatikan pidato itu, tapi saya heran.”

 

“Apa yang Bapak herankan ?” tanya pemuda itu.

 

“Bung Karno dari tadi pidato tentang kemerdekaan melulu, coba anak tanyakan pada beliau itu, kapan kita ini merdekanya.”

 

Bukan dimaksud lelucon ini untuk menyebabkan tertawa tapi untuk menunjukkan apa yang tersirat dari lelucon ini bahwa setelah berlalu sekian tahun kemerdekaan itu masih banyak rakyat Indonesia yang tidak mengerti yang dimaksud dengan merdeka itu sebenarnya. Sudah pasti pada tahun 1927 itu di Silungkang lebih banyak lagi yang tidak mengerti. Apa gunanya berjuang untuk merdeka jika perjuangan hanya menimbulkan/menyebabkan kesengsaraan. Tanpa kemerdekaan toh penghidupan telah berjalan sesuai dengan garisnya, garis yang telah ditentukan Tuhan.

 

Jadi dari uraian di atas bisa dilihat mengapa rakyat Silungkang itu berusaha melupakan peristiwa tragis dari kekalahan perang 1927, ialah karena :

a. Takut

b. Malu

c. Tidak Mengerti

 

a. Takut

 

Ketika peristiwa 1927 mengalami kegagalan total. Bencana yang tadinya tidak pernah diperhitungkan menjadi kenyataan yang sangat pahit. Penangkapan, penganiayaan, penistaan mencapai puncaknya hingga untuk mengingatnya saja orang sudah tidak mampu. Traumanya membekas sangat dalam. Hingga tidak pernah kita mendengar di sekolah di Silungkang, baik Silungkang belum merdeka dan sesudah merdeka. Melupakan itulah satu-satunya diusahakan.

b. Malu

Anggapan masyarakat bahwa orang yang pernah terhukum badan sebagai penjahat menyebabkan rasa malu terutama bagi para pejabat pemerintahan pada masa 1927. Tak ada alasan apapun untuk memanfaatkan mereka itu, sekalipun jelas-jelas apa yang mereka lakukan adalah satu perjuangan di jalan Illahi dan yang diperjuangkan adalah hari esok yang lebih baik. Mereka (pejabat-pejabat itu) mencoba melupakan akibat yang jelek dari perang yang gagal itu.

 

Pejabat-pejabat takut mereka-mereka itu mengulangi lagi perbuatan-perbuatan mereka yang menurut pandangan pejabat-pejabat itu memalukan dan kalau dipakai istilah sekarang sebagai penganggu stabilitas kampung halaman. Pejabat-pejabat itu tak berani mengusir mereka secara kasar tetapi diusahakan secara halus dengan antara lain membebaskan dari rodi/uang serayo asal mereka mau pergi merantau.4)

 

Bagi bekas para pejuang yang telah kembali dari pembuangan, uang serayo/rodi merupakan tambahan penghinaan bagi mereka, sebab hal itulah salah satu yang diperjuangkan lenyapnya sehingga terpaksa menjalani hukuman.

 

Bagi satu masyarakat seperti Silungkang yang waktu itu masih sangat terikat pada kaumnya pergi keluar wilayahnya sendiri bukanlah hal yang enak. Lebih-lebih pada permulaan tahun 1930 itu momoh malaise sedang mengancam perekonomian seluruh dunia dan tentunya Indonesia yang pada waktu itu masih disebut Hindia Belanda tak ketinggalan. Hingga selain bagi yang terlempar dari kampung halaman berjuang memperbaiki kehidupan ekonominya merupakan hal yang sangat berat, bagi anak isterinya lebih berat lagi.

 

Banyak yang akhirnya terpaksa pulang kampung dengan beban mental yang lebih berat karena kenyataan bahwa mereka-mereka itu tak dapat meraih apa yang diharapkannya.

 

 

c. Tidak Mengerti

Inilah akibat yang paling fatal dari segala macam usaha Rakyat Silungkang dalam usahanya untuk tidak teringat pada Perang Rakyat Silungkang 1927.

 

Ketidak mengertian bahwa dengan mencetuskan Perang Rakyat Silungkang 1927, rakyat telah menuliskan sejarah dan masuk dalam deretan para pejuang-pejuang yang mencoba merampas kembali kemerdekaannya dari penjajah Belanda yang telah bercokol ratusan tahun lamanya.

 

Tidak mengerti bahwa pejuang-pejuang itu hanya berumur pendek dan sejarah itu tak bisa berakhir sekalipun rakyat yang melahirkan pejuang-pejuang itu telah punah seluruhnya. Setiap kali ada orang-orang yang akan mengkaji kembali dan memberikan atau menambahkan versi baru pada sejarah itu.

 

Tiap kali ditambahkannya kebenaran-kebenaran yang pada waktu lalu belum terungkap.

 

Karena ketidak mengertian itu maka bukti-bukti otentik tentang perjuangan besar rakyat Silungkang telah hilang begitu saja. Sehingga segala issue negatif yang timbul sesudah perang itu tidak bisa disangkal dengan persiapan bukti otentik. Selalu timbul keraguan tentang kebenaran dari perjuangan yang telah meminta nyawa, harta, benda dan air mata. Kesalahan ini tidak hanya dibuat oleh Rakyat Silungkang saja tetapi juga oleh suku-suku Indonesia lainnya.

 

LUPA

Dimuka kita telah menandai tiga persoalan yang oleh RS lupa dibahas dan disoroti secara layak selama ini. Belum pernah ditarik kesimpulan yang seragam tentang ketiga persoalan ini.

 

Juga belum pernah sumber tentang PRS yang ada di Silungkang dan yang telah dianggap sebagai kebenaran dibandingkan dengan sumber-sumber otentik yang memang telah terbaku kebenarannya. Kita catat kembali ketiga persoalan itu.

a. Siapa yang menggerakan perang ini ?

b. Apa sebab terjadi perang ini ?

c. Apa tujuan yang akan dicapai oleh perang ini ?

 

Ketiga persoalan di atas saling berkaitan karena itu untuk membicarakannya secara terpisah sama sekali sangatlah sulit. Tapi disini tetapi akan dicoba sejauh hal itu memungkinkan.

 

 

 

a. Siapa Yang Menggerakkan Perang Ini ?

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas kita harus kembali ke tahun 1908 yang oleh bangsa Indonesia dicatat sebagai permulaan bangkitnya kesadaran Bangsa Indonesia tentang martabatnya sebagai manusia dan bangsa. Peristiwa ditandai dengan didirikannya organisasi Budi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 oleh R. Soetomo, dan kawan-kawan di Jakarta.

 

Tujuan dari organisasi ini tidak tegas-tegas digariskan tetapi terasa sekali dititik beratkan pada peningkatan pendidikan terutama di Jawa dan Madura.

 

Boedi Oetomo berpendapat bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka budi pekertinya akan bertambah baik pula dan dengan demikian kesadarannya sebagai manusia dan bangsa akan bertambah tinggi pula.

 

Kehadiran Boedi Oetomo tahun 1908 itu sebenarnya telah didahului oleh sebuah organisasi lainnya yang terutama bergerak di bidang perdagangan, yaitu Sarekat Dagang Islam tahun 1905 di Solo oleh Bapak H. Samanhudi. Pada tahun 1911 organisasi Dagang Islam ini dilebur menjadi Sarekat Islam yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto dan cendikiawan Islam.5)

 

Berdirinya Sarekat Islam ini adalah satu isyarat bagi Muslim Indonesia bahwa saatnya telah tiba untuk tampil kepermukaannya sebagai satu kekuatan sosial, ekonomi dan politik untuk melawan sistem jajah dan terjajah.

 

Ditinjau dari anggaran dasarnya SI ini bukanlah organisasi yang mempunyai tujuan politik dan ketata-negaraan tapi dalam sepak terjangnya di masyarakat jelas jangkauan politik dan ketata negaraannya ada.

 

Dalam periode pertamnya SI ini mencanangkan tindakan-tindakan gagah berani dari sistem jajah-terjajah. Hal ini menyebabkan para anggotanya selalu siap bertempur habis-habisan demi membela nusa, bangsa serta agama dari segala penghinaan dan segala kecurangan.6)

 

Dengan manuver demikian itu serta ditambah lagi dengan sifat terbukanya organisasi SI ini dengan mau menerima anggota dari seluruh lapisan masyarakat jadilah organisasi ini sebagai organisasi massa yang pada Kongres Nasional 1916 di Bandung telah punya 80 (delapan puluh) cabang yang tersebar di seluruh Nusantara dengan anggota aktif + 400.000,- (empat ratus ribu orang).7)

 

Karena dalam waktu yang singkat SI telah menjadi satu organisasi yang besar dan tersebar luas di Indonesia maka kendala yang dihadapi Serikat Islam menjadi besar pula. Kendala-kendala itu dapat kita bagi dua menurut dari mana asal datangnya.

  1. Kendala yang datang dari luar organisasi.
  2. Kendala yang datang dari dalam organisasi

  1. Kendala Yang Datang Dari Luar Organisasi

Kendala-kendala yang datang dari luar organisasi itu sebenarnya sangat banyak, tapi di sini hanya akan diungkapkan yang jelas saja dimana setiap orang bisa mengetahuinya, dan merasakannya. Yaitu yang datang dari Pemerintahan Jajahan Belanda yang pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Indenburg ini mensinyalir di dalam SI Terdapat unsur-unsur revolusioner.

 

Sebelum ia mengambil putusan politik untuk SI dia menerima nasehat pada para residen lebih dahulu. Hasilnya ialah :

  1. SI tidak boleh berupa organisasi yang punya pengurus besar.

  2. SI hanya boleh berdiri secara lokal.8 )

  3. Untuk tiap-tiap cabang diharuskan mempunyai badan hukum sendiri yang terlepas satu dengan yang lainnya.

Sebagai akibat dari peraturan itu ialah :

  1. Hubungan hukum antara Pengurus Besar dan cabangnya serta antar cabang boleh dibilang tidak ada sama sekali. Tiap-tiap cabang punya kedaulatan sendiri-sendiri. Walaupun secara organisasi hubungan itu ada tapi dengan peralatan serta pengalaman mengelola organisasi yang dipunyai Indonesia saat itu sangat minimum maka kontrol oleh Pengurus Besar terhadap cabang-cabang itu sangat kurang dan tidak layak. Karenanya banyak tindakan-tindakan pimpinan-pimpinan lokal tidak dipertanggung jawabkan ke Pengurus Besar. Bahkan banyak instruksi-instruksi yang tidak terlaksana karena kendala-kendala setempat.

  2. Pengaruh pimpinan-pimpinan lokal itu terhadap organisasi sangat dominan. Instruksi dari pusat sering diabaikan, sedangkan perintah pimpinan lokal walaupun bertentangan dengan instruksi PB dijalankan secara sungguh-sungguh.

  3. Sebagai akibat dari kedua hal di atas maka terhadap penerimaan anggota pun kurang terseleksi. Lebih-lebih di mana kondisi organisasi pada waktu itu memungkinkan seseorang menjadi anggota beberapa organisasi sekaligus. Hingga banyak oknum yang punya maksud-maksud tertentu diterima menjadi anggota SI salah satu contohnya ialah apa yang terjadi di cabang SI Semarang ketika dipimpin oleh Semaun dan Darsono. Sebenarnya kedua oknum tersebut adalah Kader H.O.S Tjokroaminoto, tetapi setelah di Semarang keduanya masuk Indische Social Democratische Vereniging (I.S.D.V) suatu organisasi yang didirikan oleh orang-orang Belanda di Indonesia dan berhaluan Marxis. Di kemudian hari kedua-oknum ini menjadi musuh S.I dan menyebabkan perpecahan di SI

  4. Peraturan yang dikeluarkan oleh Penjajah mengandung bibit-bibit perpecahan yang dikemudian menjadi kenyataan, sesuai dengan harapan si pembuat undang-undang. Karenanya perjuangan Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya melemah pula.


    2. Kendala Yang Datang Dari Dalam Organisasi

Sesudah Kongres SI 1916 dalam tubuh organisasi ini terjadi kristalisasi. Mereka telah menentukan sikap dan cara-cara yang pasti dalam menempuh perjuangan untuk mencapai cita-citanya. Dan G. Kachi mengelompokkan mereka menjadi tiga.9)

  1. Golongan Fanatik Islam

    Kelompok ini mencoba menerapkan kaidah-kaidah Islam sejauh dimungkinkan dalam perjuangan mencapai cita-citanya.

  2. Golongan Moderat

    Kelompok ini tidak berkeberatan bekerja sama dengan Pemerintahan jajahan sebagai taktik untuk mencapai cita-cita perjuangannya.

  3. Golongan Keras

    Sikap frontal terhadap penjajah. Tapi disamping itu pemimpinnya banyak menyerap teori-teori marxis sebagai teori perjuangan untuk mencapai cita-citanya.

 

Pada periode permulaan walaupun ada perbedaan pendapat antara kelompok-kelompok itu, belumlah mengakibatkan perpecahan. Ini terbukti pada saat Islam dan Indonesia mendapatkan perlakukan tidak adil mereka serentak bangkit dengan sikap sama menghadapinya. Ini juga berkat tali kerohanian Islam yang masih kuat.

 

Tetapi sesudah periode 1917 – 1920 group keras yang dipimpin oleh Semaun cs semakin tenggelam dalam ajaran Marxis. Semaun cs ini selain menjadi Pengurus SI Semarang menjadi juga pimpinan PKI. Perpecahan naik ke permukaan dan terlihat sebagai perbedaan ideologi.

 

Akhirnya terjadi dua pool yang berbeda ideologi. Pool yang satu dipimpin oleh H. Agus Salim cs dan yang satu dipimpin oleh Semaun cs. Yang dipimpin oleh H. Agus Salim berorientasi pada Islam Nasional dan yang dipimpin oleh Semaun berfaham Marxis.

 

Dengan cara apapun kedua pool itu tak bisa disatukan sebagai akibatnya timbul gagasan organisasi SI Untuk menegakkan disiplin. Dianut prinsip setiap anggota SI tidak dibolehkan merangkap keanggotannya dengan organisasi lain. Dalam kongres SI 6 April 1920 di Yogyakarta gagasan itu dituangkan menjadi peraturan. Betapapun gigihnya golongan Semaun cs untuk menolak gagasan itu tak berhasil sama sekali dan peraturan itu telah jadi kenyataan.

 

Semaun adalah Kader Sarekat Islam yang digembleng langsung oleh H.O.S Tjokroaminoto. Pada tahun 1916 dia dari Surabaya dipindahkan ke Semarang untuk memperkuat cabang ini. Tugasnya di Semarang dilaksanakannya dengan baik. Hingga dalam waktu yang singkat dia dapat melipat gandakan anggotanya.

 

Kecakapan di bidang organisasi terlihat oleh ISDV yang pada waktu itu dipercaturan pergerakan Nasional belum mendapat tempat dan sedang giat berusaha menginfiltrasi SI untuk mendapatkan massa.

 

ISDV berhasil merekrut Semaun, bahkan tidak hanya sebagai anggota tetapi sebagai Pengurus. Sebenarnya ISDV (singkatan dari Indische Social Democratische Vereniging) adalah embrio dari Partai Komunis Indonesia.

 

Ini ternyata dalam Kongresnya yang ke VII tanggal 23 Mei 1920 namanya diubah menjadi Partai Komunis Hindia dan Semaun menjadi ketuanya. Pada Kongres istimewa tanggal 24 Desember 1920 keputusan Kongres ke VII dipertegas kembali dengan merubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia.

 

Diputuskan pula untuk memasuki Komintern dan berapresiasi dengan Komintern Asia. Sudah tentu dengan keputusan itu partai ini menjadi partai yang kiblatnya tidak nasionalis lagi tetapi “kiblatnya” ke Moskow sebagai Pusat Komunis sedunia.10).

 

Sudah tentu semua sepak terjangnya serta strategi perjuangannya disesuaikan dan tunduk pada perintah Moskow.

 

Ketika SI dalam Kongresnya tahun 1921 mengeluarkan larangan bagi anggotanya untuk mempunyai keanggotaan rangkap dengan organisasi lain, kedudukan Semaun di masyarakat sangat mapan dan punya karir yang kuat baik di dalam ataupun di luar SI di dalam SI dia adalah Komisaris Cabang SI Semarang dan di luar SI dia adalah Ketua Partai Komunis Indonesia Pusat. Dalam kondisi yang demikian itulah Semaun cs dikeluarkan dari SI

 

Tetapi Semaun tidak tinggal diam.11) Segera dia mengumpulkan cabang-cabang SI Yang bersimpati kepadanya hingga pada tahun 1923 dia telah dapat mendirikan SI Merah untuk menandingi SI asli yang disebut juga dengan SI putih. Di mana ada cabang SI putih di situ didirikannya pula SI Merah. Sehingga keadaan pada tahun-tahun itu keadaannya berimbang.

 

Ketika perkembangannya bertambah pesat, maka pada tahun 1924 SI Merah ini diubah namanya menjadi Serikat Rakyat. Di samping itu didirikan pula cabang PKI di mana ada cabang Serikat Rakyat. Maksud dari mendirikan cabang-cabang itu merupakan alat kontrol bagi segala kegiatan Serikat Rakyat serta juga merupakan persiapan untuk konsolidasi organisasi di masa mendatang.

 

Akhirnya ketika PKI sudah merasa mantap maka pada Kongresnya di Kota Gede Yogyakarta bulan Desember 1924 Serikat Rakyat dilebur masuk PKI.12)

 

Kami memberi garis tebal pada peleburan Serikat Rakyat di dalam tahun 1924 bulan Desember ini karena mulai tanggal itu seluruh Serikat Rakyat mulai dari pusat dengan pengurus besarnya serta cabang – anak cabang – rantingnya sudah tidak punya legalitas lagi dan tidak ada lagi. Ini penting sekali terutama nanti ketika kita membicarakan legalitas dari S.R. Silungkang.

 

Sumatera Barat dikenal juga dengan nama Minangkabau. Walaupun Minangkabau ini mulanya adalah sebuah kerajaan, namun tatanan masyarakat diatur secara demokrasi dan komunikasi dua arah merupakan tradisi. Semua persoalan yang menyangkut apapun selalu saja diputuskan secara musyawarah oleh semua pihak yang terkait dengan persoalan itu. Keputusan yang diambil mengikat semua pihak baik yang setuju ataupun tidak setuju denga keputusan itu.

 

Unsur agama Islam masuk dalam tatanan masyarakat Minangkabau/Sumatera Barat secara dominan seusai Perang Padri, dan dengan itu pula Kerajaan Minangkabau kehilangan legalitasnya.13) Jadi disini kita melihat bahwa secara regional kesadaran sebagai manusia/bangsa di Minangkabau sudah ada bahkan berakar ke segala lapisan masyarakat.

 

Tidaklah mengherankan jika gema kebangkitan berbangsa ke seluruh Nusantara oleh Budi Utomo tahun 1905 dicanangkan di Jakarta disambut dengan gegap gempita di Sumatera Barat. Bahkan di daerah pedalaman seperti di Silungkang dan sekitarnya mendapat pengikut yang gigih, berani dan tak kenal menyerah.

 

Silungkang adalah sebuah desa yang alamnya tidak ramah dan tidak menjanjikan penghidupan santai dari pertanian. Walaupun desa ini dibelah dua oleh sebuah sungai tetapi sungai itu tak bisa dimanfaatkan secara maksimal, selain karena dihulunya bukitnya sudah gundul yang sering menyebabkan banjir, juga di kedua sisi sungai tidak cukup tersedia dataran.

 

Dataran yang sedikit di tepi sungai itu tidak memadai jangankan untuk pertanian, untuk pemukiman saja tidak cukup hingga banyak warga yang mendirikan rumahnya di perbukitan. Hal yang demikian itu menyebabkan warga memilih penghidupan dari perdagangan dan pertenunan.

 

Dengan memilih penghidupan yang demikian maka wataknya pun mengikuti pola penghidupannya. Ramah, sidik-midik, hemat, tekad, percaya diri menjadi watak umum warga Silungkang sekalipun hanya pedagang makanan. Tidak sidik dan midik pedagang tak akan mampu menilai dan melihat barang apa yang laku pada masa itu.

 

Hemat harus dipakai agar modal tidak habis bahkan bertambah. Tekun, percaya diri harus dipunyai oleh siapa pun yang ingin berhasil.

 

Karena itu warga Silungkang untuk mengambil suatu putusan atau pilihan, dilalui proses pemikiran yang mendalam dihitung untung ruginya dari segala segi dan pilihan atau putusan yang ditetapkan itu, apapun akibatnya akan dihadapinya tanpa penyesalan.

 

Harus diakui bahwa dalam mengulas watak warga Silungkang ini banyak kekurangannya tapi yang ingin ditonjolkan di sini dalam mengenang PRS 1927 warga Silungkang telah menunjukkan sifat tegarnya tidak mudah terpengaruh dan tetapi pada pilihannya walaupun tahu bahwa itu akan beresiko besar.

 

Begitu juga ketika warga Silungkang memilih Serikat Islam sebagai wadah perjuangan untuk turut berjuang bersama seluruh bangsa Indonesia, dalam satu perjuangan besar, mencapai Indonesia merdeka.

 

Pilihan ini bukan karena ingin ikutan-ikutan atau karena terpesona oleh tindak-tanduk organisasi SI itu. Telah dilalui pemikiran yang mendalam dan pemantauan cermat terhadap organisasi itu. Dipantau asas serta tujuan serta cara-cara memperjuangkan tujuan itu. Bahkan para pendirinya menyempatkan diri untuk melakukan lobbying ke Jawa untuk keperluan itu.

 

Kemudian ditariklah kesimpulan di mana SI dianggap cocok dengan apresiasi warga Silungkang dalam menempuh perjuangan menuju kemerdekaan. Pada tahun 1915 didirikanlah SI di Silungkang oleh Sulaiman Labay cs.14)

 

Sebelum itu SDI telah ada juga di Silungkang. Secara organisasi SDI pada tahun 1911 di Jawa dilebur menjadi SI, tapi ini tak langsung dikerjakan oleh warga di Silungkang. Empat tahun kemudian baru terlaksana. Lagi ini suatu bukti berdirinya SI di Silungkang bukan tanpa pemikiran dan pemantauan. Empat tahun cukup lama.

 

Kehadiran SI di Silungkang ini tidak langsung mendapat simpati dari warganya. SI harus membuktikan dirinya sebagai sebuah organisasi yang betul-betul berjuang demi kepentingan orang banyak, tanpa pembuktian jangan harap mendapat simpati.

 

Kesempatan ini diperoleh Sulaiman Labay cs pada tahun 1918. ketika itu terjadi kekurangan beras di Silungkang. Sulaiman Labay cs menyita dua gerbong beras milik Belanda dan langsung membagi-bagikannya kepada seluruh warga.15)

 

embagian itu merata tanpa pilih-pilih. Semua yang datang ke tempat pembagian mendapat bagiannya. Sejak peristiwa itu SI mendapat tempat di hati masyarakat Silungkang dan kharisma Sulaiman Labay sebagai pimpinannya menembus batas desanya dan dianggap sebagai pimpinan yang pantas jadi panutan. Dengan kondisi dan situasi yang demikian Sulaiman Labay mulai menggembleng kader-kader muda SI.

 

Pendidikan kader ini tidak hanya mengenai politik dan segala aspek yang terkait untuk mencapai Indonesia merdeka, tapi juga mengenai agama.

 

Dengan gemblengan ini diubah cara memandang kehadiran Belanda di persada Tanah Air ini. Kalau tadinya Belanda harus dianggap sebagai yang dipertuan dan harus dipatuhi segala perintahnya dan dipenuhi segala keinginannya, kini harus dianggap sebagai musuh dan penghisap darah rakyat yang harus segera dienyahkan dari tanah air dengan segala cara yagn diridhoi Tuhan sesegera mungkin.

 

Dipompakan keberanian dan ditingkatkan percaya diri. Banyak kader-kader yang kurang militant dan mendapat pengaruh dari luar, tapi tak sedikit pula kader-kader yang menjadi sangat militant. Lebih-lebih kader yang hanya menerima pengemblengan dari Sulaiman Labay dengan secara langsung.

 

Kader-kader ini tidak menganggap Sulaiman Labay sebagai pimpinan SI saja, tapi juga sebagai bapak – kawan – dan orang tua yang layak menerima penghormatan dan tumpuan segala harapan di masa datang. Kader ini dalam segala gerak perjuangan selalu berada paling depan, dan selalu saja menjadi penumpas keraguan-raguan bila datang dalam hati anggota-anggota SI lainnya.

 

Jika pada mulanya rasa ketidak-sukaan pada Belanda hanya ada dihati perorangan saja maka kini rasa kebencian Belanda mengkristal sebagai kebencian seluruh lapisan masyarakat terhadap penjajah Belanda dengan segala sistem pemerintahannya.

 

Kemerdekaan menjadi semacam ilusi yang harus diperoleh dengan jalan apapun juga selekasnya.

 

Salah satu sebab Sulaiman Labay mau bergabung dengan SI ialah karena sifat organisasi yang otonom. Hingga dia memiliki lebih banyak kebebasan bergerak. Banyak ide-idenya tersalur dalam organisasi ini.

 

Salah satu contoh yang paling komplit ialah : penyitaan dua gerbong beras milik Belanda di stasiun Silungkang. Dia tidak harus minta izin lebih dahulu kepada induk organisasi, baik yang di Padang maupun di Jawa. Bahkan tidak harus mempertanggungjawabkannya kepada induk organisasinya, barangkali melaporkannya saja tidak. Ketika ia ditangkap Belanda karena perbuatan itu ia pun tidak menunjuk siapapun yang bertanggung jawab kecuali dirinya sendiri. Sifat-sifat otonom dari organisasi oleh Pengurus SI dipertahankan terus walaupun terjadi perpecahan dalam SI.

 

Walaupun SI Silungkang bergabung dengan SI Merah, dimana garis organisasi diatur dari pusat, Silungkang tidak melakukannya. Ini terbukti ketika diputuskan bahwa SI Merah diubah namanya menjadi Sarekat Rakyat di mana ditentukan pula bahwa di setiap cabang SR harus didirikan pula cabang PKI maka di wilayah Silungkang dan sekitarnya hal itu tidak dilakukan. Bahkan ketika Sarekat Rakyat ini dilebur masuk PKI, Silungkang tetap memakai nama Sarekat Rakyat untuk organisasi.

 

Di Jawa hal itu tak ada lagi, yang ada hanya PKI dengan organisasi-organisasi yang tidak bersifat keagamaan. Di sini tampak bahwa organisasi SR di Silungkang hanya luarnya saja yang bergabung dengan SR lain, tetapi secara organisasi tidak melakukan instruksi pusatnya bahwa seolah-olah lepas sama sekali.

 

Dalam memorinya Bung Hatta menulis bahwa Semaun pernah bercerita kepada beliau bahwa cita-cita untuk memberontak terhadap Belanda diputuskan konferensi PKI Desember 1925 di Prambanan. Rencana akan dilaksanakan pada tahun 1926 dan itu disetujui oleh semua pengikut Kongres, kecuali Tan Malaka (kehadiran Tan Malaka pada Kongres itu oleh Bung Hatta diragukan karena waktu itu ia berada di Filipina).

 

Pertemuan Hatta – Semaun ini terjadi di Den Haag negeri Belanda.16) Untuk mendapatkan izin dari Moskow maka diutuslah Alimin/Musso dan berangkat dari Indonesia bulan Maret 1926.17) Dengan adanya keputusan itu maka suhu politik di Indonesia memanas.

 

Kegiatan luar biasa terjadi di seluruh Indonesia termasuk juga di Silungkang di mana SR nya secara yuridis tidak berfungsi lagi setelah di Kongres tahun 1924 dilebur masuk PKI. Sedangkan seperti kita lihat hal itu tak pernah dilakukan SR Silungkang.

 

Dilakukan diskusi antar pimpinan SR di Silungkang dan wilayah sekitar untuk mencari rumusan yang tepat bagaimana cara perlawanan yang diadakan.18)

 

Disini nampak bahwa intruksi pemberontakan yang diterima SR Silungkang dan sekitarnya tidaklah lengkap. Ketidak jelasan instruki ini menyangkut beberapa sebab. Di antaranya ialah : ketidak jelasan status SR Silungkang dan sekitarnya. Dan yang lain ialah : Konsep yang disusun oleh pimpinan PKI pusat untuk berontak tidak lengkap, tidak dilandasi suatu analisa pragmatis mengenai situasi dan kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat kala itu. Konsep itu disusun dengan tergesa-gesa serta penuh agitasi.

 

Karena situasi yang demikian Belanda dan polisi rahasianya tidak tinggal diam. Bocornya rahasia pemberontakan ini bukanlah satu hal yang tidak logis, maka bersamaan dengan itu dimulai pulalah penangkapan-penangkapan oleh Belanda terhadap tokoh-tokoh pimpinannya.

 

Hasil diskusi SR Silungkang dan wilayah sekitarnya ialah mengadakan rapat gabungan. Rapat yang diselenggarakan di Padang Sibusuk itu dihadiri 20-30 orang. SR Silungkang mengutus tiga orang ialah (1) Sdr. Muchtar (Kutai), (2) Sdr. Thoib Onga dan (3) Sdr. H. Jalaludin.

 

Rapat dipimpin oleh Sdr. Muchtar (Kutai) dan berjalan seru, karena sebagian utusan yang hadir beranggapan bahwa rapat ini tidak mempunyai wewenang untuk mendirikan badan organisasi di dalam organisasi. Tapi rapat dengan suara terbanyak memutuskan mendirikan Barisan Berani Mati atau nama lain ialah Serikat Hitam.19) Lagi-lagi SR Silungkang mengambil inisiatif sendiri dengan tidak menghiraukan hirarki pratai atau organisasi.

 

Ketika keputusan rapat di Padang Sibusuk sekitar April 1926 dimintakan pengesahan pada instansi organisasi yang lebih tinggi itu ditolak. Sekali lagi SR Silungkang bertindak sendiir, yaitu dengan tidak membubarkan Sarikat Hitam tapi membinanya secara intensif.

 

Sulaiman Labay sebagai pimpinan SR Silungkang seharusnya menyelesaikan persoalan ini hingga tuntas, karena ia tak bisa terlepas dari tanggung jawab. Lebih-lebih lagi bahwa Muchtar (Kutai) cs hadir dalam rapat April 1926 di Padang Sibusuk adalah sebagai wakil resmi dari SR Silungkang dari jadi pimpinan rapat.20)

 

Penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh Belanda di berbagai tempat di Indonesia akhirnya sampai juga di Silungkang, yaitu pada bulan Mei 1926. Pada bulan itu Sulaiman Labay cs ditangkap. Sarekat Rakyat kehilangan pimpinan-pimpinan seniornya, dan kader-kader muda didorong ke atas dan tampil kepermukaan. Mereka adalah kader-kader gemblengan lebih fanatik, lebih bersemangat dan lebih muda dengan pengalaman yang masih muda pula.

 

Demikian juga yang terjadi di SR Silungkang. Kader-kader Sulaiman Labay cs tampil dan Thaib Onga yang dikenal sebagai pelopor pembentuk Sarekat Hitam, kini jadi Ketua Sarekat Rakyat Silungkang.21) Dengan sendirinya kehadiran Sarekat Hitam tak dipersoalkan lagi, malah berubah menjadi kekuatan inti di wilayah Silungkang dan sekitarnya.

 

Seperti telah disinggung di atas bagi kader SR di Silungkang Sulaiman Labay bukan hanya pimpinan SR tetapi juga sebagai panutan, bapak dan saudara. Penangkapan terhadap beliau di mata mereka merupakan puncak ketidak adilan dan puncak tantangan bagi mereka dari penjajah Belanda.

 

Hingga dalam perencanaan perang membebaskan tawanan politik dan Sulaiman Labay cs dari penjara Sawahlunto dimasukkan ke dalam perencanaan.22) Tekad untuk memerangi Belanda makin terkristal dan persiapan ke arah itu makin disegerakan.

 

Dari berbagai buku rujukan yang digunakan untuk menyusun karangan ini tidak ada satupun yang menceritakan dari mana asalnya biaya digunakan untuk mengadakan logistik yang sangat sederhana maka dana yang dimiliki SR Silungkang dan sekitarnya jelas tidak pernah menerima bantuan dari luar wilayah apalagi luar negeri.

 

Jadi dana itu dikumpul dari masyarakat sekitarnya saja dan disumbangkan dengan keikhlasan yang tulus dan tidak minta dihargai atau mengharapkan balasannya. Semua diamalkan demi menunjang perang sahid semata-mata.

 

Semua turut menyumbang sesuai dengan kemampuannya dan ini semua diterima dan dipergunakan dengan sebaiknya. Ini juga sebagai bukti bahwa Perang Rakyat Silungkang bukan hanya diingin oleh segelintir pimpinan-pimpinan SR Silungkang dan sekitarnya, tapi memang hasrat dari seluruh masyarakatnya dan orang-orang yang tidak menyetujui perang itu hanya beberapa orang saja. Seluruh masyarakat ingin mendapatkan hari esok yang lebih layak dan berkeadilan.

 

Memang semua perjuangan lebih-lebih bila itu menyangkut kepentingan rakyat banyak, tanpa dukungan masyarakat jangan harap berhasil, tapi sebaliknya setiap perjuangan dari semula sudah menyimpan kemungkinan gagal walau pun didukung segenap lapisan masyarakat.

 

Saat itu tekad seluruh lapisan masyarakat di Silungkang sudah bulat untuk memerangi Belanda walau apapun yang menjadi taruhannya dan begitu juga tekad pada pimpinan SR.

 

Yang menjadi soal kini ialah mendapatkan informasi yang bisa dipercaya tentang hari D, sehingga perang yang akan dikobarkan, di Silungkang itu bisa dilakukan serentak dengan perang di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.

 

Untuk kepentingan itu diutuslah kurir-kurir ke Jawa, Padang dan Padang Panjang, sedang di wilayah Silungkang sendiri konsolidasi dilakukan terus menerus. Ketegasan tentang perang itu baru didiapat pada tanggal 21 Desember 1926 ketika H. Jalaludin kembali dari Padang dan informasi itu disampaikan di muka rapat yang dihadiri + 30 orang utusan SR Silungkang dan wilayah sekitarnya.23)

 

Rapat itu bertempat di Ngalau Basurek Taratak Boncah yang memang sudah beberapa waktu dijadikan markas Perang Rakyat Silungkang. Informasi yang disampaikan antara lain :

  1. Pemberontakan di Jawa gagal total dan seluruh organisasi PKI/SR dibubarkan oleh Pemerintah Belanda.

  2. Mengingat situasi yang sedemikian itu maka Konferensi darurat di Koto Laweh berkeputusan tidak melakukan pemberontakan dan tidak menyetujui pemberontakan- pemberontakan SR cabang manapun juga di wilayah Minangkabau/Sumatera Barat. Ketentuan ini tentu juga berlaku bagi SR Silungkang dan wilayah sekitarnya.

 

Situasi itu menghadapkan SR Silungkang dan sekitarnya kepada dua alternatif, yaitu :

  1. Melanjutkan rencana perang.

  2. Tidak melanjutkan rencana perang.

 

Jika alternatif pertama yang diambil berarti SR Silungkang harus berdiri sendiri menghadapi perang ini, baik secara moral maupun material. Apapun alasan yang dipakai oleh SR Silungkang dan sekitarnya untuk memerangi Belanda, SR wilayah Minangkabau lainnya tidak ikut terlibat.

 

Sedang jika alternatif kedua yang diambil itu tidak sesuai dengan watak yang dimiliki orang Silungkang, seperti yang diuraikan di atas. Watak yang mandiri, tekun, serta percaya diri.

 

Ketika menghadapi situasi yang demikian inilah watak asli dari rakyat Silungkang berperan mengambil keputusan. Putusan yang diambil, perang yang persiapannya sudah dianggap masak dilanjutkan dan sekaligus ditentukannya harinya, yaitu tanggal 1 Januari 1927 dan komando perang diserahkan kepada Sdr. Thaib Onga. Putusan ini diambil secara aklamasi. Suatu putusan yang gagah berani walaupun tahu bahwa putusan itu mengandung resiko yang besar.

 

Tidak dilanjutkan cerita ini dengan jalannya peperangan, karena itu bukan sasarannya. Tapi yang ingin diungkapkan dan dibuktikan di sini ialah siapa yang sebenarnya menggerakkan Perang Rakyat Silungkang 1927 ini.

 

Apakah memang benar bahwa PKI ada turut andil dalam perang ini, baik moral, material atau ideal ? Tapi sebelum memberi jawaban yang tegas baiklah kita simpulkan uraian panjang lebar diatas.

 

 

Secara Moral

Putusan Konferensi darurat SR di Koto Laweh dengan tegas mengatakan bahwa SR Sumatera Barat tidak menyetujui perang melawan Belanda pada waktu itu dikobarkan di Minangkabau/Sumatera Barat pada umumnya dan tentu juga di Silungkang dan sekitarnya khususnya.

 

Jika SR Silungkang dan sekitarnya akan melanjutkan juga perang melawan Beladan, maka SR Pusat dari wilayah di luar Silungkang dan sekitarnya menyatakan diri tidak terikat.

 

Baik secara organisasi atau secara perorangan pemberontakan yang akan dilakukan oleh SR Silungkang dan sekitarnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab SR Silungkang dan sekitarnya.

 

Jadi jelas di sini bahwa Silungkang dan wilayah sekitarnya melakukan perang tahun 1927 murni atas kemauan sendiri tanpa ada campur tangan dari luar. Semua adalah tanggung jawab rakyat dan para pimpinannya.

 

 

Secara Material

Sejak semula perang Rakyat Silungkang 1927 segala biayanya diusahakan secara swadaya. Tidak ada bantuan diterima dari dalam negeri ataupun luar negeri. Baik dari induk organisasi di Sumatera Barat. Semua dana yang diterima berasal dari dalam wilayah Silungkang dan sekitarnya.

 

Semua sumbangan masyarakat Silungkang dan sekitarnya. Jadi ketika keputusan Koto Laweh disodorkan di Rapat SR Silungkang 21 Desember 1926 soal materi dan dana lainnya tidak mengubah rencana apa pun di bidang ini. Sekali lagi kita membuktikan sifat kemandirian dari Perang Rakyat Silungkang 1927 ini.

 

 

Secara Ideal

Ide untuk memberontak terhadap Belanda di Indonesia baru dimulai oleh PKI/SR pada tahun 1925, yaitu di Konferensi Prambanan dan kemudian ditularkan ke seluruh cabang-cabang PKI/SR di seluruh Indonesia. Tapi rakyat Minangkabau termasuk rakyat Silungkang dan sekitarnya telah lama memiliknya.

 

Ketika Belanda pertama kalinya menginjakkan kakinya di pantai Sumtera Barat/Minangkabau rakyat mulai pula memeranginya dan semangat ini secara berlanjut diwariskan dan pada tahun 1927 Rakyat Silungkang dan sekitarnya sebagai pewaris mencetuskan perang melawan Belanda.

 

Kini barulah dijawab pertanyaan :

 

 

Siapa Yang Menggerakkan Perang Ini ?

Dengan uraian yang panjang lebar terbukti baik secara moral, material dan ideal Perang Rakyat Silungkang 1927 secara murni digerakkan oleh Rakyat Silungkang dan sekitarnya, tanpa bantuan dari pihak manapun. Jadi tidak ada hak atau apapun pihak manapun yang juga bisa mengklaim bahwa mereka turut berperan dalam perang itu. Tidak juga PKI, seperti yang tertulis di buku halaman 54 yang diterbitkan Kementerian Penerangan, juga tidak Demang Rusad.

 

Jadi tidaklah pula Rakyat Silungkang harus malu dan takut untuk mengenang peristiwa itu, karena Perang Rakyat Silungkang 1927 “tidak ada kaitannya” sama sekali dengan PKI.

 

Berbanggalah Rakyat Silungkang hendaknya. Negarapun mengakui kepahlawanan pejuang-pejuang tahun 1927 ini.

 

 

Apa Sebab Terjadi Peperangan Ini ?

Sumatera Barat sebelum masuk menjadi jajahan Belanda adalah sebuah kerajaan demokratis dan berdaulat penuh. Silungkang sebagai salah satu nagari dalam wilayahnya, termasuk dalam tatanan kerajaan itu dan menyandang gelar Gajah Tongga Koto Piliang dan gelar itu tidak diberikan kepada perseorangan, tetapi desa itu dan seluruh penduduknya dan ini memberikan rasa kebanggaan yang besar bagi seluruh penduduknya.

 

Ketika penjajah menginjakkan kakinya di pasir pantai Kerajaan Minangkabau, perlawanan terhadap Belanda ini pun dimulai pula. Perlawanan ini berlangsung terus menerus dan dari generasi yang satu diwariskan kepada generasi berikutnya dan juga kepada rakyat Silungkang dan sekitarnya.

 

Penjajahan Belanda dengan segala daya mengikis habis segala perlawanan rakyat Minangkabau ini dan celakalah siterjajah karena setiap kekalahan memukul juga mental mereka dan semakin lama mereka semakin kerdil dan penakut. Tapi disetiap ujung paling akhir dari ketakutan berdirilah di situ keberanian dan kerelaan ditindas pada ujung terakhirnya ialah perlawanan.

 

Begitu juga terjadi di Silungkang, ketika penderitaan dan penghinaan terasa tak tertanggungkan lagi dan didorong oleh para cendekiawan dan alim ulama, meletuslah perlawanan itu. Meletus bagai gunung berapi dan siapapun tak sanggup lagi menghalanginya.

 

Pada tanggal 1 Januari 1927 berangkatlah putra-putra terbaik Silungkang dan sekitarnya ke medan perang mengusir penjajah Belanda. Jadi dalam Perang Rakyat Silungkang 1927 ini yang bicara ialah kesadaran sebagai manusia dan bangsa serta hak untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa yang pernah besar, berjaya dan merdeka.

 

 

Apa Tujuan Yang Akan Dicapai Dengan Perang Ini ?

Akan disitir dialog “dua orang” anak Indonesia dari Minangkabau.25) Kedua anak Indonesia posisi dan kepentingannya berbeda. Yang satu sebagai pejuang melawan penjajah Belanda. Yang lain berdiri dengan pakaian dan tanda-tanda kebesarannya seorang kaki tangan Belanda yang setia.

 

Yang kedua ini penuh kelicikan, kejam dan sanggup mengorbankan bangsanya demi kenikmatan pribadinya. Manusia yang sempat menikmati hasil kemerdekaan walaupun di tahun 1927 penindas pejuang kemerdekaan. Ia menyandang gelar terhormat : Datuk Perpatih Baringek. Jabatan terakhir Pembantu Gubernur Sumatera di Medan mulai 14 Maret 1946.26) Orang itu ialah Rusad yang pada tahun 1928 itu baru berpangkat Mantri Polisi dan bertugas di Sawahlunto.

 

Dihadapannya dalam pakaian terpidana dengan hukuman 28 tahun bersama dengan kawan-kawannya. Pejuang yang diakui oleh seluruh rakyat Indonesia dan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pejuang Perintis Kemerdekaan. Dialah Pejuang Tua Sulaiman Labay yang sampai akhir hidupnya di penjara Ambarawa tanggal 14 Agustus 1945, tak pernah mau mengkompromikan cita-cita kepada penjajah manapun juga, baik Belanda maupun Jepang. Tempat peristiwa dialog : pelataran Kantor Penjara Sawahlunto, tanggal tak jelas, bulan Maret 1928, jam 17.00.

 

Mantri Polisi Rusad berujar lebih dulu tentunya dalam bahasa daerah Minangkabau, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berarti sebagai berikut :

“Kamu semua telah merasakan tanganku. Tentu kamu menaruh dendam kepadaku. Tapi jangan harap kamu semua dapat membalas dendam itu. Sekalipun kini ada Sukarno mengikuti jejak kalian yang hendak merdeka dan hendak menjadi raja. Besok pagi kalian semuanya berangkat untuk jadi raja dan rakyat di hotel prodeo di tanah Jawa.”27)

 

Ketika kepada para pejuang diberikan kesempatan untuk menyambut ejekan ini, majulah Sulaiman Labay si Pejuang Tua. Diucapkannya terima kasih atas ejekan itu dan baru dinyatakannya apa yang ada di dasar hatinya yang paling dalam :

“Tidak ada dendam kami terhadap pegawai dan amtenar bahkan terhadap Belanda pribadi, kami hanya dendam terhadap penjajah Belanda.”

 

Jadi, kalau kita mau menjawab “Apa tujuan yang hendak dicapai dengan perang ini?”, kiranya cukup kompeten jawaban yang diberikan Pejuang Tua itu, yaitu mengusir penjajah dan merdeka bagi Minangkabau khususnya Indonesia umumnya.

 

Sebagai penutup kami kutipkan di sini sajak Chairil Anwar dengan judul “Kerawang Bekasi”, tidak seluruh, tapi cukup sebagian saja yang sangat mengena dalam mengenang peristiwa 1 Januari 1927.

 

Kami yang kini terbaring antara Kerawang Bekasi

Tidak bisa teriak merdeka dan angkat senjata lagi

 

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

 

terbayang kami maju dan berdegap hati

 

 

Kami sudah beri kami punyai jiwa

 

Kerja belum selesai, belum bisa memberi

 

arti 4-5 ribu jiwa

 

 

Kami hanya tulang-tulang berserakan

 

Tapi adalah kepunyaanmu

 

Kaulah lagi yang tentukan nilai-nilai tulang berserakan

 

Kami tidak lagi bisa berkata

 

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

 

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kenang-kenanglah kami

 

Teruskan teruskanlah perjuangan kami

 

Kenang-kenangkanlah kami

 

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

 

Beribu kami yang terbaring antara Kerawang – Bekasi

***

 

Jadi tidaklah perlu Rakyat Silungkang dan sekitarnya malu mengenang peristiwa keruh 1 Januari 1927. Yang memang murni digerakkan oleh rakyatnya. Tanpa dipengaruhi oleh siapapun atau aliran yang kini paling tidak disukai di Indonesia yang punya Asas Pancasila.

 

Walaupun secara lokal Perang Rakyat Silungkang 1 Januari 1927 gagal tetapi di tingkat nasional tidaklah demikian. Dia adalah salah satu mata rantai perjuangan Indonesia serta seluruh rakyatnya dalam mencapai kemerdekaannya.

 

 

LAMPIRAN CATATAN KAKI

1, 14, 15, 21, 22, 23, 24, 27

Lihat A. Muluk Nasution; Pemberontakan Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926 – 1927; Terbitan Mutiara; Halaman 112, 47, 47, 91, 95, 137 dan 138, 137 – 138.

 

 

DAFTAR SINGKATAN-SINGKATAN

  1. PRS : Perang Rakyat Silungkang

  2. RS : Rakyat Silungkang

  3. SI : Serikat Islam

  4. PB : Pengurus Besar

  5. ISDV : Indische Social Democratische Vereniging

  6. PKI : Partai Komunis Indonesia

  7. SR : Sarekat Dagang Islam

  8. SDI : Hari dimulainya perang

 

 

DAFTAR BUKU BACAAN

  1. Sejarah Nasional Indonesia jilid V, Edisi IV tahun 1984; Karangan Marwati Juned Pusponegoro dan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, cetakan Balai Pustaka.

  2. Brosur terbitan Jawatan Penerangan Sumatera Tengah.

  3. Saham H.O.S Tjokroaminoto Dalam Kebangunan Islam dan Nasionalisme; Karangan Drs. Masjhur Amin; Penerbit Nur Cahaya, cetakan ke II tahun 1983.

  4. Rangkaian Peristiwa Pemberontakan Komunis di Indonesia 1926 – 1948 – 1965. Terbitan Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan (LSIK) cetakan II tahun 1988.

  5. Pemberontakan Rakyat Silungkang Sumatera Barat 1926 – 1927; Penerbit Mutiara tahun 1985. Karangan A.M Nasution.

  6. Pergerakan Rakyat Silungkang Dalam Pergerakan Kemerdekaan Republik Indonesia; disusun oleh H. Kamaruzaman Cs. 1984 (belum diterbitkan).

    A. Fatah Sutan Malano lahir di Silungkang, berbako ke Panay Talawo. Waktu menjelang remaja, beliau ini sangat rajin. Karena beliau berjualan keliling kampung, maka nama beliau dikenal semua orang. Dijaman beliau jaya beliau terkenal sangat dermawan. Kalau kita bertanya bagaimana beliau menjadi kaya, tentu ada yang menjawab karena beliau rajin dan hemat, bahwa beliau telah kita mendapatkan cerita dari family terdekat beliau, bahwa beliau bercerita kepada anak-anak dan kemenakan beliau tentang asal kekayaannya adalah dari LUWI JO BONA. Ceritanya begini :

    Di tahun dua puluhan beliau ini berbelok ke Singapura, dan beliau sering membelikan emas untuk orang Guguek Bukit Tinggi. Karena orang Guguek lah yang banyak Toko Emas/Pandai Emas. Karena beliau lain lancar perjalanan dagangnya ke Singapura, maka ada seorang Guguek yang sangat percaya kepada beliau. Sehingga sebagian besar uang yang dibawa untuk membeli emas ke Singapura, adalah uang orang Guguek ini.

    Pada saat meletusnya pemberontakan di Silungkang tahun 1927, beliau baru kembali dari Singapura. Beliau belum sempat mengantarkan emas yang dibelinya ke Bukit Tinggi. Karena boleh dikatakan semua laki-laki Silungkang ditangkap/ditahan, maka beliau juga termasuk yang ditahan. Menurut cerita beliau tidak lama ditahan. Begitu beliau lepas dari tahanan, beliau teringat akan emas yang belum sempat diantarnya ke Bukit Tinggi. Maka beliau segera mengantar emas itu ke Bukit Tinggi. Menurut cerita beliau, emas itu banyaknya satu belek. Beliau tidak menceritakan tentang besar beleknya.

    Karena di Silungkang telah terjadi kekacauan, maka orang Guguek telah menganggap habis uangnya yang ada pada A. Fatah. Maka ketika A. Fatah sampai di Bukit Tinggi dengan membawa emas 1 belek, orang Guguek itu kaget. Dan dikatakannya langsung, “saya telah mengira barang ini sudah habis. Ternyata kau mengantarkannya, oleh sebab itu ambillah seperdua bagian untuk mu”. Dari itulah modal pertama beliau berdagang di Padang.

    Menurut cerita orangtua kita dulu, A. Fatah ini kaya karena kain tenun Silungkang. Cerita ini tidak sempat beredar, karena cerita yang pertama sangat menarik untuk dijadikan ajaran bagi anak kemenakan, yaitu pegangan hidup adalah LUWI JO BONA.

    Cerita yang kedua ini menyangkut kain Silungkang. Maka oleh karena itulah A, Fatah ini tidak habis-habisnya sosialnya ke Silungkang. Sebagian dari kita masih dapat melihat (merasakan) kesosialan beliau. Umpamanya rumah beliau yang di P. Godang Padang, terbuka untuk semua orang Silungkang (untuk bermalam). Kira-kira tahun 1902-1904 kain Silungkang ini telah sampai ke Jawa, dan bertambah pesat lagi setelah orang Silungkang dan kainnya dibawa oleh Belanda ke Belgia, untuk mengikuti Pekan Raya Internasional. Orang Silungkang tersebut mendapat medali dari Raja Belgia (1910), karena kain Silungkang ini sangat laku di pasaran Eropa.

    Maka orang Silungkang memohon kepada P. Belanda supaya di Silungkang didirikan pos, untuk bisa berdagang dengan rembus dosa. Tahun 1918 permintaan ini dikabulkan oleh Belanda, semenjak itu lancarlah penghidupan di Silungkang dengan bermacam-macam dagangan, dan pengiriman kain songket ini sangat lancar ke Jawa. Sekitar tahun 1925-1927 seakan-akan terhenti kelancaran perdagangan kain ini oleh karena Silungkang berontak kepada Belanda. Kira-kira tahun 1928 A. Fatah membeli kain Silungkang, katanya dia akan ke Jawa setelah uang yang dia sediakan untuk membeli kain, habis, maka oleh orang Silungkang, karena si Fatah yang akan ke Jawa, maka orang pada mengirim dengan catatan biarlah kami terima uang nanti setelah kembali dari Jawa maka oleh sebab itu banyaklah kain Silungkang yang bisa terbawa oleh A. Fatah ke Jawa ini. Dan pada hari keberangkatan, berangkatlah A. Fatah dengan kain yang banyak dan sampaikan dengan selamat A. Fatah dengan dagangnya ke Betawi.

    Beberapa hari A. Fatah sampai di Betawi ada Pekan Raya Internasional maka disinilah kita dapat melihat kecepatan A. Fatah berfikir. Beliau yakin yang berbelanja pada pekan Raya Internasional ini adalah orang-orang dari Eropa (kulit putih) maka harga kain langsung dia lipat gandakan sehingga setelah selesai Pekan Raya Internasional ini A. Fatah memperoleh uang + 80 ribu Golden dan setelah beliau sampai di kampung langsung sangkut paut beliau selesaikan, dan beliau pergi ke Padang mencari tanah sekitar Ps. Godang dan langsung beliau beli dan beliau temui toko-toko Belanda seperti BOROSMY – GWERY – INTRNASIO – JACOBSON dll.

    Maka tercatatlah beliau sebagai pedagang di Padang sampai akhir hayatnya.

    SALINAN DARI SALINAN

    Sjech M. Saleh bin Abdullah, meninggal dunia pada hari Sabtu, waktu Ashar tanggal 29 Zulhijjah 1288.

     

    KETERANGAN SURAU GADANG DAN TANAHNYA

    Membuat surau itu (Surau gadang Silungkang) adalah engku Sjech M. Saleh bin Abdullah dengan pertolongan tonggak dan pekayuan sebagian besar dari Pianggu dan Tarung-Tarung, ada juga masuk sedikit 2, Indudur dan lainnya, tukang yang bekerja semuanya dari Kubung 13 sampai dari bagian Alahan Panjang.

     

    Setelah surau itu sempurna sudah, beliau wakafkan Surau gadang itu kepada sembilan orang murid beliau yaitu :

    1. Sjech Moh. Taib engku Surau Lurah Silungkang (Tanah Sirah)

    2. Sjech Ahmad engku Surau Tandjung (Dalimo Tapanggang)

    3. Sjech Abduh Rachman anak beliau (engku Surau Bulek) (Dalimo Jao)

    4. Sjech Abdullah engku Surau gadang (Tanah Sirah)

    5. Sjech Abdul Rachman engku Talawi (engku Hasan Djamin)

    6. Sjech Abdullah engku Lunto

    7. Sjech Aboe Bakar engku Surau Palo

    8. Sjech Abdullah engku Surau Ambacang Koto Anau

    9. Sjech Muhammad Sjech Koto Baru Palangki

     

    Inilah yang terima wakaf Surau Gadang itu dari pada Sjech Muhammad Saleh tersebut (ini tersebut dalam segel yang tersimpan di engku Surau Tanjung) juga tersebut dalam segel itu yaitu untuk menjaga dan untuk mengamat-amat serta melaksanakannya diberatkan beliau kepada anak beliau sampai turun temurun menurut shari’at agama tidak boleh anak cucu beliau melalaikannya.

     

    Untuk urusan memperbaikinya disanggupi oleh ninik mamak dalam suku Dalimo, dan orang cerdik pandai masa itu, mengaku ninik mamak akan menyampaikan kepada anak cucu semuanya (ini keterangan segel) :

     

    Pada tahun 1897 waktu akan mengganti atap ijuk dengan seng, pada waktu itu Suku Dalimo tidak sanggup menggantinya, dirapatkan negeri, ninik mamak dan orang 4 jenis serta cerdik pandai dalam negeri untuk membicarakan hal itu, sepakat orang suku Dalimo menyerahkan untuk memperbaiki mengusahakan memperbaikinya mana-mana yang rusak mulai hari itu sampai seterusnya kepada negeri (kerapatan negeri Silungkang, maka kerapatan negeri sepakat pula menerimanya itu (menerima penyerahan itu).

     

    Kemudian dibicarakanlah siapa yang akan dikepalakan mengurusnya. Dapat kata sepakat untuk mengepalainya kepada 3 orang yaitu :

    1. Sjech Mohammad Taib engku Surau Lurah

    2. Sjech Abdul Rachman engku Surau Bulek

    3. Sjech engku Surau Tandjung, sampai mati yang bertiga itu terus mengurus surau Gadang itu, tersebut dalam negeri, tanah surau Bulek dan tabuh tidak wakaf.

     

    Tabuh, wakaf orang Pianggu dan Tarung-Tarung kepada beliau. Beliau tidak boleh mewakafkan pula. Tanah wakaf nik Itam Dalimo Kasik kepada beliau, tidak pula dapat beliau mewakafkannya, Surau Lakuk beliau buat dengan sedekah nik Itam kepada beliau dan setelah sudah Surau Lakuk itu, beliau wakafkan pula kepada nik Itam itu. Surau Tanjung beliau buat dengan uang sedekah Penghulu Patopang Dt. Rangkajo Nan Gadang. Tanah Surau Tanjung itu beliau beli dengan orang Dalimo Kasik Rp. 250,-

     

    Pada masa hidup orang juga sembilan orang itu ada beliau itu rapat di Surau Bulek semuanya. Berkato engku Sjech Talawi “Kita semua yang terima wakaf ini banyak yang tidak tinggal disini, bagaimana hendaknya Surau Gadang ini urusan oleh kita yang terima wakaf”. Jawab engku surau Gadang “Kita serahkan saja kepada yang tinggal disini yaitu engku Surah Lurah, engku Surau Bulek dan engku Surau Tanjung. Kemudian diterima oleh yang bertiga itu.

     

    Sesudah mati orang itu semuanya, diurus oleh H. Abdullah anak engku Surau Bulek dan sudah mati Haji Abdullah digantikan oleh M. Salim Dt. Sinaro Chatib anak engku Surau Bulek juga (sajo sendiri).

     

    Inilah yang dapat saya tuliskan dengan benar.

    (dto) M. Salim Dt. Sinaro Chatib

     

    Disalin dari Salinannya

    oleh :

    (Buyung Sutan Sinaro)
    8-5-1963

     

    Silungkang, 05 September 1994,

    Disalin dari salinannya oleh :

    d.t.o

    DASRIL BAKRI

     

    Depok, 30 April 2007

    Disalin dari salinannya oleh :

    d.t.o

    H. MUNIR TAHER

    « Halaman Sebelumnya

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.