Buletin


Menurut keterangan Bulletin Silungkang, Edisi 001/SM/JUNI 1998 pada kolom Kampung dalam Berita yang memberi kabar bahwa :

Djasril Abdullah dipastikan tidak ikut lagi dalam pemilihan Kepala Desa Silungkang Oso disebabkan karena yang bersangkutan akan bertolak ke Malaysia dalam rangka Kerjasama Sumber Negeri Sembilan dalam bidang kebudayaan. Djasril Abdullah beserta keluarga akan menetap di Malaysia (Negeri Sembilan) selama 2 tahun dengan program promosi pertenunan Silungkang.

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 001/SM/JUNI/1998

PENGHORMATAN

Diatas nama Konferensi ke – I daripada negeri Siloengkang, e. Dt. Kajo telah meminta kepada saja soepaja saja menjalankan pendapatan saja sedikit tentang maksoed jang itoe.

Tentoe sadja kegirangan hatilah jang akan saja njatakan mendengar maksoed jang baik itoe. Orang Siloengkang akan berkonferensi, memperkatakan nasib negerinja, boeroek baik jang akan ditempoeh di zaman jang akan datang, baik jang doedoek di kampoeng, atau jang tinggal dirantau. Satoe hal jang kelak akan diikoeti poela oleh pendoedoek negeri lain.

Sebenarnya soedah sedjak tahoen 1931 saja kenal kegiatan orang Siloengkang, orang jang ternjata mempoenyai semangat dagang dalam pipa darahnja. Saja datang pada tahoen terseboet ke Mangkasar, disana saja bertemoe toko besar orang Siloengkang. Saja pergi ke Soerabaja, bertemoe toko besar Siloengkang, saja datang ke Betawi, orang Siloengkang djoega perintis djalan.

Bala bentjana jang menimpa negerinja lantaran perboetan orang-orang jang telah salah memilih djalan, jaitoe kaoem kominis, tidak mematikan segenap dagang orang Siloengkang, tetapi menghidoepkan.

Banjak kenalan saja orang Siloengkang, dan boekan sadja kenalan tetapi sahabat mereka poen terhadap saja djoedjoer poela, memandang sahabat poela, baik di Betawi, atau Soerabaja, apalagi di Medan, tempat tinggal saja jang sekarang.

Maka sebagai penghormatan, saja oetjapkan kepada Toehan moga-moga konferensi pertama ini beroleh djaja (success), mendjadi tingkatan oentoek konferensi (conferentie) jang kedoe, ketiga dan seteroesnja, bagi kemoeslihatan tanah tempat darah tertoempah. Sebab bagi jang tinggal di kampoeng, oesaha jang berdaganglah jang diharapnja, dan bagi jang berdagang : “Setinggi-tinggi melamboeng, akan kembali ke tanah djoega”.

Apalagi bagi kita anak Minangkabau, hati kita telah terikat kepada kampoeng dan halaman, tepian tempat mandi, roemah nan gedang, lomboeng berpereng, sawah berdjendjang, bandar boetan, poesaka nenek mojang kita …. adanja.

Selamat konferensi !

Medan, awal December 1939

H. ABDOELMALIK K.A. (HAMKA)

Sumber : Edisi Perdana, Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo, semula dikategorikan sebagai sesuatu yang “tak mungkin”, mengingat kompleknya permasalahan yang akan dihadapi panitia dan saratnya acara yang harus dibuat – ini sebuah perhelatan akbar – kolosal – serta sempitnya waktu yang tersedia dalam rentang Agustus sampai dengan Desember 2002.Semua itu seolah mustahil !

Didasari hal ini maka kami yang bergulat dalam kancah kobamangobaan, hanya menempatkan berita besar sebagai KOBA DAGHI KAMPUANG dalam kolom yang cukup sederhana “Kobakobaan”.

Namun setelah tokoh sentralnya – Dua Husin Bersaudara, Irwan dan Sukri yang semula hanya ingin malewakan pangulu pucuak Suku Malayu memPKSkan wacana ini setelah mendapat restu dari pemuka adat di kampung halaman sebagai oleh-oleh setelah melaksanakan hajat besar “Pulbas Bakor Sawahlunto 2002″, menjadikannya sebagai acara Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo.

Setelah rapat pleno PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta yang mengeluarkan fatwa “mendukung” dan menyatakan acara ini sebagai OLEK SILUNGKANG, yang berarti semua masyarakat Silungkang akan terlibat dalam perhelatan besar ini, kelima suku yang ada di Silungkang akan bahu membahu – tupangmanupang – tumpahruah menyingsingkan lengan baju guna menyukseskan acara ini, kami sadari kami keliru.

Untuk semua itu berita Malewa Pangulu nan Balimo ini akan selalu kami tempat pada posisi yang sangat terhormat “Kobautamo”

Tak bisa dibayangkan sukacitanya warga menyambut acara ini dan tumpah ruahnya penduduk Silungkang yang akan berbaur dengan para mudikers serta hiruk pikuknya Nagari Silungkang saat acara tersebut dilangsungkan yang menurut rencana akan berlangsung pada tanggal 14 dan 15 Desember 2002.

Berdo’alah pada Sang Pencipta semoga kami mampu, mengingat dalam rubrik ini tentu kami harus mangobaan perkembangan persiapan yang dilakukan panitia mungkin semacam progress repot, sampai pada pelaksanaan.

KESERIUSAN

Sebuah bukti keseriusan panitia pelaksana malewakan pangulu pucuak nan balimo adalah dengan diserahkannya kepanitian kepada PKS Jakarta yang sebelumnya hanya terdiri dari para petinggi suku Malayu.

Pada awalnya memang hanya suku Malayu yang akan malewakan pangulunya, namun setelah didapat kata mufakat bahwa acara tersebut akan ditingkatkan menjadi acara malewa pangulu pucuak nan balimo yang berarti melibatkan seluruh suku yang ada.

Tegasnya acara ini menjadi olek nagori – bukan hanya suku Malayu maka kepanitianpun diserahkan kepada PKS Jakarta.

Kenyataan tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak suku Malayu (panitia lama – Irwan Husin) tersebut terpilih kembali secara aklamasi sebagai tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak nan balimo dengan jabatan Koordinator Seluruh Acara adalah sesuatu yang wajar mengingat kesiapan yang telah dimilikinya.

“Setidaknya, tokoh ini telah lancar melafazkan petatah-petitih, walau harus dengan terpaksa mengganti kata biduak menjadi sampan,” ujar seorang peserta disela obrolan santai sejenak setelah rapat berakhir.

“Sakali mandayuang sampan duo tigo pulang talampaui – seharusnya adalah sakali mandayuang biduak duo tigo pulau talampaui, namun hal ini bukanlah sebuah kesalahan yang fatal sebam sampan adalah biduak dan biduak adalah sampan.

Babenso saketeknyo, Tuak !

Untuk sekedar perbendaharaan kata : Malewa berarti batogak – mengangkat dan mengambil sumpah pangulu pucuak sebaai pimpinan tertinggi dalam strata suku yang akan menjadi tokoh panutan dan contoh serta suri tauladan bagi kemenakan dan persukuannya serta menjadi public Figure dan utusan bagi persukuannya.

Kembali pada seputar kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo.

Keberhasilan yang diharapkan tentu mustahil dicapai apabila hanya dilimpahkan kepundak tokoh ini tapa ada uluran tangan dan bantuan moril serta materil dari para codiak pandai nan copek kaki ringan tangan.

Untuk itu dalam rapat andhiko tersebut telah dicapai kata mufakat bahwa pada tiap-tiap suku harus membentuk kepanitian sendiri dalam kesukuannya, untuk itu dari kedelapan belas andhiko yang bernaung dalam kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama warganya yang akan menjabat dalam kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo 2002.

 

Tercatat delapan belas orang tungganai telah menyatakan kesediaannya untuk mewakili kedelapan belas andhiko kampuang, diantaranya : H. Hussein Yunus, Akman Burhan, H. Jamaran Turut, H. Syafrie Rauf, BBA, H. Rijal Jalil dan lain-lain.

 

Dalam kepanitian ini, Koordinator Acara lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan pekerjaan yang berorientasi keluar, seperti : KAN, PEMDA, LKAAM dan lain-lain

 

MAMBANGKIK BATANG TARONDAM

 

Sudah sedemikian parahkah kondisi Silungkang sehingga generasi sekarang harus memikul beban untuk mambangkik batang tarondam ?

 

Atau sudah seberapa dalam keterpurukan nama Silungkang dalam kancah percaturan adat alam Minangkabau ?

 

Tidak !

 

Silungkang tidak tertinggal apalagi tenggelam. Sekali tidak ! Silungkang tetap eksis dalam percaturan regional atau nasional.

 

Hanya saja, Silungkang sedikit ketinggalan untuk mengekpresikan diri dan menempatkan diri pada bidang kepemerintahan.

 

Kenyataannya, memang belum ada warga Silungkang yang berkesempatan menjadi amtenaar dengan menduduki jabatan sebagai Camat, Bupati, Gubernur dan seterusnya.

 

Inilah kenyataannya !

 

Namun, hal ini tentu tidak bisa dijadikan indikator atau barometer mutlak untuk mengukur ketertinggalan Silungkang.

 

Karena disisi lain, ternyata sudah ada beberapa orang warga Silungkang yang menduduki jabatan terhormat (bila jabatan dalam keperintahan dianggap begitu), namun biasanya, bila ada warga Silungkang yang berkesempatan menduduki posisi penting jarang sekali yang mau menonjolkan diri.

 

Dalam hal dunia bisnis ?

 

Tentu adalah suatu hal yang wajar apabila ada yang jatuh dan yang bangun karena memang begitulah irama kehidupan pedagang.

 

Dalam Lembaga KAN, apakah Silungkang dan Padang Sibusuak yang pernah berjaya dengan sebutan Gajah Tongga Koto Piliang sudah diperhitungkan lagi ?

 

Tidak juga, buktinya Rajo Pagaruyuang (dalam hal ini simbolik) nan duduak samo rondah togak samo tinggi jo Silungkang (duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan Silungkang) berpesan “Apabila Silungkang nan bagola harimau campo koto piliang ingin malewa pangulu, persiapkanlah dengan matang karena itu bisa jadi barometer”.

 

Artinya, Silungkang masih diperhitungkan dan Silungkang punya banyak kaum codiak pandai, alim ulama dan pengusaha serta kaum intelektual.

 

Lantas apa gunanya kita Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo ?

 

Malewa Pangulu dengan tuntutan kemajuan Silungkang memang tak terkait erat, tapi tak berarti tidak berkaitan.

 

Sejak Silungkang dipaksa ikut Kotamadya Sawahlunto pada tahun delapan puluhan, Silungkang yang bersahaja seolah kehilangan jati diri.

 

Silungkang harus melaksanakan sistim pemerintahan desa di bawah kepemimpinan seorang Kepala Desa – sebuah sebutan yang sangat tidak akrab ditelingo (telinga) warga Silungkang yang sudah terlanjur akrab dengan sistim pemerintahan nagari bersama Pak Woli-nya (Wali-nya).

 

Kerapatan Adat Nagori – KAN – sebuah lembaga atau limbago – wadah yang dibentuk guna mengkoordinir (menggantikan ?) peran para kepala suku, pangulu pucuak yang dalam sistim pemerintahan nagari sangat dominan berperan secara aktif dan sebagai filter atau penyaring sebelum sebuah persoalan sampai ke tingkat pengadilan dan perangkat hukum negara lainnya.

 

Dalam sistem pemerintahan nagari, setiap persoalan yang timbul dalam suatu kampung akan diselesaikan dalam kampuang itu sendiri dengan segenap perangkat kampuang yang ada.

 

Bila hal tersebut tak bisa diselesaikan dalam kampuang tersebut, barulah bisa naik ketingkat Suku dan apabila masih tak juga mampu diselesaikan maka baru bisa naik ke tingkat nagari dan begitu seterusnya sampai ke tingkat tertinggi.

 

Tidak seperti yang berlaku sekarang di Silungkang dengan sistim pemerintahan desanya – hampir semua urusan diselesaikan di kantor polisi atau pengadilan – sehingga fungsi niniak mamak, codiak pandai dan alim ulama semakin kabur dan pada akhirnya sirna dengan sendirinya – musnah.

 

Tentu, kita tak ingin hal tersebut berlaku di tanah leluhur kita tercinta ini.

 

Lantas, apa saja yang dikerjakan lembaga Kerapatan Adat Nagari ?

 

Banyak ! Kami dapat memastikan, lembaga KAN telah berbuat banyak untuk Silungkang dan warganya.

 

Hanya saja, entah kenapa lembaga yang tumbuh dari bawah ini selalu saja mendapat cibiran dan perlakuan sinis dari warga masyarakat.

 

Banyak warga yang enggan memanfaatkan lembaga ini bahkan keberadaannya sering dianggap bak angin lalu saja.

 

Mana mungkin, saya bisa menjalankan roda KAN ini seorang diri” kata Ketuanya dalam suatu kesempatan berbincang santai.

 

Banyak warga masyarakat dan pengurus yang ada di dalam KAN bila diundang rapat tidak mau hadir, jadi …. yah saya terpaksa kerja sendiri sebatas kemampuan yang ada.”

 

Jangan sekali-kali mencap saya sebagai ketua yang tidak kooperatif apalagi mau menjadi single fighter – otoriter – karena saya telah mencoba bekerja sebaik mungkin sesuai ketentuan yang ada dan selalu menghimbau agar setiap warga untuk memanfaatkan keberadaan lembaga KAN dan meminta seluruh pengurus KAN untuk aktif bersama-sama” tambahkan lagi dengan serius.

 

Jadi, KAN itu … berhasil atau gagal ?

 

Penilaian setiap orang tentu berbeda, apalagi KAN ini adalah lembaga pelayanan masyarakat, tentu sangat kompleks permasalahan yang dihadapinya.

 

Apapun penilaian Anda – apapun hasil yang telah dicapai – KAN adalah sebuah lembaga yang telah berbuat banyak untuk kita – untuk negeri kita tercinta – untuk kerapatan adat nagari.

 

“Malewakan pangulu pucuak ini adalah sebuah upaya guna menghidupkan kembali sesuatu yang sudah tak pernah kita nikmati lagi” kata ketua koordinator seluruh acara – Irwan Husein.

 

Mudah-mudahan dengan cara Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo, yang Insya Allah akan dilaksanakan 11 dan 12 Desember 2002, kita dapat mengoptimalkan kembali fungsi niniak mamak jo codiak pandai saroto alim ulamo nan redup selama era berselang.

 

Sekarang era reformasi, Bung !

 

Ayo, kita reformasi nagori kita demi kemaslahatan anak cucu.

 

Langkah pertama, reform diri kita sebelum memulai sebuah rencana besar – mengembalikan Silungkang menjadi nagari sebagai nagari pertama dalam sebuah kota madya yang kembali kepemerintahan nagari.

 

Jadilah pionir !

 

Buktikan bahwa Kenagarian Silungkang yang pernah hilang dan meliputi wilayah Silungkang Oso, Duo, Tigo dan Muarokalaban bukanlah sebuah nagari pecundang walau sedikit terlambat bila dibanding saudara kembar kita Padang Sibusuak atau Taratak Bancah yang dulu sempat bernaung dibawah panji kenagarian Silungkang.

 

Late is better than nothing, toh ….

 

Pasan Mandeh,

Tanyai diri Anda – apa yang bisa Anda perbuat untuk Silungkang, bukan apa yang bisa Silungkang perbuat untuk Anda. (plagiat dari ucapan mendiang John F.Kennedy).

 

SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA MALEWA PANGULU NAN BALIMO

SILUNGKANG 11 – 12 DESEMBER 2002

 

PANITIA PENGARAH

KOORDINATOR ACARA, Drs. IRWAN HUSEIN.

KOORDINATOR SEMINAR ADAT, Ir. IRLAND Y. M, MM.

KOORDINATOR PUBAS, Drs. JHONY REFF ALBERT

 

PENANGGUNG JAWAB : PKS JAKARTA (Persatuan Keluarga Silungkang)

 

DEWAN PAKAR : ABDULLAH USMAN, HASAN RAID, PROF. DR. AMRI MARZALI, KOL. (PURN) H.M. ARIEF, Drs. DASLI NOERDIN, Msc, PROF. DR. AZHAR KASIM

 

KETUA PELAKSANA : H. FAUZI HASAN, BA

WAKIL KETUA : H. RIJAL JALIL, SE

SEKRETARIS : Drs. AL FEBRI

 

BIDANG NASKAH PIDATO ADAT

KOORDINATOR : Ir. H. HUSSEIN YUNUS

ANGGOTA : AKMAN BURHAN, H. MUNIR TAHER, H. MUSTAFA KAMAL, H. NAWIR SAID

 

BIDANG PENDANAAN

KETUA : H. DJAMARAN TURUT

WAKIL KETUA : H. HEFRIZAL HASMIR

 

BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT

KETUA : BUYA DAMRA MA’ALIM

WAKIL KETUA : H. DASTONI

 

BIDANG DOKUMENTASI

H. ARSAL CHAIPADMOOL, YAHDI JAMHUR

 

BIDANG ACARA

PROTOKOL : Drs. SABIRIN SARIN

ANGGOTA :

KOORDINATOR MAAGHAK PANGULU : H. MARWIN UMAR

KOORDINATOR MEDAN NAN BAPANEH : YOES CHAIDIR

KOORDINATOR MEDAN NAN BALINDUANG : H. HELMY YAN JALIL

 

 

Catatan :
Pelaksanaan Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo dinyatakan dengan sukses dan meriah.

 

Sumber : bulletin dwi bulanan Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

 

Dalam Edisi Juli – Agustus 2002 telah dibahas pula tentang acara ini. Berikut isinya :

Malewa berasal dari bahasa Silungkang asli atau setidak-tidaknya adalah bahasa yang sudah umum dipakai di Ranah Minang, alam Minangkabau yang penuh pesona.

 

Malewa mungkin bisa berarti mengangkat, memaklumatkan, mengabarkan, memproklamirkan, memasyarakatkan, merilis, me-launching dan atau apa saja yang senada dengan itu (mohon ma’af kalau salah).

 

Pangulu bukanlah penghulu seperti yang lazim kita pahami sehari-hari. Kalau Penghulu yang lazim kita ketahui adalah petugas dari Kantor Urusan Agama yang bertugas menikahkan pasangan calon suami istri sehingga menjadi pasangan suami istri yang syah menurut hukum adat dan agama.

 

Pangulu adalah Ketua Adat dalam satu Suku atau kaum, mungkin juga bisa atau layak disebut Kepala Suku, seperti Pangulu Pucuak Suku Dalimo, Pangulu Pucuak Suku Patopang, Pangulu Pucuak Suku Malayu, Pangulu Pucuak Suku Payaboda dan Pangulu Pucuak Suku Supanjang dan lainnya.

 

Pangulu atau di bagian lain Minangkabau yang super demokrasi ini biasa disebut dengan “Datuak” adalah pimpinan strata tertinggi dalam kepemimpinan Adat Alam Minangkabau.

 

Untuk itulah, para Pangulu atau Datuak dipilih melalui seleksi yang amat ketat atau dengan kata lain tak sembarang orang bisa menjadi Pangulu atau Datuak ini.

 

Gelar dan atau jabatan yang pangku oleh para Pangulu atau Datuak ini biasa diberikan kepada seorang lelaki dalam sebuah suku yang telah dikenai dan telah teruji dedikasi, ilmu pengetahuan, kepiawaian dan tentu pengetahuan.

 

Oleh karena itulah tak sembarang orang bisa memakai gelar-gelar tersebut, kalaupun dalam suatu kurun waktu gelar tersebut “harus” berpindah kepada yang tidak memiliki garis keturunan langsung, itu biasanya hanya untuk kurun waktu yang sementara saja karena gelar tersebut pada waktunya harus dikembalikan ke keturunan langsung si empunya.

 

Kalau saja Malewa dapat kita artikan mengangkat dan memproklamirkan, maka arti Malewa Pangulu adalah mengangkat dan memproklamirkan Kepala Suku.

 

Jelas ini bukan sebuah pekerjaan yang ringan. Perhelatannya tentu juga bukan sebuah helat atau hajat yang kecil, Iko Baolek Godang !

 

Tak terbayangkan, di Silungkang, yang konon menurut sejarah belum pernah ada acara Malewa Pangulu sejak setengah abad berselang, yang artinya generasi Silungkang yang berusia 60 tahun pada tahun 2002 ini mungkin belum pernah mengalami peristiwa akbar seperti ini kalaupun pernah berkesempatan melihat tentu belum dapat menarik arti dan peristiwa tersebut – kesibukan yang akan dialami panitia penyelenggara yang mau tidak mau harus bekerja kerja mulai dari tahap penyeleksi Bakal Calon Penghulu sampai pada penentuan “Calon Jadi” sesuai tahapan-tahapan dan kaidah-kaidah yang berlaku sampai pada mempersiapkan sebuah penghelatan besar yang akan melibatkan kelima suku yang di Silungkang.

 

Bisa jadi solusinya yang diambil adalah melibatkan semua unsur yang tersedia di Silungkang dan mengambil lokasi di Cintomoni – stadion utama Silungkang semata wayang – yang posisinya memang terletak di tengah-tengah Kenagarian Silungkang karena populasi warga Silungkang tersebar mulai dan Silungkang Oso yang berbatas dengan Kabupaten Solok, Silungkang Duo, Silungkang Tigo sampai ke Muarokalaban berbatas dengan Padang Sibusuak dan kota Sawahlunto – mungkin saja.

 

Namun bila ditilik dan hari H-nya atau hari pelaksanaannya yang bertepatan dengan awal bulan Syawal 1423 H, sekitar awal Desember, yang berarti adalah masa liburan hari raya Idul Fitri, sebuah momen yang tak pernah ditinggalkan oleh warga Silungkang di perantauan untuk melaksanakan acara pulang kampuang atau pulang basamo, sementara jauh-jauh hari Ikatan Generasi Muda Silungkang (IGMS) di Jakarta telah memaklumatkan dan menyebarkan brosur tentang jadual pelaksanaan PULBAS IGMS 2002 yang akan berlangsung pada tanggal 7 s/d 16 Desember 2002. Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya Silungkang yang akan dibanjiri oleh perantauan yang akan dibanjiri oleh perantaunya sendiri karena beberapa momen penting yang melibatkan banyak orang akan berlangsung pada kurun waktu yang bersamaan.

 

Silungkang baolek godang, koordinasi dan komunikasi tentu adalah kunci utamanya, dedikasi yang tinggi segenap panitia dan masyarakat perantau serta penduduk setempat sangat dibutuhkan untuk keselamatan dan kemashatan perhelatan akbar ini.

 

Demi menghindari pergesekan yang bukan mustahil bisa terjadi antara para perantau yang pulang kampuang, Mudikers, yang pasti tentu sudah banyak lupa dan atau malah sama sekali tidak mengerti adat istiadat dan kebiasaan yang boleh atau lazim berlaku di tanah leluhur mengingat kebiasaan yang telah berlangsung lama selama di kota-kota besar adalah sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja, kiranya perlu diantisipasi oleh panitia untuk membuat semacam buku saku tentang “Apa yang harus dan Apa yang Jangan Diperbuat selama di Silungkang” (seperti “Do’s and Don’t”nya Brunei Darussalam yang dengan mudah bisa didapat pada outlet penjualan karcis pesawat udara Brunei Air Lines dan travel bironya), sebab penduduk setempat tentu tak ingin adat istiadat dan kebiasaan serta kepatutan yang telah berlaku turun temurun dan telah berurat berakar tidak diindahkan keberadaannya.

 

Yang tak kalah penting, tentu akan banyak penduduk setempat yang akan memanfaatkan peristiwa akbar ini misalnya dengan berjualan aneka penganan khas dan souvenir agar dihimbau untuk tidak menaikkan harga berlipat ganda, mengingat hal tersebut bisa merugikan si pedagang tersebut, karena tentu para mudikers akan berpikir panjang sebelum membeli, betapa ironisnya bila uang rupiah yang dibawa para mudikers yang notabene adalah dun sanak awak juo harus beredar di kota Sawahlunto, Solok, Bukittinggi, Padang dan kota-kota lainnya sebab selang beberapa tahun terakhir gejala tersebut mulai terlihat nyata. Bijaksanalah !

 

Naikkanlah pendapatan dengan cara menjual sebanyak-banyaknya barang dagangan namun tetaplah pada harga standard yang sudah berlaku sehari-hari agar para mudikers menjadi betah dapat merasakan kenikmatan yang tak terlupakan selama berada di tanah leluhurnya tanpa mengeluarkan biaya yang semestinya ia keluarkan atau dengan kata lain pra mudikers tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk kenikmatan yang sama pada acara akbar tersebut.

 

Tentu peran para petugas keamanan akan sangat penting adanya. Betapa tidak, bila diprediksi pada mudikers tahun 2002 ini sebanyak 2.000 orang saja maka akan ada sekitar 500 – 600 buah kendaraan dengan berbagai jenis dan ukuran.

 

Sementara areal parkir utama yang ada di Silungkang adalah sepanjang jalan lintas Sumatera yang melintasi Silungkang. Tingginya volume kendaraan yang melintas di Silungkang – ingat Silungkang adalah jalur vital Trans Sumatera jalur tengah. Ini tentu sangat riskan !

 

Disampaikan oleh Buya

Revisi oleh admin

 

Berkaitan dengan kereta api dan pelabuhan Teluk Bayur

Oleh Alamsyah Halim

Batu bara salah satu sumber energi, akhir-akhir ini telah mengambil tempat yang lebih baik lagi. Hal itu jelas karena perkembangan teknologi modern yang sama sekali membutuhkan minyak sebagai vital utamanya. Sedangkan disatu pihak cadangan minyak terus menipis seantero dunia. Dan dilain pihak bahan mentah batu bara pembakar untuk pembangkitan energi dengan jumlah yang cukup besar pula terkandung di dalam lapisan bumi.

Sejalan dengan itu dapat dilihat perkembangan penambangan batu bara di tanah air kita. Penambangan disana sini sekarang ditangani dengan sungguh-sungguh, agar kekayaan perut bumi kita itu bisa mendapat pemasukkan keuangan negara yang memadai untuk kelanjutan pembangunan segala bidang.

Sementara dalam hal tersebut kita coba menyelusuri penambangan batu bara Ombilin Sawahlunto (Sumbar). Penambangan disini akan kita lihat dalma tiga periode. Pertama periode sebelum perang, kedua periode 1945 sampai dengan 1960-an, ketiga periode 1976 sampai 1981 dan sekarang maupun mendatang.

Periode Sebelum Perang
Periode pertama masalahnya akan menyangkut sekitar sejarah mula-mula ditemui bahan mineral ini. Dari catatan yang otentik pada mula ditemui tahun 1858 di sekitar Sungai Ombilin oleh Ir. De Groet. Kemudian dilanjutkan oleh Ir. De Greve tahun 1867, penyelidikan yang seksama dilakukan pula Ir. R. DM. Verbeck. Hasil dari penyelidikan lapangan Sungai Durian dengan reserver 80.000.000 ton, lapangan perambah dengan reserver 20.000.000 ton, lapangan tanah hitam dengan reserver 205.600.000 ton.

Tebal lapisan masing-masing 1-10 meter derajat dan masing-masing 9 – 12 derajat dan masing-masing lapangan tersebut terdiri dari :

  1. Sungai Durian 3 lapisan (a, b, c)
  2. Sigalut 5 lapisan
  3. Tanah hitam 3 lapisan
  4. Perambahan 7 lapisan
  5. Sugar 3 lapisan

Diantara lapisan-lapisan tersebut setebal lebih kurang 30 meter terdapat lapisan batu pasir.

Setelah melalui beberapa penilaian pada tanggal 27 Juli 1888 dibuatlah Notaricle Acte pertama oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang Djaar Soetan Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.

Didalam Notaricle Acte itu antara lain dicantumkan :

  1. Pihak rakyat tidak boleh menganggu bahkan akan membantu dan melindungi sebanyak-banyaknya pekerjaan pembangunan.
  2. Dan tidak akan melakukan penggalian pula walaupun secara primitif.
  3. Pihak pemegang consessi setiap tahun akan membayar/memberikan sebagai imbangannya berupa 10 persen keuntungan bersih tiap tahun kepada rakyat yang bersangkutan maksimal F 4.000,-

Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dibuka dan realisasi dari Notaricle Acte itu adalah explorasi/pekerjaan persiapan explotasi batu bara antara lain sebagai berikut :

  1. Menyiapkan pelabuhan Teluk Bayur (Emma Haven) mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 1893.
  2. Memasang jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Padang Panjang ke Sawahlunto (sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan consessi pertambangan batu bara) dimulai tahun 1888 selesai tahun 1893.

Pembuatan Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto tersebut dikerjakan oleh Ir. J.V.Y. Zerman.

Jalan kereta api ini diperluas sehingga merupakan jaringan jalan kereta api yang akhirnya mengitari dari Sawahlunto terus ke Solok, Padang Panjang, Kayu Tanam, Lubuk Alung – Padang terus ke Teluk Bayur. Sedangkan jalan lain dari Muara Kalaban (4 km dari Sawahlunto) menyimpang ke Tanjung Ampalu terus ke Muaro Sijunjung. Selanjutnya di Padang Panjang jalur jalan Kereta Api ini menyimpang pula ke Bukittingggi terus ke Payakumbuh dan yang di Lubuk Alung menyimpang pula ke Pariaman terus ke Naras.

Serentetan dengan ini berdirilah Perusahaan Listrik, pabrik-pabrik dan kemudian perkebunan-perkebunan dan tambang lain di Sumbar. Demikian sistem buat empalsemen tambang, membuat lubang sumuran di Sawahlunto. Mendirikan Silo (bunker) di Teluk Bayur. Produksi pertama di mulai bulan Oktober 1892 sejumlah 48.000 ton untuk tahun itu. Adapun pekerja terdiri dari orang-oranng rantai dan konirak yang masing-masing mencapai jumlah 5.000 orang, kesemua bangsa kita juga pengerjaan dilakukan secara paksa oleh Belanda. Dan juga pendatang dari orang-orang Eropah dan Tionghoa.

Produksi Tertinggi Selama Tambang Dibuka
Pada tahun 1930 Sawahlunto mencapai tingkat kemasyurannya dimana produksi mencapai 624.212 ton dan penduduk berjumlah lebih kurang 30.000 jiwa. Hal ini berlangsung sampai tahun 1938.

Dari tahun 1938 sudah mulai menurun disebabkan pekerja-pekerja tambang tersebut sedang mempersiapkan juga sebagai tenaga untuk menghadapi Perang Dunia II yang kemudian ke front tersebar ke pelosok Tanah Air.

Sekarang, Ombilin sudah tidak produktif tapi masih ada sebagian kecil rakyat sekitar mencari batu bara yang tersisa.

Sumber : Bulletin Silungkang, 003/BSM/MARET/1999

Saat itu santer sekali tentang Mendulang Ome yang banyak tersebar di kampung kita terutama sekali di sepanjang Batang Ai. Yang mana di tepi batang Batang Ai sudah ada yang mempunyai hak turun temurun atau Tanah Pusako di kampung kita. Yang mana pendulang sebagian besar dari kerabat yang punya tanah tersebut.

Dimana dalam Undang-undang hasil tambang untuk kemakmuran dan mensejahterakan keluarganya. Tapi justru kenyataan sangatlah berbeda. Timbul antara pro dan kontra, yang mana sebetulnya dua-duanya memang benar. Yang pro untuk menghidupi keluarganya yang mana saat itu mencari penghasilan sangatlah sukar apalagi setelah terjadi krismon. Dan begitu pula yang kontrak merasa tanahnya diobok-obok tidak karuan habis omenya, ditinggal begitu saja.

Ditambah lagi kelakuan yang negatif yang diperlihatkan oleh para pendulang ome, dimana masyarakat Silungkang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti warganya. Jangan seperti sekarang merasa mendapat rezeki yang besar dipakailah untuk berfoya-foya. Ini sangat bertentangan sekali dengan nilai agama dan begitu pula dengan Undang-undang. Janganlah kalau hasil mendulang habis begitu saja tidak memikirkan untuk masa depan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan ome sebagian besar dihabiskan begitu saja. Persediaan ome di Silungkang tentulah sangat terbatas maka pergunakanlah sebaik-baiknya hasil tersebut. Janganlah nanti kalau omenya sudah habis perekonomiannya masih tetap begitu juga. Jadi tidak ada artinya selama ini mendulang ome, yang mendulang ome tetap begitu juga dan yang punya tanah juga sulit untuk memanfaatkan kembali tanahnya dan begitu pula yang dulu waktu kita mandi di sungai dengan aman dan tidak merasa khawatir ada bekas lubang yang ditinggal begitu saja.

Disini peranan KAN ikut mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan mendata kembali dan memberi teguran-teguran jika menyalahi peraturan. Dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Itu wajar-wajar saja. Karena penghasilan dari bumi Silungkang, bukanlah segala hal harus ada peraturan yang mengikat dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Yang kontra sebetulnya tidak keberatan kalau ada yang mendulang ome, asalkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, hilangkan isu-isu negatif yang dilakukan oleh para pendulang. Kita puas dan bahagia kalau para pendulang bisa memanfaatkan hasil mendulangnya dengan sebaik-baiknya.

Sebetulnya pada jaman dulu kaum penjajah (Belanda) sudah ada niatan untuk menambang secara besar-besaran dengan mendirikan perusahaan antara Belanda dengan Inggris. Ada bukti otentik dengan bahasa Belanda akte pendirian yang diberi nama NV. Mijnbouw Maatschapij “SILOENGKANG”.

Karena sesuatu hal mungkin warga Silungkang tidak mau dipindahkan atau karena ome masih muda. Jadi kalau memang ada kandungan omenya marilah ktia kelola bersama-sama untuk kepentingan kesejahteraan warga kita, dengan melibatkan semua unsur seperti pemilik tanah, pendulang dan aparat desa.

Dengan peralatan yang sangat sederhana orang kampung yang biasa disebut Dukun Ome bisa menentuan dimana ada emas di daerah tersebut. Dilihat dari segi peralatannya atau si dukun sangat sakti, bukan itu sebenarnya tetapi memang sebagian besar tanah di Silungkang memang banyak mengandung emas, ini bisa dibuktikan pada waktu dulu Belanda bekerja sama dengan Inggris ingin menambangnya. Timbul pertanyaan (bukti otentik kami sisipkan), apa sebab Belanda mengundurkan diri.

mendulang ome

By Perantau Surabaya

Catatan :

Ome = emas

Ai = air

Sumber : buletin Silungkang, edisi 3, nomor 003/BSM/MARET/1999

Pasar di sekitar Silungkang hanya ramai kalau pada hari pokan. Di Silungkang hari Pokan jatuh pada hari Jum’at dan Minggu. Pada hari itu berdatanglah (secara tradisi turun temurun) berdatangan masyarakat di sekitar Silungkang seperti Desa Kubang, Lunto Barat dan Timur, Limindai, Taratak Boncah dan warga Silungkang sendiri. Bahkan di kotamadya Sawahlunto sendiri yang hari pokannya jatuh pada hari Sabtu akan ramai dikunjungi, padahal hari Minggu merupakan hari libur tetap sepi saja. Dan penjualnya juga sebagian besar dari luar daerah inilah yang disebut Pedagang Babelok Pokan, kaum pedagangnya tiap hari jualannya akan berpindah-pindah ke pasar satu pindah ke pasar lainnya menurut hari pokannya. Barang dagangannya pun sebagian besar kebutuhan sehari-hari jadi warganya kalau berbelanja kebutuhan sehari/satu minggu sekali. Pasar Silungkang merupakan sentral perdagangan bagi warga sekitar.

By Perantau Surabaya

Dari Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999 

Seorang anak sedang disuruh oleh Guru Bahasa Indonesia untuk membacakan puisi karangannya sendiri, di depan kelas :

Guru :

“Sekarang, ayo mulai !!”

Anak :

“Di mana-mana ada air

Di sungai … di danau … dan di laut

Pasti ada air

Semua orang pasti perlu air …

Permisi …. aku mau buang air

Murid-murid :

“Ha … ha … ha … !!”

By M. Hidayatullah

Diambil dari Bulletin Silungkang, edisi 3, Nomor 003/BSM/MARET/1999

Bentus adalah anak sulung si Pentus. Dia anak bodoh, tetapi selalu patuh pada perintah ibunya.

Pada suatu hari ibunya menyuruhnya untuk menjual anak ayam yang baru menetas.

Ibu :

“Nanti kalau ada orang menanyakan namanya, bilang namanya adalah si Bentus anak sulung si Pentus. Lalu, kalau ada orang yang menanyakan apa yang kamu bawa, bilang yang kamu bawa ini membeli anak-anak ayam ini, dan mengasihkan uang kepadamu, minta tambah lagi, dikasih lagi minta lagi, lalu kalau sudah ditambah ucapkan terima kasih kepada orang itu”.

(Ditengah-tengah perjalanan Bentus, selalu mengingat kata-kata ibunya itu. Tapi dasar ia bodoh, yang ingat hanya jawabannya saja).

(Setibanya di pasar …)

Pembeli : “Apa yang kamu bawa itu, nak ?”

Bentus : “Si Bentus anak sulung si Pentus.”

Pembeli : “Kamu anggap apa aku ini, ha ?”

Bentus : “Anak ayam yang baru menetas.”

Pembeli : “Apa kamu bilang ?” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Masih kurang, pak.”

Pembeli : “Masih kurang ? Ini sekali lagi” (sambil menampar si Bentus).

Bentus : “Tambah lagi, pak.”

Pembeli : “Lagi ?!!” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Terima kasih, pak.”

(Akhirnya si Bentus pulang dengan muka yang bengkak dan benjol-benjol kena tampar).

Karya : M. Hidayatullah

Diambil dari Edisi Ketiga Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999

SILOENGKANG DI ZAMAN DAHOELOE

SOMPIK LALOE LOENGGAI BATAKOK

 

 

Sedjak dahoeloe disegani orang, Gadjah Tongga Koto Piliang, diseboet dalam Tambo Minang.

 

 

Iktibar bagi lingkoengan, kampoengnja dikelilingi boekit, djalan, soengai jang berlikoe-kelok, loengkang dalam bahasa.

 

 

Loear biasa keberaniannja melawan pendjadjah Belanda. Poeloehan Perintis Kemerdekaan jang tertoelis dalam sedjarah perdjoeangan.

 

 

Oengoel dalam beroesaha, bidjak dalam menyelesaikan masalah masjarakat dan teladan bagi orang.

 

 

Ekonominja mendjadi bilangan, seboetan di Minangkabau.

 

Nama kampoengnja diseboet, orang pertjaja mendjadi djaminan, dihormati diloer kampoengnja sendiri.

 

 

Gaoeng tenunannya bergema di Noesantara, sampai ke Keradjaan Kintjir Angin, menjatoe dengan nama kampoengnja.

 

 

Kalang penjangga bagi kehidoepan kampoeng. Bermotto, anak didoekoeng kemenakan dibimbing.

 

 

Anak mendjelang dewasa disoeroeh merantau tanda kelaki-lakian, diamanatkan, sembahjang dan kedjoedjoeran jangan diabaikan. Itoelah pesan orang toea bersama mamak.

 

 

Norma dipakai, masjarakat dan kampoeng kelahiran dipertenggangkan.

 

 

Godanglah, tjopeklah godang waang boejoeang, poelanglah ke kampoeng. Kok kan lai ka panggonti niniak mamak nan lah gaek-gaek.

 

 

 

SILUNGKANG DI ZAMAN MODERN DENGAN SERIBU SARJANA

 

 

Semenjak tahun lima puluhan, keadaan silih berganti, apakah diperhatikan wahai orang-orang yang arif ?

 

 

Islam memudar, guru Agama dan panutan langka, pengajian, ceramah agama bak dilanda perang. Tak ada lagi yang disegani dan ditakuti.

 

 

Lomba-berlomba mengumpulkan picisan kertas yang nilainya berangka-rangka. Kadang lupa sanak, lupa kerabat dan bahkan mereka terlanda.

 

 

Undian pernah mewabah tetapi tidak ditakuti. Main kertas bergambar sudah bergenerasi, minuman keras ada, tak ada lagi yang tersembunyi.

 

 

Nah, individu membudaya, kepedulian menghilang, malu pun menyusut, pertanda ke zaliman sedang muncul, akibatnya ?

 

 

Gagah berani membela kebenaran, nasehat-menasehati dengan bijaksana sirna sudah. Kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab terbenam.

 

 

Komunikasi langka, walaupun telepon ada, silahturahmi jauh, mobil, motor pun punya, masing-masing hidup sudah sendiri-sendiri.

 

 

Adat manakah yang engkau anut, wahai orang-orang yang hidupnya bermotto : sempit lalu, longgar dipalu ???.

 

 

Ninik mamak yang engkau berada, apakah engkau sebagai saksi dizaman modern ini ? Seharusnya engkau kan menjadi suluh penerang dalam keadaan seperti ini ? Ilmuwan dan hartawan, kelompok inilah yang mulai berbilang, lupa atau belum sempat berkumpul memadu pendapat ?

 

 

Gerangan apakah obatnya wahai orang-orang yang arif ? Anda-anda sedang ditunggu-tunggu masyarakat Silungkang. Hati-hati, kampung kita, warga kita hampir berada dipinggir jurang …. mesjid besar tetapi belum berfungsi. Semoga.

 

 

 

 

 

By Rimfan – Jakarta Selatan

Diambil dari Bulletin Silungkang, Edisi Ketiga, 003/BSM/MARET/1999

A. PENGHULU PUCUAK

  • Suku Supanjang : Datuk Bosa
  • Suku Payobadar : Datuk Mangguang Jumpo
  • Suku Dalimo : Datuk Penghulu Sati
  • Suku Melayu : Datuk Rajo Nan Godang
  • Suku Patopang : Datuk Rangkayo Nan Godang

B. MONTI

  • Suku Supanjang : Monti Muhammad
  • Suku Payobadar : Rajo Dipadang
  • Suku Dalimo : Monti Sutan
  • Suku Melayu : Monti Penghulu
  • Suku Patopang : Monti Marajo

C. MALIN

  • Suku Supanjang : Malin Muntjak
  • Suku Payobadar : Sampono Malin
  • Suku Dalimo : Khatib Majo Kayo
  • Suku Melayu : Malano Khatib
  • Suku Patopang : Malin Batuah

D. HULUBALANG

  • Suku Supanjang : Dubalang Sati
  • Suku Payobadar : Bagindo Sutan
  • Suku Dalimo : Lenggang Sati
  • Suku Melayu : Lenggang Sipado
  • Suku Patopang : Mantari Alam

PANDITO ADAT (PANITO)

I. SUKU SUPANJANG

  • Kampung Dalimo Jao Atas : Pokiah Maani
  • Kampung Dalimo Jao Bawah : Pokiah Batuah

II. SUKU PAYOBADAR

  • Kampung Melawas Hilir : Pokiah Tajudin
  • Kampung Melawas Mudik : Pandito Suleman

III. SUKU DALIMO

  • Kampung Tanah Sirah/Paliang Dalimo : Malin Malano
  • Kampung Dalimo Kosiak/Guguk Ciporan/Dalimo Singkek : Khatib Sampono
  • Kampung Dalimo Tapanggang/Dalimo Coca : Bandaro Khatib
  • Kampung Dalimo Godang : Pokiah Bandaro

IV. SUKU MELAYU

  • Kampung Melayu : Pokiah Malano
  • Kampung Panai Tigo Tingkah : Pokiah Bagindo
  • Kampung Pania IV Rumah : Malin Sutan
  • Kampung Sungkiang/Batu Bagantuang : Pokiah Majo Lelo
  • Kampung Rumah Tabuh/Lubuk/Panai Koto Baru : Pokiah Majo Bongsu

V. SUKU PATOPANG

  • Kampung Sawah Juai : Malin Omeh
  • Kampung Kuti Anyir : Malin Karojan
  • Kampung Palakoto/Talak Buai : Pito Morah
  • Kampung Paliang/Batu Mananggau : Pandito Sulaiman
  • Kampung Guguk/Koto Marapak : Malin Penghulu

Keterangan :

Seluruh nama-nama gelar baik untuk orang nan IV Jini atau orang Bajini tersebut tetap/tidak berubah, yang berubah hanya nama-nama orang yang sedang memegang jabatan tersebut.

Panggilan untuk orang yang memegang jabatan adat di Silungkang dikenal dengan : Penghulu Pucuak Nan Balimo, Monti Nan Balimo, Malin Nan Balimo, Dubalang Nan Balimo, Datuak Kampuang nan Delapan Belas, Pandito Adat nan Delapan Belas.

Pengurus mesjid Di Silungkang dipegang oleh tiga suku :

  • Imam, dari suku Melayu, yang gelarnya : Pokiah Sampono
  • Khatib, dari suku Patopang, dengan gelar : Malin Bungsu
  • Bilal, dari suku Supanjang, dengan gelar : Khatib Batuah

Pengurus mesjid tersebut adalah anggota kerapatan adat nagari Silungkang dan P3N juga termasuk anggota KAN.

Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah wadah/tempat perkumpulan orang-orang yang memangku adat dalam kenagarian.

Sumber : Bulletin Silungkang, Nomor : 003/BSM/MARET/1999

asalusul

 

a. Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) :

  1. Melayu

  2. Kampai

  3. Bendang

  4. Lubuk Batang

 

b. Melayu nan V Kampung (Kaum Datuk nan Sikalap Dunie)

  1. Kuti Anyir

  2. Patopang

  3. Banuhampu

  4. Jambak

  5. Salo

 

c. Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sabatang)

  1. Budi

  2. Singkuang

  3. Sungai Napa

  4. Mandahiling

  5. Ciniago

  6. Sipanjang

 

d. Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketemenggungan)

  1. Andomo Koto

  2. Piliang

  3. Guci

  4. Payabadar / Dalimo

  5. Tanjung

  6. Simabur

  7. Sikumbang

  8. Pisang

  9. Paya Cancang

 

 

 

Keterangan :

Koto Piliang dan Budi Ciniago disebut Lareh Nan Duo

 

Ciniago :

Ci = Cina / Kocin

Niago = berdagang / cari uang

 

 

Disalin dari buku Datuk Simarajo sewaktu menerima curaian adat dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984

 

Yang Menyalin,

 

 

 

H. Kamaruzzaman

 

 

Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MARET/1999

Tak hanya masakan dan keelokan negerinya yang membuat saya sangat jatuh cinta pada Silungkang.

Bahasa dan perilaku warga yang moderat (bila tak bisa disebut modern) tanpa saya sadari telah menambah rasa kecintaan tersebut.

Adalah saat saya berada jauh dari negeri elok nan aman sentosa ini, ketika saya berkesempatan menimba ilmu di sebuah negeri yang sudah sangat maju peradabannya, Great Britain.

Banyak kesamaan sikap dan perilaku serta tatacara yang berlaku di Silungkang dan di Inggris.

Pada tulisan yang singkat ini mari kita simak kejadian dalam keseharian warga Silungkang : Tata cara perkawinan adat.

Sebagai tindaklanjut dari selesainya acara Mancigok (melihat) calon manantu (menantu) adalah tugas para kaum Ibu atau wanita untuk menindaklanjuti.

Lazimnya disebut “Osok Ayi, Osok minyak” (meraba air, meraba minyak) dalam bahasa Inggris hal ini disebut sebagai “Test the water“, mauku-uku dalamnyo ayi (mengukur-ukur dalamnya air).

Dalam ilmu pemasaran modern hal ini ditempat sebagai sarana kita untuk mengetahui “need” atau kebutuhan dan keinginan seorang calon prospek yang akan digarap.

“Osok ayi, osok minyak”, jelas ditujukan untuk hal yang sama, yakni sebagai sarana atau cara untuk mengetahui ada atau tidaknya keinginan si empunya badan dan keluarganya untuk segera menikah.

Apabila ada, maka usaha dan ikhtiar akan dengan mudah bisa diteruskan namun apabila tidak, ya … sekian saja !.

Mengatur tempat duduk bagi tamu atau Manduduakan tamu (mendudukkan tamu) yang bila di Inggris disebut “Sitting Arrangement“, dalam tata cara pelaksanaannya sama sekali tidak berbeda dengan yang berlaku di Silungkang.

Seorang Datuak atau Lord, tentu akan didudukkan sejajar dengan jabatannya.

Seorang ipar atau sumondo tentu tidak akan didudukkan disebelah niniakmamaknya serta seorang keponakan tidak akan pernah didudukkan disamping kanan pamannya.

Dalam acara balope, Anda tak bisa duduk ditempat yang bukan disediakan untuk Anda.

Sama kan ?

Pertanyaannya siapakah yang lebih dahulu, Silungkang atau Inggris ?

By Sukri Husin

Sumber :

Bulletin Dwi Bulanan Silungkang “Koba Anak Nagori”

Edisi #7, 1 Oktober 2002, Anniversary Edition

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula kebiasaannya. Setiap daerah punya ciri khas, baik bahasa, seni dan budaya. Barangkali tak salah pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Begitu pula negeri kita, Silungkang. Kita punya Rabona Marapulai, Pidato Adek, kain songket, sapu ijuak, ale-ale dan ulek-ulek, dan lain-lain. Kesenian Silungkang asli yang saat ini tak lagi dapat kita nikmati dan tak mustahil generasi yang saat ini berusia dibawah lima puluh tahun tidak pernah mengenal dan mendengarnya. Kesenian itu adalah “Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo” yang lebih dikenal sebagai “Marungguih”.

Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo adalah kesenian lama Silungkang yang dahulunya dimainkan oleh kaum ibu di rumah, di sawah atau di ladang untuk sekedar menghilangkan kepenatan setelah bekerja seharian. Biasanya kesenian ini dimainkan di dangau sambil berleha-leha. Syairnya sangat didominasi oleh pantun parosaian dan pantun kerinduan pada anak dan suami tercinta nun jauh di rantau orang (diera tersebut perantau Silungkang jarang sekali yang menyertakan istri dan kalau ada – anak lelakinya – sementara si istri ditinggal di kampung dengan segala penderitaannya – lahir batin – karena tak jarang “mungkin karena terpaksa keadaan” sang suami” Taposo bauma lo” di rantau urang.

Kato rang saisuak : “Lautan sakti rantau batuah”

Perlu diketahui di zaman itu merantau di Sawahlunto atau di Solok saja (yang jaraknya tak menjadikan kita musafir, sudah dianggap merantau).

Di era tahun 50 an “Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo”, ini pernah disosialisasikan kepada kerabat muda. Tapi sayang … umurnya pun muda. Sejak tahun 1955, kedua keseninaan itu seperti lenyap ditelan bumi.

Rupanya, nasib masih berpihak pada Silungkang. Saat ini, siapa saja yang ingin menikmati kesenian yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditabuh tersebut sudah dapat menikmatnya kembali. Hal ini dimungkinkan karena Silungkang masih menyisakan seorang seniman yang masih konsisten untuk tetap memelihara dan melestarikannya. Beliau itu adalah Datuak Umar Malin Parmato.

Bersama Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto beliau saat ini telah membina sebuah grup kesenian Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo, di Sungai Cocang. Dan sudah pula dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikuler di SD No. 13 Sungai Cocang.

Kiprahnya cukup membanggakan. Selain penampilan perdananya di Sawahlunto pada acara Pekan Seni dan Budaya, juga telah dipergelarkan pada Acara EXPO 2000 dan Pergelaran Seni dan Budaya se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang pada tahun 2001.

Ratok berarti Ratap – maratok artinya meratap – meratapi. Karena pada mulanya kesenian ini memang diperuntukan sebagai sarana untuk meratapi atas meninggalnya seseorang. Caranya dengan menyebut-nyebut sambil mendendangkan bersama-sama oleh para karib kerabat, bako dan tetangga, semua perangai/tingkahlaku si mayit semasa hidupnya hingga wafat.

Lahirlah istilah “Ratok Pertolongan” karena apabila dalam keluarga si mayit tidak ada yang dapat melantunkan Ratok maka harus dimintai tolonglah pada orang/kelompok profesional, dengan membayar sejumlah uang – kira-kira – mungkin seperti “seksi ngangis” pada upacara prosesi kematian orang Tionghoa.

Tahun batuka, musim bagonti (Tahun bertukar, musim berganti). Misi kesenian ini yang pada mulanya hanya untuk meratapi kematian akhirnya berubah. Setelah berganti nama dengan nama menjadi “Marungguih” kesenian ini lebih identik untuk “Baibi-ibo” (mengiba-iba), meratapi nasib dan peruntungan nasib dan peruntungan baik yang tidak berpihak padanya. Kaum muda memanfaatkan Marunguih ini untuk bersenandung ria demi sekedar melepaskan beban rindu dendam yang menyesakkan dada pada sang kekasih. Ini juga perlu diketahui oleh pembaca, bahwa pada zaman itu, bagi sepasang kekasih, jangankan untuk bercengkrama – berpapasan dijalan saja sudah diterima sebagai suatu karunia yang amat besar, laksana mukjizat.

Dengan segala kebersahajaannya, kini grup Marungguih dan Talempong Botuang di Sungai Cocang yang minim peralatan, kostum dan pembinaan ini tetap mencoba untuk tampil dalam setiap event yang ada. Uluran tangan siapa saja sangat didambakan oleh grup ini, agar bisa dipoles sehingga punya nilai jual. sy

oleh : Syahruddin – Kades Silungkang Oso

Diambil dari Buletin Koba PKS (Media Komunikasi Interaktif PKS Jakarta)

Edisi Adiak Nan Jolong Tobik – Desember 2001

Catatan :

Ale-ale adalah makanan kecil/jajanan pasar seperti kue serabi tapi tidak menggunakan kuah santan. Bahan utamanya tepung beras, santan dan gula pasir sebagai pemanis. Masaknya di tempat cetakan serabi. Paling enak dengan membakar diatas bara api.

« Halaman Sebelumnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.