Buletin


Taman Kanak-kanak terdapat 4 buah :

  1. TK. Al Qur’an Nurul Huda, terletak di Puskesmas desa Silungkang Oso, jumlah muridnya 20 orang dan jumlah guru 2 orang.
  2. TK Al Qur’an Al-Islah, terletak di Kutianyir, desa Silungkang Tigo, muridnya berjumlah 12 orang dan guru 3 orang.
  3. TK Aisiyah, terletak di depan stasiun, desa Silungkang Tigo, muridnya 36 orang dan guru 3 orang.
  4. TK Pertiwi, di Muaro Kalaban, muridnya 30 orang, gurunya 2 orang.

Sekolah Dasar terdapat 12 buah + 4 Madrasah Ibtidaiyah Negeri

  1. SDN 13 di Sungai Cacang, desa Silungkang Oso, muridnya 60 orang, gurunya 5 orang.
  2. SDN 8 di Rumbio, desa Silungkang Duo, muridnya 111 orang dan gurunya 6 orang.
  3. SDN 12, di Bukit Kecil, desa Silungkang Dua, muridnya 59 orang, gurunya 6 orang.
  4. SDN 01 di Pasar Silungkang, desa Silungkang Tigo, muridnya 105 orang, gurunya 8 orang.
  5. SDN 04 di depan stasiun, desa Silungkang Tigo, muridnya 105 orang, gurunya 8 orang.
  6. SD Muhammadiyah di Surau Gadang, desa Silungkang Tigo, muridnya 160 orang, gurunya 8 orang diantaranya 1 pegawai negeri.
  7. SDN 06 di Sungai Durian, desa Silungkang Tigo, muridnya 46 orang, gurunya 6 orang.
  8. SDN 05 di Ampang-ampang desa Muaro Kalaban, muridnya 46 orang, gurunya 8 orang.
  9. SDN 09 di Belakang Stasiun, desa Muaro Kalaban, muridnya 175 orang, gurunya 8 orang.
  10. SDN 03 di Seberang Kantor Camat Silungkang desa Muaro Kalaban, muridnya 96 orang, gurunya 8 orang.
  11. SDN 07 Pondok Kapur desa Muaro Kalaban, muridnya 121 orang, gurunya 7 orang.
  12. SDN 10 desa Taratak Bancah muridnya 78 orang, gurunya 4 orang.
  13. Madrasah Ibtidaiyah Negeri di desa Muaro Kalaban, muridnya 42 orang, guru 3 orang.

Bersambung …

Dari tahun 1963 sampai sekarang SMP SDI mulai stabil. Guru telah banyak, murid telah banyak dan keuangan telah membaik.Pada tahun 1963 didirikannya “Yayasan Sekolah Dagang Islam”. Pada tahun 1972 di Jakarta dibentuk “Ikatan Keluarga Alumni (IKA SDI)”. Pada tahun 1980 di Jakarta dibentuk “Ikatan Keluarga Alumni (IKA SDI)”.

Dengan dana yang dikumpulkan IKA SDI, dimulailah membangun gedung sekolah SDI yang baru berikut jembatan penyeberangan. Gedung dan jembatan ini menelan biaya sebesar Rp. 64.000.000,-. Gedung ini diresmikannya pemakaiannya oleh Gubernur. Sumatera Barat, Bapak Azwar Anas pada tanggal 3 Juli 1984.

Pembenahan manajemen sekolah dan penambahan guru-guru yang berstatus pegawai negeri sipil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara bertahap diupayakan oleh IKA SDI bersama Yayasannya.

IKA SDI secara bertahap membenahi SDI ini. Dewasa ini sedang memasang dan untuk memperlebar pekarangan sekolah.

Murid SDI tahun 1990 :
SMP : laki-laki = 80 orang; wanita = 134 orang = 214 orang.
SMA : laki-laki = 80 orang, wanita = 122 orang = 202 orang.

Prosentase lulus tahun1989 :
SMP = 98,5 persen
SMA = 84,8 persen

Fasilitas-fasilitas yang ada dewasa ini :

  1. Lokal belajar = 8 buah
  2. Laboratorium = 1 set
  3. Mesin ketik = 12 unit (untuk belajar)
  4. Komputer PC = 1 unit
  5. Organ Yamaha = 1 unit
  6. Mesin jahit = 8 set
  7. Alat-alat PKK = 1 set
  8. Mesin ketik kantor = 1 unit
  9. Pemancar radio = 1 set
  10. Alat-alat olahraga = 2 set lengkap
  11. Buku-buku pelajaran = 1300 exlempar

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Mulai tahun 1952 keadaan SMP SDI telah memulai membaik. Perbaikan ini disebabkan : mulai tahun 1952, anak perempuan diterima menjadi murid. Penerimaan murid perempuan ini adalah atas inisiatif dan keberanian majelis guru yaitu Hasan Muhammad, Idroes Katoen, Syarifuddin, Ibrahim Said (Mamak Surau Tenggi).

Murid mulai meningkat jumlahnya :
Tahun 1952 = 67 orang
Tahun 1953 = 80 orang
Tahun 1954 = 115 orang
Tahun 1955 = 119 orang
Tahun 1956 = 172 orang
Tahun 1957 = 167 orang
Tahun 1958 = 123 orang
Tahun 1959 = 98 orang
Tahun 1960 = 141 orang
Tahun 1961 = 119 orang
Tahun 1962 = 114 orang

Buku pegangan guru telah ada. Murid telah dapat meminjam buku di sekolah. Honor guru telah dapat ditingkatkan. Keuangan telah mulai membaik. Bantuan dari Jakarta yang dikumpulkan dari Alumni dan pencinta SDI yang diprakarsai oleh Danil Yusuf, Nazwar Samin, dan Marius Harun telah mulai mengalir.

Tahun 1954/1955 lokal ditambah 2 buah lagi dengan biaya Rp. 40.000,- seluruh ditanggung oleh Salim Jalil. Bangku dan peralatan lainnya seharga Rp. 14.000,- ditanggung oleh PKS Padang.

Bertepatan dengan HUT SMP SDI, majelis guru memberanikan diri pula untuk mendirikan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA SDI). Dasar didirikannya ialah untuk menampung anak-anak perempuan yang lulus dan tidak lulus dari SMP. Usaha ini disokong penuh oleh Dr. Johor Rukun (waktu itu belum jadi dokter). Johor Rukun diwaktu senggangnya ikut mengajar.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

7 Desember 1941 Admiral Nagumo menyerang Pearl Harbour. 8 Desember 1941, Belanda ikut memaklumkan perang kepada Jepang. Situasi di Indonesia mulai panas dan gawat. Perantau-perantau Silungkang yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan sama-sama sependapat walau tidak pernah bersepakat terlebih dahulu, untuk mengirim istri dan anak mereka ke kampung (Silungkang).

Disebabkan banyaknya anak-anak yang berkumpul di kampung, yang mana kebanyakan di perantauan bersekolah HIS (Hollands Inlansche School), maka Kepala Nagari bersama M. Nour Guguak dan Haroen Rajo Sampomo, mendirikan sekolah HIS pelarian yang kemudian dizaman Jepang ditukar namanya menjadi NIG (Nippon Indonesia Ghako). Tepat sekolah di rumah sekolah Silungkang Institut dipinjamkan satu lokal.

Pada umumnya anak-anak yang dari perantauan terdiri dari anak orang berada, tentu punya pakaian dan perlengkapan sekolah yang cukup dan bagus. Anak-anak Silungkang Institut terikat oleh disiplin sekolahnya, pakai pakaian seragam, kepala gundul dan tidak pakai sepatu. Perbedaan yang menyolok ini telah mulai menampakkan gejala yang tidak baik. Untuk menjaga bentrokan antar murid, oleh pengurusnya dipindahkanlah sekolah HIS ke lokal Volkschool di pasar Silungkang.

Supaya lekas membaurnya anak-anak dari rantau dengan anak-anak yang di kampung, oleh kedua pengurus kedua sekolah itu didirikan Pandu KBI (Kepanduan Kebangsaan Indonesia). Semua murid laki-laki di kedua sekolah itu diwajibkan untuk masuk di kepanduan itu. Pimpinannya diambil dari sekolah yang kedua itu yaitu Idroes Katoen dan Agusnar Alimin dari Silungkang Institut, Anuarby Jamal dan Kamaruzzaman dari HIS pelarian.

Yang patut menjadi perhatian kita bersama, ialah cepat tanggap dan cepatnya bertindak pemimpin-pemimpin Silungkang waktu itu, dan nyatanya semenjak diadakannya pandu KBI itu, baiklah hubungan antara anak-anak perantauan dengan yang di kampung. Kemajuan tentara Jepang diluar dugaan sekutu. Dalam waktu yang singkat, tentara Jepang telah sampai di Malaya. Singapura, benteng Inggris yang terkuat di Asia, telah terancam dan diragukan untuk bisa dipertahankan. Tentara Inggris telah banyak yang berhamburan lari, ada yang ke Pekanbaru, ke Rengat ke Jambi dan lain-lainnya.

Tentara Belanda yang gagah berani terhadap rakyat jajahannya selama ini walaupun belum pernah berhadapan dengan tentara Jepang, telah ketakutan pula. Telah banyak yang panik bahkan telah banyak yang lari meninggalkan kesatuannya. Dalam situasi yang demikian, Silungkang diberi jatah oleh Belanda minyak tanah sebanyak 700 kaleng yang disuruh tempatkan di rumah sekolah Silungkang Institut. Konon kabarnya kemudian diperdapat berita, maksud Belanda memberi minyak tanah itu adalah untuk membumi hanguskan Silungkang Institut dan negeri Silungkang.

9 Maret 1942 Indonesia diduduki oleh Jepang. Penandatanganan penyerahan tanpa syarat oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenburg Stachhouwer dan Luitnam Jendral Hein Ter Poorten dilakukan di Kalijati. Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai memasuki kota Sawahlunto dari Sijunjung. Rakyat menyambutnya dengan gembira sekali, lebih-lebih rakyat Silungkang yang dengan masuknya Jepang dan kalahnya Belanda terobat rasanya jerih payah, pengorbanan dan penderitaan tahun 1927.

17 Maret penyerahan di Padang Silungkang Institut ditukar namanya menjadi SDI (Sekolah Dasar Islam) nama mana disesuaikan dengan niat waktu mendirikannya.

Keadaan sekolah SDI selama pendudukan Jepang.

Sama seperti sekolah-sekolah lainnya di Sumatera Barat ini, SDI inipun mengalami nasib yang memprihatinkan, antara lain pada keadaan guru yang pada tahun 1943 terdiri dari Guru Hasan Muhamad, Guru Suginoi, Guru Rustam. Tahun 1944 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Umir Usman, Guru Idroes Katoen. Tahun 1945 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Idroes Katoen, dan Guru Syamsuddin Sawah Juai.

Keadaan murid tahun 1942 berjumlah 72 orang, tahun 1943 yaitu 52 orang, tahun 1944 hanya 46 orang dan tahun 1945 adalah 51 orang.

Honor guru dengan beras, itupun penuh ke bawah. Buku pegangan bagi guru tidak ada. Buku serta peralatan sekolah sulit diperdapat.

Untungnya, kalau ditempat-tempat lain sekolah dan guru-gurunya telah banyak yang kehilangan wibawa, siswa SDI tetap mematuhi peraturan/disiplin sekolah.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Lebih kurang 6 bulan sekolah yang dibangun berjalan, diadakanlah pemeriksaan oleh badan pemeriksaan yang dipimpin oleh Guru Arifin. Dari hasil pemeriksaan, Guru Arifin sangat gembira dengan hasil yang telah dicapai. Menurut pendapat Beliau, bahasa Belanda di sekolah ini telah dapat disamakan dengan kelas V di sekolah HIS. Kira-kira satu tahun kemudian, sekolah ini ditukar namanya menjadi “Silungkang Institut”. Ditukarnya karena banyak yang mengusulkan bahwa nama Limau Poeroet Institut, nama ini terlalu khusus sedangkan sekolah ini kepunyaan Silungkang. Pada tahun ajaran kedua guru ditambah, yaitu guru Sugino M. Wigono. Pada tahun ketiga guru telah 6 orang karena ditambah dengan guru Sofyan Jamanuri, guru Nazarirrudin dan guru M. Zein.

Akhir tahun 1941, datang rombongan pemerintah Belanda yang dipimpin oleh Controleur untuk memeriksa sekolah ini, waktu itu tentara Jepang telah menduduki Philipina. Diperiksanya sekolah ini karena pemerintah Belanda curiga terhadap sekolah ini. Kecurigaan ini disebabkan antara lain :

  • Tentara Jepang disamping memakai pakaian seragam, kepalanya semuanya gundul. Peraturan di sekolah ini juga begitu. Apakah sekolah ini ada hubungannya dengan tentara Jepang itu.
  • Karena dapat laporan dari intelegennya, bahwa guru-guru “Silungkang Institut” sedang giat-giatnya mempelajari bahasa Jepang.
  • Belanda masih khawatir terhadap Silungkang. Kekhawatiran ini mungkin akibat pemberontakan Silungkang 1927.

Untunglah sebelum ada pemeriksaan, kepala negeri Silungkang M. Joesoef Penghulu Sati yang menjadi pelindung sekolah ini, telah mengetahuinya dan segera memberitahukan kepada guru-guru bahwa akan ada pemeriksaan. Oleh karenanya guru-guru mana yang patut disingkirkan, disingkirkanlah segera. Nyatanya waktu itu guru Bahaudin memang sedang asyiknya mempelajari bahasa Jepang.

Segala pertanyaan yang diajukan oleh Controleur itu, dapat dijawab oleh guru Bahaudin dan guru Sugino, sehingga Controleur pulang dengan tangan hampa, tapi masih menampakkan kecurigaannya. Lebih kurang satu bulan kemudian, datang rombongan pemerintah Belanda dari Padang, yaitu rombongan dari O & E (Onder Wys en Eeredienst). Kalau istilah sekarang rombongan DEBDIKNAS. Kedatangannya itu untuk membujuk pemimpin-pemimpin Silungkang agar sekolah Silungkang Institut dijadikan saja sekolah pemerintah. Ini mungkin rentetan dari periksaan Controleur tempo hari. Usul ini ditolak dengan tegas oleh pemimpin-pemimpin Silungkang. Tidak ada basa-basi karena pemimpin-pemimpin Silungkang telah tahu bahwa situasi di Indonesia telah mulai gawat. Negeri Belanda telah diduduki Jerman, sedangkan tentara Jepang telah mendekati Singapura.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Tidak beberapa hari setelah usainya konferensi, pada permulaan tahun 1940, dibentuklah Panitia Pembangunan untuk sekolah yang akan didirikan itu. Susunan Panitia Pembangunan yang terbentuk adalah sebagai berikut :

  1. Ketua : H. Muhammad Zein
  2. Wakil Ketua : Datok Rangkayo Nan Godang
  3. Sekretaris I : Haroen Rajo Sampono
  4. Sekretaris II : Ibrahim Jambak
  5. Keuangan : Hasan Yahya
  6. Komisaris I : H. Khatab
  7. Komisaris II : Abdoellah Oesman
  8. Penasihat : M. Joesoef Panghulu Sati

Kepada Pemerintah Belanda dimintakan izin hanya mendirikan sekolah agama. Izin mudah didapat karena Belanda waktu itu sedang pusing dengan situasi yang telah mulai panas di Eropa. Atas usaha Syarief Sulaiman Malawas, didapat tanah di Limau Poeroet. Tanah ini kepunyaan kaum H. Ibrahim / H. Wahid Panai Batu Bagantuang. Syarief Sulaiman ini sama-sama berdagang dengan H. Wahid di Sawahlunto dan H. Wahid sayang kepada beliau.

Tanah ini dibeli dengan harga f 4000 – (empat ratus Gulden) atau senilai 0,25 kg emas murni. Kalau dinilai dengan pasaran tanah di Silungkang pada waktu itu, harga ini adalah harga yang termurah. Diperdapatnya harga yang murah itu dengan perjanjian :

  • Tanah ini akan dipergunakan untuk kepentingan sekolah agama.
  • Kemanakan H. Ibrahim, Hasan Muhammad yang baru lulus Normal School akan ikut menjadi guru disitu.

Kalau tidak diterima syarat itu, tanah ini tidak akan diperdapat karena pemiliknya terbilang orang yang berada waktu itu yang sudah tentu malu akan menjual tanah. Panitia diberi keringanan untuk menyelesaikan pembayarannya dapat dilunaskan Panitia pada akhir tahun itu juga (segel jual beli terlampir).

Sepakatlah Panitia untuk memberi nama sekolah yang akan didirikan itu dengan nama tempatnya yaitu “Limau Poeroet Instituut”. Disebarlah panitia untuk mencari dana (keuangan), terutama kepada SSP yang pada waktu konperensi telah menjanjikannya. Waktu itu diperantauan telah bermunculan pedagang-pedagang Silungkang yang berkapital besar seperti :

  1. Boerhan Dalimo Godang, Datuak Onga Basir, Salim Jalil dan lain-lain di kota Surabaya.
  2. Dt. Sati, M. Joesoef, Ismail, Jalil, H. Ibrahim, dan lain-lain di Betawi (Jakarta).
  3. A. Fatah St. Malano, A. Moerad Bagindo Tan Pokieh, Naali dan lain-lain di kota Padang.
  4. Mahmud Yahya, Thaib Yahya, M. Lilah Rajo Nan Sati, H. Syamsuddin, dan lain-lain di kota Medan.
  5. Oedin Podo, Guur Maafoef, M. Sirin di Malaya
  6. H. Joemoes Dalimo Godang, M. Joesoef Ngaciek, M. Ibrahim, Maafief Pito Gagah, Manggoto, dan H. Jamin di daerah Jambi.
  7. Abdoelah, H. Joenoes Dalimo Kosiak, H. Jama dan lain-lian di daerah Riau.
  8. H. Yahya, H. Kamaluddin, H. Taher, H. Soelaiman dan lain-lain di kota Sawahlunto.

Sementara panitia mengusahakan keuangan itu, rakyat di kampung gotong royong untuk mendatarkan tanah. Dalam waktu yang singkat, dengan mudah keuangan telah diperdapat dan mulailah dibangun sekolah itu sebanyak 3 lokal. Dalam waktu yang hanya tiga bulan, pembangunan selesai. Cepat selesainya karena seluruh konsen dibeli dari Solok.

Pembangunan gedung berikut bangku dan peralatan lainnya menelan biaya f 3000,- (tiga ribu Gulden) atau f 3.400,- dengan harga tanah. Jumlah ini kalau dinilai dengan emas seharga dua seperdelapan kg emas murni.

10 Mei 1940 Jerman menyerang negeri Belanda. Dalam tempo hanya lima hari, Jerman telah menduduki seluruh negeri Belanda tersebut. Setelah selesai pembangunan gedung, dibentuklah pengurus yang akan mengurus sekolah tersebut, dengan susunan pengurusnya sebagai berikut :

  1. Pelindung : M. Joesoef Panghulu Sati
  2. Penasehat : Mr. Aboebakar Jaar
  3. Ketua I : H. Muhammad Zein
  4. Ketua II : Abdoellah Oesman
  5. Sekretaris I : Salim Sinaro Khatib
  6. Sekretaris II : M. Dalil Sutan Pamuncak
  7. Bendahara : M. Khatab
  8. Pembantu I : Harun Rajo Sampono
  9. Pembantu II : Abdoellah Mahmoed
  10. Badan Pemeriksa : Guru Arifin

Guru yang akan mengajari adalah :

  1. Hasan Muhammad keluaran Normaal School Padang (sekolah guru yang didirikan oleh Prof. Mahmud Yunus).
  2. Bahaudin Talawi lulusan INS Katu Tanam (Indische Nederlands School pimpinan M. Syafa’i). Bahaudin ini langsung diangkat menjadi Kepala Sekolah.

Disusunlah mata pelajaran dan ketenuan (disiplin) sekolah.
Mata Pelajaran ditetapkan :

  1. Agama terdiri dari Tauhid, Fikih, Tarekh Nabi, Akhlak, Hadis, Tafsir, Hukum Dagang Islam.
  2. Dagang terdiri dari Boekhouding, Handels Rekenen, Handelskennis, Handelscrackt, Handelscorespondensie.
  3. Umum terdiri dari Bahasa Belanda, Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Sejarah Dunia, Tata Negara, Stenografis.

Syarat penerimaan murid : Tamatan Gubernemen 5 tahun
Jumlah murid yang diterima : 40 orang (nyatanya terpaksa menerima 44 orang)
Mulai belajar : 1 Agustus 1940
Peraturan atau disiplin sekolah adalah baju seragama hijau cap kunci, kepala gundul, tidak dibenarkan pakai sepatu/sandal, tidak dibenarkan membawa uang, tidak boleh keluar malam, tidak boleh merokok.

Tepat menurut rencana, tanggal 1 Agustus 1940 sekolah ini resmi mulai belajar.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Link yang terkait lainnya :
Surat Dari Hamka

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.