Pagaruyung


Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

  1. SAKO

Sako artinya warisan yang tidak bersifat benda seperti gelar pusako. sako juga berarti asal, atau tua, seperti dalam kalimat berikut.

Sawah banyak padi dek urang

Lai karambia sako pulo

(lebih…)

BAGIAN PERTAMA
BAGIAN KEDUA
BAGIAN KETIGA
BAGIAN KEEMPAT
BAGIAN KELIMA
BAGIAN KEENAM
BAGIAN KETUJUH

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

BAGIAN KEDELAPAN

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Dalam perjalanan menuju Malaysia tidak banyak percakapan yang terjadi karena suasana hati masih mengandung kesedihan, bayangan almarhum semasa hidup selalu menjelma diingatan dan suaranya masih terngiang ditelinga.

Biasanya disepanjang jalan kami selalu menikmati keindahan alam yang dilewati, tapi kali ini pemandangan yang indah itu berlalu begitu saja, cuacapun mendung, hujan tidak panaspun tidak. Tanpa terasa dikarenakan perasaan hampa, kami telah mendarat di pelabuhan Melaka. Di Melaka saya sengaja belum mencari kendaraan menuju Seri Menanti, saya bawa isteri dan anak saya jalan-jalan melihat objek wisata serta peninggalan sejarah, setelah puas barulah saya menuju ketempat perhentian taksi yang tak jauh dari pelabuhan. Kami naik taksi menuju Seri Menanti lewat Tampin, jadi kami tidak melalui Seremban karena jalannya jauh dan berbelit-belit. Jalan yang ditempuh Melaka – Tampin – Kuala Pilah – Seri Menanti jauh lebih pendek dari Melaka – Seremban – Kuala Pilah – Seri Menanti.

15 Maret 1999 kami kembali sampai di Seri Menanti, tetangga, teman sekerja dan orang-orang yang kami kenal ikut menyampaikan duka cita, karena kami sudah dianggap oleh mereka sebagai keluarga sendiri, karena kami juga apabila ada kemalangan disana kami menyempatkan diri hadir untuk takziah dan berdoa, asal kami tahu ada kemalangan di tetangga ata orang-orang yang kami kenal, kami tetap berusaha untuk datang, tak kira yang meninggal itu rakyat biasa atau kerabat raja.

Tidak saja sewaktu kemalangan, berhelat kawin, acara adat di kampung-kampung pun kami sering diundang dan dengan senang hati kami menghadirinya. Begitu juga halnya dengan keluarga kerajaan, sewaktu T. Khursiah meninggal saya ikut mengantar ke Makam Diraja, selesai penguburan saya juga ikut membaca yasin, tahlil dan berdoa. T. Khursiah adalah Permaisuri Tuanku Abdul Rahman. Di hari raya Idul Fitri, sesudah shalat hari raya saya juga pergi ke Istana Besar menjamu selera, karena waktu itu Istana Besar terbuka untuk umum, seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi di halaman Istana Besar Seri Menanti. Ini semua saya lakukan supaya saya dan keluarga membaur dengan masyarakat, sebagaimana pepatah mengatakan “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, disamping itu kesempatan tersebut saya gunakan untuk menambah pengetahuan saya tentang pengamalan Adat Perpatih di Negeri Sembilan serta membandingkannya dengan pengamalan Adat Minangkabau di Sumatera Barat. Saya merasa beruntung sekali bekerja di Seri Menanti, karena disinilah pusat kegiatan Upacara Adat Perpatih, jadi dengan mudah saya dapat mengamati pelaksanaan upacara tersebut dan saya pun juga dibawah ikut serta menjadi Urus Setia (Panitia).

Kami mulai bekerja seperti biasa, di samping itu acara demi acara juga berlangsung di sekitar tempat kami bekerja, kegiatan latihan Caklempong oleh Putera/Puteri Seri Menanti dan juga latihan Rebana oleh orang dewasa ditambah lagi dengan adanya Shooting Sinetron TV dan Shooting Iklan TV serta Shooting Video Klip juga ada Pameran oleh instansi pemerintah, kesemua itu menambah semarak suasana.

Caklempong dengan lagu Minang, Rebana dengan pukulan Rentak Melayu, Rentak Arab dan Rentak India sungguh mengasyikkan.

Pada suatu hari datang satu bus pengunjung dari negara India, semuanya sebaya, pemuda- pemuda tampan dan gadis-gadis cantik seperti aktor dan aktris Bollywood, pertama sekali mereka menuju ke tempat kumpulan rebana latihan, seorang diantara mereka yang mungkin sebagai ketua rombongan berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris, nampanya mereka ingin menyumbangkan sebuah lagu dan tari-tarian India serta mengajarkan rentak pukulan rebana yang diinginkan atau yang sesuai dengan lagu yang akan dinyanyikan. Maka mulailah dipalu rebana dengan serentak oleh anggota kumpulan rebana yang jumlahnya 10 orang, diikuti oleh seorang pemuda menyanyikan lagu India (berbahasa Urdu) dan pemuda-pemuda serta gadis-gadis lainnya menari dengan riangnya seperti yang kita lihat pada film-film India.

Tersentuh juga hati saya melihatnya, karena saya juga hobby nonton film India, biasanya saya melihat melalui layar bioskop-bioskop atau layar kaca televisi, sekarang langsung melihatnya. Panjang juga lagu yang dinyanyikannya, setelah berhenti semuanya bertepuk tangan. Saya maju kedepan menyalami penyanyi sambil berkata kepadanya supaya ditambah nyanyinya lagi, dia minta maaf tidak bisa, waktunya terbatas karena sudah diatur jadwal.

yamtuan5.jpgAwal bulan April 1999, terlihat kesibukan-kesibukan di Istana Lama dan di Istana Besar Seri Menanti, suatu acara yang langka dan diadakan pada hari Sabtu, 24 April 1999 yaitu acara ISTIADAT KEBERANGKATAN BALIK DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG, SETELAH TAMAT TEMPOH BERTAKHTA SEBAGAI DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG KE KE X. Yaitu acara penyambutan kepulangan Tuanku Jaafar ibni Al Marhum Tuanku Abdul Rahman dari Istana Negara Kualalumpur setelah bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang di-Pertuan Agung Malaysia dan kembali ke Istana Besar Negeri Sembilan, yang mana jabatan Yang Di-Pertuan Agung selanjutnya digulirkan kepada Raja/Sultan dari Negeri (Propinsi) lainnya, dan bertakhta selama 5 tahun, kecuali meninggal dunia. Raja/Sultan yang akan mendapat giliran tersebut sebanyak 9 orang.

Bisa kita bayangkan bahwa acara penyambutan ini diadakan di Seri Menanti sekali 45 tahun atau hampir setengah abad. Acara penyambutan ini diadakan selama 9 hari 9 malam, penuh dengan Upacara Adat serta Hiburan Kesenian Tradisional, Kesenian Modern juga ada pertandingan-pertandingan Olah Raga.

Pada tanggal 24 April 1999 tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu acara penyambutan Baginda. Pagi-pagi sekali pertama-tama saya mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepada salah seorang anak saya yang lahir pada tanggal 24 Aprl 1987, setelah itu baru berangkat menuju halaman Istana Lama, disana sudah ramai orang terutama Pemangku Adat yang sebagian mereka memakai TENGKOLOK DANDAN TAK SUDAH, yaitu destar (deta) kebesaran di Negeri Sembilan. Masyarakat mulai berdatangan, panitia sibuk dengan pekerjaan bagian mereka masing-masing, Seri Menanti penuh dengan hiasan, disepanjang jalan menuju Istana Besar seluruh lapisan masyarakat berbaris di tepi jalan, Pelajar dan Mahasiswa masing-masing membawa bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia, pertunjukan kesenian tradisional diadakan disepanjang jalan ditambah lagi dengan persembahan Kebudayaan kumpulan Cina, India dan Sikh. Di tepi jalan sebelah kiri dipagari oleh orang-orang pembawa Bunga Manggar sedangkan di tepi jalan sebelah kanan dipagari oleh group Vespa, Motor Klasik dan Mobil Antik.

Tepat pukul 4.45 ptg. (16.45 sore) iring-iringan mobil yang membawa kepulangan Baginda sampai di Seri Menanti, Gendang Perang dan Kompang dipalu silih berganti, tak kalah meriahnya sewaktu gendang Cina, India dan Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh meraung-raung diiringi pula oleh seruling kelompok India sungguh indah didengar, rakyat yang berjejar ditepi jalan mengibarkan bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia yang terbuat dari plastik berukuran kecil.

Setiba di Pintu Gerbang Istana, Baginda dan Permaisuri turun dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana diiringi tiupan seruling dan gurindam, setibanya di Pintu Istana beras kunyit pun ditabur, di Istana diadakan jamuan teh dan dilanjutkan dengan Acara Istiadat Menyimpan Alat-alat Kebesaran.

Pada malamnya pukul 8.30 malam (20.30), di Padang Bola Sepak (lapangan bola kaki) Seri Menanti dan Londa Naga (semacam telaga yang terletak di antara Istana Besar dengan lapangan bola kaki) diadakan persembahan Tatoo dan Ketrampilan oleh ATM (Angkatan Tentera Malaysia) 1 Briged. Persembahan ini mendapat perhatian besar dari pengunjung.

Seri Menanti sangat ramai dikunjungi, siang malam pengunjung silih berganti, para pedagang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual bermacam-macam barang dagangan, disini saya juga mengambil kesempatan untuk menjual Songket Silungkang dan barang-barang souvenir lainnya yang sengaja saya bawa dari Silungkang setiap saya pualng. Songket yang banyak laku waktu itu adalah songket cuki ponuah warna hitam dan warna merah dengan mokou warna emas, saya juga membawa sapu ijuk, karena sapu ijuk sedikit, banyak yang tidak kebagian, sapu ijuk oleh mereka bukan digunakan untk menyapu sampah, tetapi digangunt di dinding sebagai hiasan antik, mainan kunci berbentuk rangkiang (rumah adat Minangkabau) sangat laris terjual untuk digantung di mobil.

Acara demi acara dilaksanakan dengan lancar, aman dan tertib, acara Adat Istiadat, Kesenian Tradisional seperti Caklempong, Randai (ala Negeri Sembilan), Silat dan kesenian tradisional lainnya, dan juga kesenian-kesenian modern seperti persembahan lagu-lagu populer, pementasan drama, persembahan sastra. Disamping itu juga dimeriahkan dengan pertandingan-pertandingan olahraga.

Yang paling berkesan oleh saya adalah persembahan kesenian tradisional GHAZAL yang sengaja didatangkan dari Negeri Johor. Ghazal adalah lagu Melayu asli yang diiringi gabungan alat musik Melayu (biola), Arab (kecapi), India (gendang). Konon kabarnya musik Ghazal ini digunakan oleh Sultan Johor sebagai pengantar tidur. Saya tertarik dengan lagu Ghazal ini dari tahun 1968 lagi, sehingga koleksi kaset saya juga terdiri dari kaset lagu Ghazal. Mengenai kesenian tradisional yang ada di Malaysia, saya juga tertarik dengan Dondang Sayang dari Melaka, Mak Inang Pulau Kampai dari Negeri Sembilan, Dikir Barat dari Kelantan dan Boria dari Pulau Pinang, ini semua dapat saya tonton melalui TV 1 RTM (TV 1 Radio Talivisen Malaysia).

Tuanku Jaafar ibni A-Marhum Tuanku Abdul Rahman adalah satu-satunya keturunan Raja Pagaruyung yang masih berdaulat atau masih di Raja kan dan masih mempunyai Kerajaan yaitu Kerajaan Negeri Sembilan.

Selama Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang Di-Pertuan Agong, Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan dijabat oleh Putera Baginda yang tertua Tunku Laxamana Naquiyuddin ibni Tuanku Jaafar Al-Haj dengan gelar Paduka Seri Pemangku Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan Darul Khusus. Kepulangan Baginda disambut mesra oleh Paduka Seri Pemangku dengan TITAH ALU-ALUAN (kata sambutan) yang saya salinkan berikut dengan teks sebagaimana aslinya :
Tanggal 24 April 1999 bersamaan 8 Muharram 1420 pasti tercatat sebagai salah satu lagi tarikh dalam sejarah Alam Beraja di Negeri Sembilan Darul Khusus apabila rakyat dari segenap lapisan masyarakat akan menyambut keberangkatan balik, D.Y.M.M. Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman yang menamatkan tempo bertakhta Baginda sebagai Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong ke X dari 26 April 1994 hingga 25 April 1999.

Peristiwa ini akan disambut dengan penuh adat istiadat menandakan kembalinya Raja yang dikasihi ke pangkuan rakyat negeri, dengan keunikan Adat Perpatih yang menjadi pegangan rakyat Negeri Sembilan Darul Khusus.

Sebagai satu-satunya negeri beradat, pastinya seluruh rakyat yang cintakan Rajanya tidak mau melepaskan peluang untuk bersama-sama meraih peristiwa yang penuh bermakna yang hanya berlaku hampir setengah abad sekali. Apa yang lebih membanggakan Beta, Kerajaan Negeri dengan dokongan pada rakyat dari segala lapisan masyarakat telahpun mengaturkan pelbagai program sebagai tanda kasih untuk menyambut keberangkatan balik Tuanku. Beta yakin, adat yang unik ini akan dapat diteruskan sepanjang zaman karena sesuatu yang datang dari rakyat itu adalah pancaran sebenar hati budi mereka.

Selain daripada acara menyambut keberangkatan balik Baginda, pelbagai acara telah disusun di Daerah Kuala Pilah, antaranya persembahan Tatoo, Larian Raja Melewar. Pementasan peristiwa di Bukit Candu dan pelbagai pertunjukan kebudayaan yang lain.

Pada kesempatan ini, Beta inigin merekamkan setinggi-tingginya penghargaan dan terima kasih diatas kesungguhan yang ditunjukkan oleh pimpinan negeri yang mendapat sokongan padu pihak Pentadbiran dan rakyat keseluruhannya bagi menjayakan adat istiadat ini dengan penuh gilang-gemilang.

Sesungguhnya Beta yakin, sesuatu yang lahir dengan penuh hati yang luhur itu akan membawa keberkatan.

Keterangan dari saya, D.Y.M.M adalah kependekan dari Duli Yang Maha Mulia. Pentadbiran artinya pemerintah atau Yang Berwenang, Beta artinya saya (diucapkan oleh Raja-raja Melayu).

Saya juga sempat menyaksikan pementasan Peristiwa di Bukit Candu, yaitu pertempuran perlawanan rakyat terhadap penjajah. Pementasan ini diadakan di Padang Bola Sepak Seri Menanti dari pukul delapan malam sampai pukul 12.00 malam.

Pada suatu sore Tan Sri Samad Idris datang ke tempat saya bekerja, beliau mengajak saya naik mobilnya. “Pak Djasril, jom (ayoh) kite ke Kuala Pilah sekejap (sebentar)”. “Okey, Tan Sri”, jawab saya. Di Kuala Pilah kami masuk ke sebuah Kedai Minum dan langsung memesan minuman yang disukai masing-masing. “Macam ni Pak Djasril”, kata Tan Sri membuka kata, “Tahun ni adalah dijadikan Tahun Melawat Negeri Sembilan, pelancong tempatan (Malaysia) dan pelancong Antara Bangsa (Manca Negara) datang mengunjungi Negeri Sembilan, terlebih-lebih Istana Lama akan banyak dikunjungi, saye berhajat nak tambah tenun songket empat lagi, dan tentu sahaje ditambah lagi empat pengrajin dari Silungkang, tapi saye inginkan pengrajin yang lepas, kalau perempuan belum punye laki, kalau lelaki belum punye bini, untuk ini saye serahkan pade Pak Djasril macam mane baiknye,” lanjut Tan Sir.

“Baiklah Tan Sri,” jawab saya. “Nanti saya telepon Pak Djasril Munir Pengurus Kopinkra di Silungkang, karena beliaulah nanti yang akan merekrut pengrajin tersebut,” kata saya lagi.

Setelah selesai minum kami langsung saja kembali ke Seri Menanti, sesampainya di Seri Menanti saya terus saja ke kantor Muzium untuk menelepon ke Silungkang yaitu kepada Pak Dasril Munir, saya sampaikan rencana Tan Sri tersebut, Pak Dasril Munir menyambut baik rencana Tan Sri itu, dan akan memberi jawaban seminggu lagi.

Seminggu kemudian saya mendapat kabar dari Silungkang bahwa akan dikirim empat orang pengrajin lagi, semuanya wanita dan belum berumah tangga, 2 orang dari Batu Manonggou, 1 orang dari Sungai Durian dan 1 orang dari Panai Ompek Rumah.

BERSAMBUNG

Cerita Asli dari Djasril Abdullah

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kedelapan Februari 2008

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Titah Sambutan Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung
Pada Acara Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang
Tanggal 12 Desember 2002 di Nagari Silungkang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
A’uzubillahiminashaithonirojim
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillahrabil A’lamin
Wa sholatu Washollamu A’la Asrafil Ambyai Mursalin Wa’ala Waashabihi Ajmain
Ashadu Allailahailollah Waashaduana Muhammadarasulullah
Allahumma Sholi Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

  • Yang sama-sama kita hormati, Bapak Gubernur Sumatera Barat selaku pucuk undang Sumatera Barat
  • Yang terhormat Ketua DPRD Sumatera Barat
  • Yang terhormat Bapak-bapak Unsur Muspida Sumatera Barat
  • Yang terhormat Sdr. Bupati/Walikota Sumatera Barat beserta seluruh pejabat sipil dan militer yang hadir pada acara ini
  • Yang saya muliakan ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumatera Barat
  • Yang sangat saya muliakan Ibunda yang Dipertuan Gadih Pagaruyung
  • Yang amat mulia orang kaya-orang kaya kami Basa nan Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah
  • Yang amat mulia yang Dipertuan/Tuanku/Raja, Sapiah Balahan, Kaduang Karatan, Kapak Radai dan Langgam nan Tujuah Koto Piliang
  • Khususnya yang mulia Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Sabaleh di Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk
  • Angku-angku, niniak mamak nan gadang basa batuah, para alim ulama suluah bendang dalam nagari, para cadiak pandai yang arif bijaksana, para bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang dan beserta hadirin-hadirat yang saya muliakan.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat karunianya sehingga dapat terselenggaranya acara penobatan pucuak adat nagari Silungkang dan Padang Sibusuk yakni Gajah Tongga Koto Piliang beserta lima orang penghulu pucuak nagari Silungkang.

Selanjutnya kita ucapkan pula salawat dan salam pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam berupa kitab suci Al Qur’an dan Hadist.

Pada hari ini kita semua telah sama-sama menyaksikan penobatan Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagariaan Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang serta penghulu pucuak nan balimo di Nagari Silungkang. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah baik bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak pada khususnya maupun bagi masyarakat Minangkabau pada umumnya. Kami katakan demikian karena upacara penobatan Gajah Tongga Koto Piliang dan datuak pucuak nan balimo ini adalah suatu wujud untuk membangkitkan batang tarandam yang sekaligus merupakan perwujudan dari program kembali ka nagari dan kembali basurau yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Perda No. 9 Tahun 2000. Dengan telah dibangkitkan kembali kebesaran nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yakni Gajah Tongga Koto Piliang yang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang, yaitu :

  1. Tampuak Tangkai Koto Piliang di Pariangan – Padang Panjang.
  2. Pasak Kunkuang Koto Piliang di Labuatan – Sungai Jambu.
  3. Pardamaian Koto Piliang di Simawang – Bukit Kanduang.
  4. Cemeti Koto Piliang di Sulit Aia – Tanjuang Balik.
  5. Camin Taruih Koto Piliang di Singkarang – Saniang Baka.
  6. Harimau Campo Koto Piliang di Batipuah X Koto.
  7. Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang – Padang Sibusuak.

Langgam Nan Tujuah Koto Piliang ini merupakan Pembantu Utama dari Rajo nan Tigo Selo dibawah koordinasi Basa Ampek Balai. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah Panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang inilah pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan sehingga menimbulkan bau yang sangat busuk sehingga tempat itu dan sekitarnya dikenal kemudian dengan nama Padang Sibusuak. Perlu juga dicatat para peristiwa pertempuran besar-besaran tersebut muncullah hulubalang muda yang dengan gemilang dan tangkasnya membantu Gajah Tongga Koto Piliang dalam mengalahkan pasukan Singosari. Hulubalang muda itu adalah Gajah Mada yang dikenal kemudian dengan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku niniek mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang serta hadirin hadirat yang saya muliakan.

Cuplikan singkat dari sejarah Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yang kami uraikan tadi hendaknya dapat dijadikan sebagai latar belakang historis dan motivasi bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak untuk menggali, mendalami dan memahami latar dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daay manusia anak nagari ini.

Dengan dibangkitkan kembali kebesaran “Gajah Tongga Koto Piliang” kami mengharapkan Datuak Tan Pahlawan Gagah Labiah yang pada dirinya melekat kebesaran Gajah Tongga Koto Piliang bersama-sama dengan Datuak Pucuak nan sabaleh (Datuak Pucuak Nan Balimo di Silungkang dan Datuak Pucuak Nan Baranam di Padang Sibusuak), kiranya dapat menata kembali dengan sebaik-baiknya susunan masyarakat adat, hukum adat, adat istiadat dan tradisi yang berlaku serta kehidupan beragama dikalangan masyarakat anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak. Hanya dengan tatanan masyarakat adat yang kuat, adat budaya yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakatnya. Pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang benar oleh suku bangsa Minangkabau pada khususnya, bangsa dan Negara pada umumnya akan dapat mempertahankan eksistensinya dari hantaman globalisasi serta pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Demikianlah titah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan akan ada manfaatnya bagi kita semua dan akhirnya kepada Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagarian Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajah Tongga Koto Piliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Balimo Nagari Silungkang serta seluruh Niniak mamak, Alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kanduang serta seluruh anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak kami ucapkan selamat ataslah tabangkiknyo batang tarandam.

Akhirnya kami mohon maaf seandainyo alam Titah Sambutan ini terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya “Kok indak di barih nan bapaek, kok indak ditakuak nan ditabang disusun jari nan sapuluah, ditakuahkan kapalo nan satu, kapado Allah ambo minta ampun, kapada kito basamo ambo minta maaf”.

Wabillahi Taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Pagaruyung, 12 Desember 2002
Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung

TTD

H.S.M. TAUFIQ THAIB, SH
(Tuanku Mudo Mahkota Alam)

Dalam keadaan asli tercantum tanda tangan Raja Alam Pagaruyung.


TITAH

DAULAT YANG DIPERTUAN RAJO ALAM PAGARUYUNG

Nomor : III/DYRAP/XI/2002
Tentang : PENOBATAN GELAR SAKO ADAT GAJAHTONGGA KOTOPILIANG KEPADA ENGKU IRWAN HUSEIN SUTAN BAGINDO DAN PANUNGKEKNYA ENGKU DR. IR. YUZIRWAN RASYID, MS.
Membaca : Surat Permohonan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silungkang Nomor 20/KAN-SLN/XI/2002 tanggal 15 November 2002 perihal penobatan gelar Sako Adat kepada Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dari Nagari Silungkang dan Panungkeknya Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS bergelar “ Datuk Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang ” dari Padang Sibusuak.



Menimbang : 1. Bahwa Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak dalam tatanan adat dan sejarah Minangkabau mempunyai sako kebesaran yang disebut sebagai Gajahtongga Kotopiliang sebagai salah satu anggota kerapatan Langgam Nan Tujuah Kotopiliang yang merupakan perangkat dari Kerajaan Pagaruyung.


2. Bahwa dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan dalam rangka kembali Banagari, sudah selayaknya gelar sako kebesaran adat Minangkabau yang sudah terliput dihidupkan / dibangkitkan kembali termasuk gelar sako kebesaran Gajahtongga Kotopiliang dari Nagari Silungkang dan Nagari Padang Sibusuak.


3. Bahwa Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS telah disepakati oleh Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak untuk dinobatkan sebagai Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang dan Datuak Pahlawan Gagah panungkek Gajahtongga Kotopiliang.


4. Bahwa Kesepakatan Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak tersebut angka 3 diatas telah disetujui dalam Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dengan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.


5. Bahwa untuk penobatan gelar sako Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang perlu dikeluarkan Titah Penobatan dimaksud.




Mengingat : 1. Mamanan Adat “BATAGAK PENGHULU SAKATO KAUM, MENOBATKAN RAJO SAKATO ALAM”


2. Hasil Keputusan Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.

MENITAHKAN :


1. Menobatkan Engku Irwan Husein Sutan Bagindo selaku Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Pucuk Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk.
2. Menobatkan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS selaku Panungkek Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Panungkek Pucuak Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak.
3. Penobatan gelar sako tersebut angka 1 dan 2 dilakukan dalam suatu upacara kebesaran adat Minangkabau di Nagari Silungkang ditandai pemasangan saluak dan penyisipan keris oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
4. Pidato Adat Pati Ambalau Penobatan Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat.
5. Titah ini mulai berlaku sejak penobatan.





Dikeluarkan di : Pagaruyung

Pada tanggal : 25 November 2002.


1. Pangkat Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.
2. Diatas Stempel Kerajaan Pagaruyung terdapat tanda tangan Raja Pagaruyung.
3. Posisi Stempel agak kekiri dan tanda tangan berada ditengah antara Pangkat dan nama Raja.
4. Nama lengkap Raja Pagaruyung diberi garis bawah dengan kesluruhan berhuruf kapital
5. Gelar Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.


Tindasan Titah Disampaikan Kepada :
1. Yth. Bapak Gubernur Sumatera Barat/Pucuk Undang Sumatera Barat di Padang.
2. Yth. Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumber di Padang.
Asli Titah ini disampaikan kepada :
– Yth. Engku Irwan Husein Sutan Bagindo.
– Yth. Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS.
– Arsip.






Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007




Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia

Di Muzium Diraja Seri Menanti kami disediakan sebuah kamar lengkap dengan perabotnya, peralatan memasak tidak diberikan karena minum makan kami disediakan oleh Kerajaan melalui Sdr. Mazrin yang juga sebagai pekerja di Muzium tersebut, dan kemudian Sdr. Mazrin kami ketahui adalah anak seorang anggota Polis yang tinggal di Barak Polis (Asrama Polisi) Seri Menanti.

Kami diantarkan nasi setiap pagi, tengah hari dan sore, mula-mula golang golang saya memang agak babaso menerima nasi tersebut karena sambalnya masakan khas Malaysia, sedangkan golang-golang saya sudah akrab dengan joghiang balamun jo lado giliang matah pakai minyak tanak sambia meanggotok agho, tapi lama kelamaan karena terpaksa golang-golang saya setuju juga, daghi pado ndak makan, mano nan elok.

Setiap pagi setelah makan pagi, kami harus stand by, karena kami akan dibawa raun sabolik selama satu minggu, mula-mula sekitar kawasan Seri Menanti dan terus ke Kuala Pilah, dilain hari ke Seremban dan Kualalumpur. Teristimewa di Kualalumpur ini kami dibawa ke Pasar Seni, semacam Plaza yang sarat dengan bermacam-macam barang soUvenir dari berbagai daerah di Malaysia.

Selama satu minggu kami dibawa raun sabolik, banyak sekali kesan yang tersimpan didalam memori saya dan Insya Allah memori saya tersebut sampai sekarang lai ndak konai virus do.

Disuatu sore, Encik Din (panggilan akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan, datang mengunjungi kami.

Pak Djasril, kite tengoklah rumah tempat tinggal tu, dan lame tak ade orang menghuni rumah tu, tentu dah banyak habuk, kite bersihkan, karena esok pagi perabot sampai”, kata Encik Din seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan naik. “Okey”, jawab saya meniru cara mengucapkan baiklah di Malaysia. Lebih kurang 750 meter dari Muzium Diraja, sampailah kami di rumah tersebut. “Kawasan ni bername Kampong Bukit Tempurong” kata Encik Din. “Ni, ade due rumah, pandai Pak Djasril-lah macam mane mau”, ucapnya lagi. “Kalau macam tu okey lah, dan Encik Din kami persilahkan balik dulu, biarlah kami sahaja yang membersihkan”, jawab saya sambil meniru cara berbicara di Malaysia walaupun lidah saya masih menempel merek Indonesia.

Seri Menanti adalah sebuah kawasan yang disebut Pekan (Kota Kecil) kira-kira sama dengan Nagori di kampung kita, dan juga disebut “Royal Town of Seri Menanti” karena disini berdiri dengan megahnya Istana Besar Raja Negeri Sembilan dan juga masih kokohnya berdiri Istana Lama yang sekarang dijadikan Muzium Diraja.

Alam disini berbukit-bukit, keadaannya masih asri, hutannya terpelihara baik, suasana tenang, aman dan damai, jauh dari kebisingan, udaranya segar tanpa polusi, margasatwa hidup dengan riang dan merdeka tanpa ada tangan jahil yang menganggu dan merusak, bermacam-macam burung berterbangan dengan leluasa dan hinggap tanpa kuatir diganggu orang. Penduduknya hidup bahagia dan sejahtera, rukun sesamanya, ramah dan sopan. Suasana di Seri Menanti tak ubahnya dengan suasana di perkampungan (dusun), bukan suasana di kota yang dilanda kehidupan modern. Upacara adat dipusatkan disini, penduduk di Seri Menanti ini tidak seberapa dan kelihatan lengang dan sunyi karena sebagian penduduknya ada yang tinggal di Seremban, Kualalumpur, dan lain-lain, tetapi kalau ada upacara adat dan keramaian, misalnya PERINGATAN HARI KEPUTERAAN BAGINDA (memperingati hari ulang tahun kelahiran Raja), Seri Menanti penuh dengan pengunjung dari segala penjuru, keramaian diadakan tiga hari tiga malam, bermacam-macam hiburan tradisional dan modern dapat dinikmati, para pedagang pun ramai, kita dapat berbelanja apa saja sepuasnay asal uang ada.

Pada hari Jum’at tanggal 16 Oktober 1998, saya Shalat Fardhu Jum’at di Masjid Diraja Seri Menanti, saya lihat Tuanku Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan juga Shalat Fardhu Jum’at disana. Tuanku sangat akrab dengan rakyat, dan rakyatpun juga sangat hormat kepada Tuanku. Baru saja Tuanku memasuki Masjid, rakyat yang berada di dalam Masjid menyusun jari sepuluh, menyalami Tuanku sambil mencium tangannya, sedangkan Tuanku tersenyum sayang, saya lihat diwajah Tuanku terpancar sinar keagungan sebagai seorang RAJA, kepada yang tidak terjangkau bersalaman, Tuanku mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum sayang, mata bersinar, wajah yang jernih.

Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman, demikian nama Tuanku, adalah keturunan Raja dari Pagaruyung – Minangkabau. Seorang Putera Raja Pagaruyung yang bernama Sultan Mahmud dijemput oleh Pemuka Adat Negeri Sembilan untuk dijadikan Raja. Setelah dinobatkan jadi Raja Negeri Sembilan, Sultan Mahmud dikenal dengan nama Raja Melewar.

Raja Melewar adalah Raja Negeri Sembilan yang pertama 1773 – 1795, sedangkan Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman adalah Raja Negeri Sembilan yang kesebelas 1967 – sekarang.

Tepat pukul 16.00 petang, pada hari Selasa 20 Oktober 1998, seorang pegawai Muzium menjemput kami, “Encik dipelawe untuk datang menghadiri jamuan minum ke rumah Encik wan di Seremban, kite berangkat sekarang juge”, katanya. “Ya, Okey”, jawab saya singkat. Kami naik mobil L-300, dan saya lihat pegawai Muzium lainnya sebanyak 4 orang juga sudah berada di atas mobil.

Encik Wan atau nama lengkapnya Wan Abdullah bin Haji Wan Su, Ketua Penolong Setia Usaa Kerajaan, dikatakan bahwa beliau adalah orang nomor tiga di Kantor Menteri Besar Negeri Sembilan (kira-kira sama dengan Kantor Gubernur di Indonesia), sebelumnya saya sudah kenal dengan beliau sewaktu beliau ke Silungkang pada tanggal 1 Mei 1998 yang lalu dan saya juga sering terlibat dalam percakapan melalui telepon dengan beliau.

Jemput masuk, jemput masuk” kata Encik Wan, sewaktu kami baru saja turun dari mobil di halaman rumah yang kelihatannya sangat bagus bangunannya. “Saye baru sahaje pindah ke rumah ni”, kata Encik Wan yang katanya beliau berasal dari Negeri Kelantan dan sudah lama menetap dan bekerja di Negeri Sembilan. Setelah puas minum dan bercakap-cakap, kami pulang dan diantar kembali ke Seri Menanti.

Saya berusaha dekat dengan penduduk Seri Menanti, sambil memperkenalkan diri, saya juga mempelajari bahasa dan ungkapan sebagai persiapan tinggal di Seri Menanti. Tan Sri Samad Idris sekali seminggu datang ketempat kami, menanyakan keadaan kami, beliau sangat akrab dengan saya. Pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 1998, Tan Sri datang membawa dua orang teman beliau PENSYARAH (dosen) pada sebuah universitas di Kualalumpur dan memperkenalkan kepada saya, kami bercakap-cakap sambil minum di kantin Seri Menanti Resort. Dalam percakapan ini saya juga memberitahukan kepada Tan Sri bahwa di Kualalumpur juga ada orang Silungkang jadi Pensyarah yaitu Prof. Umar Yunus dan Prof. Kasmini Kasim. Dengan penuh keheranan Tan Sri berkata : “Oh .. jadi Umar Yunus dan Kasmini Kasim itu orang Silungkang kah, dia sering ke tempat saya, biar nanti saya bagi tahu dia bahwa orang Silungkang juga ada bertenun kain di Seri Menanti”.

Setelah kami puas bercakap-cakap, sebelum Tan Sri kembali ke Kualalumpur, beliau berkata : “Pak Djasril, habis bulan Oktober ini kita akan pergi ke Padang untuk menjemput barang-barang yang masih tinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril”.

Kata-kata Tan Sri yang terakhir ini yang sangat membahagiakan saya, karena hampir sebulan saya menderita menahan rindu pada isteri dan anak-anak, kali ini adalah saat yang paling terlama kami terpisah, biasanya hanya satu atau dua hari saja. Bila saya rindu, saya beli kartu telepon 10 ringgit atau 20 ringgit dan saya dapat berbicara langsung melalui telepon umum di tepi jalan. Apabila anak saya mengatakan “copeklah baliak (cepat balik) Pak”, tenggorokan saya rasa tersekang menahan tangis, kenapa begitu ? Entahlah, orang bisa berahun-tahun terpisah, kenapa saya tidak ? Entahlah.

Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 1998, disore hari, saya sedang bagolek-golek (istirahat), datang Mazrin, “Pak, ada talipon dari Seremban”. Saya langsung mengikuti Mazrin menuju OPIS (kantor), telepon saya angkat, “Hallo, apa hal Encik Din ?”, kata saya. “Hari Minggu, 1 hari bulan November, Pak Djasril berangkat ke Silungkang untuk mengambil barang kita yang masih tertinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril, perlu diingat keberangkatan Pak Djasril ke Silungkang adalah sebagai pegawai Muzium, pagi esok datang ke Seremban mengambil gaji dan ongkos ke Silungkang, okey …”.

“Okey”, jawab saya singkat. Keesokan harinya saya pergi ke Seremban, dari Seri Menanti ke Kuala Pilah naik KERETA SEWA (oplet), dan dari Kuala Pilah ke Seremban naik BAS (bus).

Pukul 06.00 pagi waktu Malaysia Barat, tanggal 1 Nopember 1998, sebuah KERETA (sedan) parkir di halaman Muzium menjemput saya, saya pun juga sudah siap berangkat. Kereta melaju menuju Kualalumpur dan terus ke Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang (diwaktu itu belum ada KLIA = Kualalumpur International Airport, dan di Padang juga belum ada MIA = Minangkabau International Airport). Setiba di Lapangan Terbang saya langsung antri membeli tiket pesawat menuju Padang dan tak lupa sebagian dari uang Ringgit, saya tukar dengan Rupiah.

Setelah melayang-layang di udara lebih kurang 2 jam pesawat mendarat di Bandara Tabing. Pertama sekali saya menuju rumah makan, saya makan dengan lahapnya, duo kali tambuah, maklumlah sudah satu bulan golang-golang saya absen menerima masakan Padang. Selesai makan saya menuju wartel untuk memberitahu ke Silungkang bahwa saya sudah sampai di Padang. Saya ingin cepat saja sampai di Silungkang, saya ambil jalan alternatif, naik taksi saja biar cepat, kalau dengan bus lambat. Menjelang sore saya sudah sampai di rumah, yaitu di Lubuak Kubang, Desa Silungkang Oso. Tidak ada oleh-oleh dari Malaysia, yang ada hanya oleh-oleh dari Padang berupa makanan ringan.

Anak saya yang kecil berumur 4 tahun berlari-lari menyambut saya, “Bapak lah baliak (balik) Ma …”, katanya memberitahu Mamanya. Saya dukung dan saya cium anak saya itu, “Tadogak (teringat) Bapak nak …”, kata saya singkat.

BERSAMBUNG ….

Source :

Tabloid Suara Silungkang

Edisi KETIGA, September 2007

Kisah Nyata Djasril Abdullah

Berpegangan kepada kesimpulan HHB Saanin Dt. Tan Pariaman pada judul Pimpinan Nagari, maka Silungkang yang terletak dalam Luhak Tanah Datar, tentu yang terdapat Adat Campuran. Dengan kata lain pahamnya campuran antara Adat Datuk Katumanggungan dengan paham Adat Datuk Parpatih Nan Sabatang.

Tentang hal ini Wakil KAN dalam Seminar Adat Silungkang di Jakarta1) mengemukakan tentang “Adat Silungkang Asli” antara lain sebagai berikut : “Nagari kita adalah “Gajah Tongga Koto Piliang”2), bahkan termasuk orang penting dan Staf Kerajaan Minangkabau yang berhaluan “Koto-Piliang”.

Jelaslah bahwa negari kita berpaham Koto-Piliang. Tetapi dalam prakteknya, yang dijalankan dan dipakai adalah paham :

Pisang sekalek kalek hutan
Pisang tambatu nan bagatah
Koto Piliang inyo bukan
Budi Caniago inyo antah

(Pisang si getir-getir hutan
Pisang sembatu yang bergetah
Koto Piliang dia bukan
Bodi Caniago dia entah)

Untuk memperkuat paham “Adat Silungkang Asli” tersebut, maka wakil KAN memberikan contoh : Balai-balai Adat kita adalah Koto-Piliang. Cara berapatnya atau mengambil keputusan adalah Bodi-Caniago.

Dengan terdapatnya adat campuran di Silungkang (Tanah Datar), tentu tidak bisa dikatakan bahwa Tanah Datar “bukan” Koto Piliang atau “bukan” “Bodi-Caniago”. Mengatakan Tanah Datar “semuanya bukan”, tidaklah tepat, karena Adat yang berlaku di Tanah Datar juga Adat Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Yang benar ialah Tanah Datar “ya” Koto Piliang, “ya” Bodi-Caniago. Tekanannya bisa berbeda-beda. Yang satu pada Koto-Piliang, sedang yang lain pada Bodi-Caniago.

Hal ini sesuai dengan teori yang mengemukakan bahwa bila dalam satu materi terdapat beberapa aspek, maka salah satu aspeknya merupakan aspek pokok, aspek yang memimpin perkembangan aspek yang lain, atau sebutlah aspek yang merupakan titik berat atau tekanan. Bila melihat kepada pantun yang dikemukakan wakil KAN dalam Seminar Adat Silungkang di atas maka tekanannya bukan pada Koto-Piliang melainkan pada Bodi-Caniago. Karena mengenai Koto-Piliang melainkan pada Bodi-Caniago. Karena mengenai Koto-Piliang dengan tegas dikatakan “inyo bukan”. Sedang untuk Bodi-Caniago hanya dikatakan “inyo antah”. Perkataan “antah” ditampilkan mungkin untuk menenggang perasaan Koto-Piliang jangan sampai tersinggung. Dipakailah kata-kata yang diperhalus.

Meskipun secara umum di Luhak Tanah Datar berlaku Adat Campuran, namun di setiap negari dalam wilayah Tanah Datar terdapat pula kekhususan-kekhususan dibandingkan dengan yang lain. Itu adalah wajar. Bukankah tidak ada dua orang (meskipun kembar) yang sama dalam segala-galanya. Tentu masing-masing mempunyai ciri-cirinya sendiri, yang menunjukkan identitasnya.

Untuk Silungkang (seperti yang telah dikemukakan di atas) bahwa Balai-balai Adatnya berkoto-piliang, tetapi cara bermusyawarah dan mengambil keputusan berbodi-caniago. Bisa saja ada yang mempertanyakan : bila demikian di mana tekanan Silungkang ?

Bila orang dalam menilai sesuatu mengutamakan bentuk (Balai-balai Adat) tentu akan dijawabnya : tekanan Silungkang pada Koto-Piliang. Sebaliknya bilamana orangnya dalam menilai sesuatu mengutamakan isi (cara bermusyawarah dan mengambil keputusan) tentu akan dijawabnya : tekanan Silungkang pada Bodi-Caniago. Akan lain halnya bila seseorang dalam menilai sesuatu melihat secara keseluruhan (ya bentuk ya isi). Untuk sekarang mungkin akan dijawabnya : hingga kini Silungkang belum pernah menyimpulkan apakah pada Koto-Piliang atau Bodi-Caniago.

Yang terang tekanannya senantiasa bergerak seperti bandul jam dinding (model lama). Pada waktu tertentu dia berada diujung paling kiri, lain kali persis ditengahnya dan pada kesempatan lain dia berada diujung paling kanan. Situasinya dalam proses.

Ciri lain negari Silungkang dibandingkan dengan negari-negari lain di Tanah Datar atau Minangkabau adalah mengenai kedudukan Penghulu Andiko. Di tempat lain di Minangkabau, Penghulu Andiko adalah yang tertinggi dan itulah yang disebut Penghulu Pucuk atau Penghulu Tua. Penghulu lainnya adalah di bawah Penghulu Andiko. Sedang di Silungkang Penghulu Andiko statusnya di bawah Penghulu Pucuk.

Berikutnya di tempat lain di Minangkabau yang memegang tanah ulayat atau pusaka tinggi adalah Penghulu Pucuk. Sedang di Silungkang Penghulu Pucuk tidak punya tanah ulayat. Ulayat atau pusaka tinggi dipegang Penghulu Andiko. Di tempat lain Penghulu Pucuk punya “Sawah kagadangan” (semacam tanah bengkok di Jawa) dan sumber masukan lain. Di Silungkang, Penghulu Pucuk tidak punya sumber tertentu karena fungsinya sebagai Penghulu.

Catatan kaki :

  1. Kerapatan Adat Nagari (KAN) Silungkang dalam Seminar Adat Silungkang di Jakarta April 1986 : “Adat Silungkang Asli”.
  2. Menurut AA Navis dalam bukunya “Alam Terkembang Jadi Guru” bahwa Gajah Tongga Koto – Piliang (Gajah Tongga Koto Piliang) dengan kedudukan di nagari Silungkang, bertugas sebagai kurir (hlm. 58). Keterangan AA Navis ini berbeda jauh dengan curaian Syamsudin Dt. Simarajo di Pagaruyung (antara 6/11 dan 24/12 1984) seperti yang dicatat H. Kamaruzaman dkk. bahwa Gajah Tongga Koto – Piliang ialah : a. Orang Gadang bermandat penuh. b. Aspri Rajo. c. Dewan Pertimbangan. d. Penasehat. Diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada Rajo dan Langgam Nan Tujuh. Nampaknya tentang bagaimana kedudukkan Gajah Tongga Koto – Piliang yang sebenarnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Apalagi bila membaca tulisan Drs. Sjafnir Abu Nain dalam Limbago No. 6 tahun 1988 yang berjudul “Batanghari, perwujudan pergulatan ekonomi Minangkabau”, di mana antar lain dikatakannya bahwa Aditiyawarman di Saruaso – Bukit Gombak dinobatkannya putranya, Anggawarman, dalam satu upacara hewajra, karena ia telah tua (82 tahun) dan merasa dirinya akan bersatu dengan moksa (prasasti muka Kantor Bupati Batu Sangkar). Di Padang Sibusuk ditempatkannya keturunan Sanggarama-Tunggawarman, Gajah Tongga, untuk menguasai pendulangan emas Muaro Kalaban.

Sumber :

Buku Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo

Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo, semula dikategorikan sebagai sesuatu yang “tak mungkin”, mengingat kompleknya permasalahan yang akan dihadapi panitia dan saratnya acara yang harus dibuat – ini sebuah perhelatan akbar – kolosal – serta sempitnya waktu yang tersedia dalam rentang Agustus sampai dengan Desember 2002.Semua itu seolah mustahil !

Didasari hal ini maka kami yang bergulat dalam kancah kobamangobaan, hanya menempatkan berita besar sebagai KOBA DAGHI KAMPUANG dalam kolom yang cukup sederhana “Kobakobaan”.

Namun setelah tokoh sentralnya – Dua Husin Bersaudara, Irwan dan Sukri yang semula hanya ingin malewakan pangulu pucuak Suku Malayu memPKSkan wacana ini setelah mendapat restu dari pemuka adat di kampung halaman sebagai oleh-oleh setelah melaksanakan hajat besar “Pulbas Bakor Sawahlunto 2002″, menjadikannya sebagai acara Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo.

Setelah rapat pleno PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta yang mengeluarkan fatwa “mendukung” dan menyatakan acara ini sebagai OLEK SILUNGKANG, yang berarti semua masyarakat Silungkang akan terlibat dalam perhelatan besar ini, kelima suku yang ada di Silungkang akan bahu membahu – tupangmanupang – tumpahruah menyingsingkan lengan baju guna menyukseskan acara ini, kami sadari kami keliru.

Untuk semua itu berita Malewa Pangulu nan Balimo ini akan selalu kami tempat pada posisi yang sangat terhormat “Kobautamo”

Tak bisa dibayangkan sukacitanya warga menyambut acara ini dan tumpah ruahnya penduduk Silungkang yang akan berbaur dengan para mudikers serta hiruk pikuknya Nagari Silungkang saat acara tersebut dilangsungkan yang menurut rencana akan berlangsung pada tanggal 14 dan 15 Desember 2002.

Berdo’alah pada Sang Pencipta semoga kami mampu, mengingat dalam rubrik ini tentu kami harus mangobaan perkembangan persiapan yang dilakukan panitia mungkin semacam progress repot, sampai pada pelaksanaan.

KESERIUSAN

Sebuah bukti keseriusan panitia pelaksana malewakan pangulu pucuak nan balimo adalah dengan diserahkannya kepanitian kepada PKS Jakarta yang sebelumnya hanya terdiri dari para petinggi suku Malayu.

Pada awalnya memang hanya suku Malayu yang akan malewakan pangulunya, namun setelah didapat kata mufakat bahwa acara tersebut akan ditingkatkan menjadi acara malewa pangulu pucuak nan balimo yang berarti melibatkan seluruh suku yang ada.

Tegasnya acara ini menjadi olek nagori – bukan hanya suku Malayu maka kepanitianpun diserahkan kepada PKS Jakarta.

Kenyataan tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak suku Malayu (panitia lama – Irwan Husin) tersebut terpilih kembali secara aklamasi sebagai tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak nan balimo dengan jabatan Koordinator Seluruh Acara adalah sesuatu yang wajar mengingat kesiapan yang telah dimilikinya.

“Setidaknya, tokoh ini telah lancar melafazkan petatah-petitih, walau harus dengan terpaksa mengganti kata biduak menjadi sampan,” ujar seorang peserta disela obrolan santai sejenak setelah rapat berakhir.

“Sakali mandayuang sampan duo tigo pulang talampaui – seharusnya adalah sakali mandayuang biduak duo tigo pulau talampaui, namun hal ini bukanlah sebuah kesalahan yang fatal sebam sampan adalah biduak dan biduak adalah sampan.

Babenso saketeknyo, Tuak !

Untuk sekedar perbendaharaan kata : Malewa berarti batogak – mengangkat dan mengambil sumpah pangulu pucuak sebaai pimpinan tertinggi dalam strata suku yang akan menjadi tokoh panutan dan contoh serta suri tauladan bagi kemenakan dan persukuannya serta menjadi public Figure dan utusan bagi persukuannya.

Kembali pada seputar kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo.

Keberhasilan yang diharapkan tentu mustahil dicapai apabila hanya dilimpahkan kepundak tokoh ini tapa ada uluran tangan dan bantuan moril serta materil dari para codiak pandai nan copek kaki ringan tangan.

Untuk itu dalam rapat andhiko tersebut telah dicapai kata mufakat bahwa pada tiap-tiap suku harus membentuk kepanitian sendiri dalam kesukuannya, untuk itu dari kedelapan belas andhiko yang bernaung dalam kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama warganya yang akan menjabat dalam kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo 2002.

 

Tercatat delapan belas orang tungganai telah menyatakan kesediaannya untuk mewakili kedelapan belas andhiko kampuang, diantaranya : H. Hussein Yunus, Akman Burhan, H. Jamaran Turut, H. Syafrie Rauf, BBA, H. Rijal Jalil dan lain-lain.

 

Dalam kepanitian ini, Koordinator Acara lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan pekerjaan yang berorientasi keluar, seperti : KAN, PEMDA, LKAAM dan lain-lain

 

MAMBANGKIK BATANG TARONDAM

 

Sudah sedemikian parahkah kondisi Silungkang sehingga generasi sekarang harus memikul beban untuk mambangkik batang tarondam ?

 

Atau sudah seberapa dalam keterpurukan nama Silungkang dalam kancah percaturan adat alam Minangkabau ?

 

Tidak !

 

Silungkang tidak tertinggal apalagi tenggelam. Sekali tidak ! Silungkang tetap eksis dalam percaturan regional atau nasional.

 

Hanya saja, Silungkang sedikit ketinggalan untuk mengekpresikan diri dan menempatkan diri pada bidang kepemerintahan.

 

Kenyataannya, memang belum ada warga Silungkang yang berkesempatan menjadi amtenaar dengan menduduki jabatan sebagai Camat, Bupati, Gubernur dan seterusnya.

 

Inilah kenyataannya !

 

Namun, hal ini tentu tidak bisa dijadikan indikator atau barometer mutlak untuk mengukur ketertinggalan Silungkang.

 

Karena disisi lain, ternyata sudah ada beberapa orang warga Silungkang yang menduduki jabatan terhormat (bila jabatan dalam keperintahan dianggap begitu), namun biasanya, bila ada warga Silungkang yang berkesempatan menduduki posisi penting jarang sekali yang mau menonjolkan diri.

 

Dalam hal dunia bisnis ?

 

Tentu adalah suatu hal yang wajar apabila ada yang jatuh dan yang bangun karena memang begitulah irama kehidupan pedagang.

 

Dalam Lembaga KAN, apakah Silungkang dan Padang Sibusuak yang pernah berjaya dengan sebutan Gajah Tongga Koto Piliang sudah diperhitungkan lagi ?

 

Tidak juga, buktinya Rajo Pagaruyuang (dalam hal ini simbolik) nan duduak samo rondah togak samo tinggi jo Silungkang (duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan Silungkang) berpesan “Apabila Silungkang nan bagola harimau campo koto piliang ingin malewa pangulu, persiapkanlah dengan matang karena itu bisa jadi barometer”.

 

Artinya, Silungkang masih diperhitungkan dan Silungkang punya banyak kaum codiak pandai, alim ulama dan pengusaha serta kaum intelektual.

 

Lantas apa gunanya kita Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo ?

 

Malewa Pangulu dengan tuntutan kemajuan Silungkang memang tak terkait erat, tapi tak berarti tidak berkaitan.

 

Sejak Silungkang dipaksa ikut Kotamadya Sawahlunto pada tahun delapan puluhan, Silungkang yang bersahaja seolah kehilangan jati diri.

 

Silungkang harus melaksanakan sistim pemerintahan desa di bawah kepemimpinan seorang Kepala Desa – sebuah sebutan yang sangat tidak akrab ditelingo (telinga) warga Silungkang yang sudah terlanjur akrab dengan sistim pemerintahan nagari bersama Pak Woli-nya (Wali-nya).

 

Kerapatan Adat Nagori – KAN – sebuah lembaga atau limbago – wadah yang dibentuk guna mengkoordinir (menggantikan ?) peran para kepala suku, pangulu pucuak yang dalam sistim pemerintahan nagari sangat dominan berperan secara aktif dan sebagai filter atau penyaring sebelum sebuah persoalan sampai ke tingkat pengadilan dan perangkat hukum negara lainnya.

 

Dalam sistem pemerintahan nagari, setiap persoalan yang timbul dalam suatu kampung akan diselesaikan dalam kampuang itu sendiri dengan segenap perangkat kampuang yang ada.

 

Bila hal tersebut tak bisa diselesaikan dalam kampuang tersebut, barulah bisa naik ketingkat Suku dan apabila masih tak juga mampu diselesaikan maka baru bisa naik ke tingkat nagari dan begitu seterusnya sampai ke tingkat tertinggi.

 

Tidak seperti yang berlaku sekarang di Silungkang dengan sistim pemerintahan desanya – hampir semua urusan diselesaikan di kantor polisi atau pengadilan – sehingga fungsi niniak mamak, codiak pandai dan alim ulama semakin kabur dan pada akhirnya sirna dengan sendirinya – musnah.

 

Tentu, kita tak ingin hal tersebut berlaku di tanah leluhur kita tercinta ini.

 

Lantas, apa saja yang dikerjakan lembaga Kerapatan Adat Nagari ?

 

Banyak ! Kami dapat memastikan, lembaga KAN telah berbuat banyak untuk Silungkang dan warganya.

 

Hanya saja, entah kenapa lembaga yang tumbuh dari bawah ini selalu saja mendapat cibiran dan perlakuan sinis dari warga masyarakat.

 

Banyak warga yang enggan memanfaatkan lembaga ini bahkan keberadaannya sering dianggap bak angin lalu saja.

 

Mana mungkin, saya bisa menjalankan roda KAN ini seorang diri” kata Ketuanya dalam suatu kesempatan berbincang santai.

 

Banyak warga masyarakat dan pengurus yang ada di dalam KAN bila diundang rapat tidak mau hadir, jadi …. yah saya terpaksa kerja sendiri sebatas kemampuan yang ada.”

 

Jangan sekali-kali mencap saya sebagai ketua yang tidak kooperatif apalagi mau menjadi single fighter – otoriter – karena saya telah mencoba bekerja sebaik mungkin sesuai ketentuan yang ada dan selalu menghimbau agar setiap warga untuk memanfaatkan keberadaan lembaga KAN dan meminta seluruh pengurus KAN untuk aktif bersama-sama” tambahkan lagi dengan serius.

 

Jadi, KAN itu … berhasil atau gagal ?

 

Penilaian setiap orang tentu berbeda, apalagi KAN ini adalah lembaga pelayanan masyarakat, tentu sangat kompleks permasalahan yang dihadapinya.

 

Apapun penilaian Anda – apapun hasil yang telah dicapai – KAN adalah sebuah lembaga yang telah berbuat banyak untuk kita – untuk negeri kita tercinta – untuk kerapatan adat nagari.

 

“Malewakan pangulu pucuak ini adalah sebuah upaya guna menghidupkan kembali sesuatu yang sudah tak pernah kita nikmati lagi” kata ketua koordinator seluruh acara – Irwan Husein.

 

Mudah-mudahan dengan cara Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo, yang Insya Allah akan dilaksanakan 11 dan 12 Desember 2002, kita dapat mengoptimalkan kembali fungsi niniak mamak jo codiak pandai saroto alim ulamo nan redup selama era berselang.

 

Sekarang era reformasi, Bung !

 

Ayo, kita reformasi nagori kita demi kemaslahatan anak cucu.

 

Langkah pertama, reform diri kita sebelum memulai sebuah rencana besar – mengembalikan Silungkang menjadi nagari sebagai nagari pertama dalam sebuah kota madya yang kembali kepemerintahan nagari.

 

Jadilah pionir !

 

Buktikan bahwa Kenagarian Silungkang yang pernah hilang dan meliputi wilayah Silungkang Oso, Duo, Tigo dan Muarokalaban bukanlah sebuah nagari pecundang walau sedikit terlambat bila dibanding saudara kembar kita Padang Sibusuak atau Taratak Bancah yang dulu sempat bernaung dibawah panji kenagarian Silungkang.

 

Late is better than nothing, toh ….

 

Pasan Mandeh,

Tanyai diri Anda – apa yang bisa Anda perbuat untuk Silungkang, bukan apa yang bisa Silungkang perbuat untuk Anda. (plagiat dari ucapan mendiang John F.Kennedy).

 

SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA MALEWA PANGULU NAN BALIMO

SILUNGKANG 11 – 12 DESEMBER 2002

 

PANITIA PENGARAH

KOORDINATOR ACARA, Drs. IRWAN HUSEIN.

KOORDINATOR SEMINAR ADAT, Ir. IRLAND Y. M, MM.

KOORDINATOR PUBAS, Drs. JHONY REFF ALBERT

 

PENANGGUNG JAWAB : PKS JAKARTA (Persatuan Keluarga Silungkang)

 

DEWAN PAKAR : ABDULLAH USMAN, HASAN RAID, PROF. DR. AMRI MARZALI, KOL. (PURN) H.M. ARIEF, Drs. DASLI NOERDIN, Msc, PROF. DR. AZHAR KASIM

 

KETUA PELAKSANA : H. FAUZI HASAN, BA

WAKIL KETUA : H. RIJAL JALIL, SE

SEKRETARIS : Drs. AL FEBRI

 

BIDANG NASKAH PIDATO ADAT

KOORDINATOR : Ir. H. HUSSEIN YUNUS

ANGGOTA : AKMAN BURHAN, H. MUNIR TAHER, H. MUSTAFA KAMAL, H. NAWIR SAID

 

BIDANG PENDANAAN

KETUA : H. DJAMARAN TURUT

WAKIL KETUA : H. HEFRIZAL HASMIR

 

BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT

KETUA : BUYA DAMRA MA’ALIM

WAKIL KETUA : H. DASTONI

 

BIDANG DOKUMENTASI

H. ARSAL CHAIPADMOOL, YAHDI JAMHUR

 

BIDANG ACARA

PROTOKOL : Drs. SABIRIN SARIN

ANGGOTA :

KOORDINATOR MAAGHAK PANGULU : H. MARWIN UMAR

KOORDINATOR MEDAN NAN BAPANEH : YOES CHAIDIR

KOORDINATOR MEDAN NAN BALINDUANG : H. HELMY YAN JALIL

 

 

Catatan :
Pelaksanaan Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo dinyatakan dengan sukses dan meriah.

 

Sumber : bulletin dwi bulanan Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

 

Dalam Edisi Juli – Agustus 2002 telah dibahas pula tentang acara ini. Berikut isinya :

Malewa berasal dari bahasa Silungkang asli atau setidak-tidaknya adalah bahasa yang sudah umum dipakai di Ranah Minang, alam Minangkabau yang penuh pesona.

 

Malewa mungkin bisa berarti mengangkat, memaklumatkan, mengabarkan, memproklamirkan, memasyarakatkan, merilis, me-launching dan atau apa saja yang senada dengan itu (mohon ma’af kalau salah).

 

Pangulu bukanlah penghulu seperti yang lazim kita pahami sehari-hari. Kalau Penghulu yang lazim kita ketahui adalah petugas dari Kantor Urusan Agama yang bertugas menikahkan pasangan calon suami istri sehingga menjadi pasangan suami istri yang syah menurut hukum adat dan agama.

 

Pangulu adalah Ketua Adat dalam satu Suku atau kaum, mungkin juga bisa atau layak disebut Kepala Suku, seperti Pangulu Pucuak Suku Dalimo, Pangulu Pucuak Suku Patopang, Pangulu Pucuak Suku Malayu, Pangulu Pucuak Suku Payaboda dan Pangulu Pucuak Suku Supanjang dan lainnya.

 

Pangulu atau di bagian lain Minangkabau yang super demokrasi ini biasa disebut dengan “Datuak” adalah pimpinan strata tertinggi dalam kepemimpinan Adat Alam Minangkabau.

 

Untuk itulah, para Pangulu atau Datuak dipilih melalui seleksi yang amat ketat atau dengan kata lain tak sembarang orang bisa menjadi Pangulu atau Datuak ini.

 

Gelar dan atau jabatan yang pangku oleh para Pangulu atau Datuak ini biasa diberikan kepada seorang lelaki dalam sebuah suku yang telah dikenai dan telah teruji dedikasi, ilmu pengetahuan, kepiawaian dan tentu pengetahuan.

 

Oleh karena itulah tak sembarang orang bisa memakai gelar-gelar tersebut, kalaupun dalam suatu kurun waktu gelar tersebut “harus” berpindah kepada yang tidak memiliki garis keturunan langsung, itu biasanya hanya untuk kurun waktu yang sementara saja karena gelar tersebut pada waktunya harus dikembalikan ke keturunan langsung si empunya.

 

Kalau saja Malewa dapat kita artikan mengangkat dan memproklamirkan, maka arti Malewa Pangulu adalah mengangkat dan memproklamirkan Kepala Suku.

 

Jelas ini bukan sebuah pekerjaan yang ringan. Perhelatannya tentu juga bukan sebuah helat atau hajat yang kecil, Iko Baolek Godang !

 

Tak terbayangkan, di Silungkang, yang konon menurut sejarah belum pernah ada acara Malewa Pangulu sejak setengah abad berselang, yang artinya generasi Silungkang yang berusia 60 tahun pada tahun 2002 ini mungkin belum pernah mengalami peristiwa akbar seperti ini kalaupun pernah berkesempatan melihat tentu belum dapat menarik arti dan peristiwa tersebut – kesibukan yang akan dialami panitia penyelenggara yang mau tidak mau harus bekerja kerja mulai dari tahap penyeleksi Bakal Calon Penghulu sampai pada penentuan “Calon Jadi” sesuai tahapan-tahapan dan kaidah-kaidah yang berlaku sampai pada mempersiapkan sebuah penghelatan besar yang akan melibatkan kelima suku yang di Silungkang.

 

Bisa jadi solusinya yang diambil adalah melibatkan semua unsur yang tersedia di Silungkang dan mengambil lokasi di Cintomoni – stadion utama Silungkang semata wayang – yang posisinya memang terletak di tengah-tengah Kenagarian Silungkang karena populasi warga Silungkang tersebar mulai dan Silungkang Oso yang berbatas dengan Kabupaten Solok, Silungkang Duo, Silungkang Tigo sampai ke Muarokalaban berbatas dengan Padang Sibusuak dan kota Sawahlunto – mungkin saja.

 

Namun bila ditilik dan hari H-nya atau hari pelaksanaannya yang bertepatan dengan awal bulan Syawal 1423 H, sekitar awal Desember, yang berarti adalah masa liburan hari raya Idul Fitri, sebuah momen yang tak pernah ditinggalkan oleh warga Silungkang di perantauan untuk melaksanakan acara pulang kampuang atau pulang basamo, sementara jauh-jauh hari Ikatan Generasi Muda Silungkang (IGMS) di Jakarta telah memaklumatkan dan menyebarkan brosur tentang jadual pelaksanaan PULBAS IGMS 2002 yang akan berlangsung pada tanggal 7 s/d 16 Desember 2002. Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya Silungkang yang akan dibanjiri oleh perantauan yang akan dibanjiri oleh perantaunya sendiri karena beberapa momen penting yang melibatkan banyak orang akan berlangsung pada kurun waktu yang bersamaan.

 

Silungkang baolek godang, koordinasi dan komunikasi tentu adalah kunci utamanya, dedikasi yang tinggi segenap panitia dan masyarakat perantau serta penduduk setempat sangat dibutuhkan untuk keselamatan dan kemashatan perhelatan akbar ini.

 

Demi menghindari pergesekan yang bukan mustahil bisa terjadi antara para perantau yang pulang kampuang, Mudikers, yang pasti tentu sudah banyak lupa dan atau malah sama sekali tidak mengerti adat istiadat dan kebiasaan yang boleh atau lazim berlaku di tanah leluhur mengingat kebiasaan yang telah berlangsung lama selama di kota-kota besar adalah sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja, kiranya perlu diantisipasi oleh panitia untuk membuat semacam buku saku tentang “Apa yang harus dan Apa yang Jangan Diperbuat selama di Silungkang” (seperti “Do’s and Don’t”nya Brunei Darussalam yang dengan mudah bisa didapat pada outlet penjualan karcis pesawat udara Brunei Air Lines dan travel bironya), sebab penduduk setempat tentu tak ingin adat istiadat dan kebiasaan serta kepatutan yang telah berlaku turun temurun dan telah berurat berakar tidak diindahkan keberadaannya.

 

Yang tak kalah penting, tentu akan banyak penduduk setempat yang akan memanfaatkan peristiwa akbar ini misalnya dengan berjualan aneka penganan khas dan souvenir agar dihimbau untuk tidak menaikkan harga berlipat ganda, mengingat hal tersebut bisa merugikan si pedagang tersebut, karena tentu para mudikers akan berpikir panjang sebelum membeli, betapa ironisnya bila uang rupiah yang dibawa para mudikers yang notabene adalah dun sanak awak juo harus beredar di kota Sawahlunto, Solok, Bukittinggi, Padang dan kota-kota lainnya sebab selang beberapa tahun terakhir gejala tersebut mulai terlihat nyata. Bijaksanalah !

 

Naikkanlah pendapatan dengan cara menjual sebanyak-banyaknya barang dagangan namun tetaplah pada harga standard yang sudah berlaku sehari-hari agar para mudikers menjadi betah dapat merasakan kenikmatan yang tak terlupakan selama berada di tanah leluhurnya tanpa mengeluarkan biaya yang semestinya ia keluarkan atau dengan kata lain pra mudikers tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk kenikmatan yang sama pada acara akbar tersebut.

 

Tentu peran para petugas keamanan akan sangat penting adanya. Betapa tidak, bila diprediksi pada mudikers tahun 2002 ini sebanyak 2.000 orang saja maka akan ada sekitar 500 – 600 buah kendaraan dengan berbagai jenis dan ukuran.

 

Sementara areal parkir utama yang ada di Silungkang adalah sepanjang jalan lintas Sumatera yang melintasi Silungkang. Tingginya volume kendaraan yang melintas di Silungkang – ingat Silungkang adalah jalur vital Trans Sumatera jalur tengah. Ini tentu sangat riskan !

 

Disampaikan oleh Buya

Revisi oleh admin

 

Sebelum Nagari Silungkang bernama Silungkang yang ada baru Taratak Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo. Sejak kapan Nenek moyang orang Silungkang mendiami Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo, hingga kini belum pernah orang awak melakukan penelitian.

Menurut curaian Syamsuddin Datuk Simarajo1) bahwa Nagari Silungkang telah didiami semenjak abad ke VI sebelum Masehi. Dari mana sumber Syamsuddin Datuk Simarajo menyimpulkan demikian, tidak jelas. Penelusuran masih diperlukan untuk membuktikan kebenarannya. Sekira benar apa yang dikatakan Syamsuddin tersebut, maka berarti Silungkang telah berusia kurang lebih 2500 tahun.

Menurut keterangan itu juga bahwa tempat pertama yang didiami nenek moyang orang Silungkang ialah Taratak Boncah. Dari Taratak Boncah ini nenek-nenek kita berbagi badan. Sebagian turun ke Silungkang dan yang sebagian pergi ke Padang Aka Bulu, yang kemudian bertukar nama menjadi Padang Bulu Kasok dan di dalam perkembangan seterusnya berganti nama jadi Padang Sibusuk.

Dari situlah nampaknya maka Silungkang dan Padang Sibusuk dikatakan bersaudara. Terdiri dari 11 Niniek. Niniek yang 5 orang turun di Silungkang, sedang yang 6 orang turun di Padang Sibusuk. Ada yang mengatakan bahwa yang turun ke Silungkang yang tua, sedang yang ke Padang Sibusuk yang kecil. Tetapi tidak ada keterangan apakah semua yang turun di Silungkang itu urutan usianya lebih tua daripada yang turun ke Padang Sibusuk, atau ada pula terselip yang kecil dari yang tua itu.

Terhadap curaian di atas ada yang mempertanyakan : apakah yang ke 5 orang Niniek yang turun di Silungkang itu semuanya wanita atau pria ? Jika semuanya wanita atau pria dengan siapa mereka kemudian berumah tangga ? Apakah dengan pria atau wanita yang telah lebih dulu mendiami Silungkang ? Atau datangnya memang telah berpasangan (suami isteri) ? Jika telah berpasangan yang bersaudara wanitanya atau prianya ? Hingga kini pertanyaan itu masih tetap dipertanyakan.

Dalam rangka meyakinkan pembacanya bahwa Silungkang dan Padang Sibusuk bersaudara, maka Chaidir Taher Samposo Mudo dan Rusli Taher Sampono Gagah2) mengemukakan Kepala rombongan yang turun ke Silungkang dan Padang Sibusuk itu ialah Datuk Sangguno. Sebelum Niniek yang berlima turun ke Silungkang beliau bertanya kepada Datuk Sangguno. “Jikok kami nan manaruko Taratak, apo tuahnya dek Nagari?” (Jika kami hendak menggarap Taratak, apa tuahnya oleh Nagari).

Menanggapi pertanyaan tersebut, maka Datuk Sangguno menjawab : “Jikok kalian nak manaruko Taratak nan jadi tuah dek nagari ada tigo perkaro : 1. Batang aie di tangah koto. 2. Nan balubuak di ikue/kapalo koto. 3. Nan batalago di bawah bukik” (Jika kalian hendak menggarap Taratak yang jadi tuah oleh nagari ada tiga hal : 1. Batang air di tengah kota. 2. Yang berlubuk di ekor/kepala kota. 3. Yang bertelaga di bawah bukit).

Ketiga ciri yang dikemukakan sebagai tuah oleh nagari itu terdapat di Silungkang. Batang air Lasi memang mengalir di tengah nagari. Lubuk di ekor nagari ialah Lubuak Nan Godang, sedang Lubuak di kepala nagari ialah Lubuak Kubang. Sedang telaga di bawah bukit ialah Danau di bawah Ngalau Basurek, di Sawah Darek, Desa Sungai Cocang.

Pertanyaan yang senada kepada Datuk Sangguno juga diajukan oleh Niniek yang berenam. Menjawab pertanyaan Niniek yang berenam Datuk Sangguno mengatakan : “Kok kalian nak manaruko taratak pai la arah ka hilie, nan ka jadi tuahnya dek negari ada limo : 1. Ula lidi malingka koto. 2. Buayo mandukuang anak. 3. Aie tiri ma adok mudiek. 4. Aie manobuak batu. 5. Talago ma adok mudiek” (Jika kalian hendak menggarap Taratak pergilah ke arah hilir, yang akan menjadi tuahnya oleh nagari ada 5 : 1. Ular lidi melingkar kota. 2. Buaya mendukung anak. 3. Air tiris menghadap mudik. 4. Air menembus batu. 5. Telaga menghadap mudik).

Kelima ciri tersebut memang terdapat di Padang Sibusuk. Yang dimaksud Ular lidi melingkar kota ialah Batang Piruko melingkar nagari Padang Sibusuk; Buaya mendukung anak ialah Tanjung Barisi dalam nagari Padang Sibusuk; Air tiris menghadap mudik ialah di daerah Simancuang; Air menembus batu tempatnya di pintu angin Lobang Kolam Kupitan; telaga menghadap mudik tempatnya di daerah pabrik genteng Batu Putih.

Kemudian oleh penulis di atas ditambahkan pula bahwa kepada Niniek yang berlima diberi tuah oleh Datuk Sangguno berupa benang dengan balero, lengkap dengan alat peraganya. Bertenunlah yang akan menjadi mata pencahariannya. Sedang kepada Niniek yang berenam oleh Datuk Sangguno diberi kapak dengan beliung, alat pertanian. Itu yang akan menjadi mata pencahariannya.

Tetapi siapakah yang sesungguhnya Datuk Sangguno itu, tidak ada keterangan ! Apakah beliau termasuk salah seorang dari yang 11 Niniek, ataukah diluar ? Jika termasuk yang 5 Niniek atau yang 6 Niniek ? Jika diluar, kemana beliau pergi sesudah 11 Niniek telah turun semuanya ke Silungkang dan Padang Sibusuk ? Dengan tidak jelasnya siapa sesungguhnya Datuk Sangguno maka rangkaian cerita dalam hubungan dengan Datuk Sangguno menjadi tidak jelas pula.

Pertanyaan yang belum terjawab di atas masih ada tambahan lagi. Bila benar bahwa asal orang Silungkang yang sekarang dari yang 5 Niniek, mengapa di Silungkang sekarang yang terkenal 13 Niniek (10 Niniek : Patopang dan Melayu – 3 Niniek Supanjang, Dalimo dan Payabadar)? Apakah 13 Niniek itu keturunan dari 5 Niniek ? Jika yang 13 Niniek itu keturunan dari yang 5 Niniek bagaimana pula perinciannya ?

Pertanyaan di atas hingga kini belum ada jawaban yang meyakinkan. Sejalan dengan itu ada keterangan bahwa Nenek moyang orang Silungkang datang di Silungkang beberapa gelombang. Ada yang datangnya langsung dari Batusangkar, ada yang melalui Sulit Air dan ada pula yang datang kemudian dari Tikalak dan sebagainya. Tentu saja pendapat yang mengatakan Nenek-Moyang orang Silungkang datang bergelombang tidak sejalan dengan keterangan bahwa orang Silungkang dan Padang Sibusuk terdiri dari 11 Niniek. Bila 11 Niniek, itu berarti Niniek orang Silungkang datangnya satu gelombang.

Memang sementara orang Silungkang hingga kini masih ada belahannya di Padang Sibusuk. Bila sementara yang ada belahan, itu tidak berarti seluruhnya punya belahan.

Perbedaan pendapat ini nampaknya masih akan berlanjut sampai diketemukannya data-data yang mendekati kebenaran tentang bagaimana yang sesungguhnya.

Catatan Kaki :

  1. Curaian Syamsuddin Datuk Simarajo, eks Wali Negari Pagaruyung, yang disampaikan kepada rombongan H. Kamaruzzaman antara 6 November – 24 Desember 1984 di Pagaruyung.
  2. Chaidir Taher Sampono Mudo, Rusli Taher Sampono Gagah : “Mambangkik Tareh Tarandam” (belum diterbitkan).

Buku “Silungkang dan Adat Istiadat” oleh Hasan St. Maharajo
Edisi 1, Jakarta, Mei 1988

I. Rajo Nan Tigo Selo

  1. Rajo Alam : Berkedudukan di Balai Gudam Pagaruyung. Balaiurangnya di Pagaruyung.
  2. Rajo Adat : Berkedudukan di Balai Janggo Pagaruyung. Balaiurangnya di Buo.
  3. Rajo Ibadat : Berkedudukan di Balai Bungo Kampung Tangah Pagaruyung. Balaiurangnya di Sumpur Kudus.

Tepatan Rajo III Selo :

  1. Datuk Bandaro Panjang di Biaro Balai Gurah (Agam)
  2. Datuk Nan di Ranah 50 Koto

II. Basa IV Balai (Dewan Menteri dalam Kerajaan Pagaruyung)

  1. Panitahan di Sungai Tarab
  2. Machudum di Sumanik
  3. Andomo di Saruaso
  4. Kadhi di Padang Ganting

III. Langgam Nan Tujuh

Harimau Compo Koto Piliang : Tuan Gadang di Batipuh (Datuk Pamuncak Alam Sati)

Pasak Kungkung Koto Piliang : Pucuk Negari Sungai Jambu jo Labuatan (Ali Basa jo Datuk Batuah)

Perdamaian Koto Piliang : Pucuk Negari Simawang jo Bukit Kandung (Datuk Maharajo Basa jo Datuk Rajo Nan Putih)

Cemeti Koto Piliang : Pucuk Negari Sulit Air jo Tanjung Balik (Sutan Batuah jo Datuk Rajo Endah)

Cermin Tarui Koto Piliang : Pucuk Negari Singkarak jo Sanimbakar (Datuk Pamuncak jo Datuk Nan Garang)

Gajah Tongga Koto Piliang : Pucuk Negari Silungkang jo Padang Sibusuk (Datuk Pahlawan Gagah jo Malintang Lobieh Kasatian)

Tampuak Tangkai Alam Minangkabau : Pariangan jo Padang Panjang (Datuk Bandaharo Kayo jo Datuk Maharajo Basa)

Penjelasan :

  1. Harimau Compo Koto Piliang : Ketentaraan
  2. Pasak Kungkung Koto Piliang : Kebudayaan dan Pendidikan
  3. Perdamaian Koto Piliang : Kehakiman
  4. Cemeti Koto Piliang : Kepolisian
  5. Cermin Tarui Koto Piliang : Siasat Luar dan Dalam
  6. Gajah Tongga Koto Piliang : Orang Gadang bermandat penuh. Aspri Rajo. Dewan Pertimbangan. Penasehat, diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada Rajo dan sesama langgam yang tujuh.
  7. Tampuak Tangkai Alam Minangkabau : Bintara Kiri dan Bintara Kanan

Disalin dari buku Datuk Simarajo

Sewaktu menerima curaian dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984

Yang Menyalin,

(H. Kamaruzzaman)

Catatan :

jo artinya serta

asalusul

 

a. Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) :

  1. Melayu

  2. Kampai

  3. Bendang

  4. Lubuk Batang

 

b. Melayu nan V Kampung (Kaum Datuk nan Sikalap Dunie)

  1. Kuti Anyir

  2. Patopang

  3. Banuhampu

  4. Jambak

  5. Salo

 

c. Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sabatang)

  1. Budi

  2. Singkuang

  3. Sungai Napa

  4. Mandahiling

  5. Ciniago

  6. Sipanjang

 

d. Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketemenggungan)

  1. Andomo Koto

  2. Piliang

  3. Guci

  4. Payabadar / Dalimo

  5. Tanjung

  6. Simabur

  7. Sikumbang

  8. Pisang

  9. Paya Cancang

 

 

 

Keterangan :

Koto Piliang dan Budi Ciniago disebut Lareh Nan Duo

 

Ciniago :

Ci = Cina / Kocin

Niago = berdagang / cari uang

 

 

Disalin dari buku Datuk Simarajo sewaktu menerima curaian adat dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984

 

Yang Menyalin,

 

 

 

H. Kamaruzzaman

 

 

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MARET/1999

Uraian ini diterima dari Syamsuddin Datuk Simarajo, ex. Wali Negari Pagaruyung, Ketua K.A.N. Pagaruyung, Ketua L.K.A.A.M. Kecamatan, Kepala Bidang Negari – Negari di L.K.A.A.M. Tanah Datar dan pimpinan Istano (Istana) Pagaruyung pada tanggal 6 / 11 dan 24 / 12 1984.

Sebelum pemerintahan Minangkabau berkedudukan di Pagaruyung, pusat pemerintahan bertempat di Bungo Setangkai.

Yang mengendalikan pemerintahan, disamping rajo adalah Langgam Nan 7, waktu itu Basa 4 Balai belumlah ada.

Salah satu dari Langgam yang 7 adalah Gajah Tongga Koto Piliang. Yang memegang jabatan itu adalah Datuk Pahlawan Gagah dari Silungkang dan Malintang Lobieh Kasatian dari Padang Sibusuk.

Jabatan/pangkat ini adalah jabatan/pangkat untuk Negari, bukan suku. Negarilah yang menentukan siapa yang akan memegang jabatan/pangkat itu.

Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah :

  1. Orang Gadang bermandat penuh.
  2. Aspri Rajo (Aspri = Asisten Pribadi)
  3. Dewan pertimbangan
  4. Penasehat. Diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada rajo dan langgam yang tujuh.


2.

Riwayat Negeri Silungkang
Negeri Silungkang ini didiami semenjak abad keenam sebelum masehi yang berarti sampai sekarang telah berumur lebih kurang 2500 tahun.

Waktu itu penduduk bermukim belumlah ditempat yang sekarang tetapi adalah diatas bukit-bukit sekitarnya.

Nama Silungkang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “Lowongan batu yang tinggi”.

Dari atas bukit-bukit yang tinggi inilah orang meninjau jarak dan bersebarlah sebahagiaannya dan terjadi/berdiri pulalah negeri-negeri disekitarnya.

Lunto, Kubang dan Padang Sibusuk waktu itu masih satu dengan Silungkang.

3.
Menurut keterangan yang diterima dari Monti Rukun Padang Sibusuk, niniek orang Silungkang dan Padang Sibusuk turun langsung dari Pariangan Padang Panjang.

Tempat yang mula-mula didiami adalah Tak Boncah. Dari Tak Boncah ini dibagilah badan. Serombongan pergi ke Silungkang dan serombongan lagi turun ke Padang Aka Bulu yang kemudian bertukar nama jadi Padang Bulu Kasok dan semenjak pertempuran dengan pasukan Aditiawarman ditukar namanya menjadi Padang Sibusuk.

Adapun rombongan yang turun ke Silungkang dipimpin oleh Monti-monti sedangkan yang turun ke Padang Aka Bulu (Padang Sibusuk) dipimpin oleh Penghulu-Penghulu.

Di Silungkang Monti-monti inilah yang dijadikan Penghulu. Waktu hal ini kami tanyakan, dijawab oleh beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) bahwa keterangan itu tidaklah benar karena :

  1. Alam takambang membuktikan yang Silungkang lebih dahulu adanya dari Padang Sibusuk.
  2. Silungkang telah didiami semenjak abad keenam sebelum Masehi. Waktu itu Kerajaan Minangkabau belum punya susunan seperti sekarang. Belum ada yang empat jinih. Tegasnya belum ber Monti.
  3. Padang Sibusuk bernama Padang Sibusuk adalah semenjak negeri ini didiami dan pada abad ketiga sebelum Masehi bernama Silungkang telah menjadi Gajah Tongga Koto Piliang, sedangkan pertempuran dengan Aditiawarman itu terjadi pada abad ketiga belas.Nama Padang Sibusuk ini diambil dari/karena di Padang banyak tumbuh rumput Sibusuk.

    Kejadian pertempuran dengan Aditiawarman itu memang benar dan pengaruhnya adalah menambah populernya nama Padang Sibusuk itu. Keterangan ini juga kami terima dari H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati dengan keterangan yang sama di Istano Pagaruyung pada tanggal 24 Desember 1984.

    H. Jafri Datuk Bandaro Lubuk Sati ini adalah pegawai kantor Gubernur Sumatera Barat yang ditunjuk untuk mengurus Istano Pagaruyung. Beliau telah mendapat bintang dan gelar Datuk Derjah Setia Negari dari kerajaan negeri Sembilan Malaysia karena masalah Adat.

4.
Istano (Istana) Pagaruyung gonjongannya adalah sebelas buah. Ini melambangkan perangkat pemerintahan Minangkabau di Pagaruyung yang terdiri dari Basa 4 balai dan Langgam yang 7. Karena Silungkang – Padang Sibusuk adalah salah satu dari Langgam yang 7, maka berarti bahwa salah satu dari gonjongnya itu adalah Silungkang – Padang Sibusuk (Gajah Tongga Koto Piliang).

Didalam Istano (Istana) Pagaruyung itu akan diperbuat 11 (sebelas) buah kamar (bilik). Sebuah dari kamar itu nantinya akan diperuntukkan untuk Gajah Tongga Koto Piliang (Silungkang – Padang Sibusuk).

5.
Beliau (Sjamsuddin Datuk Simarajo) berpesan : “Kami dari Istano Pagaruyung mengharapkan agar Gajah Tongga Koto Piliang mulai menyusun badan dari sekarang siapa orangnya yang akan mewakili Gajah Tongga Koto Piliang dalam peresmian Istano itu nantinya, seterusnya yang akan menempati kamar tersebut. Setelah tersusun akan segera kami kokohkan atas nama Kerajaan Pagaruyung”.

6.
Kami dari rombongan yang datang dari Silungkang (yang menerima uraian tersebut) mengusulkan agar : “Supaya pengurus Istano Pagaruyung mengusahakan pula mengadakan pertemuan antara kami Langgam yang Tujuh”. Usul ini beliau terima dan beliau berjanji akan mengusahakannya.

Demikian garis besarnya curaian yang kami terima.

Kami yang menerima curaian tersebut :

 

H. Kamaruzzaman : Datuk Rajo Intan

 

Arief Jalil : Datuk Mandaro Khatib

 

Rasyid Abdullah : Datuk Rangkayo Nan Godang

 

Izhar Harun : Datuk Rajo Nan Gadang

 

H. Nurdin Muhammad : Datuk Mangkuto Sati

 

 

 

 

Naskah ini diambil dari arsip

 

 

Ketua Kerapatan Adat (KAN)

Alm. Datuk Rangkayo Nan Godang

 

 

 

 

Yang Menyalin : H. Nazar Syamsuddin

 

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MAR/1999

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.