Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Membaca tabloid Koba Silungkang edisi April 2003 dalam tulisan “Seputar Kota Kita” mengkritisi sikap PKS Jakarta soal “Balon” Wako dan Wawako saat itu, Who Wants To Be The Mayor Part 2.
Kami teringat pengalaman Alm. Sdr. Syafar Habib yang diceritakannya pada kami 3 bulan sebelum dia meninggal dunia. Sebelum dia menceritakan pengalamannya itu, dia minta kepada kami agar kami berfikir secara filosofis, sebagai berikut :
Dalam pertemuan ‘acara Minang’ dia duduk; di sebelah kanannya Bapak Emil Salim dan di sebelah kirinya Bapak Menteri Abdul Latif. Bapak Emil Salim berkata kepada Sdr. Syafar Habib : Engku Syafar, saya bangga dengan perantau Silungkang, di mana-mana orang Silungkang jarang yang menjadi pegawai negeri, kebanyakan menjadi pedagang. Tetapi setelah saya menjadi menteri saya perhatikan tidak ada orang Silungkang menjadi pengusaha menengah ke atas.
Mendengar ucapan kedua tokoh Minang itu Sdr. Syafar Habib hanya terdiam, tetapi dalam hatinya berkata : apakah baju putih yang sedang saya pakai ini sama warna putihnya dengan pakaian dalam ?
Mendengar pengalaman Sdr. Syafar Habib ini kami juga merenung dan terpikir bagaimanakah orang Silungkang di abad 21 ini.
Menjelang Sdr. Zuhairi Muhammad Panai Empat Rumah meninggal dunia, kami sekali dalam tiga bulan sengaja datang ke rumahnya di Komplek Perindustrian di Jalan Perdatam Pancoran, rasanya kalau kita berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan mamaknya Alm. Pakiah Akuk. Dia mengatakan pendapatnya kepada kami, bahwa orang Silungkang bukan orang aktif tetapi reaktif. Semula kami tidak sependapat dengannya, tetapi setelah kami renungi kami sependapat pula dengannya.
Tahun 80-an kami pernah membaca buku karangan Mr. Muhammad Rasyid berjudul ‘Sejarah Perjuangan Minangkabau’ sebelum peristiwa PRRI beliau menjadi duta besar RI di Perancis merangkap di Italia, di halaman 45 kami membaca waktu pemberontakan rakyat Silungkang tahun 1927. Penjajah Belanda sangat kejam, tentara Belanda memperkosa gadis-gadis Silungkang.
Begitu tersinggungnya kami, buku itu tidak tamat dibaca tetapi diserahkan kepada PKS di Bendungan Hilir, karena waktu itu PKS masih menumpang di kantor Koperasi Kemauan bersama di Bendungan Hilir (Bendhill). Kenapa buku itu diserahkan karena menurut Mr. Muhammad Rasyid kalau isi buku ini tidak sesuai dengan kenyataannya (buku ini jilid pertama) bisa diralat pada jilid kedua nanti.
Akhirnya buku itu dikembalikan kepada kami setelah buku tersebut berubah warna, mungkin waktu itu tidak ada reaksi dari PKS, entahlah !
Waktu kami mendapat musibah, kami mendatangi Buya Duski Samad , untuk minta nasihat, kepada beliau kami curahkan musibah yang kami terima, jawab beliau singkat: tetapi kita harus berfikir, kata beliau : jika sekarang saya mempunyai uang 100 juta rupiah, uang itu akan habis dalam seminggu, kami bertanya : kenapa begitu Buya ? jawab beliau, saya bukan pedagang. Kami renungkan jawaban beliau itu, kemudian kami menjawab sendiri; “Kerjakanlah apa yang ada ilmunya pada kita”, betul kata beliau. Kemudian beliau bertanya murid-murid beliau dulu yang berasal dari Silungkang, a.l., Yakub Sulaiman (Pakiah Akuk) dan Abdullah Usman (Guru Dullah Sw. Jawai) beliau bangga dengan murid-murid beliau itu.
Lelah bersaing menjadikan takut bersaing
Di zaman Gajah Tongga Koto Piliang Dulu, kemungkinan besar orang Silungkang pintar dan cerdas, tetapi sayang kenapa orang Silungkang mendiami lungkang sempit, hampir tidak ada tanah yang subur untuk ditanami padi, tidak seperti belahan kita di Padang Sibusuk dan Allah mentakdirkan kita orang Silungkang menjadi pedagang.
Pedagang itu sarat dengan persaingan, bisa terjadi persaingan itu antara saudara sesuku, sekampung, sepupu, bahkan antara saudara sendiri clan yang paling riskan terjadi antara Pembayan dengan Pembayan yang sama-sama mendiami rumah panjang (rumah adat).
Coba kita pikirkan Silungkang itu seperti kotak korek api dibandingkan Indonesia yang luas ini.
Menurut perkiraan kami sebelum Jepang menjajah Indonesia, 50% perempuan Silungkang yang sudah bersuami dimadu suaminya, mungkin juga lebih.
Kenapa bisa seperti itu ? Mana mungkin perempuan Silungkang bisa menikah dengan orang luar Silungkang, karena adat melarangnya, terpaksa atau tidak perempuan-perempuan Silungkang harus bersedia menjadi isteri kedua atau menikah dengan duda yang jauh lebih tua umurnya.
Madu itu obat, tetapi bagi perempuan yang di’madu’ menyakitkan hati, bersaing memperebutkan kasih sayang sang suami, anak-anak yang . ibunya dimadu, pun merasa dimadu pula dengan ibu-tiri, saudara tirinya. Persaingan itu menimbulkan kecemburuan, kecemasan, dengki, irihati clan was-was, penyakit itu bisa,, berketurunan.
Menurut Prof. Zakiah Deradjat dalam buku “Menghadapi Liku-Liku Hidup”, beliau menulis dari segi kejiwaan, perkembangan dan pertumbuhan anak, anak dalam kandungan telah menerima pengaruh-pengaruh yang berarti baginya. Suasana emosi dan tolak pikir ibu yang sedang mengandung mempunyai kesan tersendiri bagi janin dalam kandungan.
Jadi orang Silungkang mendiami lungkang yang sempit, persaingan hidup yang tidak sehat, sangat mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi apa yang dikatakan Bapak Emil Salim di atas, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Silungkang, jika dilihat dari luar semuanya baik. Coba kita perhatikan semenjak dahulu organisasi apapun yang dibentuk, dan bangunan apapun yang didirikan hampir semua meninggalkan kesan-kesan yang kurang baik.
Kemudian apa yang dikatakan Bapak Menteri Abdul Latif di atas, mungkin juga akibat “Lima Penyakit Di atas”. Seterusnya pendapat Sdr. Zuhairi Muhammad (Alm), kita orang Silungkang bukan aktif tetapi reaktif, kemungkinan ini juga diakibatkan oleh orang kita (SLN) tidak bisa bersaing khususnya dengan orang di luar Silungkang, bisanya hanya bersaing dengan orang sekampung sendiri.
Yang menang membusungkan dada dan yang kalah bak perempuan tua memakan sirih, daun sirih habis, tinggal tembakaunya yang masih dikunyah-kunyah.
Orang-orang Silungkang Diabad 21
(Silungkang People Must Be Brave To Up Side Hand Down)
Mengkritisi PKS., maaf … tentu maksudnya ketua PKS, kalau kita perhatikan latar belakang ketua PKS ini, lahir di Silungkang, kecil dibawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, SD, SMP dan SMU di Medan, kuliah di Jakarta. Bekerja dan berusaha, bukan dalam lingkungan Silungkang. Bidang usahapun berlainan dengan kebiasaan orang-orang Silungkang, bergaul selama sekolah di Medan dengan komunitas “Batak” tapi tidak kelihatan pengharuh “Batak”-nya, dia supel, demokrat dan moderat. Menurut kami PKS belum pernah mempunyai ketua yang seperti ini.
Banyaknya balon (lebih dari satu) Wako – Wawako, orang belum tentu menilai kita tidak bersatu, bukan Bapak Emil Salim saja yang menilai kita bersatu, banyak yang lain.
Kita bisa belajar dari cara pemerintahan kita di zaman Soeharto, yang memproteksi pengusha-pengusaha nasional, waktu datang krisis karena globalisasi, pengusaha-pengusaha nasional tidak bisa bersaing, oknum pemerintah korup dan pengusaha menyuap, akhirnya semuanya berantakan, jangan hendaknya Silungkang ini seperti Indonesia kita sekarang.
Jangan pula kita hanya terkesan dengan kata-kata keputusasaan Eva Peron dalam sebuah lagu “Don’t Cry For My Argentina”.
Sampai sekarang lagu itu masih dipopulerkan Madonna, kita tak pernah kenal dengan siapa Eva Peron dan Madonna itu ? Coba kita berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana nama beliau kita sebut-sebut setidak-tidaknya 29 x sehari dalam shalat 5 waktu dan lagi beliau itu ada tertulis dalam AI-Qur’an. Mengapa beliau sampai menangis waktu akan meninggal dunia dan berkata : ummati, ummati, ummati, begitu perhatian Nabi Muhammad SAW pada umatnya. Putus asa apa hukumnya ? Haram.
Buletin Silungkang jangan hanya terbit untuk kepentingan sesaat tetapi berlanjut untuk kepentingan orang Silungkang yang dirantau dan yang di kampung dengan harga yang bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, semoga …
Sekarang ilmuan Silungkang sudah banyak di Jakarta dan di kota-kota lainnya, bahkan di mancanegara. Dalam berbagai disiplin ilmu, mintalah kepada mereka sumbangan pikiran untuk ditulis dalam buletin Silungkang. Tentu, dengan tulisan dan kata-kata yang menyejukan dan juga artikel-artikel (rubrik) yang dibutuhkan oleh pelajar, mahasiswa Silungkang dan ditulis pula pengalaman-pengalaman orang Silungkang yang bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.
Apalagi ada ruangan agama terutama di bidang zakat, penulisannya itu ‘bak azan bilal’ sahabat Nabi Muhammad, yang suaranya itu menghimbau orang segera sholat.
Bisa jadi buletin Silungkang itu kelak bak harian Republika yang mempunyai dompet dhuafa untuk orang Silungkang yang berkekurangan dan mengajak orang Silungkang untuk berdoa dan menangis serta berbut, beramal untuk kemaslahatan kampung kita, jauh dari berkorban karena ada sesuatu di belakangnya. Amin ya robbal ‘alamin.
Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
“Mucho Gracias Amigo – Arigato Gozaimatsu Tomodachi”
Esemmes
Tembusan dikirim kepada Yth.
1. Tabloid KOBA
2. Koordinator LAZ / PKS
3. PT. Estetika (Percetakan)
4. Sdr. Fadil Abidin (Pengajian PKS)
November 3, 2008 at 10:43 pm
Ass wr wb
Suara Silungkang isinya bagus, bisa jadi sarana komunikasi dan berbagi informasi antara masyarakat Silungkang dirantau dan di kampung halaman. Dulu saya sering mendapatkannya di PKS, sekarang kok nggak pernah keliatan. Masih terbit nggak ya?
November 6, 2008 at 7:36 am
@Fadhil : Sudah ga produksi lagi Pak Fadhil. Ada masalah dengan orang2 di kampung. Nanti saya kirim email ke bapak.
Payah deh …
November 6, 2008 at 10:20 am
Ass wr wb
Sayang sekali, setahu saya dulu di Jakarta ini banyak orang Silungkang yang selalu menunggu terbitnya Suara silungkang, isinya cukup menarik bagi warga silungkang. Siapa ya yang bisa bikin Tabloid seperti itu lagi? . Di Jakarta ….terlalu sibuk apa memang tidak mampu. Mestinya ini jadi tantangan buat FKSS.
November 18, 2008 at 10:24 am
Gw setuju dengan tindakan PKS ini, bahkan kini PKS menjalin harmoni yang manis sekali dengan PDIP, gk salah toh? Yang penting adalah suara!
Tidak perlu berbaju sempit lagi,sekarang era nya buka-buka an. Masalah akidah belakangan, itu bisa diatur di majelis2 taklim setempat
GO PKS!
November 28, 2008 at 12:10 pm
Ada yang tertinggal : menurut yang pernah saya baca, bahwa media itu tidak bisa seimbang dalam pemberitaan mengenai pemilu seperti pemilihan presiden atau pemilihan yang lain. Contoh saja, kampanye Barack Obama itu didukung kurang lebih 140 media.
November 28, 2008 at 1:31 pm
Ada yang tertinggal lagi : saat pilkada kemarin, banyak surat masuk ke admin silungkang.com, yang mengirim salah satu dari pendukung calon wako, yang isi suratnya tidak pantas, kasar, memaki-maki, menyumpah dan tidak elegan.
Dan kami tidak suka caranya
November 28, 2008 at 10:02 pm
Seru juga ya, pilkada dimana mana menimbulkan perpecahaan. Saling hujat, saling serang antar sesama warga. Bukan hanya di Silungkang tapi diseluruh Indonesia. Konsepnya ngikutin gaya Amerika, tapi orang Indonesia belum siap mental untuk itu.
Kalau di Amerika pihak yang kalah bisa legowo menerima kekalahannya, selajutnya memberi dukungan pada yang menang contohnya seperti Hilary Clinton dengan Obama. Setelah dikalahkan Obama Hilary jadi pendukung Obama. Di Silungkang gimana ya..? yang kalah menjadi musuh yang menang. Kapan mau membangun Nagari kalau gini.
November 29, 2008 at 1:21 pm
@Pak Fadhil : betul pak
kan kalah itu adalah kegagalan yang tertunda dan kita harus mengambil hikmah dari kegagalan itu.
Coba kalau kita bekerja sama dengan yang menang, mengakui kekalahan kita dengan legowo, orang akan melihat kita itu “wah keren nih orang”. Nah kalau ada pemilihan lagi, yang lalu kalah ikutan lagi, kan lebih gampang, sudah mendapat simpati sekian poin.
Januari 5, 2009 at 3:16 am
halo administrator dah lama gak mampir ]met taon baru ya
heran komen yang dulu gw kirim kok dah gak ada ya sengaja diapusin yak
jangan githu dong gak adil namanya tuh
Januari 12, 2009 at 6:23 am
@anak silungkang : setelah dibaca-baca, lebih baik dihapus saja, ketahuan orang kan malu
Januari 12, 2009 at 6:24 am
@anak silungkang : setelah dibaca-baca, lebih baik dihapus saja, ketahuan orang kan malu
Selamat tahun baru, semoga sehat selalu
Maret 4, 2009 at 11:31 am
apa benar kabar bahwa,dulu belanda pernah memperkosa wanita silungkang?harus diluruskan agar jangan membuat para keturunan orang silungkang jadi berprasangka sebab terus terang saja banyak orang silungkang yg memang cantik n tampan seperti indo..
Maret 4, 2009 at 11:33 am
harusnya hasil pilkada jgn jadi perpecahan,,,la wong,,,gak ada manfaatnya bagi yg bersiteru jika kalah menag..ya gak???itu aja koq repot….