BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

BAGIAN KELIMA

BAGIAN KEENAM

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Dalam ketegangan jiwa dan pikiran tersebut pertama sekali saya harus berusaha mencari jalan keluarnya, kalau tidak kesehatan saya bisa terganggu. Obat menenangkan jiwa satu-satunya adalah mengadukannya dan berserah diri kepada Allah, untuk itu saya berusaha selalu mendekatkan diri kepadaNya, berdoa supaya saya diberi kekuatan iman, kekuatan mental dan kesehatan jiwa dan raga. Saya memohon kepada Allah supaya ditunjukan jalan keluar dan supaya terhindar dari apa yang dinamakan stress.

Alhamdulillah, Allah mendengarkan dan mengabulkan doa saya, secara berangsur-angsur jiwa saya mulai tenang, rasa percaya diri kembali timbul, rasa cengeng dan pengecut hilang. Maka saya bertekad sepenuh hati untuk mengurus surat-surat sekolah anak-anak, saya akan coba mengurusnya sendiri, kalau tidak tahu caranya harus bertanya, saya ingat “malu bertanya, sesat dijalan”.

Saya isi borang (formulir) permohonan cuti satu hari, begitu juga isteri saya, kami besok pagi akan pergi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (Kedubes RI) di Kualalumpur untuk membuat paspor anak-anak saya. Pagi-pagi benar kami sudah bangun, anak-anak dibangunkan karena juga akan dibawa. Tepat pukul 06.00 pagi kami berangkat dari Seri Menanti. Untuk sampai di Kualalumpur kami tiga kali naik mobil, pertama Seri Menanti – Kuala Pilah, kedua Kuala Pilah – Seremban dan ketiga Seremban – Kualalumpur. Dari Seri Menanti ke Kualalumpur kira-kira 90 km.

Pukul 09.30 kami sampai di Kualalumpur, saya sengaja tidak turun di BAS STESEN (terminal bus), saya turun disebuah BAS STOP (halte) di tengah kota Kualalumpur supaya mudah naik taksi, kemudian saya ikut antri menunggu taksi. Setelah berada di atas taksi, derebar (sopir) taksi bertanya, “Nak kemane Ncik ?”, “Tolong hantar saya ke Kedutaan Indonesia”, jawab saya. “Okey, mudah-mudahan sahaje tak jem (macet)”, jawabnya lagi.

Hanya lebih kurang lima belas menit saya sampai di Gedung Kedubes RI, di gerbang masuk ada sebuah pos yang dijaga oleh dua orang Satpam, saya menghampirinya lalu saya katakan bahwa saya ingin masuk untuk mengurus pembuatan paspor anak-anak saya. “KTP Bapak mana?”, kata Satpam tadi. Lalu saya berikan KTP kepadanya. KTP saya disimpan disitu dan ditukar dengan sebuah kokarde untuk disematkan diatas saku kiri baju yang bertuliskan TAMU KEDUTAAN RI KUALALUMPUR. “Nanti sewaktu Bapak keluar tukarkan kembali kartu ini dengan KTP Bapak”, kata Satpam itu lagi.

Saya terus masuk ke dalam. Saya jumpai bagian konsuler untuk menanyakan prosedur pengurusan membuat paspor anak-anak saya yang sebelum ini tercantum sebagai pengikut didalam paspor ibunya. Bagian Konsuler tersebut menerangkan kepada saya cara pengurusannya dari awal sampai akhir. Mula-mulai saya pergi dulu ke Bagian Pendidikan di lantai empat meminta rekomendasi, setelah rekomendasi didapatkan kemudian turun lagi ke lantai dasar menuju loket tempat pengambilan formulir, disitu juga ramai warga negara Indonesia yang berurusan menurut keperluan masing-masing. Karena ramainya saya harus antri, setelah formulir didapatkannya cari tempat untuk mengisi formulir tersebut, disamping itu banyak juga orang yang menawarkan jasanya untuk menolong mengisi formulir, tetapi setelah membaca formulir tersebut saya bisa mengisinya sendiri tanpa memerlukan jasa seseorang.

Setelah selesai mengisi formulir, saya pergi ke loket tempat penyerahan formulir. Disana berkas yang saya serahkan diteliti. Adapun berkas yang saya serahkan itu antara lain paspor isteri, rekomendasi dari Bagian Pendidikan Kedubes RI dan formulir yang telah saya isi tadi beserta foto anak-anak. Setelah semua berkas tersebut diteliti, saya disuruh membuat pembayaran di loket lain dan tanda lunasnya harus diperlihatkan kepadanya, kemudian saya diberi tanda terima bahwa berkas dan paspor isteri ada di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk pengurusan pemisahan dan pembuatan paspor anak-anak yang ikut tercantum didalam paspor isteri dan akan selesai selama tiga hari setelah tanggal surat ini. Surat ini penting kalau-kalau ada Pemeriksaan Polis (razia polisi), tanpa surat tanda terima itu bisa-bisa dicap sebagai Pendatang Haram (Pendatang Tanpa Izin).

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, waktu istirahat pegawai-pegawai Kedutaan sudah tiba, untung saja segala pengurusan saya sudah selesai. Kami sudah mulai lapar, di kompleks Kedutaan itu ada juga warung nasi, jadi saya tidak usah mencari rumah maka kemana-mana lagi. Selesai makan siang saya keluar dari kompleks Kedutaan dan tak lupa menukarkan kokarde dengan KTP yang diminta Satpam sewaktu saya masuk tadi. Di luar kompleks adalah jalan raya (Jln. Tun Razak) maka dengan mudah saya langsung menyetop taksi, menyetop kendaraan atau menerima/memberi sesuatu di Malaysia dengan tangan kiri tidak masalah, kita tidak akan dikatakan kurang ajar, tetapi akan lebih baik dengan tangan kanan. Setelah duduk diatas taksi, derebar (sopir) bertanya : “Kemane Ncik?”. “Tolong hantar saya ke BAS STESEN (terminal bus). “Oh … Pudu Raye kan ?”, kata sopir taksi itu lagi. “Ya, Ncik”, jawab saya singat. Pudu Raya adalah nama lain dari terminal bus tersebut karena terminl bus itu terletak di Jalan Pudu. Sesampainya saya di terminal bus saya langsung saja naik bus jurusan Seremban. Tiket bus dibayar diatas bus saja, keberangkatan bus menurut jadwal, walaupun belum penuh. Di Seremban saya pindah jurusan Kuala Pilah dan di Kuala Pilah pindah lagi naik Kereta Sewa (oplet, yaitu mobil sedang yang bukan taksi) menuju Seri Menanti.

Saya dan juga pegawai-pegawai lainnya mempunyai hak cuti 14 hari dalam satu tahun, cuti tersebut boleh diambil bila diperlukan, satu lagi sistem, bila seseorang itu sedang cuti, tidak boleh diganggu seperti dipanggil oleh atasan atau ditelepon dan jika hari cuti itu tidak dihabiskan dalam satu tahun maka hari cuti itu akan hangus, jadi hari cuti harus dihabiskan. Bila sakit yang memerlukan istirahat, juga ada hak cuti diluar cuti tahunan yang dinamakan Cuti Sakit, tetapi harus ada Surat Keterangan Sakit dari Kelinik atau Hospital (Rumah Sakit).

Pernah satu kali, sewaktu saya sedang kerja, saya demam, kadang-kadang badan terasa panas, kadang-kadang dingin. Saya minta izin untuk pergi ke Kelinik (semacam Puskesmas), setelah diperiksa, saya diberi obat dan juga diberi Surat Keterangan Sakit supaya istirahat dua hari, sekembalinya saya dari Kelinik saya terus ke Pejabat (kantor) Muzium, saya serahkan Surat Keterangan Sakit itu kepada staf disana, lalu dicatat bahwa saya cuti sakit selama dua hari, kemudian saya pulang ke rumah, setelah makan nasi saya makanlah obat yang dibawa dari Kelinik tadi, setelah itu tidur, malamnya makan lagi obat tersebut. Keesokannya, bangun seperti biasa, sesudah shalat fardhu Subuh, sarapan pagi, merasa badan sudah segar bugar, tidak ada demam lagi, normal seperti biasa. Pagi itu pergi kerja. Sedang bekerja, saya dipanggil ke Pejabat (kantor), lalu saya bertanya : “Apa hal saya dipanggil ?”. Seraya saya duduk dikursi. “Bapak tidak boleh masuk kerja, karena Bapak sedang cuti sakit, seeloknya Bapak rehat aje dirumah”, katanya. “Tapi saya kan sudah sehat, tidak demam lagi”, kata saya meyakinkan. “Betul …., walau Bapak sudah sihat, Bapak tetap tidak boleh bekerja, kerana Bapak sudah dicatat untuk cuti sakit dua hari. Kalau Bapak disini juga tak pe, Bapak hanya dianggap sebagai tamu atau pengunjung, tapi kalau Bapak ingin menikmati hari cuti sakit Bapak ini untuk urusan peribadi, terserah Bapak, kami tidak menyalahkan Bapak,” kata staf itu lagi. Memang aneh tapi nyata, saya nikmatilah hari cuti sakit itu untuk keperluan pribadi.

Waktunya untuk mengambil paspor anak-anak saya di Kedubes RI Kualalumpur sudah tiba. Lagi-lagi saya minta cuti satu hari, kali ini saya pergi seorang saja, karena hanya mengambil paspor tanpa ada urusan lain. Memang, yang saya urus di Kedutaan RI Kualalumpur itu telah siap. Pulangnya saya membawa tiga paspor yaitu paspor isteri saya, paspor kedua anak saya, sedangkan anak saya yang kecil masih tertera sebagai pengikut didalam paspor ibunya. Karena saya tidak ada urusan lain selain menjemput paspor itu, tepat pukul 14.00 saya sudah berada kembali di Seri Menanti. Saya langsung menemui Guru Besar (Kepala Sekolah) Sekolah Kebangsaan Tunku Laksmana Nasir untuk meminta rekomendasi yang akan dibawa ke Pejabat Pendidikan Seremban (Kantor Dinas Pendidikan Seremban) bersama-sama paspor anak-anak saya, Guru Besar (Kepala Sekolah) memberinya dengan senang hati tanpa dipungut bayaran. Supaya cepat tuntas besoknya minta cuti lagi untuk ke Seremban, pegawai Muzium memaklumi akan urusan saya ini, jadi tidak keberatan memberi izin cuti.

Di Seremban saya sudah tahu alamat Pejabat Pendidikan, saya langsung saja kesana. Disana saya disambut dengan ramah. “Macam mane, dah selesai pasport anak Pak Cik ?,” katanya. “Sudah”, jawab saya singkat. “Tunggu kejap ye, kami buatkan rekomendasinya, lepas ni Pak Cik terus aje ke Pejabat Imigresen (Kantor Imigrasi)”.

Katanya sambil menuju komputer yang terletak disudut ruangannya. Tidak menunggu lama selesailah rekomendasi tersebut. “Berapa saya harus bayar?”, kata saya. “Untuk ini Pak Cik tak dikenakan bayaran apapun”, katanya. Saya telah diberi tahu oleh teman-teman Malaysia, kalau pejabat dimana saja di Malaysia ini mengatakan bahwa tidak dikenakan bayaran, jangan coba-coba memberi pribadinya uang sebagai balas jasa, kita akan dipersalahkan dan dituduh Rasuah (menyogok/memberi suap) dan akan berhadapan dengan undang-undang.

Dari Pejabat Pendidikan, saya menuju sebuah gedung bertingkat, entah berapa tingkatnya saya tidak tahu karena tidak dihitung. Gedung itu dinamakan Wisma Persekutuan yang tidak berapa jauh dari Pejabat Pendidikan. Di lantai dasar Wisam Persekutuan itu saya baca daftar yang terpampang didinding, melihat dilantai ke berapa kantor imigrasi tersebut, kiranya di lantai empat. Saya menunggu pintu lift terbuka, setelah terbuka saya masuk dengan beberapa orang lainnya, masing-masing memencet nomor lantai yang dituju. Di lantai empat saya keluar, memang disanalah kantor imigrasi, di dinding tertulis dengan huruf yang besar, MESRA DAN TEGAS, maksudnya ramah dalam melayani dan tegas dengan peraturan, dan di loket-loket pelayanan tertulis ANTI RASUAH (anti sogok/suap). Juga nasehat teman-teman Malaysia, kalau akan berurusan dimana-mana kantor di Malaysia ini harus dipastikan terlebih dulu persyaratan yang harus kita sediakan, satu saja kurang, pengurusan akan ditunda. Saya terus masuk dan menuju sebuah meja disebuah sudut, disitu tertulis TEMPAT BERTANYA yang dilayani oleh seorang pegawai imigrasi. Disana saya menanyakan bagaimana prosedur pengurusan Pas Pelajar, pegawai tersebut menerangkan dari awal sampai akhir, setelah saya mengerti, maka mulailah saya laksanakan sebagaimana petunjuk yang diberikan pegawai imigrasi itu. Karena saya telah mengerti urutan pengurusannya dan juga segala persyaratannya telah tersedia, tidak memerlukan waktu lama, semuanya lancar, terakhir saya membayar biayanya kepada Bendahara yang berada di lantai lima, saya bayar semuanya 150 ringgit dengan perincian pembayaran VISA MULTIPLE ENTRY (izin keluar masuk Malaysia) 15 ringgit, pembayaran PAS PELAJAR 60 ringgit, jumlahnya 75 ringgit, untuk dua orang anak 150 ringgit, dan berlaku untuk satu tahun. Kemudian saya diberi Resit Pengambilan (Surat Pengambilan) dan akan siap tiga hari lagi. Setelah siap semuanya saya pulang dengan hati lega.

Tepat tiga hari setelah itu saya pergi lagi ke Wisma Persekutuan Seremban untuk menjemput paspor anak-anak saya dengan Pas Pelajarnya. Saya serahkan Surat Pengambilan di loket Pengambilan Surat-Surat, pegawai disana memberikan dua paspor kepada saya. Saya lihat didalamnya sudah direkatkan semacam stiker sebanyak dua buah yaitu Visa Multiple Entry disatu halaman dan Pas Pelajar dihalaman sebelahnya, setelah saya mengucapkan terima kasih, saya langsung pulang.

Alhamdulillah, berkat pertolonganMu ya Allah, dengan waktu tidak sampai satu bulan anak-anak saya resmi menjadi pelajar di Malaysia, jadi apa yang saya cemaskan sebelumnya tidak bertemu, semua pengurusan lancar, kenapa sebelumnya saya menjadi seorang “Olun Poi Lah Babaliak” (belum pergi telah berbalik) sehingga saya pengecut dan cengeng ?

Kini semuanya telah beres, saya dapat dengan tenang menghadapi pekerjaan. Anak-anak saya pun telah mulai banyak kawan, pulang sekolah, dia senang bergaul dan bermain dengan anak-anak tempatan, mereka bermain dengan riang dan gembira hampir tidak terdengar lagi anak-anak saya menggunakan kecek kampuang (berbicara bahasa kampung), mereka selalu menggunakan cakap Malaysia.

Suasana didalam rumah tangga saya pun cukup tenang dan harmonis karena ekonomi rumah tangga boleh dikatakan mencukupi untuk membiayai keperluan sehari-hari, karena disamping saya mendapat gaji, isteri saya pun juga mendapat gaji perbulannya, ditambah lagi setiap bulan masing-masing kami mendapat jatah beras, gula pasir dan susu.

Ditempat kerja, bila ada pengunjung, sangat ramai, kadang-kadang sampai 4 atau 5 bus yang datang, lebih-lebih dihari libur ramai yang datang, ada wisatawan tempatan yang terdiri dari Melayu, India dan Cina dan ada juga wisatawan mancanegara, saya mengambil kesempatan menjual kain songke dan barang-barang souvenir yang sengaja saya bawa dari Silungkang. Kadang-kadang juga diramaikan oleh pembuatan sinetron, video klip, pembuatan iklan TV. Juga sering yang datang wartawan-wartawan koran dan tabloid untuk mewawancarai, dan juga ada salah satu TV swasta Malaysia mengambil gambar dan mewawancarai tentang tenun songket untuk ditayangkan di TV swasta tersebut. Adakalanya diramaikan dengan pameran-pameran instansi pemerintah dan tak kalah hebatnya adalah pameran senjata dan alat-alat perang militer Malaysia. Halaman Muzium penuh dengan peralatan-peralatan perang, sungguh suatu pemandangan yang mengasyikkan.

Bulan Februari 1999, saya telah melaksanakan pekerjaan dengan tenang, pagi pukul 08.00 masuk kerja, pukul 12.00 sampai pukul 13.00 istirahat, pukul 16.00 pulang. Saya dan isteri saya beserta anak-anak mulai senang tinggal di Malaysia, tetangga sebelah rumah semuanya ramah dan senang bergaul dengan kami karena sama-sama etnis Melayu. Lidah kami mulai terbiasa dengan sarapan pagi masakan Malaysia seperti Nasi Lemak, Roti Canai dan yang lebih saya sukai ialah Nasi Goreng masakan Kedai Mamak yaitu warung nasi keturunan India.

Tanggal 2 Maret 1999, pukul 09.00 pagi, sewaktku saya sedang bekerja, datang seorang staf kantor Muzium kepada saya. “Pak, ada talipon”, katanya. “Baiklah”, kata saya sambil mengikutinya ke kantor Muzium. Saya angkat telepon, kiranya telepon dari Silungkang yang mengatakan bahwa Bapak isteri saya telah berpulang ke Rahmatullah pukul 19.30 senja kemarin. 3 jam kemudian Ibu isteri saya menyusul pula berpulang ke Rahmatullah kedua-duanya karena sakit. Dikatakan supaya saya bijaksana menyampaikan berita tersebut kepada isteri saya, dan izin dari saya untuk dilaksanakan penguburannya karena tidak mungkin ditunggu isteri saya pulang. Lama saya duduk dan termenung, untuk menyampaikannya kepada isteri saya, rasanya saya tak sanggup, karena memang inilah yang dicemaskan isteri saya sewaktu akan berangkat ke Malaysia dulu. Saya kembali ketempat kerja seakan-akan tidak terjadi apa-apa, isteri saya pun tidak pula bertanya telepon dari mana, karena biasanya telepon dari Seremban atau dari Tan Sri Samad Idris.

BERSAMBUNG …

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Keenam, Desember 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah

About these ads