PKS


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Membaca tabloid Koba Silungkang edisi April 2003 dalam tulisan “Seputar Kota Kita” mengkritisi sikap PKS Jakarta soal “Balon” Wako dan Wawako saat itu, Who Wants To Be The Mayor Part 2.

Kami teringat pengalaman Alm. Sdr. Syafar Habib yang diceritakannya pada kami 3 bulan sebelum dia meninggal dunia. Sebelum dia menceritakan pengalamannya itu, dia minta kepada kami agar kami berfikir secara filosofis, sebagai berikut :

Dalam pertemuan ‘acara Minang’ dia duduk; di sebelah kanannya Bapak Emil Salim dan di sebelah kirinya Bapak Menteri Abdul Latif. Bapak Emil Salim berkata kepada Sdr. Syafar Habib : Engku Syafar, saya bangga dengan perantau Silungkang, di mana-mana orang Silungkang jarang yang menjadi pegawai negeri, kebanyakan menjadi pedagang. Tetapi setelah saya menjadi menteri saya perhatikan tidak ada orang Silungkang menjadi pengusaha menengah ke atas.

Mendengar ucapan kedua tokoh Minang itu Sdr. Syafar Habib hanya terdiam, tetapi dalam hatinya berkata : apakah baju putih yang sedang saya pakai ini sama warna putihnya dengan pakaian dalam ?

Mendengar pengalaman Sdr. Syafar Habib ini kami juga merenung dan terpikir bagaimanakah orang Silungkang di abad 21 ini.

Menjelang Sdr. Zuhairi Muhammad Panai Empat Rumah meninggal dunia, kami sekali dalam tiga bulan sengaja datang ke rumahnya di Komplek Perindustrian di Jalan Perdatam Pancoran, rasanya kalau kita berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan mamaknya Alm. Pakiah Akuk. Dia mengatakan pendapatnya kepada kami, bahwa orang Silungkang bukan orang aktif tetapi reaktif. Semula kami tidak sependapat dengannya, tetapi setelah kami renungi kami sependapat pula dengannya.

Tahun 80-an kami pernah membaca buku karangan Mr. Muhammad Rasyid berjudul ‘Sejarah Perjuangan Minangkabau’ sebelum peristiwa PRRI beliau menjadi duta besar RI di Perancis merangkap di Italia, di halaman 45 kami membaca waktu pemberontakan rakyat Silungkang tahun 1927. Penjajah Belanda sangat kejam, tentara Belanda memperkosa gadis-gadis Silungkang.

Begitu tersinggungnya kami, buku itu tidak tamat dibaca tetapi diserahkan kepada PKS di Bendungan Hilir, karena waktu itu PKS masih menumpang di kantor Koperasi Kemauan bersama di Bendungan Hilir (Bendhill). Kenapa buku itu diserahkan karena menurut Mr. Muhammad Rasyid kalau isi buku ini tidak sesuai dengan kenyataannya (buku ini jilid pertama) bisa diralat pada jilid kedua nanti.

Akhirnya buku itu dikembalikan kepada kami setelah buku tersebut berubah warna, mungkin waktu itu tidak ada reaksi dari PKS, entahlah !

Waktu kami mendapat musibah, kami mendatangi Buya Duski Samad , untuk minta nasihat, kepada beliau kami curahkan musibah yang kami terima, jawab beliau singkat: tetapi kita harus berfikir, kata beliau : jika sekarang saya mempunyai uang 100 juta rupiah, uang itu akan habis dalam seminggu, kami bertanya : kenapa begitu Buya ? jawab beliau, saya bukan pedagang. Kami renungkan jawaban beliau itu, kemudian kami menjawab sendiri; “Kerjakanlah apa yang ada ilmunya pada kita”, betul kata beliau. Kemudian beliau bertanya murid-murid beliau dulu yang berasal dari Silungkang, a.l., Yakub Sulaiman (Pakiah Akuk) dan Abdullah Usman (Guru Dullah Sw. Jawai) beliau bangga dengan murid-murid beliau itu.

Lelah bersaing menjadikan takut bersaing
Di zaman Gajah Tongga Koto Piliang Dulu, kemungkinan besar orang Silungkang pintar dan cerdas, tetapi sayang kenapa orang Silungkang mendiami lungkang sempit, hampir tidak ada tanah yang subur untuk ditanami padi, tidak seperti belahan kita di Padang Sibusuk dan Allah mentakdirkan kita orang Silungkang menjadi pedagang.

Pedagang itu sarat dengan persaingan, bisa terjadi persaingan itu antara saudara sesuku, sekampung, sepupu, bahkan antara saudara sendiri clan yang paling riskan terjadi antara Pembayan dengan Pembayan yang sama-sama mendiami rumah panjang (rumah adat).

Coba kita pikirkan Silungkang itu seperti kotak korek api dibandingkan Indonesia yang luas ini.

Menurut perkiraan kami sebelum Jepang menjajah Indonesia, 50% perempuan Silungkang yang sudah bersuami dimadu suaminya, mungkin juga lebih.
Kenapa bisa seperti itu ? Mana mungkin perempuan Silungkang bisa menikah dengan orang luar Silungkang, karena adat melarangnya, terpaksa atau tidak perempuan-perempuan Silungkang harus bersedia menjadi isteri kedua atau menikah dengan duda yang jauh lebih tua umurnya.

Madu itu obat, tetapi bagi perempuan yang di’madu’ menyakitkan hati, bersaing memperebutkan kasih sayang sang suami, anak-anak yang . ibunya dimadu, pun merasa dimadu pula dengan ibu-tiri, saudara tirinya. Persaingan itu menimbulkan kecemburuan, kecemasan, dengki, irihati clan was-was, penyakit itu bisa,, berketurunan.

Menurut Prof. Zakiah Deradjat dalam buku “Menghadapi Liku-Liku Hidup”, beliau menulis dari segi kejiwaan, perkembangan dan pertumbuhan anak, anak dalam kandungan telah menerima pengaruh-pengaruh yang berarti baginya. Suasana emosi dan tolak pikir ibu yang sedang mengandung mempunyai kesan tersendiri bagi janin dalam kandungan.

Jadi orang Silungkang mendiami lungkang yang sempit, persaingan hidup yang tidak sehat, sangat mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi apa yang dikatakan Bapak Emil Salim di atas, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Silungkang, jika dilihat dari luar semuanya baik. Coba kita perhatikan semenjak dahulu organisasi apapun yang dibentuk, dan bangunan apapun yang didirikan hampir semua meninggalkan kesan-kesan yang kurang baik.

Kemudian apa yang dikatakan Bapak Menteri Abdul Latif di atas, mungkin juga akibat “Lima Penyakit Di atas”. Seterusnya pendapat Sdr. Zuhairi Muhammad (Alm), kita orang Silungkang bukan aktif tetapi reaktif, kemungkinan ini juga diakibatkan oleh orang kita (SLN) tidak bisa bersaing khususnya dengan orang di luar Silungkang, bisanya hanya bersaing dengan orang sekampung sendiri.

Yang menang membusungkan dada dan yang kalah bak perempuan tua memakan sirih, daun sirih habis, tinggal tembakaunya yang masih dikunyah-kunyah.

Orang-orang Silungkang Diabad 21
(Silungkang People Must Be Brave To Up Side Hand Down)

Mengkritisi PKS., maaf … tentu maksudnya ketua PKS, kalau kita perhatikan latar belakang ketua PKS ini, lahir di Silungkang, kecil dibawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, SD, SMP dan SMU di Medan, kuliah di Jakarta. Bekerja dan berusaha, bukan dalam lingkungan Silungkang. Bidang usahapun berlainan dengan kebiasaan orang-orang Silungkang, bergaul selama sekolah di Medan dengan komunitas “Batak” tapi tidak kelihatan pengharuh “Batak”-nya, dia supel, demokrat dan moderat. Menurut kami PKS belum pernah mempunyai ketua yang seperti ini.

Banyaknya balon (lebih dari satu) Wako – Wawako, orang belum tentu menilai kita tidak bersatu, bukan Bapak Emil Salim saja yang menilai kita bersatu, banyak yang lain.

Kita bisa belajar dari cara pemerintahan kita di zaman Soeharto, yang memproteksi pengusha-pengusaha nasional, waktu datang krisis karena globalisasi, pengusaha-pengusaha nasional tidak bisa bersaing, oknum pemerintah korup dan pengusaha menyuap, akhirnya semuanya berantakan, jangan hendaknya Silungkang ini seperti Indonesia kita sekarang.

Jangan pula kita hanya terkesan dengan kata-kata keputusasaan Eva Peron dalam sebuah lagu “Don’t Cry For My Argentina”.

Sampai sekarang lagu itu masih dipopulerkan Madonna, kita tak pernah kenal dengan siapa Eva Peron dan Madonna itu ? Coba kita berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana nama beliau kita sebut-sebut setidak-tidaknya 29 x sehari dalam shalat 5 waktu dan lagi beliau itu ada tertulis dalam AI-Qur’an. Mengapa beliau sampai menangis waktu akan meninggal dunia dan berkata : ummati, ummati, ummati, begitu perhatian Nabi Muhammad SAW pada umatnya. Putus asa apa hukumnya ? Haram.

Buletin Silungkang jangan hanya terbit untuk kepentingan sesaat tetapi berlanjut untuk kepentingan orang Silungkang yang dirantau dan yang di kampung dengan harga yang bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, semoga …

Sekarang ilmuan Silungkang sudah banyak di Jakarta dan di kota-kota lainnya, bahkan di mancanegara. Dalam berbagai disiplin ilmu, mintalah kepada mereka sumbangan pikiran untuk ditulis dalam buletin Silungkang. Tentu, dengan tulisan dan kata-kata yang menyejukan dan juga artikel-artikel (rubrik) yang dibutuhkan oleh pelajar, mahasiswa Silungkang dan ditulis pula pengalaman-pengalaman orang Silungkang yang bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.

Apalagi ada ruangan agama terutama di bidang zakat, penulisannya itu ‘bak azan bilal’ sahabat Nabi Muhammad, yang suaranya itu menghimbau orang segera sholat.

Bisa jadi buletin Silungkang itu kelak bak harian Republika yang mempunyai dompet dhuafa untuk orang Silungkang yang berkekurangan dan mengajak orang Silungkang untuk berdoa dan menangis serta berbut, beramal untuk kemaslahatan kampung kita, jauh dari berkorban karena ada sesuatu di belakangnya. Amin ya robbal ‘alamin.

Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

“Mucho Gracias Amigo – Arigato Gozaimatsu Tomodachi”

Esemmes

Tembusan dikirim kepada Yth.
1. Tabloid KOBA
2. Koordinator LAZ / PKS
3. PT. Estetika (Percetakan)
4. Sdr. Fadil Abidin (Pengajian PKS)

Karena adanya PILKADA Tangerang yang jatuh pada tanggal 26 Oktober 2008, maka dengan ini Halal bi Halal PKS diundur menjadi tanggal 9 November 2008 pada waktu dan tempat yang sama.

Agar maklum adanya

Pada tanggal 7 September 2008, Suku Supanjang telah mengadakan Buka Puasa Bersama. Sebelum itu, diadakan Pengukuhan Penghulu Panukek Suku Supanjang yang dipegang oleh Irland. Foto-foto buka puasa bersama bisa dilihat di sini.

Pada tanggal  14 September 2008, seluruh dunsanak Silungkang yang berada di Jakarta buka puasa bersama. Sebagai penyelenggara adalah PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta. Foto-foto buka puasa bersama bisa dilihat di sini atau di sini.

Tanggal 21 September 2008, giliran suku-suku dalam lingkup PATAS.

Terima kasih atas konstribusi foto dari Pak Azhari Boerhan dan Ananda Maradona Dias.

peta pulang basamo

Sumber : Zulfikar Chaniago

Sejujurnya Dewan Redaksi dari Koba PKS sangat menyadari konsekwensi dari judul tersebut di atas, dan kami telah siap menerima segala protes yang akan dilayang kepada kami. Disadari atau tidak – bagi yang terbiasa tentu tak ada masalah – namun bagi yang belum terbiasa dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk acara seperti ini, tentu akan membuat jantung berdetak keras, tangan berkeringat dingin dan muuka jadi pucek dadai, kalau mau sedikit kehilangan muka, cara lain yang biasa dipakai adalah manyolang mamak kakampuang dalam andiko (meminjam paman ke kampung), celakanya kalau dalam keandikoan itu, juga tidak ada yang sanggup melaksanakannya maka taposolah (terpaksalah) bamamak kamamak urang (berpaman ke paman) lain. Berabe, kan ..!

Inilah tips dari Redaksi Koba PKS, pelajarilah dan nikmatilah.

KATA PEMBUKA SEBELUM MAKAN.

Datuk kampuang Pihak Laki-laki :
“Bismillahirrohmanrrohim. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Partamo-tamo, marilah kita panjekkan puja sarato puji kapado Tuhan seluruh Alam, semoga kebahagiaan dan keselamatan tercurah bagi arwah junjungan kito Nabi Besar Muhammad SAW. Kamudian dari pado itu marilah kito mengucek syukur kapado Allah SWT, nan ateh izin Baliau juo pa tomuan ko dapek dilansuangkan. Mana Baliau nan bagolai ……”.

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Iyo, ambo !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Agiah mo’o ambo la banyobuik golai, datuak ….”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sapanjang biaso, tu ma !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Kami silang nan bapangka karojo nan bapokok, karakok nan banjunjuang mangucapkan tarimo kasi ateh kadatangan datuak …. saroto jo rombongan. Agia mo’o kami jiko manduduakan datuak …. jo rombongan indak pado tompeknyo.

Bak pituah rang tuo kitomah datuak …, batanyo salope orak, mardeso jo powuik konyang. Baapo tuh tantang hidangan nan la talatak dihadapan kito nan basamo, iyo nak mintak disalamekkan. Kok jauah mintak dijangakau, nan dokok mintak dicotok. Sakian somba dari Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“La sampai dek datuak …… da!”

Datuak Kampuang Pihak Laki-laki :
“La, babilang sampai nu …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Apolah kato nan talimpah kabakeh Ambo, indak kaambo ulang kilin. Indak kaambo tikam jojak. Diulang kilin kok lope, ditikam jojak kok sopuak, diulang kato kok ditimbang. Baapo kok kini, iyolah bak pituah rang kito juo, lomak lawuak dek bakunyah. Lomak kato dilega bunyi. Kami dek lai baduo, batigo disiko, nak ambo ambiak dulu kato baiyo. Mananti datuak …. sakatiko”

Datuk Kampuang PIhak Laki-laki :
“La sapanjang nan biasto tuh, ma …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
Baiyo jo rombongan.
“Anu … iko la tibo imbauan dari silang nan bapangka, karojo nan bapokok ma …, tontang hidangan nan la talatak, nak minta disalamek an. Baapo dek kito.

Dijawab oleh salah seorang anggota rombongan :
“Kok iyo la disorahkan, yo batarimo sajo dek kito. Indak ado do’a panulak rasoki, do … !”

Setelah selesai bermufakat, maka ketua rombongan menyambung kembali pembicaraan. “Mano baliau datuak ….. tako ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Talambek talamo ambo mamulangkan kato ka datuak, dek jalanlah banyak nan bakelok, pamatang lah banyak nan baliku. Lah bulek aie dek pambuluah, lah bulek kato dek mupokek. Kalau iyo lah diagiah dek sipangka, sapanjang adek kami tarimo basamo-samo. Mulailah dek sipangka nak kami tutuah dari ujuang.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Nan kami kondak i bona tu, ma … Dibukak tuduang lai. Bismillahirrohmanirrohim …”

SASUDAH MAKAN.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mano baliau nan bagolai datuak …?”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Baulang-ulang ambo maimbau datuak, ma …!”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sanpanjang nan biaso tu, mah …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Olun duduak la maju ma, tuak. Nampak-nampaknyo sabolun golek tibo, bone-bone bak ata, iyolah kabaguliang-guliang toruih juo inyo”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Manitahlah datuak … !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Tontangan partomuan kito, iyolah malanjuik an etongan induak-induak nan lah disapokek i, nan kini la sampai ka awak. Kabaapo kok dek awak kini …?”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“La sampai dek datuak …”
Apolah kato nan bapulangkan dek datuak …, kapado ambo, iyolah kato nan sabona kato, tapi samantang baitu, Adek limbago barapek, adek pusako duduak basamo – duduak sorang basompik-sompik, duduak basamo balapang – lapang. Kok ambo ambiak kato baiyo, ambo bawo kato mupokek, lai kok didalam adek kami datuak … ?

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Lai dalam adek bona tu datuak …!

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Kok, iyo lai didalam adek … mananti datuak sakatiko”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Biasotu, ma … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
Berunding dengan para Tungganai, lalu …
“Mano baliau, datuak … tako ?”

Datuk Kampuangn Pihak Laki-laki :
“iyo, ambo … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Adopun makosuk patomuan ko, iyolah : Nak mampatomua rueh jo buku antaro anak kamanakan kami nan banamo … anak dari ….. babako ka ….. nan kapatomuan jo kamanakan datuak ……. nan banamo ………. anak dari ……… babako ka ……..

Gayuang iyo nak minta disambuik, kato iyo nan minta dijawek ma, tuak … !”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Nampaknya lah sajalan, sapangona kito mah. Kami iyo nak mananyoan, datuak iyo nak mangatokan pulo.”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Sabarih lai datuak, tontang nike jo nazar ko. Kok lai disetujui, kami la marancanokan ka manyalanggarokan pada hari …. batompek di ….. Pestanyo hari ……….. tanggal …………. di …………. jam ………

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mengulang jadual yang dikemukakan pihak wanita. Kok baitu, iyolah nak samo-samo kito pakorongkampuangkan”

MINTA DIBACAKAN DO’A

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Mano baliau nan bagolai datuak …. !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Ambo … ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Tontang karojo awak mampatomuan rueh jo buku diantaro kamanakan awak, olah salamek. Baapo kini lai, handaknyo kaduo kamanakan kito itu sajak kin saakua jo sakato sajo, samo-samo pandai manjago diri, sahinggo salamek sampai ka palaminan. Kamudian daripado itu, iyo nan dibacokan do’a jo Al Fathiha dek datuak …. Sakian sambah dari ambo.”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Apo kato nan talimpa ka bakeh ambo, iyolah tontang karojo awak mampatomuan rueh jo buku diantaro kamanakan awak, kan olah salamek. Kamudian dari pado itu, iyo nak dibacokan do’a jo Al Fathiha, dek datuak …. Kan baitu bona kato datuak …. Ndak ado lai, kok nan kamambacoan do’a, tontu basoraan Ongku Malin kito juo.

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Kok Ongku Malin nan ka mambacoan, iyo datuak …. nan kamampalalukannyo, mah … !”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Iyo, baapo to lai …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Meminta tolong ka Ongku Malin atau mambaco sendiri”

CONTOH DO’A PENDEK
“Alaa ha-dza niyyatin wa likulli niyyatin sholihah, Al Fathiha :
A’uzubillahiminasy syaitonir rojim.
Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillahir Robbil’alamin.
Was shoolatu was salaamu’ala sayyidina Muhammadin wa’ala aalihi ajma’in.

“Ya, Allah ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi dan mengasuh kami dari kecil hingga dewas dan ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang hidup dan yang telah tiada. Wahai Tuhan kami, karunialah kami dengan istri-istri kami dan anak-anak kami yang menyenangkan hati kami dan jadikanlah kami ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Wahai, Tuhan kami berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

MINTA IZIN PULANG

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Mano baliau datuak …… tako ?”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
“Ambo …”

Datuk Kampuang Pihak Wanita :
“Tantang karojo kito nan basamo, kok dipandang olah baiak muko, kok didonga olah elok bunyi. Nan diam olah pocah. Kok makosuk olah sampai. Kok makan olah konyang. Kok minum olah taraso sojuak. Kamudian la dimonton i jo do’a sarato Al Fathiha.

Baapo kini dek kami nan sabondong datang sairing samo tibo. Jikok duduak la taraso ponek, jikok togak la taraso poniang. Nan taniek didalam hati, nan tarogak dalam tabuah. Paham babosiak di nan batin, budi manuntuik ka elemu. Jikok duduak nan maurak selo, jikok togak nan maasak langkah. Nak pulang ka tompek masiang-masiang. Sekian ijin jo sombah kabakeh datuak …”

Datuk Kampuang Pihak Laki-laki :
Nan sapanjang kato dari datuak. Nan taserak ka marapek. Nan tatabua ka nan banyak. Nan talimpah ka bakeh ambo. Dek kami lai baduo jo batigo, saukua mako takanak, sasuai mangko manjadi. Nak nyo bulek aie ka pambuluah. Nak nyo bulek kato ka mupokek, ambo bao kato baiyo …. mananti datuak sakatiko (baiyo jo anggota si pangka).

Sumber : Buya Damra Ma’alin

Koba PS Jakarta, II/Des. 01

Sekembalinya dari shalat Tarawih, Pemred Suara Silungkang terlibat percakapan telepon dengan korespondesi/perwakilan Suara Silungkang di Surabaya Hj. Nino Hesni Amsir, nampaknya percakapan ini sangat penting dan hampir terlupakan, yaitu hubungan histories antara Silungkang dengan Padang Sibusuk, duo nagori badunsanak.

“Alangkah eloknya Suara Silungkang juga memuat berita kampung dan rantau dunsanak kito di Padang Sibusuk, di Surabaya ada seorang pengusaha Padang Sibusuk bernama Amrizal Zen, Dt. Rangkayo Mulia, beliau sangat tertarik setelah membaca Tabloid Suara Silungkang edisi Jolong-Jolong, Edisi Kedua dan Edisi Ketiga, beliau juga mengharapkan supaya Suara Silungkang menjadi alat untuk merekat rasa badunsanak Silungkang dan Padang Sibusuk dan juga memuat berita kampung dan rantau dari Padang Sibusuk, untuk itu beliau bersedia menjadi donatur Suara Silungkang”. Demikian Hj. Nino Hesni Amsir yang juga Pengurus PKS Surabaya menyampaikan kepada Pemred Suara Silungkang melalui percakapan telepon tersebut.

Besoknya langsung dimusyawarahkan hasil percakapan tersebut di Redaksi Suara Silungkang, terwujudlah kata sepakat untuk menemui Wali Nagari Padang Sibusuk yang baru saja terpilih dan dilantik ASRIL KARIM Mantari Alam. Wali Nagari beserta jajarannya menyambut baik gagasan ini bahkan Wali Nagari bersedia menunjuk Koresponden/Reporter/Perwakilan di Padang Sibusuk dan akan mengadakan duduk bersama sesudah hari raya Idul Fitri lalu dan akan mengundang Redaksi Suara Silungkang.

Kami dari Redaksi Suara Silungkang juga mengharapkan akan muncul Korespondensi/Reporter/Perwakilan Suara Silungkang dari perantau-perantau Padang Sibusuk dimana saja berada.

Alamat Redaksi :
Lantai Atas, Blok C, Pasar Inpres Silungkang, Kec. Silungkang, Kota Sawahlunto 27431
Telp. 0755 – 91353, Fax. 0755 – 91353
Email : suara_silungkang@yahoo.com

Alhamdulillah Rabbal ‘Alamin. Acara Silaturahmi (halal bi halal) warga Silungkang Jakarta telah berlangsung hari Minggu 11 Nopember 2007 di Gedung PKS (Persatuan Keluarga Silungkang.

Seperti yang sudah-sudah, tetap dibanjiri pengunjung. Tapikali ini terasa lain karena pengunjung berdatangan silih berganti (putus-berulas) sehingga setiap waktu sepanjang hari (antara jam 09.00 – 17.00) baik diluar maupun didalam ruangan selalu penuh oleh anggota masyarakat.

Selain itu acaranya sudah diatur sedemikian rupa oleh Panitia; ada acara anak-anak balita dengan berbagai permainan yang sangat riuh dan ramai, ada lelang kue, ada penampilan band IGMS, dan lain-lain. Keteraturan acara ini adalah berkat kerja keras Panitia yang terdiri dari puluhan generasi muda Silungkang (IGMS), dengan komandannya Joni Ref (ex Ketua IGMS) dan Thomas Alexander (Ketua IGMS).

Selamat dan Salut untuk panitia.

Para pedagangpun merasa puas karena dagangannya laku, dan banyak yang pulang ke rumah tanpa membawa barang sisa.

Terlampir beberapa photo pada waktu acara tersebut.

Sumber : Azhari Boerhan

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.