Minangkabau


Jakarta – Sawahlunto Kreatif kali ini menggelar Pameran Songket Silungkang sebagai Warisan Budaya Kota Tua Sawahlunto yang diselenggarakan di Museum Tekstil Jakarta Jl. K.S Tubun No. 2-4 Jakarta Pusat. Dalam pembukaan pameran, Rabu (17/4) hadir Walikota Sawahlunto, Ketua DPRD Sawahlunto, Ibu Vita Gamawan Fauzi, Ibu Oke Rajasa, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Ibu Dr. Vinia Budiarti, mewakili Gubernur DKI Jokowi yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Walikota Sawahlunto Amran Nur mengingatkan bagaimana di Sawahlunto pada tahun 1997 – 2008 hanya terdapat 377 orang pengrajin kain tenun songket Silungkang. Sampai tahun 2012, pengrajin bukannya berkurang namun bertambah menjadi 678 orang. Ini menandakan bagaimana kecintaan kepada kain songket Silungkang bisa membangkitkan generasi penerusnya. Harus diakui bahwa saat ini pendapatan dari penjualan kain songket Silungkang bisa mencapai 54 ribu helai per tahun, yang artinya kain tenun songket Silungkang ini bisa menjadi penopang perekonomian masyarakat.

Sementara itu Dr. Vinia Budiarti menyambut baik atas terselenggaranya pameran ini, mengingat Jakarta sebagai ibukota negara wajib untuk mempromosikan warisan budaya Indonesia dari daerah mana pun. Karena itu dengan diadakannya pameran songket Silungkang sebagai warisan budaya kota tua Sawahlunto, bisa menjadi acuan untuk daerah lainnya yang ingin mempromosikan warisan budaya daerahnya hingga ke manca negara.

20130419_Songket_Silungkang_Sawahlunto_4

Sebelum membuka secara simbolis Pameran Songket Silungkang sebagai Warisan Budaya Kota Tua Sawahlunto, Ibu Oke Rajasa mengingatkan bahwa tahun 2013 sebagai tahun pusaka, merupakan momen yang tepat untuk kita membangkitkan kembali warisan-warisan budaya yang selama ini mungkin belum dikenal secara luas. Dengan diadakannya pameran seperti ini, masyarakat akan kembali mengenal dan mungkin bisa berkreasi lebih bagus lagi untuk dimodifikasi dengan desain modern. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pengrajin kain songket, supaya produk yang dihasilkan tidak hanya berupa kain, namun bisa dijadikan alternatif lainnya, dengan kombinasi bahan dan benang yang bisa dimodifikasi.

Pameran yang akan berlangsung sampai tanggal 26 April akan diisi bincang wastra dengan tema Pameran Tenun Silungkang pada hari Minggu 21 April pukul 14.00 – 15.00 WIB, yang menghadirkan narasumber Walikota Sawahlunto Amran Nur, Ibu Judy Achadi, dan Dra. Wati Sudariyati, M.Pd. Pada pameran ini juga ditampilkan seorang penenun songket Silungkang yang mendemonstrasikan bagi para pengunjung bagaimana cara membuat kain songket Silungkang.

Foto: Ifan F. Harijanto | Editor: Intan Larasati
Read more at http://indonesiakreatif.net/news/liputan-event/songket-silungkang-warisan-budaya-kota-tua-sawahlunto/#yWy8H65myHlTqRYQ.99

Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

  1. SAKO

Sako artinya warisan yang tidak bersifat benda seperti gelar pusako. sako juga berarti asal, atau tua, seperti dalam kalimat berikut.

Sawah banyak padi dek urang

Lai karambia sako pulo

(lebih…)

UNDANG-UNDANG NAN DUA PULUH DAN

HUKUM ADAT DI SILUNGKANG

 Undang-undang yang dua puluh merupakan undang-undang yang mengatur persoalan hukum pidana, mengenai berbagai bentuk kejahatan dengan sanksi tertentu, dan bukti terjadinya kejahatan serta cara pembuktiannya.

Undang-undang dua puluh ini secara pokoknya disusun oleh kedua ahli hukum Minangkabau yaitu Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpati Nan Sabatang.

(lebih…)

Hadirilah …….
Semua warga negara Indonesia dan Mancanegara

PAMERAN dan FASHION SHOW SONGKET SILUNGKANG di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta Pusat

30 – 31 Oktober 2012Los Lambung (Stand Makanan) diisi ALE-ALE ANGEK (panas), COKI, LUPI (lupis), SOP DAN SOTO WARGA SILUNGKANG JAKARTA, dll.Undangan yang akan hadir Duta Besar Negara Sahabat, Menteri, Pejabat Negara, Bisnismen, Investor dan lain-lain.Setiap hari dihadiri kurang lebih 1500 orang (Insya Allah)

Musik : Talempong, Randai, Gamad, Badiki dan KIM

KIM mulai jam 20.00 WIB

Pameran dibuka jam 14.00 WIB

Makan Bajamba diutamakan masyarakat LUAR KOTA SAWAHLUNTO sebanyak 50 Jambai = 250 orang. Pada tanggal 31 Oktober 2012. Jam 18.30 WIB

AGENDA ACARA

Selasa, 30 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

18.00 – Selesai

  • Kesenian rakyat
  • Talempong
  • Randai
  • Saluang
  • Rabab
  • Kim

Rabu, 31 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

19.00 – Selesai

  • Makan Bajamba

20.00 – Selesai

  • Malam puncak Sawahlunto Kreatif
    • Sambutan Walikota Sawahlunto
    • Launching Buku Sahabat Sawahlunto dan Ragam Hias Songket Silungkang
    • Sambutan Gubernur Sumatera Barat
    • Orasi menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif tentang “Ekonomi Kreatif” Sekaligus membuka acara.
    • Pertunjukan Sendra tari karya Hartati dengan tema “ Restorasi Songket Silungkang”
    • Fashion Show oleh Ria Miranda dengan tema “Minang Heritage”

Agenda acara diatas dikutip dari Undangan yang telah dan akan diedarkan. Sekapur sirih atau sambutan Walikota Sawahlunto dalam undangan tersebut semuanya mengangkat songket Silungkang. Berikut sedikit cuplikannya:

Aktifitas tenun Silungkang yang bernilai ekonomi itu tidak diragukan lagi eksistensinya. Perjalanan tenun Silungkang dengan berbagai produk songket telah mengalami berbagai dinamika dan pasang surut. Tenun songket Silungkang dimasa silam telah menorehkan prestasi hingga ke pentas dunia. Sejarah mencatat dimasa pemerintahan Hindia Belada, pengrajin tenun Silungkang telah ikut serta dalam Pekan Raya Ekonomi Eropa, tepatnya di Brussel Ibukota Belgia ditahun 1920.

FYI: Warga perantau asal Sawahlunto diharapkan meramaikan acara hari pertama dan hari kedua dengan datang berbondong-bondong ke TIM. Acara makan bajamba dan malam puncak di dalam gedung diutamakan untuk undangan karena sifatnya untuk promosi parawisata sawahlunto dan songket Silungkang

15. Ciri Masyarakat Minang

1. Aman dan Damai

Bumi yang Damai

  1. Kalau adat berbuhul sintak, sekata baru dijalankan, lurus yang tak mungkin menghindar, hukum yang benar yang diturutkan,
  2. Sudah mujur yang teraih; paham seukur yang dicapai, keruh yang sudah diperjernih, kusut yang sudah diselesaikan,
  3. Tak ada keruh yang takkan jernih, tak ada kusut yang takkan selesai, sepuas silang dan selisih, dapat yang benar tibalah damai,
  4. Supaya sama tampak putih hati, tanda jernih tak berlumpur, berjabat tangan malah kini, begitu adat di hlinangkabau,

Hidup di Dunia
1. Hidup di atas bumi alam ini, menghuni kota dan nagari, ada empat corak dan ragamnya,

a. Pertama, hidup di bumi – kasih pada pacul dan tembilang, suka bersawah dan bertani, memelihara ternak sampai berkembang, kuat bertahun dan menanam, muda tanaman karena disiang ( bersih ), mau mencangkul dan meratakan, jangan tanggung-tanggung,

b. Kedua, hidup di laut – sampan pengayuh kebesaran, alat perkakas serba lengkap, namanya tegak di pertukangan ( nelayan ), tahu dengan ombak yang berdebur, ingat dengan badai yang akan tiba, badan sehat tiang utama, kepintaran pun ada juga,

c. Ketiga, Hidup di awang-awang ( berdagang ) – terbang menyisir awan biru, sayap rimbun ekor pun panjang, mau menjaring angin lalu ( bergaya ), kalau patah sayap tercabut bulu, siang dan malam silih berganti, pandai menenggang yang seperti itu, hidup berniaga itu namanya,

d. Keempat, hidup di langit ( ulama ), iman teguh amalan taat, tahu dengan mungkin dan patut, dunia akhirat supaya selamat, yang baik cinta di hati, pada yang baik tunggang niatan, nafsu dibendung akal budi, pandangan pada dunia berukuran,

2. Itulah macamnya hidup yang empat, diatas dunia supaya dipakaikan, pegang amanat erat-erat, amanat yang jangan dilupakan.

2. Masyarakat nan Sakato

Ciri-cirinya :
Bumi senang padi menjadi, padi masak jagung mengupil, anak buah senang sentosa, ternak berkembang biak, bapak kaya ibu bertuah, mamak disembah orang pula

Unsur-unsurnya :
1. Saiyo Sakato, yaitu seia sekata, seperti kata pepatah :

a. Proses pengambilan keputusan
- Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, bulat supaya boleh digelindingkan, pipih supaya boleh dilayangkan

b. Mendukung hasil keputusan dengan utuh
- Seciap bagaikan ayam, sedenting bagaikan besi,


c. Semangat musyawarah

- Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama-sama berlapang-lapang, kata sendiri dibulati ( dimantapkan ), kata bersama dirundingkan (sebelum diputuskan)

d. Semangat kebersamaan
- Ke hulu se-entak galah, ke hilir serengkuh dayung, sekata lahir dan batin, sesuai mulut dan hati,


e. Anti sikap otoriter

- Walau hinggap ingin mencekam, kuku yang tajam tak berguna, walau memegang tampuk alam, kata mufakat yang kuasa, yang baik diambil dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan rundingan,


f. Filosofi mengatasi silang sengketa

- Kalau pecah, pecahnya pelupuh, kalau kusut, kusutnya bulu ayam, retak yang tidak membawa mara ( bahaya ), jengkel yang tidak membawa sengsara, genting yang berpantang putus, biang yang tidak akan tembus,

g. Penyelesaian masalah di luar musyawarah buruk
- Yang benar kata seiya ( sekata ), yang raja kata mufakat, baik kata di dalam mufakat, dicari rundingan yang seiya, dicari kata yang sebuah, beriya-iya dengan yang muda, bertidak-tidak dengan yang tua,

h. Untuk mufakat perlu musyawarah
- Mengeruk sehabis lobang, meraba sehabis rasa, habis daya badan tergeletak, habis faham akal berhenti, katapun putus sendirinya, diindang ditampi teras, dikuras dedak di niru, dipilih gabah satu satu, dalam di pilih, dipilih lagi.

2. Sahino Samalu, yaitu harga diri individu menyatu/melebur menjadi harga diri kelompok suku, seperti kata pepatah :

a. Suku yang tidak boleh dianjak, malu yang tidak dapat dibagi, sesimpul seikat erat, seikat sesimpul mati, seikat bagaikan lidi, sesusun bagaikan sirih, selubang bagaikan tebu, serumpun bagaikan serat,

b. Sesakit sesenang, sehina semalu, serasa seperiksa, seadat selembaga, satu larangan clan pantangan,

c. Dekat jelang menjelang, jauh cinta mencinta, jauh di mata dekat di hati, jauh mencari suku, dekat mencari ibu.

3. Anggo Tanggo, tata pergaulan yang tertib dengan mematuhi aturan-aturan clan undang-undang serta pedoman-pedoman clan petunjuk-petunjuk yang diberikan penguasa adat, seperti kata pepatah :

a. Negeri berpagar undang, kampung berpagar aturan, tiap lesung berayam jago,

b. Negeri berpenghulu, kampung punya ketua, rumah punya tungganai, sawah berpematang, lading berbatas batu, rimba berbatas pohon jilung, bukit berbatas pohon murbai, padang berbatas pohon linggundi, hak yang berpunya, genggam yang beruntuk, seukur makanya jadi, sesuai makanya dipakai.

c. Salah cotok melentingkan, salah ambil mengembalikan, salah makan meludahkan, salah langkah surut kembali, salah kepada manusia minta maaf, salah kepada Tuhan minta tobat.

3. Sapikue Sajinjiang, yaitu saling membantu dengan pedoman berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, seperti kata pepatah :

a. Yang berat sama dipikul, yang ringar, sama dijinjing, ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun, yang ada sama di makan, yang tidak ada sama dicari,

b. Keluk paku kacang belimbing, tempurung lenggang*lenggangkan , bawa menurun ke Saruaso, tanamlah sirih di uratnya, anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung dipatenggangkan, tenggang negeri jangan binasa, tenggang serta dengan adatnya,

c. Yang lemah perlu ditunjang, yang miring perlu ditopang, ayam ada yang merinduk, sirih diberi junjungan ( batang ), hidup’ sandar bersandar, bagaikan aur dengan tebing.

3. Cita-cita Masyarakat Minang

Landasan ( Sendi ) :
Agama Islam, Adat nan Basandi Syarak dan Ilmu Pengetahuan yang bertumpu pada Akal dan Naqal ( dalil aqli dan naqli )

Prasarana :
Individu berbudi luhur
, yaitu hiduik bakiro, baukue, bajangko, babarieh dan babalabeh, baso basi, malu jo sopan, tenggang rasa, setia ( loyal ), adil, hemat dan cermat ( sumber daya manusia dan benda ), waspada, berani karena benar, arif – bijaksana dan rajin

c. Sarana :
Masyarakat yang sakato
, yaitu saiyo sakato, alue – patuik, mufakat, sahino samalu, raso pareso, menyatu, anggo tango, disiplin serta sapikue sajinjing, gotong royong clan kerjasama,

d. Tujuan :
Masyarakat aman, damai, makmur, ceria, berkah
( bumi sanang, padi menjadi, taranak bakambang biak ) atau baldatun toiyibatun wa Robbun Gafuur.

12. Fungsi Pusako

  • Untuk menghargai jerih payah nenek moyang yang telah “mancancang malateh, manambang dan manaruko” mulai dari niniek-*niniek zaman dulu sampai kita sendiri.
  • Sebagai lambang ikatan kaum yang bertali darah clan supaya tali darah tidak putus, kait-kait jangan pecah, sehingga harta pusaka ini menjadi harta sumpah satie ( setia ) dan siapa yang melanggar akan merana dan sengsara seumur hidup dan keturunannya.
  • Sebagai jaminan kehidupan kaum yang sejak dulu hingga sekarang masih terikat pada tanah ( kehidupan agraris ).
  • Sebagai lambang kedudukan sosial sesuai kata pepatah : Dengan emas segala beres, dengan padi semua jadi, hilang warna karena penyakit dan hilang bangsa tak beremas.
13. Hubungan Individu dan Kelompok

  • Sifat dasar masyarakat Minang adalah “kepemilikan bersama”. Tiap individu menjadi milik bersama dari kelompoknya dan setiap kelompok itu ( suku ) menjadi milik dari semua individu yang menjadi anggota kelompok itu. Rasa-saling memiliki ini menjadi sumber timbulnya rasa setia kawan ( solidaritas ) yang tinggi, rasa kebersamaan, dan rasa saling tolong menolong. Setiap individu akan mencintai kelompok sukunya dan setiap anggota dari satu suku akan selalu mengayomi atau melindungi setiap individu anggota sukunya. Kehidupan tersebut ibarat ikan dengan air atau pepatah mengatakan : suku yang tidak bisa dianjak dan malu yang tidak bisa dibagi.
  • individu yang berwatak baik akan membentuk masyarakat yang rukun, dan damai serta kelompok yang tertata rapi akan melahirkan individu-individu yang tertib dan berdisiplin baik.

Bersambung ….

9. Sako

  • Sako artinya warisan yang tidak berwujud benda ( immaterial ) tetapi sangat berperan dalam membentuk moralitas orang Minang dan kelestarian adat Minang atau disebut pula pusako kebesaran.
  • Yang termasuk Sako seperti gelar penghulu ( gelar kebesaran ), garis keturunan diwariskan secara turun temurun kepada anak perempuan (matrilineal), pepatah-petitih dan Hukum Adat yang diwariskan kepada semua anak dan kemenakan dalam suatu nagari clan kepada seluruh Ranah Minang serta tata krama dan adat sopan santun yang diwariskan kepada semua anak dan kemenakan dalam suatu nagari clan kepada seluruh Ranah Minang.
10. Pusako

Pusako atau harato pusako adalah segala kekayaan materi atau harta benda, seperti hutan dan tanah, sawah dan ladang, tambak dan kebun, rumah, pekarangan, pandam pekuburan, perhiasan, uang, balai, mesjid, peralatan dan lain-lain.

11. Ketentuan adat tentang sako dan harato pusako adalah sebagai berikut :

  • Hak berpunya dan harta bermilik.
  • Sako dan harato pusako pada dasarnya dikuasai dan dimiliki bersama (kolektif) kelompok-kelompok samande atau seperinduan, kelompok sajurai, kelompok saparuik atau sapayung, kelompok sasuku, dan milik nagari (pepatah-petitih, balai adat, mesjid, pasar, tanah ulayat dan pandam pekuburan).
  • Harato Pusako terbagi dua :
  1. Harta pusaka tinggi, yaitu segala harta pusaka yang diwarisi secara turun temurun dari niniek kepada gaek, dari gaek kepada nenek, dari nenek kepada mande dan dari mande kepada anak perempuan serta tidak boleh dijual. Masih dapat digadaikan bila keadaan terpaksa, seperti untuk kepentingan darurat mengurus mayat terbujur di tengah rumah, gadis dewasa belum bersuami, membangkitkan batang tarandam dan rumah gadang yang bocor atau penutup harga diri.
  2. Harta pusaka rendah, yaitu segala harta hasil pencarian orang tua ( bapak bersama ibu ) selama ikatan pernikahan ditambah dengan pemberian dari mamak dan tungganai kepada kemenakannya ( yang berasal dari hasil pencarian mamak dan tungganai itu sendiri ). Bila telah diwariskan kepada anak-anaknya selama 4 ( empat ) generasi dan disisipkan ke dalam harta pusaka tinggi maka disebut “harta susuk”.
8. Penerapan Adat

Lingkungan Pemerintahan Adat

  1. Berhitung dan satu, mengaji dari alif, naik dan jenjang yang di bawah dan turun dari tangga yang di atas.
  2. Kemenakan tunduk kepada mamak, mamak tunduk kepada penghulu, penghulu tunduk kepada mufakat, mufakat tunduk kepada kebenaran dan kebenaran itu berdiri sendiri.
  3. Mufakat tunduk kepada kebenaran dan menurut alur aturan yang pantas.

Lingkungan Pemerintahan

  1. Adat nan maniru manuladan, sahino samalu dan saraso sapanso.
  2. Alur sama diturut, jalan bersih yang ditempuh, adat sama dipakai dan aturan sama diturut.
  3. Yang meniru meneladani, bagaimana orang begitu pula kita, mencontoh pada yang ada, meneladan pada masa lampau dan mencari tuah kepada yang menang.
  4. Berlaba sama beruntung, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak, menimbang sama berat, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, kebukit sama mendaki dan ke lurah sama menurun.
  5. Yang ada sama dimakan, yang tidak sama dicari.
  6. Kalau jauh ingat mengingat, kalau dekat kunjung-mengunjungi.
  7. Tertelentang sama minum air, tertelungkup sama makan tanah, melompat sama patah dan merunduk sama bungkuk.
  8. Yang tua dimuliakan, yang muda dikasihi dan seusia diajak kawan.
  9. Kabar baik berhimbauan dan kabar buruk berhamburan.
  10. Pucuk pauh sedang terjela, penjolok bunga langgundi, agar jauh silang sengketa perhalus basa dan basi.
  11. Yang merah ialah sega, yang burik ialah kundi, yang indah adalah basa ( basi ) dan yang baik adalah budi.

Lingkungan Kehidupan Berdunsanak dan Berkorong Kampung

  1. Kampung berpagar dengan pusaka, negeri berpagar dengan aturan, disana aturan yang berlaku, baris yang tahan tilik dan aturan yang tahan uji.
  2. Menimbang sama berat, mengukur sama panjang. Tiba di mata tidak dipejamkan, tiba di perut tidak dikempiskan, tiba di dada tidak dibusungkan.
  3. Mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak clan menimbang sama berat.
  4. Yang ada sama dimakan, yang tidak ada sama dicari, hati gajah sama dipotong, hati tungau sama dicercah, yang besar bagi bertumpuk dan yang kecil bagi secercah.
  5. Perang sesuku sama dilipat ( berhenti ), perang dengan penyamun sama dihadapi.
  6. Tiba di dunsanak dunsanak pertahankan, tiba di kampung kampung dipertahankan, tiba di negeri negeri dipertahankan, tiba di bangsa bangsa pertahankan.
  7. Kalau kusut, kusutnya bulu ayam, dengan musyawarah diselesaikan, biduk lalu kiambang bertaut.

Lingkungan Mencari Nafkah

  1. Ingin kaya tekun mencari ( berusaha ), ingin tuah bertabur emas, ingin mulia tepati janji, ingin lurus rentangkan tali.
  2. Ingin nama tinggalkan jasa, ingin pandai rajin belajar.
  3. Manusia : Yang buta peniup seruling, yang pekak pelepas bedil, yang lumpuh penghuni rumah, yang dungu untuk suruhan, yang buruk untuk pekerja, yang kuat pengangkut beban, yang jangkung menjadi galah, yang pendek penyeruduk, yang pintar tempat bertanya, yang cerdik tempat berunding dan yang kaya tempat bertenggang.
  4. Tanah : Yang lereng tanami padi, yang tunggang tanami bambu, yang gurun jadikan kebun, yang basah jadikan sawah, yang padat untuk perumahan, yang munggu jadikan pekuburan, yang lubang tambak ikan, yang padang tempat gembala, yang becek kubangan kerbau clan yang rawang renangan itik.
  5. Kayu : Yang kuat untuk tonggak tua, yang lurus untuk rasuk paran, yang lentik untuk bubungan, yang bungkuk untuk tangkai bajak, yang kecil untuk tangkai sapu, yang setapak untuk papan tuai, yang ranting untuk pasak sunting, yang pangkal untuk kayu api dan abunya untuk pupuk padi.
  6. Bambu : Yang panjang untuk pembuluh, yang pendek untuk perian dan yang rebung untuk penggulai.
  7. Sagu : Sagunya untuk bekal ke dangau, ruyungnya ke tangkai bajak, ijuknya untuk atap rumah, pucuknya untuk daun rokok, lidinya untuk sapu.

Bersambung ……..

4. Langgo Langgi Adat

Sifat Adat
a. Sifat dasar
Adat berbuhul sentak dan Syarak berbuhul mati
, artinya mudah dilonggarkan atau dikencangkan dan terbuka untuk menerima perkembangan baru yang sesuai dengan pertimbangan alue dan patuik menurut logika orang Minang, yaitu sesuai dengan bunyi pepatah : “usang-usang diperbarui” atau “nan buruak dibuang jo etongan, nan elok dipakai jo mufakat”

b. Daya lentur adat Minang sesuai dengan klasifikasi/tingkatan adat yang terbagi atas empat tingkat :

  1. Adat nan sabana adat adalah sesuatu yang seharusnya, menurut alur dan patut dan seharusnya menurut tempat dan masa, agama dan peri kemanusiaa serta menjadi aturan pokok dan falsafah yang mendasari kehidupan suku Minang yang berlaku turun temurun tanpa terpengaruh oleh tempat, waktu, keadaan dan berlaku di seluruh ranah Minang, seperti yang dikiaskan dalam kata-kata adat : Adat yang tidak akan kering ( lekang ) karena panas, yang tak akan lapuk karena hujan paling-paling berlumut karena cendawan.Yang termasuk dalam adat ini adalah silsilah keturunan menurut garis ibu ( matrilineal ), pernikahan dengan pihak luar persukuan dan suami tinggal dalam lingkungan kerabat istri ( eksogami – matrilocal ) serta harta pusaka tinggi yang turun temurun menurut garis ibu dan menjadi milik bersama “sajurai” yang tidak boleh diperjual belikan, kecuali punah dan falsafah Alam Takambang Jadi Guru sebagai landasan utama pendidikan alamiah yang rasional serta menolak pendidikan mistik dan takhyul.
  2. Adat nan diadatkan adalah peraturan setempat yang telah diambil dengan kata mufakat ataupun kebiasaan yang sudah berlaku umum dalam suatu nagari. Yang termasuk adat ini adalah mengenai tata cara, syarat serta upacara pengangkatan penghulu, tata cara, syarat serta upacara pernikahan yang berlaku dalam tiap-tiap nagari. Daya lentur adat ini lebih tinggi dan dapat lebih mudah diperbarui.
  3. Adat nan teradat adalah kebiasaan seseorang dalam kehidupan masyarakat yang boleh ditambah atau dikurangi atau bahkan boleh ditinggalkan, selama tidak menyalahi landasan berfikir orang Minang, yaitu alue, patuik, raso pareso, anggo tango dan musyawarah. Yang termasuk adat ini seperti cara berpakaian, cara makan dan cara minum, dsb.
  4. Adat istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu nagari yang mengikuti pasang surut situasi masyarakat, yang umumnya bersifat seni budaya masyarakat, seperti pertunjukan randai, saluang, rebab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan acara perhelatan pernikahan, puntiang penghulu maupun menghormati kedatangan tamu agung serta adat sopan santun, basa basi dan tata krama pergaulan.

5. Limbago Nan Sapuluah
Selain pembagian empat tingkatan adat di atas, ada satu pengaturan adat yang bersifat khusus dan merupakan ketentuan yang berlaku umum, baik di ranah maupun di rantau.

Pengaturan itu disebut Limbago Nan Sapuluah yang terdiri atas “cupak nan duo”, yaitu Cupak Ash dan Cupak Buatan serta “undang-undang nan ampek”, yaitu Undang-undang Luhak Rantau, Undang-undang Pembentukan Nagari, Undang-undang Dalam Nagari dan Undang-undang nan 20 ( Pidana Adat ) serta “kato nan ampek”, yaitu Kato Pusako, Kato Daulu, Kato Buatan ( Kata Mufakat ) dan Kato Kemudian ( Kato Bacari ) yang seluruhnya menjadi dasar Hukum Adat Minang.

Bersambung ….

2. Arti Adat

Adat
adalah peraturan hidup sehari-hari yang menyangkut hal-hal mendasar, khususnya tentang landasan berpikir, nilai-nilai dalam kehidupan, norma-norma dalam pergaulan, falsafah hidup dan hukum-hukum yang harus dipatuhi.

Adat Minang adalah suatu konsep kehidupan yang disiapkan oleh nenek moyang orang Minang untuk anak cucunya dengan tujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat.


3. Nagari, Adat, Hukum dan Undang-undang Nan Ampek

Nagari Nan Ampek :
Pertama : Banjar
Kedua : Taratak
Ketiga : Koto
Keempat : Nagari

Adat Nan Ampek :
1. Adat Nan Sabana Adat
2. Adat Nan Diadatkan
3. Adat Nan Teradatkan
4. Adat Istiadat

Hukum Nan Ampek :

1. Hukum Bajinah : Saksi Keterangan
2. Hukum Qarinah : Tingkah Laku
3. Hukum Ijtihad : Dalil Nyata
4. Hukum Ilmu : Penelitian

Undang Nan Ampek :
1. Undang-undang Luhak Rantau
2. Undang-undang Pembentukan Nagari
3. Undang-undang Dalam Nagari
4. Undang-undang Nan 20

Bersambung ……

1. Arti Lambang Minangkabau

Tuan Sakato
: lambang masyarakat yang semufakat, yaitu Saciok Bak Ayam, Sadanciang nak basi.

Bola Bulan Bintang : lambang tauhid Islam, yaitu adat bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah (Al Qu’ran).

Tanduk Kerbau : Lambang 4 K (Kearifan, Kecerdikan, Ketekunan dan Keuletan), yaitu belum membayang sudah paham, hidup berakal (rasional), berukur dan berjangka (berencana).

Payung Panji
: Lambang kemuliaan, keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan masyarakat, yaitu bumi damai padi berbuah, padi masak jagung merekah, masyarakat senang sentosa, ternak berkembang biak, bapak kaya ibu bertuah dan mamak disembah orang pula.

Keris dan Pedang
: Lambang kesatuan hukum adat dan hukum Islam, yaitu untuk menjamin ketertiban masyarakat melalui pelaksanaan adat yang kuat dan syarak yang wajib.

Tombak : lambang ketahanan masyarakat, yaitu kampung yang berpagar aturan, negeri yang berpagar undang-undang. Dalam urusan suku memagar suku, dalam urusan kampung memagar kampung dan dalam urusan negeri memagar negeri.

Marawa (umbul-umbul) : Lambang wilayah Adat Luhak Yang Tiga, yaitu warna kuning melambangkan Luhak Tanah Datar (airnya jernih, ikannya jinak dan buminya dingin), warna merah melambangkan Luhak Agam (airnya keruh, ikannya liar dan buminya hangat) dan warna hitam melambangkan Luhak 50 Kota (airnya manis, ikannya banyak dan buminya tawar).

Bersambung ……

BAGIAN PERTAMA
BAGIAN KEDUA
BAGIAN KETIGA
BAGIAN KEEMPAT
BAGIAN KELIMA
BAGIAN KEENAM
BAGIAN KETUJUH

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

BAGIAN KEDELAPAN

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Dalam perjalanan menuju Malaysia tidak banyak percakapan yang terjadi karena suasana hati masih mengandung kesedihan, bayangan almarhum semasa hidup selalu menjelma diingatan dan suaranya masih terngiang ditelinga.

Biasanya disepanjang jalan kami selalu menikmati keindahan alam yang dilewati, tapi kali ini pemandangan yang indah itu berlalu begitu saja, cuacapun mendung, hujan tidak panaspun tidak. Tanpa terasa dikarenakan perasaan hampa, kami telah mendarat di pelabuhan Melaka. Di Melaka saya sengaja belum mencari kendaraan menuju Seri Menanti, saya bawa isteri dan anak saya jalan-jalan melihat objek wisata serta peninggalan sejarah, setelah puas barulah saya menuju ketempat perhentian taksi yang tak jauh dari pelabuhan. Kami naik taksi menuju Seri Menanti lewat Tampin, jadi kami tidak melalui Seremban karena jalannya jauh dan berbelit-belit. Jalan yang ditempuh Melaka – Tampin – Kuala Pilah – Seri Menanti jauh lebih pendek dari Melaka – Seremban – Kuala Pilah – Seri Menanti.

15 Maret 1999 kami kembali sampai di Seri Menanti, tetangga, teman sekerja dan orang-orang yang kami kenal ikut menyampaikan duka cita, karena kami sudah dianggap oleh mereka sebagai keluarga sendiri, karena kami juga apabila ada kemalangan disana kami menyempatkan diri hadir untuk takziah dan berdoa, asal kami tahu ada kemalangan di tetangga ata orang-orang yang kami kenal, kami tetap berusaha untuk datang, tak kira yang meninggal itu rakyat biasa atau kerabat raja.

Tidak saja sewaktu kemalangan, berhelat kawin, acara adat di kampung-kampung pun kami sering diundang dan dengan senang hati kami menghadirinya. Begitu juga halnya dengan keluarga kerajaan, sewaktu T. Khursiah meninggal saya ikut mengantar ke Makam Diraja, selesai penguburan saya juga ikut membaca yasin, tahlil dan berdoa. T. Khursiah adalah Permaisuri Tuanku Abdul Rahman. Di hari raya Idul Fitri, sesudah shalat hari raya saya juga pergi ke Istana Besar menjamu selera, karena waktu itu Istana Besar terbuka untuk umum, seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi di halaman Istana Besar Seri Menanti. Ini semua saya lakukan supaya saya dan keluarga membaur dengan masyarakat, sebagaimana pepatah mengatakan “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, disamping itu kesempatan tersebut saya gunakan untuk menambah pengetahuan saya tentang pengamalan Adat Perpatih di Negeri Sembilan serta membandingkannya dengan pengamalan Adat Minangkabau di Sumatera Barat. Saya merasa beruntung sekali bekerja di Seri Menanti, karena disinilah pusat kegiatan Upacara Adat Perpatih, jadi dengan mudah saya dapat mengamati pelaksanaan upacara tersebut dan saya pun juga dibawah ikut serta menjadi Urus Setia (Panitia).

Kami mulai bekerja seperti biasa, di samping itu acara demi acara juga berlangsung di sekitar tempat kami bekerja, kegiatan latihan Caklempong oleh Putera/Puteri Seri Menanti dan juga latihan Rebana oleh orang dewasa ditambah lagi dengan adanya Shooting Sinetron TV dan Shooting Iklan TV serta Shooting Video Klip juga ada Pameran oleh instansi pemerintah, kesemua itu menambah semarak suasana.

Caklempong dengan lagu Minang, Rebana dengan pukulan Rentak Melayu, Rentak Arab dan Rentak India sungguh mengasyikkan.

Pada suatu hari datang satu bus pengunjung dari negara India, semuanya sebaya, pemuda- pemuda tampan dan gadis-gadis cantik seperti aktor dan aktris Bollywood, pertama sekali mereka menuju ke tempat kumpulan rebana latihan, seorang diantara mereka yang mungkin sebagai ketua rombongan berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris, nampanya mereka ingin menyumbangkan sebuah lagu dan tari-tarian India serta mengajarkan rentak pukulan rebana yang diinginkan atau yang sesuai dengan lagu yang akan dinyanyikan. Maka mulailah dipalu rebana dengan serentak oleh anggota kumpulan rebana yang jumlahnya 10 orang, diikuti oleh seorang pemuda menyanyikan lagu India (berbahasa Urdu) dan pemuda-pemuda serta gadis-gadis lainnya menari dengan riangnya seperti yang kita lihat pada film-film India.

Tersentuh juga hati saya melihatnya, karena saya juga hobby nonton film India, biasanya saya melihat melalui layar bioskop-bioskop atau layar kaca televisi, sekarang langsung melihatnya. Panjang juga lagu yang dinyanyikannya, setelah berhenti semuanya bertepuk tangan. Saya maju kedepan menyalami penyanyi sambil berkata kepadanya supaya ditambah nyanyinya lagi, dia minta maaf tidak bisa, waktunya terbatas karena sudah diatur jadwal.

yamtuan5.jpgAwal bulan April 1999, terlihat kesibukan-kesibukan di Istana Lama dan di Istana Besar Seri Menanti, suatu acara yang langka dan diadakan pada hari Sabtu, 24 April 1999 yaitu acara ISTIADAT KEBERANGKATAN BALIK DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG, SETELAH TAMAT TEMPOH BERTAKHTA SEBAGAI DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG KE KE X. Yaitu acara penyambutan kepulangan Tuanku Jaafar ibni Al Marhum Tuanku Abdul Rahman dari Istana Negara Kualalumpur setelah bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang di-Pertuan Agung Malaysia dan kembali ke Istana Besar Negeri Sembilan, yang mana jabatan Yang Di-Pertuan Agung selanjutnya digulirkan kepada Raja/Sultan dari Negeri (Propinsi) lainnya, dan bertakhta selama 5 tahun, kecuali meninggal dunia. Raja/Sultan yang akan mendapat giliran tersebut sebanyak 9 orang.

Bisa kita bayangkan bahwa acara penyambutan ini diadakan di Seri Menanti sekali 45 tahun atau hampir setengah abad. Acara penyambutan ini diadakan selama 9 hari 9 malam, penuh dengan Upacara Adat serta Hiburan Kesenian Tradisional, Kesenian Modern juga ada pertandingan-pertandingan Olah Raga.

Pada tanggal 24 April 1999 tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu acara penyambutan Baginda. Pagi-pagi sekali pertama-tama saya mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepada salah seorang anak saya yang lahir pada tanggal 24 Aprl 1987, setelah itu baru berangkat menuju halaman Istana Lama, disana sudah ramai orang terutama Pemangku Adat yang sebagian mereka memakai TENGKOLOK DANDAN TAK SUDAH, yaitu destar (deta) kebesaran di Negeri Sembilan. Masyarakat mulai berdatangan, panitia sibuk dengan pekerjaan bagian mereka masing-masing, Seri Menanti penuh dengan hiasan, disepanjang jalan menuju Istana Besar seluruh lapisan masyarakat berbaris di tepi jalan, Pelajar dan Mahasiswa masing-masing membawa bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia, pertunjukan kesenian tradisional diadakan disepanjang jalan ditambah lagi dengan persembahan Kebudayaan kumpulan Cina, India dan Sikh. Di tepi jalan sebelah kiri dipagari oleh orang-orang pembawa Bunga Manggar sedangkan di tepi jalan sebelah kanan dipagari oleh group Vespa, Motor Klasik dan Mobil Antik.

Tepat pukul 4.45 ptg. (16.45 sore) iring-iringan mobil yang membawa kepulangan Baginda sampai di Seri Menanti, Gendang Perang dan Kompang dipalu silih berganti, tak kalah meriahnya sewaktu gendang Cina, India dan Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh meraung-raung diiringi pula oleh seruling kelompok India sungguh indah didengar, rakyat yang berjejar ditepi jalan mengibarkan bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia yang terbuat dari plastik berukuran kecil.

Setiba di Pintu Gerbang Istana, Baginda dan Permaisuri turun dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana diiringi tiupan seruling dan gurindam, setibanya di Pintu Istana beras kunyit pun ditabur, di Istana diadakan jamuan teh dan dilanjutkan dengan Acara Istiadat Menyimpan Alat-alat Kebesaran.

Pada malamnya pukul 8.30 malam (20.30), di Padang Bola Sepak (lapangan bola kaki) Seri Menanti dan Londa Naga (semacam telaga yang terletak di antara Istana Besar dengan lapangan bola kaki) diadakan persembahan Tatoo dan Ketrampilan oleh ATM (Angkatan Tentera Malaysia) 1 Briged. Persembahan ini mendapat perhatian besar dari pengunjung.

Seri Menanti sangat ramai dikunjungi, siang malam pengunjung silih berganti, para pedagang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual bermacam-macam barang dagangan, disini saya juga mengambil kesempatan untuk menjual Songket Silungkang dan barang-barang souvenir lainnya yang sengaja saya bawa dari Silungkang setiap saya pualng. Songket yang banyak laku waktu itu adalah songket cuki ponuah warna hitam dan warna merah dengan mokou warna emas, saya juga membawa sapu ijuk, karena sapu ijuk sedikit, banyak yang tidak kebagian, sapu ijuk oleh mereka bukan digunakan untk menyapu sampah, tetapi digangunt di dinding sebagai hiasan antik, mainan kunci berbentuk rangkiang (rumah adat Minangkabau) sangat laris terjual untuk digantung di mobil.

Acara demi acara dilaksanakan dengan lancar, aman dan tertib, acara Adat Istiadat, Kesenian Tradisional seperti Caklempong, Randai (ala Negeri Sembilan), Silat dan kesenian tradisional lainnya, dan juga kesenian-kesenian modern seperti persembahan lagu-lagu populer, pementasan drama, persembahan sastra. Disamping itu juga dimeriahkan dengan pertandingan-pertandingan olahraga.

Yang paling berkesan oleh saya adalah persembahan kesenian tradisional GHAZAL yang sengaja didatangkan dari Negeri Johor. Ghazal adalah lagu Melayu asli yang diiringi gabungan alat musik Melayu (biola), Arab (kecapi), India (gendang). Konon kabarnya musik Ghazal ini digunakan oleh Sultan Johor sebagai pengantar tidur. Saya tertarik dengan lagu Ghazal ini dari tahun 1968 lagi, sehingga koleksi kaset saya juga terdiri dari kaset lagu Ghazal. Mengenai kesenian tradisional yang ada di Malaysia, saya juga tertarik dengan Dondang Sayang dari Melaka, Mak Inang Pulau Kampai dari Negeri Sembilan, Dikir Barat dari Kelantan dan Boria dari Pulau Pinang, ini semua dapat saya tonton melalui TV 1 RTM (TV 1 Radio Talivisen Malaysia).

Tuanku Jaafar ibni A-Marhum Tuanku Abdul Rahman adalah satu-satunya keturunan Raja Pagaruyung yang masih berdaulat atau masih di Raja kan dan masih mempunyai Kerajaan yaitu Kerajaan Negeri Sembilan.

Selama Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang Di-Pertuan Agong, Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan dijabat oleh Putera Baginda yang tertua Tunku Laxamana Naquiyuddin ibni Tuanku Jaafar Al-Haj dengan gelar Paduka Seri Pemangku Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan Darul Khusus. Kepulangan Baginda disambut mesra oleh Paduka Seri Pemangku dengan TITAH ALU-ALUAN (kata sambutan) yang saya salinkan berikut dengan teks sebagaimana aslinya :
Tanggal 24 April 1999 bersamaan 8 Muharram 1420 pasti tercatat sebagai salah satu lagi tarikh dalam sejarah Alam Beraja di Negeri Sembilan Darul Khusus apabila rakyat dari segenap lapisan masyarakat akan menyambut keberangkatan balik, D.Y.M.M. Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman yang menamatkan tempo bertakhta Baginda sebagai Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong ke X dari 26 April 1994 hingga 25 April 1999.

Peristiwa ini akan disambut dengan penuh adat istiadat menandakan kembalinya Raja yang dikasihi ke pangkuan rakyat negeri, dengan keunikan Adat Perpatih yang menjadi pegangan rakyat Negeri Sembilan Darul Khusus.

Sebagai satu-satunya negeri beradat, pastinya seluruh rakyat yang cintakan Rajanya tidak mau melepaskan peluang untuk bersama-sama meraih peristiwa yang penuh bermakna yang hanya berlaku hampir setengah abad sekali. Apa yang lebih membanggakan Beta, Kerajaan Negeri dengan dokongan pada rakyat dari segala lapisan masyarakat telahpun mengaturkan pelbagai program sebagai tanda kasih untuk menyambut keberangkatan balik Tuanku. Beta yakin, adat yang unik ini akan dapat diteruskan sepanjang zaman karena sesuatu yang datang dari rakyat itu adalah pancaran sebenar hati budi mereka.

Selain daripada acara menyambut keberangkatan balik Baginda, pelbagai acara telah disusun di Daerah Kuala Pilah, antaranya persembahan Tatoo, Larian Raja Melewar. Pementasan peristiwa di Bukit Candu dan pelbagai pertunjukan kebudayaan yang lain.

Pada kesempatan ini, Beta inigin merekamkan setinggi-tingginya penghargaan dan terima kasih diatas kesungguhan yang ditunjukkan oleh pimpinan negeri yang mendapat sokongan padu pihak Pentadbiran dan rakyat keseluruhannya bagi menjayakan adat istiadat ini dengan penuh gilang-gemilang.

Sesungguhnya Beta yakin, sesuatu yang lahir dengan penuh hati yang luhur itu akan membawa keberkatan.

Keterangan dari saya, D.Y.M.M adalah kependekan dari Duli Yang Maha Mulia. Pentadbiran artinya pemerintah atau Yang Berwenang, Beta artinya saya (diucapkan oleh Raja-raja Melayu).

Saya juga sempat menyaksikan pementasan Peristiwa di Bukit Candu, yaitu pertempuran perlawanan rakyat terhadap penjajah. Pementasan ini diadakan di Padang Bola Sepak Seri Menanti dari pukul delapan malam sampai pukul 12.00 malam.

Pada suatu sore Tan Sri Samad Idris datang ke tempat saya bekerja, beliau mengajak saya naik mobilnya. “Pak Djasril, jom (ayoh) kite ke Kuala Pilah sekejap (sebentar)”. “Okey, Tan Sri”, jawab saya. Di Kuala Pilah kami masuk ke sebuah Kedai Minum dan langsung memesan minuman yang disukai masing-masing. “Macam ni Pak Djasril”, kata Tan Sri membuka kata, “Tahun ni adalah dijadikan Tahun Melawat Negeri Sembilan, pelancong tempatan (Malaysia) dan pelancong Antara Bangsa (Manca Negara) datang mengunjungi Negeri Sembilan, terlebih-lebih Istana Lama akan banyak dikunjungi, saye berhajat nak tambah tenun songket empat lagi, dan tentu sahaje ditambah lagi empat pengrajin dari Silungkang, tapi saye inginkan pengrajin yang lepas, kalau perempuan belum punye laki, kalau lelaki belum punye bini, untuk ini saye serahkan pade Pak Djasril macam mane baiknye,” lanjut Tan Sir.

“Baiklah Tan Sri,” jawab saya. “Nanti saya telepon Pak Djasril Munir Pengurus Kopinkra di Silungkang, karena beliaulah nanti yang akan merekrut pengrajin tersebut,” kata saya lagi.

Setelah selesai minum kami langsung saja kembali ke Seri Menanti, sesampainya di Seri Menanti saya terus saja ke kantor Muzium untuk menelepon ke Silungkang yaitu kepada Pak Dasril Munir, saya sampaikan rencana Tan Sri tersebut, Pak Dasril Munir menyambut baik rencana Tan Sri itu, dan akan memberi jawaban seminggu lagi.

Seminggu kemudian saya mendapat kabar dari Silungkang bahwa akan dikirim empat orang pengrajin lagi, semuanya wanita dan belum berumah tangga, 2 orang dari Batu Manonggou, 1 orang dari Sungai Durian dan 1 orang dari Panai Ompek Rumah.

BERSAMBUNG

Cerita Asli dari Djasril Abdullah

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kedelapan Februari 2008

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Titah Sambutan Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung
Pada Acara Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang
Tanggal 12 Desember 2002 di Nagari Silungkang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
A’uzubillahiminashaithonirojim
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillahrabil A’lamin
Wa sholatu Washollamu A’la Asrafil Ambyai Mursalin Wa’ala Waashabihi Ajmain
Ashadu Allailahailollah Waashaduana Muhammadarasulullah
Allahumma Sholi Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

  • Yang sama-sama kita hormati, Bapak Gubernur Sumatera Barat selaku pucuk undang Sumatera Barat
  • Yang terhormat Ketua DPRD Sumatera Barat
  • Yang terhormat Bapak-bapak Unsur Muspida Sumatera Barat
  • Yang terhormat Sdr. Bupati/Walikota Sumatera Barat beserta seluruh pejabat sipil dan militer yang hadir pada acara ini
  • Yang saya muliakan ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumatera Barat
  • Yang sangat saya muliakan Ibunda yang Dipertuan Gadih Pagaruyung
  • Yang amat mulia orang kaya-orang kaya kami Basa nan Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah
  • Yang amat mulia yang Dipertuan/Tuanku/Raja, Sapiah Balahan, Kaduang Karatan, Kapak Radai dan Langgam nan Tujuah Koto Piliang
  • Khususnya yang mulia Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Sabaleh di Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk
  • Angku-angku, niniak mamak nan gadang basa batuah, para alim ulama suluah bendang dalam nagari, para cadiak pandai yang arif bijaksana, para bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang dan beserta hadirin-hadirat yang saya muliakan.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat karunianya sehingga dapat terselenggaranya acara penobatan pucuak adat nagari Silungkang dan Padang Sibusuk yakni Gajah Tongga Koto Piliang beserta lima orang penghulu pucuak nagari Silungkang.

Selanjutnya kita ucapkan pula salawat dan salam pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam berupa kitab suci Al Qur’an dan Hadist.

Pada hari ini kita semua telah sama-sama menyaksikan penobatan Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagariaan Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang serta penghulu pucuak nan balimo di Nagari Silungkang. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah baik bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak pada khususnya maupun bagi masyarakat Minangkabau pada umumnya. Kami katakan demikian karena upacara penobatan Gajah Tongga Koto Piliang dan datuak pucuak nan balimo ini adalah suatu wujud untuk membangkitkan batang tarandam yang sekaligus merupakan perwujudan dari program kembali ka nagari dan kembali basurau yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Perda No. 9 Tahun 2000. Dengan telah dibangkitkan kembali kebesaran nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yakni Gajah Tongga Koto Piliang yang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang, yaitu :

  1. Tampuak Tangkai Koto Piliang di Pariangan – Padang Panjang.
  2. Pasak Kunkuang Koto Piliang di Labuatan – Sungai Jambu.
  3. Pardamaian Koto Piliang di Simawang – Bukit Kanduang.
  4. Cemeti Koto Piliang di Sulit Aia – Tanjuang Balik.
  5. Camin Taruih Koto Piliang di Singkarang – Saniang Baka.
  6. Harimau Campo Koto Piliang di Batipuah X Koto.
  7. Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang – Padang Sibusuak.

Langgam Nan Tujuah Koto Piliang ini merupakan Pembantu Utama dari Rajo nan Tigo Selo dibawah koordinasi Basa Ampek Balai. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah Panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang inilah pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan sehingga menimbulkan bau yang sangat busuk sehingga tempat itu dan sekitarnya dikenal kemudian dengan nama Padang Sibusuak. Perlu juga dicatat para peristiwa pertempuran besar-besaran tersebut muncullah hulubalang muda yang dengan gemilang dan tangkasnya membantu Gajah Tongga Koto Piliang dalam mengalahkan pasukan Singosari. Hulubalang muda itu adalah Gajah Mada yang dikenal kemudian dengan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku niniek mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang serta hadirin hadirat yang saya muliakan.

Cuplikan singkat dari sejarah Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yang kami uraikan tadi hendaknya dapat dijadikan sebagai latar belakang historis dan motivasi bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak untuk menggali, mendalami dan memahami latar dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daay manusia anak nagari ini.

Dengan dibangkitkan kembali kebesaran “Gajah Tongga Koto Piliang” kami mengharapkan Datuak Tan Pahlawan Gagah Labiah yang pada dirinya melekat kebesaran Gajah Tongga Koto Piliang bersama-sama dengan Datuak Pucuak nan sabaleh (Datuak Pucuak Nan Balimo di Silungkang dan Datuak Pucuak Nan Baranam di Padang Sibusuak), kiranya dapat menata kembali dengan sebaik-baiknya susunan masyarakat adat, hukum adat, adat istiadat dan tradisi yang berlaku serta kehidupan beragama dikalangan masyarakat anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak. Hanya dengan tatanan masyarakat adat yang kuat, adat budaya yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakatnya. Pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang benar oleh suku bangsa Minangkabau pada khususnya, bangsa dan Negara pada umumnya akan dapat mempertahankan eksistensinya dari hantaman globalisasi serta pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Demikianlah titah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan akan ada manfaatnya bagi kita semua dan akhirnya kepada Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagarian Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajah Tongga Koto Piliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Balimo Nagari Silungkang serta seluruh Niniak mamak, Alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kanduang serta seluruh anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak kami ucapkan selamat ataslah tabangkiknyo batang tarandam.

Akhirnya kami mohon maaf seandainyo alam Titah Sambutan ini terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya “Kok indak di barih nan bapaek, kok indak ditakuak nan ditabang disusun jari nan sapuluah, ditakuahkan kapalo nan satu, kapado Allah ambo minta ampun, kapada kito basamo ambo minta maaf”.

Wabillahi Taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Pagaruyung, 12 Desember 2002
Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung

TTD

H.S.M. TAUFIQ THAIB, SH
(Tuanku Mudo Mahkota Alam)

Dalam keadaan asli tercantum tanda tangan Raja Alam Pagaruyung.


TITAH

DAULAT YANG DIPERTUAN RAJO ALAM PAGARUYUNG

Nomor : III/DYRAP/XI/2002
Tentang : PENOBATAN GELAR SAKO ADAT GAJAHTONGGA KOTOPILIANG KEPADA ENGKU IRWAN HUSEIN SUTAN BAGINDO DAN PANUNGKEKNYA ENGKU DR. IR. YUZIRWAN RASYID, MS.
Membaca : Surat Permohonan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silungkang Nomor 20/KAN-SLN/XI/2002 tanggal 15 November 2002 perihal penobatan gelar Sako Adat kepada Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dari Nagari Silungkang dan Panungkeknya Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS bergelar “ Datuk Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang ” dari Padang Sibusuak.



Menimbang : 1. Bahwa Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak dalam tatanan adat dan sejarah Minangkabau mempunyai sako kebesaran yang disebut sebagai Gajahtongga Kotopiliang sebagai salah satu anggota kerapatan Langgam Nan Tujuah Kotopiliang yang merupakan perangkat dari Kerajaan Pagaruyung.


2. Bahwa dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan dalam rangka kembali Banagari, sudah selayaknya gelar sako kebesaran adat Minangkabau yang sudah terliput dihidupkan / dibangkitkan kembali termasuk gelar sako kebesaran Gajahtongga Kotopiliang dari Nagari Silungkang dan Nagari Padang Sibusuak.


3. Bahwa Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS telah disepakati oleh Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak untuk dinobatkan sebagai Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang dan Datuak Pahlawan Gagah panungkek Gajahtongga Kotopiliang.


4. Bahwa Kesepakatan Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak tersebut angka 3 diatas telah disetujui dalam Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dengan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.


5. Bahwa untuk penobatan gelar sako Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang perlu dikeluarkan Titah Penobatan dimaksud.




Mengingat : 1. Mamanan Adat “BATAGAK PENGHULU SAKATO KAUM, MENOBATKAN RAJO SAKATO ALAM”


2. Hasil Keputusan Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.

MENITAHKAN :


1. Menobatkan Engku Irwan Husein Sutan Bagindo selaku Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Pucuk Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk.
2. Menobatkan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS selaku Panungkek Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Panungkek Pucuak Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak.
3. Penobatan gelar sako tersebut angka 1 dan 2 dilakukan dalam suatu upacara kebesaran adat Minangkabau di Nagari Silungkang ditandai pemasangan saluak dan penyisipan keris oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
4. Pidato Adat Pati Ambalau Penobatan Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat.
5. Titah ini mulai berlaku sejak penobatan.





Dikeluarkan di : Pagaruyung

Pada tanggal : 25 November 2002.


1. Pangkat Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.
2. Diatas Stempel Kerajaan Pagaruyung terdapat tanda tangan Raja Pagaruyung.
3. Posisi Stempel agak kekiri dan tanda tangan berada ditengah antara Pangkat dan nama Raja.
4. Nama lengkap Raja Pagaruyung diberi garis bawah dengan kesluruhan berhuruf kapital
5. Gelar Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.


Tindasan Titah Disampaikan Kepada :
1. Yth. Bapak Gubernur Sumatera Barat/Pucuk Undang Sumatera Barat di Padang.
2. Yth. Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumber di Padang.
Asli Titah ini disampaikan kepada :
– Yth. Engku Irwan Husein Sutan Bagindo.
– Yth. Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS.
– Arsip.






Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007




Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007

Dimano Garubang Hilang,
Di Aia Tojun-manojun
Dimano Bujang Hilang,
Di baliak Asok Bukik Takobun.

Ka ili ka mudiak mancari Dompet
Dompet dapek kobek pinggang ilang
Dek talendo daun lado mudo
La ili kamudiak mancari ubek
Ubek dapek Nan Kanduang ilang
Ba tamba sansai badan ambo
Begitulah bunyi bait/syair Marungui
dan Ratok Silungkang Tuo

Seperti kita ketahui, Budaya Rakyat Minangkabau di setiap Nagari mempunyai ciri/kebiasaan dimasing-masing daerah, termasuk juga di Nagari Silungkang, mempunyai budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebahagian masih tetap dipakai sampai sekarang, seperti budaya kesenian Tak Tumbin (Rebana) yang dipakai atau dipertunjukkan pada setiap ada pesta Baroleh Kawin. Tapi ada satu Budaya Silungkang asli yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu yang terlupakan atau mungkin sudah dilupakan oleh masyarakat Silungkang, bahkan generasi muda Silungkang saat ini ada yang tidak tahu sama sekali tentang budaya tersebut, sehingga membuat mereka terheran-heran. Budaya tersebut adalah MARUNGUI, RATOK SILUNGKANG TUO SERTA RATOK INYIAK PORIANG. Budaya ini sangat unik sekali, karena Silungkang adalah satu-satunya yang mempunyai budaya ini di seluruh Minangkabau, sehingga mendatangkan decak kagum bagi masyarakat Minangkabau lainnya bahkan juga Negara Malaysia.

Budaya atau kesenian Marungui ini dimainkan oleh satu orang dengan cara berkelumun kain sarung, juga Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang dimainkan oleh satu orang dengan diiringi musik Saluang dan Talempong Botuang. Dalam permainan Marungui ini, Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang, si pemain menceritakan keadaan yang terjadi pada seseorang maupun yang dialami oleh Nagari, seperti seorang yang putus cinta, atau seseorang yang ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya, sehingga akan menimbulkan kesedihan serta keharuan bagi orang yang mendengarnya. Pada saat sekarang ini yang masih menguasai budaya ini, hanya tinggal satu orang lagi di Nagari Silungkang ini, yaitu Bapak UMAR MALIN PARMATO, Kepala Dusun Sawah Darek Desa Silungkang Oso, bahkan sampai saat ini belum ada satupun dari generasi penerus yang mewarisi budaya ini, beliau ingin sekali menurunkan atau mengajarkan budaya ini kepada generasi muda Silungkang, supaya budaya ini tetap lestari serta terpelihara dengan baik, sehingga akan menimbulkan kebanggaan bagi masyarakat Silungkang khususnya dan Sawahlunto pada umumnya, karena budaya ini adalah sebuah aset daerah yang sangat berharga sekali, dan nantinya juga bisa menunjang pariwisata di Kota Sawahlunto, terutama sekali wisatawan akan lebih mengenal lagi Nagari Silungkang, tidak hanya terkenal dengan tenunan songketnya, tapi juga dikenal sebagai Nagari yang mempunyai budaya yang sangat unik sekali.

Sewaktu SS (Suara Silungkang) berkunjung kekediaman Bapak Umar Malin Parmato di Sawah Darek, menanyakan sejak kapan budaya ini ada di Silungkang, beliau menjawab menurut cerita dari orang-orang tua dahulu, budaya ini sudah ada sejak Masyarakat Silungkang masih menganut agama Hindu dan Animisme, atau sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau. Sewaktu ditanyakan siapa yang pertama sekali memperkenalkan budaya ini, beliau tidak tahu persis siapa orang yang pertama yang memperkenalkan budaya ini, yang jelas Bapak Umar MP ini sudah menguasai budaya ini sejak tahun 1942 yang lalu. Juga waktu ditanya, dengan siapa beliau mempelajari budaya ini, Bapak Umar MP mengatakan, dia belajar dari Inyiak SAURA Kampung Talak Buai yang tinggal di Sungai Cocang pada tahun 1940.

Bapak Umar MP juga mengatakan, bahwa pada tanggal 10-18 April tahun 2005 yang lalu, budaya ini pernah ditampilkan pada “Pesta Gendang Nusantara 8” di Banda Raya Melaka Bersejarah, Negeri Sembilan Malaysia sebagai utusan dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Kita sebagai warga Silungkang patut bangga sekali karena budaya kita sangat dikenal di negeri orang, tapi sungguh sangat ironis sekali, kenapa tidak ada dari warga Silungkang yang ingin melestarikan serta menghidupkan kembali budaya ini, sehingga nantinya akan bisa menjadi salah satu kunjungan wisatawan ke Silungkang, kalau dapat budaya ini bisa dijadikan salah satu agenda bagi kita masyarakat Silungkang untuk mengelolanya secara profesional.

Diharapkan kepada PKS Jakarta, ke depan untuk bisa memperkenalkan secara rutin budaya ini ditingkat Nasional, mungkin bisa dimulai pada acara Halal bi Halal warga Silungkang Jakarta sehabis lebaran nanti, sehingga nantinya budaya ini akan tetap lestari dan tidak akan hilang ditelan waktu. Kedepan marilah sama-sama kita jaga aset budaya kita ini yang sangat berharga seklai, sehingga budaya ini tidak akan diambil oleh daerah lain.

Oleh Rizal F. Daniel

Tabloid Suara Silungkang – Edisi Ketiga September 2007

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia

Di Muzium Diraja Seri Menanti kami disediakan sebuah kamar lengkap dengan perabotnya, peralatan memasak tidak diberikan karena minum makan kami disediakan oleh Kerajaan melalui Sdr. Mazrin yang juga sebagai pekerja di Muzium tersebut, dan kemudian Sdr. Mazrin kami ketahui adalah anak seorang anggota Polis yang tinggal di Barak Polis (Asrama Polisi) Seri Menanti.

Kami diantarkan nasi setiap pagi, tengah hari dan sore, mula-mula golang golang saya memang agak babaso menerima nasi tersebut karena sambalnya masakan khas Malaysia, sedangkan golang-golang saya sudah akrab dengan joghiang balamun jo lado giliang matah pakai minyak tanak sambia meanggotok agho, tapi lama kelamaan karena terpaksa golang-golang saya setuju juga, daghi pado ndak makan, mano nan elok.

Setiap pagi setelah makan pagi, kami harus stand by, karena kami akan dibawa raun sabolik selama satu minggu, mula-mula sekitar kawasan Seri Menanti dan terus ke Kuala Pilah, dilain hari ke Seremban dan Kualalumpur. Teristimewa di Kualalumpur ini kami dibawa ke Pasar Seni, semacam Plaza yang sarat dengan bermacam-macam barang soUvenir dari berbagai daerah di Malaysia.

Selama satu minggu kami dibawa raun sabolik, banyak sekali kesan yang tersimpan didalam memori saya dan Insya Allah memori saya tersebut sampai sekarang lai ndak konai virus do.

Disuatu sore, Encik Din (panggilan akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan, datang mengunjungi kami.

Pak Djasril, kite tengoklah rumah tempat tinggal tu, dan lame tak ade orang menghuni rumah tu, tentu dah banyak habuk, kite bersihkan, karena esok pagi perabot sampai”, kata Encik Din seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan naik. “Okey”, jawab saya meniru cara mengucapkan baiklah di Malaysia. Lebih kurang 750 meter dari Muzium Diraja, sampailah kami di rumah tersebut. “Kawasan ni bername Kampong Bukit Tempurong” kata Encik Din. “Ni, ade due rumah, pandai Pak Djasril-lah macam mane mau”, ucapnya lagi. “Kalau macam tu okey lah, dan Encik Din kami persilahkan balik dulu, biarlah kami sahaja yang membersihkan”, jawab saya sambil meniru cara berbicara di Malaysia walaupun lidah saya masih menempel merek Indonesia.

Seri Menanti adalah sebuah kawasan yang disebut Pekan (Kota Kecil) kira-kira sama dengan Nagori di kampung kita, dan juga disebut “Royal Town of Seri Menanti” karena disini berdiri dengan megahnya Istana Besar Raja Negeri Sembilan dan juga masih kokohnya berdiri Istana Lama yang sekarang dijadikan Muzium Diraja.

Alam disini berbukit-bukit, keadaannya masih asri, hutannya terpelihara baik, suasana tenang, aman dan damai, jauh dari kebisingan, udaranya segar tanpa polusi, margasatwa hidup dengan riang dan merdeka tanpa ada tangan jahil yang menganggu dan merusak, bermacam-macam burung berterbangan dengan leluasa dan hinggap tanpa kuatir diganggu orang. Penduduknya hidup bahagia dan sejahtera, rukun sesamanya, ramah dan sopan. Suasana di Seri Menanti tak ubahnya dengan suasana di perkampungan (dusun), bukan suasana di kota yang dilanda kehidupan modern. Upacara adat dipusatkan disini, penduduk di Seri Menanti ini tidak seberapa dan kelihatan lengang dan sunyi karena sebagian penduduknya ada yang tinggal di Seremban, Kualalumpur, dan lain-lain, tetapi kalau ada upacara adat dan keramaian, misalnya PERINGATAN HARI KEPUTERAAN BAGINDA (memperingati hari ulang tahun kelahiran Raja), Seri Menanti penuh dengan pengunjung dari segala penjuru, keramaian diadakan tiga hari tiga malam, bermacam-macam hiburan tradisional dan modern dapat dinikmati, para pedagang pun ramai, kita dapat berbelanja apa saja sepuasnay asal uang ada.

Pada hari Jum’at tanggal 16 Oktober 1998, saya Shalat Fardhu Jum’at di Masjid Diraja Seri Menanti, saya lihat Tuanku Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan juga Shalat Fardhu Jum’at disana. Tuanku sangat akrab dengan rakyat, dan rakyatpun juga sangat hormat kepada Tuanku. Baru saja Tuanku memasuki Masjid, rakyat yang berada di dalam Masjid menyusun jari sepuluh, menyalami Tuanku sambil mencium tangannya, sedangkan Tuanku tersenyum sayang, saya lihat diwajah Tuanku terpancar sinar keagungan sebagai seorang RAJA, kepada yang tidak terjangkau bersalaman, Tuanku mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum sayang, mata bersinar, wajah yang jernih.

Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman, demikian nama Tuanku, adalah keturunan Raja dari Pagaruyung – Minangkabau. Seorang Putera Raja Pagaruyung yang bernama Sultan Mahmud dijemput oleh Pemuka Adat Negeri Sembilan untuk dijadikan Raja. Setelah dinobatkan jadi Raja Negeri Sembilan, Sultan Mahmud dikenal dengan nama Raja Melewar.

Raja Melewar adalah Raja Negeri Sembilan yang pertama 1773 – 1795, sedangkan Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman adalah Raja Negeri Sembilan yang kesebelas 1967 – sekarang.

Tepat pukul 16.00 petang, pada hari Selasa 20 Oktober 1998, seorang pegawai Muzium menjemput kami, “Encik dipelawe untuk datang menghadiri jamuan minum ke rumah Encik wan di Seremban, kite berangkat sekarang juge”, katanya. “Ya, Okey”, jawab saya singkat. Kami naik mobil L-300, dan saya lihat pegawai Muzium lainnya sebanyak 4 orang juga sudah berada di atas mobil.

Encik Wan atau nama lengkapnya Wan Abdullah bin Haji Wan Su, Ketua Penolong Setia Usaa Kerajaan, dikatakan bahwa beliau adalah orang nomor tiga di Kantor Menteri Besar Negeri Sembilan (kira-kira sama dengan Kantor Gubernur di Indonesia), sebelumnya saya sudah kenal dengan beliau sewaktu beliau ke Silungkang pada tanggal 1 Mei 1998 yang lalu dan saya juga sering terlibat dalam percakapan melalui telepon dengan beliau.

Jemput masuk, jemput masuk” kata Encik Wan, sewaktu kami baru saja turun dari mobil di halaman rumah yang kelihatannya sangat bagus bangunannya. “Saye baru sahaje pindah ke rumah ni”, kata Encik Wan yang katanya beliau berasal dari Negeri Kelantan dan sudah lama menetap dan bekerja di Negeri Sembilan. Setelah puas minum dan bercakap-cakap, kami pulang dan diantar kembali ke Seri Menanti.

Saya berusaha dekat dengan penduduk Seri Menanti, sambil memperkenalkan diri, saya juga mempelajari bahasa dan ungkapan sebagai persiapan tinggal di Seri Menanti. Tan Sri Samad Idris sekali seminggu datang ketempat kami, menanyakan keadaan kami, beliau sangat akrab dengan saya. Pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 1998, Tan Sri datang membawa dua orang teman beliau PENSYARAH (dosen) pada sebuah universitas di Kualalumpur dan memperkenalkan kepada saya, kami bercakap-cakap sambil minum di kantin Seri Menanti Resort. Dalam percakapan ini saya juga memberitahukan kepada Tan Sri bahwa di Kualalumpur juga ada orang Silungkang jadi Pensyarah yaitu Prof. Umar Yunus dan Prof. Kasmini Kasim. Dengan penuh keheranan Tan Sri berkata : “Oh .. jadi Umar Yunus dan Kasmini Kasim itu orang Silungkang kah, dia sering ke tempat saya, biar nanti saya bagi tahu dia bahwa orang Silungkang juga ada bertenun kain di Seri Menanti”.

Setelah kami puas bercakap-cakap, sebelum Tan Sri kembali ke Kualalumpur, beliau berkata : “Pak Djasril, habis bulan Oktober ini kita akan pergi ke Padang untuk menjemput barang-barang yang masih tinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril”.

Kata-kata Tan Sri yang terakhir ini yang sangat membahagiakan saya, karena hampir sebulan saya menderita menahan rindu pada isteri dan anak-anak, kali ini adalah saat yang paling terlama kami terpisah, biasanya hanya satu atau dua hari saja. Bila saya rindu, saya beli kartu telepon 10 ringgit atau 20 ringgit dan saya dapat berbicara langsung melalui telepon umum di tepi jalan. Apabila anak saya mengatakan “copeklah baliak (cepat balik) Pak”, tenggorokan saya rasa tersekang menahan tangis, kenapa begitu ? Entahlah, orang bisa berahun-tahun terpisah, kenapa saya tidak ? Entahlah.

Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 1998, disore hari, saya sedang bagolek-golek (istirahat), datang Mazrin, “Pak, ada talipon dari Seremban”. Saya langsung mengikuti Mazrin menuju OPIS (kantor), telepon saya angkat, “Hallo, apa hal Encik Din ?”, kata saya. “Hari Minggu, 1 hari bulan November, Pak Djasril berangkat ke Silungkang untuk mengambil barang kita yang masih tertinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril, perlu diingat keberangkatan Pak Djasril ke Silungkang adalah sebagai pegawai Muzium, pagi esok datang ke Seremban mengambil gaji dan ongkos ke Silungkang, okey …”.

“Okey”, jawab saya singkat. Keesokan harinya saya pergi ke Seremban, dari Seri Menanti ke Kuala Pilah naik KERETA SEWA (oplet), dan dari Kuala Pilah ke Seremban naik BAS (bus).

Pukul 06.00 pagi waktu Malaysia Barat, tanggal 1 Nopember 1998, sebuah KERETA (sedan) parkir di halaman Muzium menjemput saya, saya pun juga sudah siap berangkat. Kereta melaju menuju Kualalumpur dan terus ke Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang (diwaktu itu belum ada KLIA = Kualalumpur International Airport, dan di Padang juga belum ada MIA = Minangkabau International Airport). Setiba di Lapangan Terbang saya langsung antri membeli tiket pesawat menuju Padang dan tak lupa sebagian dari uang Ringgit, saya tukar dengan Rupiah.

Setelah melayang-layang di udara lebih kurang 2 jam pesawat mendarat di Bandara Tabing. Pertama sekali saya menuju rumah makan, saya makan dengan lahapnya, duo kali tambuah, maklumlah sudah satu bulan golang-golang saya absen menerima masakan Padang. Selesai makan saya menuju wartel untuk memberitahu ke Silungkang bahwa saya sudah sampai di Padang. Saya ingin cepat saja sampai di Silungkang, saya ambil jalan alternatif, naik taksi saja biar cepat, kalau dengan bus lambat. Menjelang sore saya sudah sampai di rumah, yaitu di Lubuak Kubang, Desa Silungkang Oso. Tidak ada oleh-oleh dari Malaysia, yang ada hanya oleh-oleh dari Padang berupa makanan ringan.

Anak saya yang kecil berumur 4 tahun berlari-lari menyambut saya, “Bapak lah baliak (balik) Ma …”, katanya memberitahu Mamanya. Saya dukung dan saya cium anak saya itu, “Tadogak (teringat) Bapak nak …”, kata saya singkat.

BERSAMBUNG ….

Source :

Tabloid Suara Silungkang

Edisi KETIGA, September 2007

Kisah Nyata Djasril Abdullah

pulangbasamo@googlegroups.com  
  to   PulangBasamo  
  date   Sep 3, 2007 5:24 AM  
  subject   Reservasi Tiket PulangBasamo Telah Dimulai  
  mailed-by   googlegroups.com  

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan ini diumumkan bahwa reservasi tiket Pulang Basamo
sudah dimulai, dengan beberapa informasi dan ketentuan sbb:

 

  1. Reservasi dilakukan melalui travel agent langganan anda atau langsung ke konsolidator Worldwide Travel up. Nani Afdal, atau 703-880-3146-ext 116 Fax : 703-642-7226 Toll free : 1-800-343-0038-Ext 116
  2. Keberangkatan 7 Juni 2008. Tanggal kembali terserah kepada masing-masing peserta, karena kembali ke US tidak bersama.
  3. Membayar uang muka/down payment sebesar $200/orang dengan cek atau transfer kepada MinangUSA Inc., kirim ke PulangBasamo c/o Nani Afdal, Worldwide Travel, Inc. 4810 Beauregard St., Suite 212, Alexandria, VA 22312
  4. Mengisi formulir (copy & paste) dari http://groups.google.com/group/pulangbasamo/web/registration-form dan mengirimkan kembali ke pulangbasamo@gmail.com
  5. Tiket telah diterbitkan paling lambat 30 Maret 2008, bersamaan dengan pelunasan seluruh biaya paket tour.
  6. Biaya tiket US-Jakarta pp. dapat dilakukan dengan credit-card, sisanya merupakan biaya-biaya di Indonesia dilakukan dengan cek ke MinangUSA Inc. dan dikirim kealamat seperti pada titik 3.
  7. Peserta dari Jakarta akan dilakukan pengaturan dari panitia setempat.
  8. Info selengkapnya bisa dilihat di: http://groups.google.com/group/pulangbasamo/web

Atas perhatian saudara kami ucapkan terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dutamardin Umar
Program Coordinator

——————————

Mari kita bantu korban musibah gempa Sumatera Barat.Alam Terkembang Kalam Ilahi
www.west-sumatra.com

–~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~
Pulang Basamo or Visit West-Sumatra 2008 Program is open for the public.
We encourage you to invite your colleagues and friends. The organiser of program is MinangUSA Foundation Inc., a non profit organization.
visit webpage:
http://groups.yahoo.com/group/MinangUSA/
http://groups.google.com/group/pulangbasamo

Silungkang – Seri Menanti

 

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang
Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

 

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu M
Bahasa Indonesia, Silungkang, Malaysia

 

Oleh Djasril Abdullah

BAGIAN KEDUA

Sebagaimana biasa saya tetap menjalankan tugas-tugas sebagai Kepala Desa, saya kembali mempertegas pendirian dan bertekad untuk menang dalam Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) Periode 1998 – 2006, segala sesuatu untuk itu saya persiapkan, isteri dan anak-anak pun juga menyadari akan hal itu bahwa “Poi ka Malaysia tu ndak jadi do” (pergi ke Malaysia tidak jadi), karena 4 bulan menanti kabar dari Malaysia tidak kunjung ada.

Saya sibuk mempersiapkan dan mengkoordinir Panitia Pemilihan Kepala Desa yang diketuai oleh Sdr. Syahruddin Syarif, dan saya pun yakin sebagian masyarakat masih ada yang simpati dan mengharapkan saya terpilih kembali, dan saya pun yakin bahwa saya sanggup bersaing dengan kandidat lainnya. Sebagai Pejabat Sementara, saya bertanggung jawab suksesnya pelaksanaan Pilkades. “Pak … ! Ado telepon untuak Bapak,” (Pak … ! Ada telepon untuk Bapak) kata salah seorang staf desa kepada saya. “Daghi mano ?” (dari mana ?) jawab saya tanpa melihat kepada staf itu karena sibuk. “Katonyo daghi Malaysia Pak” (Katanya dari Malaysia Pak) jawabnya. Siiir….,“Tasighok dagha” (tersirat darah) saya mendengar jawaban staf Desa itu, saya tinggalkan kesibukan saya, langsung saja saya menuju gagang telepon yang masih tergeletak diatas meja, saya angkat, “Hallo ….. Assalamu’alaikum, saya Djasril Abdullah, siapa disana ? Kata saya. “Waalaikumussalam, saya Muhammad Darus dari pada Negeri Sembilan Malaysia, saya nak bagi tahu Pak Djasril bahwa saya dan Tan Sri Samad Idris besok akan ke Padang, kami akan sampai di Silungkang pada 3 hari bulan Oktober, kami mohon Bapak sedia menunggu kami”. Kata suara telepon.” Baiklah, kami tunggu kedatangannya dengan senang hati” kata saya.

Hm ……, sebuah nada keluhan tanpa disadari lepas landas dari mulut dan hidung saya, saya terhenyak duduk di kursi tamu. “Pangona lah ba beliang-beliang” (berputar-putar) dunia panggung sandiwara, kita sebagai lakonnya, ikuti saja apa yang telah ditentukan oleh scenario itu, tapi “ndak samugha mambaliak-an talapak tangan do” (tidak semudah membalikkan telapak tangan). Sekarang tanggal 29 September 1998, Tan Sri dan Encik Mad Darus akan sampai di Silungkang tanggal 3 Oktober 1998, jadi ada 5 hari lagi termasuk hari ini. Maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad Darus belum bisa diduga, tapi saya menyangka ada dua hal yang akan disampaikan kepada saya, yaitu pertama keberangkatan ke Malaysia gagal dikarena hal-hal yang tak dapat dielakkan, kedua kepastian berangkat ke Malaysia.

Ada lebih kurang setengah jam saya terhenyak di kursi tamu hanyut oleh “Pangona ba beliang-beliang tu”, kemudian saya langsung menemui isteri saya yang sedang asyik bertenun songket, memang tempat tinggal saya bersebelahan dengan Kantor Desa, dan langsung saya sampaikan isi percakapan telepon tadi, tapi tidak ada jawaban, menolak tidak, menyetujui pun tidak, “takatuang-katuang” (terkatung-katung)

Hasil percakapan telepon itu juga saya sampaikan kepada Ketua Pilkades Syahruddin Syarif, nampaknya dia kecewa, kalau sekiranya saya mundur dari pencalonan tentu akan dicari satu orang kandidat lagi untuk pengganti saya. Diwaktu itu kira-kira pukul 10.00 pagi, Sabtu, 3 Oktober 1998, saya ditelpon oleh Bapak Kepala Desa Silungkang Tigo, Drs. Dasril Munir, “Pak Desa, kabalai lah, ughang Malaysia tu lah tibo, kami nanti di Rumah Makan Memok, copek di,” katanya (Pak Desa, ke pasarlah, orang Malaysia telah tiba, kami nanti di Rumah Makan Memok, cepat ya). “Jadi, ambo barangkek kini” (Jadi, saya berangkat kini), jawab saya.

Di rumah makan Memok, sudah ada disana Tan Sri Samad Idris, Encik Muhammad Darus, Bapak Drs. Dasril Munir, Bapak Ir. Aswan Basri dan seorang pegawai dari Kantor Gubernur Sumbar, saya dapati mereka sedang menikmati makanan spesifik Silungkang berupa ale-ale, “Assalamu’alaikum” kata saya yang baru saja muncul dihadapan mereka. “Waalaikummussalam”, jawab mereka serentak. Saya menyalami satu persatu dan duduk serta minum bersama mereka. Setelah selesai minum barulah Tan Sri Samad Idris memulai pembicaraannya. “Pak Djasril ! Kami minta maaf karena sudah terlambat datang ke sini, bukan apa-apa, kami harus bermusyawarah ke segala pihak sehingga memerlukan waktu yang lama, barulah hari ini saya sampai di Silungkang. Begini Pak Djasril, kami sudah mempersiapkan ruangan kosong untuk peragaan tenun, di Muzium Diraja Seri Menanti, dan kami juga telah menyediakan 2 buah rumah untuk Bapak dan anggota Bapak, untuk pertama kali, Bapak berangkat satu orang dulu, untuk memasang alat tenun, menata ruang, mempersiapkan segala sesuatu di rumah tempat tinggal, karena rumah tersebut kosong, tanpa perabot. Kami sudah sediakan satu tiket pesawat untuk Bapak berangkat tanggal 6 Oktober 1998 jam 12.55 siang”. Kata Tan Sri menerangkan secara pelan-pelan karena harus menyesuaikan penyampaian menurut bahasa dan logat Indonesia. “Terima kasih Pak” kata saya, “Tapi saya ada usul ni Pak, karena memasang alat tenun itu susah dikerjakan satu orang, saya mengusulkan untuk pertama kali diberangkatkan 2 orang” kata saya memohon. “Baiklah, saya setuju” kata Tan Sri Samad Idris sambil memberi tahu Encik Muhammad Darus supaya membeli satu tiket lagi. “Atas nama siapa ?” tanya Encik Muhammad Darus. “Atas nama Yusben” kata saya. Kami rasa percakapan sudah selesai dan maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad sudah bisa dipahami. “Kini apo acara lai” (Kini apa acara lain) kata Drs. Dasril Munir kepada saya, “Katompek si Au Wak makan nasi soto”, lanjutnya (Ketempat si Au Wak makan nasi soto). “Jadi” jawab saya. Maka berangkatlah kami seluruhnya ke Air Dingin Muarokalaban. Saya duduk berhadap-hadapan dengan Encik Mad Darus, sambil akan nasi soto, Encik Mad Darus berkata, “Apa nama yang kita makan ni, sedapnya”. “Ini namanya nasi soto” jawab saya. “Saya heran”, kata Encik Mad Darus, “Alam disini sama sangat dengan alam di Negeri Sembilan, berbukit bakau, sungai yang berbatu, orang punya cakap pun hampir sama”, tambahnya. Saya hanya diam saja sambil tersenyum mendengar ucapan Encik Mad Darus itu. Selesai makan kami kembali naik mobil, saya dan Bapak Dasril Munir beserta Ir. Aswan Basri satu mobil dan Tan Sri bersama Encik Mad Darus beserta seorang pegawai Kantor Gubernur Sumbar dengan mobil Pemda Tk. I Sumbar, karena mereka langsung saja menuju Padang.

Di rumah, segala percakapan saya dengan Tan Sri dibeberkan kepada isteri saya, nampaknya isteri saya menyetujui “Poi ka Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa” (pergi ke Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa), terbukti isteri saya mempersiapkan segala sesuatu keperluan saya dalam rangka keberangkatan saya 4 hari lagi.

Malamnya, mata saya susah untuk tidur, saya mempersiapkan mental menghadapi keberangkatan dan menjiwai pekerjaan yang akan dilaksanakan. Memang tidak mudah menukar persiapan mental dari “Siap jadi Kepala Desa” kepada “Siap bekerja di Malaysia” dalam jangka waktu pendek.

Yang tak kalah menganggu pikiran saya adalah “naik pesawat, seumur hidup saya belum pernah naik pesawat, saya hanya pernah naik kendaraan darat dan laut, seperti pedati, bendi, sepeda, motor, mobil, kereta api dan kapal laut. Disatu sisi saya ingin mencoba naik pesawat karena belum pernah, disisi lain saya ngeri, “sadang mamanjek batang patukai jo ngori tughun, basah tapak kaki dek nyo” (sedang memanjat batang pepaya saja ngeri turun, basah tapak kaki karenanya), apalagi naik pesawat yang melayang-layang tinggi diudara ”ndak tontu kamano ka malompek” (tidak tentu kemana akan melompat).

Segala persiapan pribadi diselenggarakan oleh isteri saya, dan segala persiapan barang-barang peralatan tenun yang akan dibawa diselenggarakan oleh Bapak Drs. Dasril Munir dan Ir. Aswan Basri, sedangkan saya mengurus segala surat-surat serta pamit kepada Bapak Camat, Bapak Kabag Tapem, Bapak Walikota dan rekan-rekan Kepala Desa.

Hari Selasa, 6 Oktober 1998, jam 9,00 pagi saya berangkat dari Silungkang dengan mobil pribadi Ir. Aswan Basri yang sebelumnya telah dimuat dengan barang-barang alat tenun, sampai di Bandara Tabing pukul 11.00 siang sedangkan pesawat berangkat pukul 12.55 siang, sebelum berangkat saya, Sdr. Yusben dan Encik Mad Darus sempat makan siang terlebih dahulu di Kompleks Bandara Tabing. Dan tak lama kemudian tibalah saatnya menuju pesawat yang akan menerbangkan kami ke Malaysia, saya berjalan antri menuju tangga pesawat dengan “Jantuang badobak-dobak” (jantung berdebar-debar), setibanya diatas pesawat langsung duduk dikursi dan “ndak lupo mamasang tali pangobek badan” (tidak lupa memasang tali pengikat badan).

Mula-mula memang apa yang saya kuatirkan terjadi, ngeri, tapi tidak berlangsung lama, perasaan saya berangsur-angsur normal kembali hanya 1 jam 20 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Ismail, Johor Bahru Malaysia, kami turun dari pesawat, disana kami telah ditunggu oleh seorang petugas Lapangan Terbang yang nampaknya sudah tahu akan kedatangan kami, kami diberi masing-masing 1 tiket lagi atas nama kami dan terus naik ke pesawat yang sama menuju Kualalumpur.

Lama saya berpikir, kenapa di Johor Bahru kami diberi lagi tiket pesawat, sedangkan pesawatnya itu juga, kenapa tidak langsung saja tiket Padang – Kualalumpur, kenapa diberi lagi tiket Johor Bahru – Kualalumpur.

Kemudian barulah saya tahu adanya perjanjian SIJORI (Singapura – Johor – Riau) mengenai bebas fiscal. Kalau dibeli tiket Padang – Kualalumpur dikenakan fiscal (menurut peraturan di waktu itu, Pen).

Lebih kurang 50 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang. Disana kami sudah ditunggu oleh 3 orang dengan sebuah mobil yang ditugaskan khusus menjemput kami, dengan sangat ramahnya kami disalami dan dipersilahkan naik ke atas mobil dan terus kami diberangkatan menuju Bandar (kota) Seremban, Negeri Sembilan.

Di dalam perjalanan tidak banyak kami bercakap-cakap, hanya sekali-sekali ada juga yang perlu ditanyakan, kalau tidak kami yang bertanya dia yang bertanya.

Saya asyik memandang kiri kanan jalan, disebabkan kami lewat jalan tol, jarang kelihatan daerah pemukiman, yang ada hanya hamparan kebun kelapa sawit, ditengah perjalanan kami singgah di kawasan Jamu Selera untuk mengisi perut yang mulai lapar, golang golang (usus) saya mulai mencicipi masakan Malaysia.

Bandar (kota) Seremban mulai kami masuki pukul 20.00 malam, mobil berhenti sejenak, salah seorang dari orang menjemput kami itu turun dan menuju sebuah Plaza, tak lama dia kembali dan menyerahkan kepada kami masing-masing 1 tas plastik yang isinya baju kaus dan selimut, “Terima kasih ncik” kata saya singkat, “Terima kasih kembali, tak pe, tu semua untuk awak (anda)”, jawabnya.

Selanjutnya mobil terus melaju menuju Seri Menanti, lebih kurang 33 km dari Bandar Seremban, Seri Menanti adalah suatu kawasan dimana terletak Istana Besar Raja Negeri Sembilan. Kami telah disediakan sebuah kamar di Hotel Seri Menanti Resort yang terletak diantara Istana Besar Raja Negeri Sembilan dengan Istana Lama Muzium Diraja Seri Menanti.

Pagi-pagi kami sudah bangun, setelah mandi dan shalat subuh, snack untuk sarapan pagi sudah tersedia berupa nasi lemak dan roti canai, ini juga adalah pengalaman pertama untuk golang golang (usus) saya menerima sarapan seperti itu.

Pukul 10.00 pagi kami dijemput oleh seorang pegawai Muzium untuk pergi ke Seremban menemui Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan. Sesampainya kami di Seremban kami dibawa ke sebuah bangunan bergonjong persis seperti rumah bergonjong di Minangkabau dan langsung ke ruang kerja Kurator, di pintu ruang kerja itu tertulis nama Kurator Muzium tersebut : Drs. Shamsudin bin Ahmad. Kami diterima dengan ramah dan gembira, saya melihat wajahnya yang berseri, menandakan suatu kebahagiaan tersendiri menerima kedatangan kami. Kami dipersilahkan duduk di kursi tamu dan kami bercakap-cakap, tukar pikiran, berbagi pengalaman. Ternyata Drs. Shamsudin bin Ahmad sangat bisa berbahasa Indonesia, katanya dia dulu sekolah di Bali sampai mendapat gelar sarjana. Kemudian kami diberi wejangan atau arahan-arahan mengenai pekerjaan serta tata cara hidup di Malaysia, “Bapak sangat beruntung sekali” kata Encik Din (nama akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad), “Karena baru pertama kali Kerajaan Malaysia mengambil pekerja asing dengan biaya Kerajaan (pemerintah) semua diuruskan oleh Kerajaan. Bapak dipersamakan (hak dan kewajiban) dengan Kaki Tangan Kerajaan (pegawai negeri) lainnya, disamping gaji pokok Bapak juga akan menerima bonus lainnya seperti gaji lebih masa (lembur), biaya perumahan, perubatan (Askes), pakaian seragam kerja, studi banding dan lain-lainnya. Bapak akan menerima gaji setiap bulannya melalui Bank Simpanan Nasional. Jawatan (jabatan) Bapak sangat spesial, karena sebelumnya jawatan ini belum ada, pekerjaan yang akan Bapak kerjakan disini langsung Bapak bawa dari Indonesia dan menguntungkan bagi menarik pelancong-pelancong di Malaysia ini. Untuk satu bulan ini minum makan Bapak ditanggung oleh Kerajaan, karena biasanya gaji boleh diambil paling cepat 28 hari bulan (tanggal 28) tiap bulannya. Mulai Bapak menjejakkan kaki di Malaysia ini, gaji Bapak sudah dihitung. Untuk satu minggu pertama ini Bapak tak usah kerja dulu karena Bapak akan kami bawa jalan-jalan melihat lingkungan. Mengenai peraturan-peraturan kerja nanti akan kami beri secara tertulis, disini semua peraturan berlaku (dijalankan) dengan kesadaran sendiri tanpa dikontrol langsung …

Setelah kami diberi arahan panjang lebar, kami diperkenalkan dengan pegawai lainnya, mereka menyalami kami dengan ramah, kami sudah dianggap oleh mereka teman sekerja.

BERSAMBUNG ……

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Kedua, Agustus 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah

Silungkang – Seri Menanti

 

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang Bekerja

Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

 

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu

Bahasa Indonesia, Silungkang, Malaysia

 

Oleh Djasril Abdullah

 

BAGIAN PERTAMA

 

 

30 Maret 1998, adalah berakhirnya masa jabatan saya sebagai Kepala Desa Silungkang Oso periode 1990 -1998, kemudian saya di SK kan untuk PJS (Pejabat Sementara) Kepala Desa Silungkang Oso menjelang terpilih Kepala Desa baru. Menurut peraturan saya berhak mencalonkan diri lagi guna menjabat periode 1998 – 2006, kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya kembali mendaftar sebagai calon, bersama saya ada tiga orang kandidat lagi yang siap bertarung menghadapi Pilkades (Pemilihan Kepala Desa).

 

Sambil menunggu hari H Pilkades, saya tetap menjalankan tugas-tugas saya sebagai Pejabat Sementara Kepala Desa Silungkang Oso. Suatu hari sewaktu saya sedang sibuk siruang kerja, telepon berdering, “saya angkat”, Hello, Assalamu’alaikum” kata saya. “Waalaikumussalam, hallo Pak Desa, datanglah ke kontu (kantor) Desa Silungkang Tigo (Tiga), ko ughang dari Malaysia la tibo ha (orang dari Malaysia telah tiba), nyo nak batomu jo Pak Desa,” (mau bertemu dengan Pak Desa) kata Pak Drs. Dasril Munir Kepala Desa Silungkang Tigo yang juga Pengurus Koperasi Kopinkra. Memang ada beberapa bulan yang lalu telah menginformasikan kepada saya bahwa ada orang Malaysia ingin membawa pengrajin beserta alat tenun kesana guna pameran di Musium Diraja Negeri Sembilan, dan saya menyediakan diri untuk dikirim ke Malaysia.

 

Setibanya saya di Kantor Desa Silungkang Tigo, saya terus ke ruangan tamu, disana duduk Pak Drs. Dasril Munir beserta dua orang Malaysia, keduanya laki-laki, yang seorang sudah agak tua dan yang seorang lagi masih kelihatan agak muda.

 

Assalamu’alaikum” kata saya, “Waalaikumussalam” mereka menjawab bersama. Saya menyalami satu persatu sambil menyebut nama saya “Djasril Abdullah”. Saya duduk di kursi tamu berhadap-hadapan dengan tamu. “Ini dia pengrajin yang siap untuk ke Malaysia” kata Pak Drs. Dasril Munir memulai pembicaraan, yang dijawab oleh tamu yang tua, “Sebelum kita berbincang-bincang berkenaan tersebut, ada baiknya saya mengenalkan diri dulu, nama saya Tan Sri Samad Idrsi dari pada Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan Darul Khusus, Malaysia dan yang satu ini namanya Encik Wan Abdullah bin Haji Wan SU, PPT, AMN, ANS, PJK. Beliau adalah Ketua Penolong Kerajaan Negeri, (Pentadbiran dan Kewangan) Negeri Sembilan Darul Khusus” (Kira-kira sama dengan Kepala Biro Pemerintahan dan Keuangan di Kantor Gubernur, pen). Sungguh saya terharu rupanya tamu yang datang ini adalah pejabat, kedatangannya resmi utusan pemerintah. Tan Sir Samad Idris, yang kemudian saya ketahui beliau adalah bekas Wakil Rakyat Peringat Negeri (DPRD Propinsi, Pen). Bekas Wakil Rakyat Parlimen (DPRD Pusat, Pen). Bekas Mentri Besar Negeri Sembilan (Gubernur, Pen). Bekas Menteri Kebudayaan, Beliau dan Sukan Malaysia (Mentri Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga, Pen).

 

Kami sangat senang sekali Bapak boleh (bisa, pen) ikut ke Malaysia bersama kami.” Kata Tan Sir Samad Idris. “Tapi” jawab saya “Saya sudah mendaftar menjadi calon Kepala Desa dan sudah lulus tes, tinggal menunggu hari pemilihan lagi, disamping itu saya sangat keberatan sekali untuk berpisah dengan isteri dan anak-anak saya, saya mempunyai anak tiga orang yang masih Sekolah Dasar” kata saya dengan nada serius.

 

Kami sangat mengharapkan kesediaan Bapak untuk ikut ke Malaysia, sebaiknya Bapak mundur dari pencalonan Kepala Desa, mengenai isteri dan anak-anak tak usah risau, bawa mereka ke Malaysia, saya dengar isteri Bapak juga pandai bertenun songket, isteri Bapak juga ikut bekerja disana, berkenaan dengan anak-anak Bapak, kita uruskan sekolahnya, rumah untuk Bapak kami sediakan untuk sekeluarga, kami juga minta tolong carikan dua orang lagi pengrajin, jadi empat pengrajin yang akan diberangkatkan ke Malaysia”.

 

Ya ………. Allah, tidak bisa saya membayangkan bagaimana perasaan saya mendengar ucapan Tan Sri Samad Idris itu, haru, bangga, gembira bercampur aduk di dalam dada, kalau tidak malu rasanya, mau saya melonjak-lonjak, untung saya masih dapat mengendalikan diri.

 

Sekarang” kata En. Wan Abdullah bin Haji Wan Su “Kami serahkan kepada Bapak duit (uang, pen) Rp. 500.000, untuk mengurus Paspot (paspor, Pen) Bapak dan isteri beserta 3 orang anak dan Rp. 500.000, lagi kami serahkan kepada Bapak Dasril Munir bagi pengurusan paspot yang dua orang lagi”, sambil menyodorkan kepada saya resit (kwitansi, pen) untuk saya tanda tangani, rangkap dua, selembar diserahkan kepada saya.

 

Kwitansi tersebut juga ditanda tangani oleh Kepala Desa Silungkang Tigo, Bapak Drs. Dasril Munir lengkap dengan stempel sebagai saksi, karena menurut peraturannya pembayaran selain dengan uang ringgit (mata uang Malaysia, pen) harus ada saksi. Tarikh Bekalan (tanggal pembayaran, pen) kwitansi tersebut adalah 1 Mei 1998.

 

Bapak uruslah surat-surat Bapak, nanti kami tinggal ambil (jemput, pen) Bapak saja lagi” kata Tan Sri Samad Idris. Setelah minum dan makan ale-ale, tamu mohon pamit kembali ke penginapan di Padang, saya ikut mengantar ke loket, mobil dinas kantor Gubernur telah menunggu di Loket, rupanya Tan Sri dan Encik Wan (panggilan akrab oleh saya sewaktu di Malaysia) juga tamu resmi di Kantor Gubernur.

 

Dengan senyum kecil saya pulang ke rumah, dikantong saya “Lah Balipek Piti” (Telah Berlipat Uang) Lima Ratus Ribu Rupiah. Sebenarnya saya dan isteri saya sudah mengurus paspor 4 bulan yang lalu, dan tiga orang anak ikut paspor ibunya, jadi uang yang Rp. 500.000 itu dapat digunakan untuk keperluan lain dalam rangka keberangkatan ke Malaysia nanti.

 

Saya sudah duga, alangkah gembiranya isteri saya, karena keberangkatan ke Malaysia tinggal menunggu “jemput” lagi pula uang biaya paspor Rp. 500.000 sudah diganti. Setelah saya menceritakan hasil pertemuan dengan orang Malaysia dan memperlihatkan uang tersebut kepada isteri saya, eh …. Malah dia menangis sejadi-jadinya, “Indak ! Kami (dia menyebut kami kepada dirinya) ndak ka poi ka Malaysia tu do ! Sekali indak totek indak, kami lai patua ka datuak, tapi nan sakaliko kami mambantah, agia moo kami” (Tidak ! Kami (tidak mau pergi ke Malaysia itu ! Sekali tidak tetap tidak, kami patuh ke Datuk, tapi yang kali ini kami membantah, berilah maaf kami) katanya sambil menangis. Betul-betul “takan on ong” saya dibuatnya, saya diam saja, setelah agak reda tangisnya baru saya mulai bertanya : “Baapo dek baitu, iko kan kesempatan elok dek awak untuk maubah nasib, ingeklah maso depan anak, untuang-untuang ado parubahan hiduik awak, cubolah onik-onik bona dulu, jan copek maambiak kaputusan ndak nomua poi” kata saya untuk menyadarkannya (Kenapa begitu, ini kesempatan bagus bagi kita untuk merubah nasib, ingat masa depan anak, untung-untung ada perubahan hidup kita, cobalah pikir-pikir benar dulu, jangan cepat mengambil keputusan tidak mau pergi). Dia menangis lagi sambil berkata : “Kami ndak tega do maninggaan induak jo bapak nan sadang sakik, cubo pikia dek datuak, kok induak ndak manampak lai (buta karena diabetes), bapak lh sosak ongok (karena sakit paru-paru), bek ko samantaro awak di rantau nyo maningga, ndak batomu jo kami lai, kami bialah ndak bapiti asal lai sabau jo ughang tuo, kok ka mati lai dakok awak, kami ndak manyosai do, kami mintak moo, ndak bisa manuwik parenta datuak do, mambona kami.” (Kami tidak tega meninggalkan Ibu dan Bapak yang sedang sakit, coba pikir oleh Datuk, kok Ibu tidak bisa melihat lagi, bapak lah sesak nafas, sementara kita di rantau Beliau meninggal, tidak bertemu oleh kami lagi, kami biarlah tidak beruang asal berkumpul dengan orang tua, bila akan meninggal lai dekat kita, kami tidak menyesal, kami tidak maaf, tidak bisa menurut perintah Datuk, minta ampun kami).

 

Hmmm ………., saya hanya bisa menghela nafas panajng dan mengeluh, disatu sisi saya kecewa, disisi lain saya membenarkan juga keluhan isteri saya, benar istri itu hak si suami, tapi saya juga ingat bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu, saya sendiripun merasa kasihan melihat penderitaan penyakit kedua orang mertua saya itu, tapi akan membantu biaya pengobatan dengan apa, biaya rumah tangga pas-pasan saja, itulah terniat ingin merantau, mudah-mudahan terbantu nantinya. Berhari-hari saya memasukkan kebenaran supaya dia mau pergi ke Malaysia, tapi jawabnya lebh parah lagi “Bialah datuak songhang nan poi, kami jo anak-anak bialah tingga di siko” (Biarlah Datuk seorang saja yang pergi, kami dan anak-anak biarlah tinggal di sini).

 

Itu yang paling tak mungkin bagi saya berpisah-pisah dengan istri dan anak-anak. Saya terus mencari akal bagaimana niat untuk merantau ini tercapai, keadaan ini saya ceritakan kepada Kepala Desa Silungkang Duo Bapak Idrus Bagindo Molieh (Pak Dodok) almarhum. Beliau sudah kami anggap sebagai Bapak sendiri, kami banyak menerima nasehat dari beliau baik diminta maupun tidak diminta, “Pak! Tolonglah nasehati padusi ambo pak, rugi kalau kesempatan ko disio-siokan,” kata saya dengan nada hampir putus asa (Pak ! Tolonglah nasehati istri saya Pak, rugi kalau kesempatan itu disia-siakan). “Jadilah ambo cubo manasehati, bisuak pagi ambo datang” jawab Pak Dodok (Jadilah saya coba menasehati, besok pagi saya datang).

 

Besok paginya Pak Dodok datang, seperti biasanya beliau datang membawa oleh-oleh “Tapai dan Kupuak ubi Bukik Kociak” (Tapai dan Kerupuk ubi Bukit Kociak). Kami menyambut beliau dengan hati gembira. “Assalamu’alaikum ! Lai sehat-sehat jo” kata beliau, kami jawab : “Alhamdulillah, lai, diate bakpo lai sehat lo” (lai, diatas bagaimana lai sehat saja”. “Lai” jawab beliau sambil menyerahkan bungkusan. “Ha … ko ha………….. tapai duo malam, agia ka anak-anak bekko, ko kupuak ubi, gorianglah” (tapai dua malam, kasih ke anak-anak nanti, ini kerupuk ubi, gorenglah). “Eeee … apolo nan Bapak bao, tiok kamaghi Bapak ado-ado jo nan babao, tarimokasih Pak”, kala istri saya (Eeee … apaan nih Bapak bawa, tiap kemari Bapak ada-ada saja yang dibawa, terima kasih Pak). Setelah agak lama sudah minum, “Den ado nan mangecek jo kau saketek, dalam tu lah awak mangecek ha, bekko tadonga lo dek unghang ko”, kata Beliau sambil berkelakar (Gue ada yang ingin dibicarakan ke kau sedikit, di dalam itulah kita berbincang, nanti terdengar oleh orang lain). Beliau memberi nasehat panjang lebar, entah apa pembicaraan beliau, saya tidak tahu. Karena saya sengaja tidak mendengarnya, tapi yang masih teringat oleh saya ucapan beliau yang terakhir sengaja dibesarkan volumenya supaya terdengar oleh saya “Apo kecek den tu pikian lah, dulu, jan ditarimo sakali, ko mani jan di lulu, kok paik jan dibuang, lai obe dek kau da ..?”. (Apa ngomong gue pikirkan dulu, jangan diterima sekali, bila manis jangan ditelan, bila pahit jangan dibuang, paham apa ga kamu .. ?)

 

Istri saya hanya mengangguk mengiakan sebagai jawabannya, dan saya pun sebagai biasa “maota-ota” (ngobrol-ngobrol) dengan Pak Dodok mengenai akan habisnya masa jabatan kami karena kami sama-sama dilantik pada 30 Maret 1990 yang lalu di Gedung Pancasila Muaro-Sijunjung, diwaktu itu desa kita masih dalam wilayah Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung dan juga sama-sama berakhir masa jabatan 9 tahun sebagai Kepala Desa.

 

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, saya tak pernah lagi berbicara tentang “Poi ka Malaysia” (pergi ke Malaysia) dengan istri saya, kalau tidak mau pergi, ya … sudah, mungkin belum nasib untuk kami ke Malaysia.

 

Sebulan telah berlalu, kabar dari Malaysia tidak ada, entah jadi, entah jadi, saya pun pasrah. Disuatu senja, sebagaimana biasa saya, istri dan anak-anak, sesudah sholat magrib makan bersama, selesai makan, istri saya berkata, “Takona lo dek kami, apo nan nyo kecekana dek Pak Dodok tu iyo bona lo, sajak baliau maagia nasehat dulu, dingin kapalo kami deknyo, sampai kini lapang dado kami rasonya, tamakan bona nasehat Pak Dodok tu dek kami, Tuak .. ! Bakpo-bakpo nyo, bialah awak poi ka Malaysia tu, untuang-untuang kok lai barubah nasib, disiko bona kami, kok malaikek mouk nan kamanjopuik ughang tuo tu, ndak jo bisa kami managaan do” (Teringat sama kami, apa yang diomongon Pak Dodok itu benar, sejak beliau memberi nasihat dulu, dingin kepala kami. Sampai kini lapang dada kami rasanya, termakan benar nasehat Pak Dodok itu oleh kami. Datuk … ! Bagaimana pun biarlah kita pergi ke Malaysia, untung-untung berubah nasib, di sini benar kami, bila malaikat maut yang menjemput orang tua itu tidak bisa kami melarang). Saya hanya termenung mendengar kata istri saya itu, pikiran saya “bapilin” (melintir), dari iyo ka indak, dari indak ka iyo (dari iya bisa tida, dari tidak bisa iya), “ta gonju-gonju” (tarik ulur), tapi sebagai kepala keluarga saya tetap tenang dan tersenyum, supaya suasana rumah tangga harmonis. “Kok baitu dimano nan ka elok lah, dimano nan ka aman rumah tango kito, jan soghang nak kaili, songhang nak ka mudiak, ko dapek yo saili samudiak ndak nyo, sampai lah batuo-tuo jan ado silang sangketo ndak nyo, aman.” kata saya dengan tenang (kalau begitu dimana yang bagusnya saja, dimana yang aman rumah tangga kita, jangan sendiri pergi ke hilir, sendiri ke mudik, bila dapat yang sehilir semudik hendaknya sampai nenek kakek jangan ada silang sengketa, aman). Segala pembicaraan saya dengan istri saya disimak oleh anak-anak saya, anak-anak saya senang karena tak pernah mendengar orang tuanya bertengkar dan berselisih paham, saya selalu berusaha supaya rumah tangga saya tetap harmonis, “ado samo dimakan, ndak ado samo di caghi”. (ada sama dimakan, tidak ada sama dicari).

 

Bulan Mei habis Juni datang, Juni habis Juli datang, kini Agustus pun hampir habis pula yang kaan disambut oleh September, 4 bulan sudah, namun kabar dari Malaysia tidak ada, saya merasa rencana ini batal, mungkin dikarenakan Indonesia dilanda “krismon” (krisis moneter) dan juga suhu politik di Indonesia memanas, sehingga orang Malaysia itu enggan atau takut masuk ke Indonesia.

 

 

BERSAMBUNG ……

 

 

Source :

Tabloid Suara Silungkang

Edisi Jolong Jolong, Juli 2007

Kisah Nyata Djasril Abdullah

 

 

 

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.