Mei 2007


Drs. Amri Marzali MA1) melalui makalahnya untuk Seminar Adat Silungkang di Jakarta membagi dengan tajam antara hubungan kekerabatan dengan hubungan keturunan (sedarah). Dikatakannya : “Bapak kita, suami adik kita, isteri kemenakan/mamak kita adalah orang sumando dan pesumandan kita. Mereka adalah kerabat kita, karena mereka kawin dengan anggota kelompok keturunan kita. Anak saudara laki-laki kita, anak saudara laki-laki ayah kita, dan anak mamak kita juga merupakan kerabat kita. Mereka tidak seketurunan dengan kita, kecuali yang sekampung”.

Sedang “mande, dunsanak, mamak, kemenakan adalah orang-orang (status) yang seketurunan dengan kita. Mereka semua dan kita merupakan anggota kelompok keturunan paruik (rumah godang), atau kampung, atau keandikoan. Hubungan mereka dengan kita adalah hubungan keturunan, yaitu sedarah”.

Berdasarkan pembagian antara hubungan kekerabatan dan hubungan seketurunan (sedarah) yang dikedepankan Amri Marzali tersebut, maka ada yang menyimpulkan bahwa adalah tidak tepat menggunakan istilah kerabat, bila yang dimaksud hubungan seketurunan. Sebutan kerabat hanya berlaku bagi hubungan seperti dengan orang sumando dan pesumandan.

Tentang pengertian kekerabatan ini ada baiknya juga kita simak pendapat AA. Navis2) : “Perkawinan bukan semata-mata hubungan antara dua individu, tetapi juga hubungan antara seluruh kerabat yang telah berhubungan karena perkawinan itu. Ada 4 macam hubungan kekerabatan, yakni : (1) tali kerabat mamak kemenakan, (2) tali kerabat suku-sako, (3) tali kerabat induak bako anak pisang, (4) tali kerabatan dan pesumandan. Tali kerabat dua yang pertama bersifat hubungan ke dalam. Timbulnya karena pertalian darah. Sedang tali kerabat jenis yang lain bersifat keluar dan timbulnya karena perkawinan”.

Yang dimaksud tali kerabat mamak kemenakan ialah hubungan antara seorang anak laki-laki dan saudara laki-laki ibunya, atau hubungan seorang anak laki-laki dengan anak-anak saudara perempuannya. Bagi seseorang, saudara laki-laki ibunya adalah mamaknya dan ia adalah kemenakan saudara laki-laki ibunya. Sedangkan anak saudara perempuannya merupakan kemenakan dan ia adalah mamak anak saudara perempuannya.

Yang dimaksud tali kerabat suku-sako ialah hubungan yang bersumber dari sistem kekerabatan geneologis yang berstelsel matrilinial pada lingkungan kehidupan sosial sejak dari rumah sampai ke nagari yang lazim disebut suku. Suatu nagari didiami penduduk yang terdiri dari sekurang-kurangnya empat suku. Nagari itu sendiri terbagi dalam beberapa kampung. Setiap kampung diisi beberapa kelompok rumah. Tiap-tiap kelompok rumah itu didiami orang-orang saparuik (seperut).

Mengenai yang dimaksud tali kerabat induak bako anak pisang ialah hubungan kekerabatan seorang anak dan saudara-saudara perempuan bapaknya dan atau hubunngan kekerabatan antara seorang perempuan dan anak-anak saudara-saudara laki-lakinya. Dengan demikian juga berarti bahwa seorang perempuan merupakan induak bako anak saudara laki-lakinya dan ia pun merupakan anak pisang (anak buah) saudara perempuannya.

Tentang tali kerabat andan-pasumandan adalah hubungan antara anggota suatu rumah-rumah gadang, atau kampung atau rumah, rumah gadang atau kampung yang lain tersebab salah satu anggota kerabatnya melakukan perkawinan. Tali kerabat perkawinan bersifat horisontal, kedua belah pihak berstatus sama derajatnya.

Dengan kata lain menurut AA Navis istilah kerabat juga dapat dipergunakan dalam hubungan seketurunan. Jadi tidak hanya berlaku dalam hubungan dengan orang sumando dan pasumandan, anak saudara laki-laki kita, anak saudara laki-laki ayah, anak-anak mamak kita. Istilah kerabat dapat dipergunakan untuk kedua kelompok tersebut.

Pendapat AA. Navis ini sejalan dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun Poerwadarminta. Di mana kerabat mempunyai dua arti : (1) dekat (pertalian keluarga); (2) Keluarga; sanak saudara, misalnya kaum (hlm. 485). Jadi dilihat dari segi Ilmu Bahasa tidaklah salah bisa istilah kerabat juga dipergunakan dalam hubungan seketurunan (sedarah).

Bagaimana dengan kekerabatan di Silungkang ? Kekerabatan di Silungkang, di masa lalu terkenal dengan ibarat kare-kare. Kare-kare sejenis makanan yang susunannya berjalin berkelindan, sulit untuk menentukan mana yang ujung dan mana yang pangkalnya. Karena dia bercampur baur. Ia bersatu dalam pembaharuannya.

Bila diteliti benar atau satu famili dengan famili lain di Silungkang tentu ada sangkut pautnya. Mungkin sangkut pautnya karena sumando-manyumando, baipa bapabisan, sumandan manyumandan, dunsanak ibu atau dunsanak bapak, sama Tigo Niniek atau 10 Niniek dan sebagainya.

Dengan kata lain melihat ke kiri tampak anak buah; melihat ke kanan tampak induak bako; melihat ke atas tampak orang sumando; melihat ke bawah tampak mamak rumah; melihat ke muka tampak dunsanak bapak; melihat ke belakang tampak dunsanak ibu dan sebagainya.

Karena kekerabatan seperti kare-kare ini maka terciptalah rasa kekeluargaan yang kuat di kampung kita, rasa cinta nagari yang dalam terpateri pada tiap pribadi warga kita.

Tak akan ada di antara warga kita yang waras, yang tidak bangga menyebut nagarinya Silungkang, yang tidak akan tersinggung bila ada orang lain menjelekkan Silungkang.

Kekerabatan kare-kare di masa lalu itu latar belakangnya antara lain karena warga Silungkang itu berasal dari dua (2) kelompok Niniek (disebut Nan 3 Niniek dengan yang 10 Niniek). Dahulu benar sumando – manyumando hanya terjadi antara dua kelompok Niniek itu. Perkawinan sesama 3 Niniek atau 10 Niniek tidaklah lazim. Sisa-sisa ciri masa lalu itu masih dapat dirasakan sekarang bila misalnya orang Suku Payabadar (salah satu dari 3 Niniek) yang menerima sumando dari 10 Niniek, maka yang seluruh 3 Niniek (Payabadar, Supanjang dan Dalimo) adalah sipangka. Yang Olek (tamu) adalah yang 10 Niniek (Patopang, Melayu). Begitu pula sebaliknya.

Dalam perkembangan kemudian perkawinan telah dimungkinkan sesama 3 Niniek atau sesama 10 Niniek, asal sukunya berbeda. Hanya dengan catatan Ibu Isteri tidak dipanggil “Mertua” (seperti yang lazim) melainkan dipanggil “Ande”.

Selanjutnya malah perkawinan bisa dimungkinkan pula sepesukuan. Hingga kini yang belum mengadakan perkawinan sepesukuan hanya suku Payabadar saja. Suku Payabadar terdiri dari dua Keandikoan : Malowe Mudiek dan Malowe Hilir.

Sungguhpun Silungkang terletak dalam lembah yang sempit, namun jumlah kampung yang terdapat di dalamnya cukup banyak : 18 buah. Itu belum termasuk pecahannya. Tidaklah heran kalau satu kampung bertetangga dengan kampung lain (kiri, kanan, atas, bawah) meskipun tidak seandiko atau sepesukuan. Kalau telah bertetangga terjadi pula hubungan kekerabatan yang kuat. Mengadakan perkawinan dengan tetangga pun dipantangkan, misalnya antara Batu Mananggau dengan Melayu. Padahal sukunya berbeda.

Kini kekerabatan kare-kare itu telah berkembang jauh. Telah ada orang sumando yang bukan orang Silungkang. Telah ada isteri mamak atau kemenakan orang lain. Tentu saja dari pihak keluarga baik suami atau isteri orang luar itu sukar diharap mereka akan merasa ada hubungan kekerabatan dengan semua orang Silungkang. Paling-paling hanya dengan keluarga dekat dari suami/isteri orang Silungkang. Nampaknya kare-kare telah berderai.

Mengapa sampai berderai ? Mungkin cara memasaknya/ menggorengnya masalah perkawinan terlalu “mosiek” (kering). Nampaknya kare-kare yang sudah berderai itu sulit untuk dikembalikan seperti kare-kare asli. Kini masalah kare-kare itu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi setiap keluarga Silungkang : apakah derainya dapat dihentikan ataukah ia akan berjalan menurut kodratnya sendiri. Sebuah tantangan bagi orang Silungkang.

Catatan kaki :

  1. Drs. Amri Marzali, MA : Dapatkah sistem matrilinial bertahan hidup di daerah perkotaan besar ? (Makalah yang disampaikannya dalam Semiar Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  2. AA. Navis : “Alam terkembang jadi guru”, pen. Grafiti Press Jakarta, Sept. 1984, hlm. 221.

Sumber : Buku Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo. Cetakan 1, Mei 1988

Jepang masuk ke Silungkang pada hari Selasa, bulan Maret tahun 1942. Disambut bendera Jepang dan bendera Merah Putih yang berkibar megah berdampingan di depan Masjid Raya Silungkang dengan menggunakan tiang tinggi yang bukan terbuat dari kayu.

Rakyat Silungkang mengetahui Jepang masuk ke Indonesia dari mendengarkan radio. Sedangkan Merah Putih sudah menjadi benderanya orang Silungkang dari zaman dahulu kala.

Orang Jepang ke Silungkang mengendarai sepeda lipat. Betapa kagetnya orang-orang Jepang tersebut telah disambut oleh benderanya di desa kecil, Silungkang. Langsung mereka bersuara “Hinomaru” kemudian memberi hormat ke bendera mereka.

Bendera Jepang dan Merah Putih dijahit oleh Siti Minah, istri dari Amek Teteh, Tanah Sirah.

Di dalam masjid Raya Silungkang sudah ramai oleh rakyat Silungkang. Tibalah Kepala Nagari Silungkang, Ongku Muhammad Yusuf Dt. Panghulu Sakti (Ongku Palo). Disambutlah orang-orang Jepang ini dan dibawa ke kantor Kepala Nagari (balai-balai). Sesampai di pintu, Kepala Nagari membuka pintu,  terpampanglah foto anak Azis Panghulu Sakti yang pernah sekolah ke Jepang. Anak Azis Panghulu Sakti berpakaian lengkap tentara Jepang plus nama didada. Orang Jepang kaget langsung bilang “Azis su”.

Saat itu rakyat Silungkang tidak tahu artinya “Hinomaru” dan “Azisu”.

Efek yang ditimbulkan dengan mengibarkan bendera Jepang dan foto berpakaian tentara Jepang, rakyat Silungkang mendapatkan fasilitas pendaftaran/ menghitung/diabsen orang yang dibawa dan pulang dari bekerja paksa. Kerja paksa (Romusha) di Silungkang selama 15 hari dengan anggota kurang lebih 100 orang. Setelah 15 hari kerja paksa, Romusha asal Silungkang anggotanya masih utuh. Kemudian 15 hari kemudian berganti orang. Saat menjadi Romusha, orang Silungkang diperbolehkan membawa bekal sendiri. Komandonya disebut So Danco (orang Silungkang juga). Selama kerja paksa tersebut tak satupun rakyat Silungkang yang meninggal dunia dan diperlakukan sangat baik.

Romusha dibawa ke Loge untuk membuat kereta api dari Muaro ke Pekanbaru. Letak Loge antara Taluak Kuantan dan Pekanbaru. Tujuan membuat kereta api ini agar cepat ke negeri Jepang lewat laut. Saat itu Loge merupakan tempat tambang emas.

Jalan kereta api tidak selesai karena Jepang kalah oleh sekutu tahun 1945.

Catatan :
Tahun 1930/1935 ada politik balai. Politik seperti dalam pertandingan sepak bola, mendukung siapa saat pertandingan sepak bola. Karena dilakukan di balai (pasar) maka disebut politik balai. Ada yang bernama Moh. Said berkepala botak. Beliau fans berat Jepang. Saat dibalai orang bertanya “Said megang siapa ?”. Kata Said “Pegang Jepang”. Akhirnya si Said panggil dengan nama Toyo.

So danco diplesetkan oleh orang Silungkang menjadi “ANCOK”

Imau adalah harimau – macan. Daan adalah dahan. Imau dahan adalah macan kumbang. Macan yang bukan karnivora.

Julukan ini biasanya diberikan kepada orang atau pribadi yang tak berani mengambil keputusan atau pilihan dalam hidupnya.

Walau tak sepenuhnya benar, karena dengan mengambil keputusan untuk “tidak memilih” atau “tidak mengambil keputusan” sudah termasuk dalam kategori mengambil keputusan atau mengambil suatu pilihan.

Alkisah, adalah cerita tentang binatang yang bernama harimau.

Harimau atau macan biasanya dijadikan simbol atau lambang sosok yang jantan, satria, gagah, perkasa dan berani serta karnivora.

Namun, tak semua harimau yang karnivora – pemakan daging – ada juga yang herbivora – pemakan dedaunan, itulah macan kumbang yang sehari-hari hidup di atas atau di dahan kayu.

Tampang dan tampilannya tak ubah seperti makan pada umumnya, namun keganasannya atau naluri menyerangnya sangat berbeda jauh dengan macan atau harimau lainnya.

Macan kumbang ini sangat jarang menyerang manusia atau bahkan binatang kecil lainnya – sehingga lahirlah ka dimakan kambiang talampau godang, ka dimakan ayam talalu ketek, kasudahannyo dek indak ado nan ka dipiliah salin daun mako makanlah daun tu … makonyo tiok pagi nan kalua cihgik ijau.

Maksudnya, mau memilih kambing sebagai mangsa, rasanya tak mungkin karena wujudnya lebih besar dan bila memilih ayam sebagai mangsanya juga tak mungkin karena terlalu kecil untuk ukuran macan, karena tidak punya pilihan lain (mengingat perut yang sudah mulai keroncongan) maka pilihannya adalah daun – herbivora.

Celakanya, istilah ini secara tidak langsung ditujukan pada orang atau pribadi yang memilih hidup melajang.

Sekali lagi, tak sepenuhnya benar !

Orang yang memilih hidup melajang dianggap bersikap laksana macan kumbang.

Selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan dalam kehidupan terutama dalam memilih jodoh, apalagi kalau orang atau pribadi tersebut adalah makhluk lelaki.

Akan jadi bahan cemoohan kawan sepermainan, sementara terlalu berani memilih juga akan jadi bahan olok-olokan dengan sebutan istilah lompek tojun.

Serba susah !

Jadi, daripada tidak sama sekali … kan lebih baik memilih, ya … ?!

Pilih aja, bung !

Jangan ragu-ragu !

Banyak gadis pilihan,

Banyak janda … uwit, uwit

Dunia belum kiamat

Dipetik dari lagu Titiek Sandhora dan Mukhsin Alatas.

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun

Ketek adalah kecil. Banamo adalah bernama. Godang adalah besar. Bagola adalah bergelar.

Dimasa kecilnya Anda dipersilahkan memanggil namanya namun bila si empunya nama sudah dewasa (batas antara ketek jo godang yang lazim diberlakukan dalam adat Minangkabau adalah pernikahan – yang perlu diperhatikan adalah bila seorang lelaki dewasa tidak menikah, bukan berartti Anda bisa dengan leluasa memanggil namanya apalagi bila lelaki tersebut lebih tua dari Anda – setidaknya panggillah : Datuak …….. ) Anda disarankan untuk memanggil “gola – gelar” yang didapatnya saat menikah, bahkan pada daerah tertentu apabila Anda tidak memanggil gelar maka Anda bisa dicap tidak beradat, namun ironisnya gelar tersebut hanya diberikan pada lelaki yang menikahi gadis atau janda dari kalangan sendiri – Silungkang atau Minangkabau – bila tidak maka bersiaplah untuk menerima gelar “Sutan Betawi” dan lain sebagainya.

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun

Bom waktu !

Api dalam sekam !

Bontuak adalah bentuk. Co adalah seperti. Sipuluik adalah beras pulut atau beras ketan. Ditanak adalah dimasak. Badoghai adalah kohesive – tidak lengket – tidak menyatu.

Bila kita ambil contoh adalah suasana atau keadaan, maka istilah BCSDB ini mungkin lebih tepat bila disepadankan kepada suatu keadaan yang tenang, aman tentram namun mengandung potensi bahaya yang besar – bukankah buaya selalu berada di air yang tenang ?

Bila diambil contoh pada sikap atau style seseorang, mungkin bisa disepadani dengan istilah “Ancak di Lobuah” – gaya sih FM tapi kemampuan AM.

Senjuik !

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun

Konco artinya sahabat. Palangkin adalah Pelangkin – Ter – aspal.

Bila ingin dicari sepadanannya juga amat sulit, karena istilah ini sangat kental nuansa atau hubungannya dengan kehidupan dan lingkungan keseharian dimana masyarakat pembuat istilah ini bermukim.

Mungkin setali tiga uang dengan KOLK, tapi Koncok Palangkin (KP) ini punya ciri khas yang lebih kental pada sepasang atau sekelompok manusia yang memiliki karakter lebih saling menjaga relasi atau hubungan sesama mereka.

Disebut Konco Palangkin karena sifat Pangkin atau Aspal atau Ter yang mudah berubah sesuai iklim atau cuaca atau kondisi yang ada – menyatu saat dingin dan mencair sangat panas – itulah sifat palangkin namun tak pernah berpisah dan saling menarik untuk tetap bersatu – adhesive – seperti lem.

Dengan tujuan agar persahabatan antar sepasang atau sekelompok KP ini, biasanya setiap individu selalu menjaga irama pergaulan mereka.

Dalam berinteraksi selama keseharian sepasang atau sekelompok KP ini tentu sangat mustahil tidak terjadi pergesekan.

Bila terjadi pergesekan tentu akan menimbulkan panas – itu alamiah – biasanya KP ini akan “mencair” atau menghindar bertemu atau bersatu agar suasana tidak menjadi semakin panas dengan tujuan perbedaan situasi dan kondisi.

Bila suasana sudah dingin – adem tentram – maka mereka akan kembali bertemu, bersatu seperti sedia kala.

Tak diberitakan apakah sepasang atau sekelompok KP ini adalah terdiri dari orang-orang yang introvert – yang pasti para KP ini adalah sepasang atau sekelompok orang yang selalu ingin menjaga persahabatan.

Pernah dijumpai sepasang atau sekelompok KP yang agak berbeda namun masih senada dan seirama – bila punya uang maka mereka akan berkumpul bersama bila sudah tak punya maka mereka berpencar (sama-sama) mencari laku berkumpul kembali.

Sangat unik memang !

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun

Konco Oghek artinya sahabat karib. Lawan Koghe artinya musuh sejati.

Bila kedua kata ini digabungkan menjadi satu maka sangat sulit mencari sepadanan atau sinonimnya ke dalam bahasa Indonesia.

Istilah ini mungkin bisa disepadani dengan istilah yang terdapat dalam pelajaran ilmu ukur …. bila kita tarik dua garis lurus maka keduanya tak akan pernah bertemu.

Kata “Bertemu” pada kalimat ini lebih berkonotasi pada “bertemunya kepribadian”.

Sebab, sepasang konco secara fisik tentu sering bertemu – sering kongkow namun sangat jarang sekali bertemu dalam “satu kata sepakat” atau pendapat.

KOLK ini adalah pengejawantahan sikap demokrasi – yang konon asal muasalnya memang berasal dari Minangkabau.

Berbeda pendapat dan selalu bersitegang adalah ciri khas sepasang atau dua kelompok KOLK – kalau bukan begitu … bukan KOLK namanya.

Bila dicari sinonimnya dalam keseharian kita, maka yang paling sepadan untuk KOLK ini adalah politikus – dimana dalam dunia politik tidak pernah mengenal lawan abadi atau kawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi.

Begitulah kira-kira.

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.